Cash Flow Sehat, Indikasi BISNIS Anda Fit

Cash-Flow -ehat-Indikasi-BISNIS-Anda-Fit

Cash Flow dalam perusahaan ibarat darah, tanpa darah, seseorang tidak dapat hidup. Demikian juga dengan perusahaan, tanpa cash flow yang sehat maka perusahaan akan mati!

Bisnis makanan, minuman, jasa, pabrikan atau sektor apapun dikatakan baik dan sehat bila Cash flow-nya juga sehat. Cash flow merupakan salah satu indikasi yang digunakan untuk menilai suatu bisnis itu fit atau loyo.

Lalu bagaimana cash flow yang sehat?

Secara garis besar cash flow adalah selisih antara penerimaan dan pengeluaran dana atau uang yang real, yang benar-benar ada bentuk materinya yaitu uang. Bukan hanya berupa catatan yang tidak ada uangnya. Catatan doang 🙂

Jadi sehatnya cash flow ditandai dengan adanya dana yang siap digunakan untuk aktivitas perusahaan.

Baca juga : 2 Metode atau Cara Membuat Laporan Arus Kas ( Statement of Cash Flow )

Apa keuntungan yang bisa diperoleh dengan kondisi cash flow yang sehat?

Kondisi cash flow yang sehat, menandakan kondisi perusahaan juga sehat. Perusahaan yang sehat,  akan memiliki banyak pilihan aktivitas yang bisa dilakukan. Misalnya : melakukan riset, mengelola SDM yang berkualitas atau melakukan promosi dan iklan yang tepat.

Sebaliknya cash flow yang tersendat-sendat dan tidak lancar akan membuat perusahaan sulit bergerak untuk melakukan inovasi dan gebrakan dalam rangka meningkatkan pendapatan.

Dan bila kondisi tersebut terus berlangsung, bukan tidak mungkin tinggal menunggu ajal.

Bagaimana cara mengobati cash flow yang tidak sehat alias sakit itu?

Bila sebagai pebisnis, anda sudah menyadari bahwa perusahaan cash flow-nya sakit, maka secepatnya dilakukan pengobatan dan perawatan yang lebih intensif agar tidak bertambah parah dan lama-lama bisa bangkrut.

Berikut ini saya berikan contoh untuk bisnis kuliner, seperti warung makan, depot atau restoran.

bisnis-restauran-depot-warung-makan

Ada 2 cara yang bisa dilakukan untuk memperbaiki cash flow yang tidak sehat, pertama, MENAIKAN omset penjualan dan kedua, melakukan efisiensi untuk MENURUNKAN biaya.

Untuk meningkatkan omset penjualan, langkah awal harus memperhatikan bagaimana tingkat penyerapan produk  untuk pelanggan atau calon pelanggan di sekitar? Baik atau tidak.

Untuk bisnis restoran, warung makan atau depot, tingkat penyerapan atau pembelian pelanggan sekitar pada produk yang dijual sangatlah penting.

Hal itu karena pelanggan atau calon pelanggan terdekat akan lebih mudah membeli produk yang dijual, dibandingkan konsumen yang jauh.

Bila tingkat penyerapan pelanggan terdekat rendah, mungkin produk yang dijual tidak sesuai dengan mereka. Dengan kata lain, mereka bukan target market dari produk yang anda jual.

Maka anda harus berusaha bagaimana caranya mencari dan mendatangkan target market agar bisa mengetahui dan akhirnya membeli produk anda?

Upaya untuk mendatangkan target market yang lokasinya jauh tentu memerlukan dana yang relatif besar tergantung pada seberapa besar jangkauan yang diinginkan.

Agar cash flow terus ada, salah satu upaya yang perlu dilakukan selain fokus membidik target market yang diinginkan adalah dengan melakukan inovasi produk yang bisa melayani market sekitar.



Coba berkreasi dan melakukan inovasi untuk membuat menu yang harganya terjangkau untuk pelanggan sekitar. Bisa dengan membuat nama dan menu baru, atau menurunkan sedikit kualitas produk lama yang dijual dengan harga yang ramah di kantong.

Sehingga pelanggan bisa membedakan, mana menu dengan kualitas nomer satu, mana menu yang kualitasnya dikurangi. Brand utama tetap jalan dan cash flow bisa terjaga.

Kemudian membuat proyeksi cash flow untuk 3 bulan depan dengan menggunakan data-data dari 6 bulan sebelumnya.

Dan lakukan terus analisa terhadap cash out dan cash in. Dari analisa itu akan diperoleh data apa saja cash out  yang bisa ditunda dan apa saja yang bisa menambah cash in?

analisis-cash-in-cash-out

Misalnya, bila ada hutang ke pemasok, coba lakukan pembicaraan untuk meminta pembayaran mundur, alasannya dana sedang banyak digunakan untuk meningkatkan omset penjualan.

Bila penjualan meningkat otomatis membutuhkan banyak barang dari pemasok.

Sedangkan cara kedua untuk menyehatkan cash flow adalah melakukan efisiensi biaya.

Pada bisnis kuliner besarnya penurunan biaya sebaiknyan tidak melebihi 30% . Bila nilai penurunan biaya melebihi 30% dikhawatirkan tidak akan bisa mempertahankan kualitas produk yang dijual.

Demikian contoh upaya memperbaiki cash flow pada bsnis kuliner seperti warung, depot atau restoran.

Baca juga : Jualan Laris, tapi KAS Kosong : Kenapa dan Bagaimana Solusinya?

Sebagai kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa cash flow yang sehat hanya terjadi dalam 3 kondisi, yaitu :

Kondisi #1. Ketika kas masuk dari kegiatan operasional yang juga disebut OCF-IN lebih besar sama dengan Cash flow Out

Kondisi #2. Ketika Saldo Awal Periode + kas masuk dari kegiatan operasional (OCF-IN) lebih besar sama dengan Cash flow Out. Dan kas masuk dari kegiatan operasional (OCF-IN) lebih besar sama dengan kas keluar untuk kegiatan operasional (OCF-Out)

Kondisi #3. Ketika Saldo Awal Periode + kas masuk dari aktivitas operasional (OCF-IN) lebih besar sama dengan Cash flow Out. Dan kas masuk dari aktivitas operasional (OCF-IN) lebih kecil dari pada kas keluar untuk aktivitas operasional (OCF-Out).

Semoga bermanfaat

Terima kasih

***