Ketika Engkau diminta Menggadaikan Profesi Akuntansimu, Tak Bergeming atau Larut?




Ketika Engkau dimintai menggadaikan Profesi mu, Tak Bergeming atau Larut

Ketika Engkau dimintai menggadaikan Profesimu, Tak Bergeming atau Larut

Memiliki idealisme untuk menjaga dan menerapkan prinsip-prinsip ilmu akuntansi keuangan yang berlaku dalam pekerjaan kita akan memberikan rasa percaya diri dan kebanggaan tersendiri.

Namun seringkali kenyataan di lapangan berkata lain. Godaan, tekanan, dan kesulitan meng-identifikasi suatu transaksi keuangan menyebabkan seorang yang berkecimpung di bidang akuntansi keuangan, gamang dalam menentukan suatu pilihan.

Larut atau tak bergeming? Menggadaikan prinsip-prinsip keilmuan atau lebih baik meninggalkan tempat itu.

Di buku populer “Berpikir & Berjiwa Besar “ karya David J. Schwartz ada quote :

“ Cara anda berpikir, menentukan bagaimana anda bertindak, Cara anda bertindak pada gilirannya menentukan : Bagaimana orang lain bereaksi terhadap anda

Orang lain melihat dalam diri kita apa yang kita lihat dalam diri kita. Kita menerima jenis perlakuan yang kita pikir layak didapatkan.

Orang yang berpikir dirinya inferior, lepas dari apa kualifikasinya yang sebenarnya, menjadikan dirinya inferior, ia pun bertindak dengan cara inferior.

Bila anda ingin mendapatkan respek dari orang lain maka anda harus lebih dulu berpikir  anda layak mendapatkan respek. Dan semakin besar respek yang anda miliki untuk diri anda, semakin besar respek yang akan diberikan orang lain kepada anda.

menghargai pekerjaan sendiri

Demikian juga dengan profesi, bila anda ingin orang lain menghargai pekerjaan dan keahlian anda, maka anda harus lebih dulu berpikir dan layak mendapat penghargaan itu.

Cara berpikir tentang pekerjaan memberitahu banyak tentang seseorang dan potensinya untuk tanggungjawab yang lebih besar.

Bila anda sendiri tidak menghargai keahlian anda, lalu bagaimana dengan orang lain? Bila anda sendiri sudah tidak menganggap bahwa keahlian anda tidak penting, maka wajar saja bila keahlian anda bisa ditekuktekuk semau juragan anda. Keahlian anda hanya sebagai ‘stempel’.

Anda bisa memilih apa yang anda inginkan!

Berikut ini ada kisah nyata dari 2 orang lulusan akuntansi. Orang pertama bekerja di perusahaan distribusi minyak goreng dan yang kedua bekerja di perusahaan tekstil.  Kedua perusahaan tempat mereka bekerja masih dipegang keluarga, belum terbuka.

Kisah tentang pegawai pertama diawali saat ia dipindahkan ke bagian accounting. Tidak ada serah terima pekerjaan dari pegawai lama ke pegawai pertama ini.

Demikian juga tidak ada penjelasan, keterangan, notes, maupun catatan khusus mengenai pekerjaan dari pegawai sebelumnya.

“Pokoknya ya seperti itu angka-angkanya” begitu kalimat singkat yang keluar dari lisan pegawai sebelumnya saat pegawai pertama ini bertanya tentang angka-angka yang tertera dalam Neraca dan Laporan Laba Rugi.

Seperti yang mungkin Anda duga, pegawai pertama ini harus berupaya dengan keras untuk menguasai pekerjaan barunya. Dan tentunya ‘pusing tujuh keliling’.

stres terhadap pekerjaan

Namun, pegawai pertama ini tidak berdaya. Ia membutuhkan pekerjaan itu untuk  untuk membiayai dirinya. Ia membutuhkan uang untuk bisa eksis dan tidak mau mendapat julukan ‘pengangguran’.

Ia berujar. “Boss ku minta tanggal 15 Laporan Keuangan harus sudah selesai” katanya dengan bibir bergetar dan gelisah. Dalam galau yang mungkin terasa gamang.

Sementara itu, pegawai sebelumnya sulit diajak biacara. Mungkin beliau kecewa dengan keputusan perusahaan yang telah memutasinya.

Satu bulan setelah dipindahkan ke bagian accounting, ia harus menyerahkan hasil pekerjaannya. Padahal,seluk beluk dan asal muasal angka-angka yang ada dalam laporan keuangan belum juga ia pahami.

“Terus aku kudu piye?Kepalaku pusing dan pikiranku tidak menentu” begitu kalimat pendek yang keluar dari bibirnya. Sambil terus terbayang akan kehilangan pekerjaan itu, meskipun ia berusaha untuk tidak membayangkannya.

Dalam lamunannya, sekilas ia teringat sebuah kalimat “ …. tindakan mengalahkan ketakutan. Sebaliknya kegalauan dan penundaan memupuk rasa takut

Berharap agar keadaan menjadi baik saja tidak cukup, perlu melakukan tindakan untuk menunjang harapan itu. Harapan adalah satu awal yang memerlukan tindakan untuk mendapatkan jalan keluar.

Akhirnya, ia memulai tindakan dengan membuka komputer, lalu mengetikan “kursus akuntansi” search engine terpopupler saat ini Google.

Tak seberapa lama, deretan informasi tentang kursus akuntansi muncul di halaman pertama Google. Dan salah satu yang nangkring di barisan atas adalah blog manajemen keuangan ini 🙂

Ia gali secara lebih mendalam informasi yang ada dalam blog tersebut.

Dan segera ia hubungi pengelolanya yang sekaligus menyelenggarakan kursus akuntansi dan akuntansi komputer.

Sedikit demi sedikit, mulai terlihat seberkas cahaya di seberang sana.

Dunia tidak segelap malam yang buta. Timbul rasa optimis untuk mampu menyelesaikan laporan keuangan tepat waktu.

Setelah melakoni beberapa kali pertemuan dan mulai memahami tentang proses dan langkah-langkah menyusun laporan keuangan yang benar, serta memperoleh accounting tools yang cukup powerful, pekerjaan menyusun laporan keuangan pun segera dimulai.

Dengan didampingi dan dibantu oleh sang mentor yang memiliki jam terbang dan pengalaman lama dalam dunia akuntansi keuangan, akhirnya laporan keuangan pun selesai sebelum batas waktu yang ditentukan oleh boss-nya.

Bila anda ingin mengetahui bagaimana proses dan langkah-langkah menyusun laporan keuangan yang baik dan sesuai dengan standar yang berlaku, anda bisa membaca tutorial/panduannya di Siklus Akuntansi dari A-Z

Dan jika ingin mempelajari cara menyusun standard operating procedure (SOP) akuntansi keuangan, anda bisa mempelajarinya di artikel Cara Praktis Menyusun SOP

Singkat cerita, hasil pekerjaan diserahkan ke boss-nya.

Sang boss meminta untuk merubah atau mengganti beberapa bagian.

Beberapa di antaranya adalah penyusutan dimasukkan ke neraca, cicilan aset tetap kendaraan dimasukkan sebagai biaya sehingga akan mengurangi laba bruto, modal dirubah nilainya, perhitungan HPP di laporan laba rugi juga minta ditiadakan dan beberapa elemen laporan keuangan juga minta dirubah.

Padahal itu TIDAK SESUAI dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku.

Neraca sudah tidak balance lagi….

Kondisi seperti itu ia sampaikan kepada sang mentor dan meminta bantuannya agar neraca balance.

“Kalau maunya seperti itu, jujur saja saya tidak bisa membantu” sepenggal kalimat terakhir dari sang mentor yang tertulis dalam aplikasi Whatsapp.

Jleb” sangat menohok dan tidak mengira sang mentor akan menjawab seperti itu.

Dan setelah peristiwa itu, pegawai pertama ini tidak ada kabar beritanya, musnah ditelan kesunyian….

Lalu apa pelajaran dari kisah pegawai pertama tersebut?

Menghapus kepercayaan

Saya cuplikan beberapa kalimat, masih dari buku “Berpikir dan Berjiwa Besar” sebagai berikut :

“Mengerjakan apa yang benar membuat hati nurani anda puas dan ini membangun kepercayaan diri.

Jika kita melakukan apa yang kita tahu salah, dua hal negatif pun terjadi. Pertama , kita merasa bersalah dan rasa bersalah ini menggerogoti kepercayaan diri.

Kedua, orang lain cepat atau lambat akan mengetahuinya dan KEHILANGAN KEPERCAYAAN kepada kita…. “

Apa anda mau?

Tidak kan…

Lalu bagaimana dengan kisah pegawai yang kedua?

Tunggu saja session berikutnya 🙂

Terima kasih

***