Bagaimana Pencatatan Akuntansi Pemecahan Saham (Stock Split-Up) dan Pertukaran Saham?

pemecahan saham - stock split-up

Pemecahan saham (Stock Split-Up) adalah salah satu cara yang dilakukan perusahaan untuk memperbanyak sahamnya yang beredar dengan cara mengurangi nilai nominal sahamnya.

Pengurangan nilai nominal atau nilai yang dinyatakan ini dapat menambah jumlah lembar tanpa adanya penyetoran atau kapitalisasi dari laba tidak dibagi.

Bagi pemegang saham, pengurangan nilai nominal ini tidak mengubah nilai buku investasi sahamnya, satu-satunya perubahan yang ada hanyalah PERTAMBAHAN JUMLAH LEMBAR.

Keadaan ini tidak memerlukan jurnal tetapi cukup dengan CATATAN MEMO.

Misalnya, PT Salam Sukses Penuh Keberkahan mengumumkan pemecahan saham, di mana tiap satu lembar dipecah menjadi 2 lembar.

Dengan adanya pemecahan saham ini, para pemegang saham akan menerima dua lembar saham untuk menukar tiap-tiap lembar yang dimiliki.

Jumlah harga pokok saham tidak mengalami perubahan, tapi karena jumlah lembarnya bertambah dua kali lipat maka harga pokok per lembar saham turun menjadi setengah harga pokok mula-mula.

Dalam hal pemecahan saham tidak ada pendapatan yang diakui oleh pemegang saham.

Lalu bagaimana bila perusahaan mengurangi jumlah lembar sahamnya?

Perlakuan seperti itu merupakan kebalikan dari pemecahan saham, di mana perusahaan mengurangi jumlah lembar sahamnya dengan cara memperbesar nilai nominal atau nilai yang dinyatakan.

Akibat dari pengurangan jumlah lembar saham ini, juga hanya dicatat dengan memo untuk menunjukkan perubahan jumlah lembar dan harga pokok per lembar saham.

Baca juga : Begini Cara Menentukan Harga Pokok Perolehan Saham

 

Pertukaran Saham

pertukaran saham

Bila saham-saham yang dimiliki sebagai investasi jangka panjang ditarik kembali oleh perusahaan dan ditukar dengan saham jenis lain, maka saham baru yang diterima dicatat sebesar HARGA PASARNYA.

Pada waktu terjadinya pertukaran, biasanya terdapat perbedaan antara harga saham baru dengan harga perolehan saham lama dan perbedaan ini dicatat sebagai laba atau rugi dalam buku investor.

Sebagai contoh, misalnya PT Salam Sukses Penuh Keberkahan menarik kembali saham prioritas yang beredar dan menukarnya dengan saham biasa.

Nilai nominal masing-masing saham sebesar Rp. 50.000,-. Pak Joko yang memiliki 100 lembar saham PT Salam Sukses Penuh Keberkahan untuk investasi jangka panjang, yang dulu dibelinya  dengan harga perolehan sebesar Rp. 5.000.000, menukarkannya dengan 100 lembar saham biasa.

Pada saat pertukaran, saham biasa laku di pasar dengan harga Rp. 55.000 per lembar.

Pertukaran saham pada transaksi di atas dicatat dalam buku Pak Joko dengan jurnal sebagai berikut :

(D) Penanaman Modal Dalam Saham Biasa     Rp. 5.500.000
(K) Penanaman Modal Dalam Saham Prioritas                Rp. 5.000.000
(K) Laba Pertukaran Saham                                             Rp.    500.000

Perhitungan :

Harga pasar saham biasa :
100 lembar x Rp. 55.000    = Rp. 5.500.000,-
Harga perolehan                 = Rp. 5.000.000,-
Laba pertukaran saham = Rp.    100.000,-

Demikian pembahasan tentang bagaimana pencatatan akuntansi pemecahan saham (stock split-up) dan pertukaran saham.

Untuk posting berikutnya blog manajemen keuangan akan mengulik tentang kinerja Sari Roti dilihat dari Laporan Keuangannya tahun 2016.

Kenapa Sari Roti?

Sebagaimana kita ketahui beberapa waktu yang lalu, tepat di kuartal ke-empat tahun 2016, ada yang melakukan kampanye pemboikotan terhadap Sari Roti.

Apakah kampanye tersebut berpengaruh terhadap kinerja Sari Roti, berapa persen pengaruhnya?

Tunggu saja pembahasannya, obyektif dan akurat!

Baca juga : Ada Apa dengan Cash Flow Tokopedia, Bukalapak dan Gojek?

***

Downlad gratis

One comment on “Bagaimana Pencatatan Akuntansi Pemecahan Saham (Stock Split-Up) dan Pertukaran Saham?

Comments are closed.