Kisah tentang Implementasi Sistem Akuntansi Keuangan setelah Bisnis Bangkrut




studi-kasus-penerapan-sistem-keuangan-di-perusahaan-setelah-bangkrut

Banyak orang datang ke dokter, rumah sakit, atau klinik kesehatan saat kondisinya sudah parah.

Demikian juga banyak pebisnis yang memikirkan sistem akuntansi dan keuangannya setelah BANGKRUT atau mengalami kerugian besar.

Kedua tindakan tersebut masih lebih baik daripada tidak melakukan tindakan sama sekali 🙂

Ada dua kemungkinan dari kedua tindakan tersebut :

  1. Penyakit dan bisnisnya dapat kembali normal dengan upaya dan biaya yang tidak sedikit.
  2. Penyakit dan bisnisnya tidak bisa diselamatkan.

Mengenai kedua kondisi seperti di atas, saya memiliki pengalaman membantu pebisnis menata sistem akuntansi keuangannya.

Sekaligus kita jadikan studi kasus mengenai penerapan sistem akuntansi keuangan setelah bankrut.

Pebisnis ini dan kebanyakan pebisnis yang memulai usahanya dengan prinsip ‘yang penting jualan dulu’.

Seiring dengan berjalannya waktu, bisnis semakin berkembang. Omset penjualan semakin meningkat. Dan pada tahapan ini, pebisnis mulai merasakan bahwa diperlukan sistem akuntansi dan keuangan yang baik untuk men-support perjalanan bisnisnya.

Bagi pebisnis yang menyadari pentingnya sistem akuntansi keuangan akan segera menyusun dan menata sistem keuangannya dengan baik.

Namun bagi pebisnis yang ‘lupa’ atau ‘abai’ terhadap penerapan sistem akuntansi keuangan yang baik pun akan terus menjalankan bisnisnya, sampai suatu saat ‘dipaksa’ untuk menerapkan sistem akuntansi dan keuangannya.

Mirip seorang yang baru ke dokter saat kondisinya sudah parah atau memang HARUS ke dokter, tentunya kita tidak ingin seperti itu kan?

Pebisnis yang saya dampingi untuk menata sistem keuangannya ini pun dimulai saat usahanya baru bangkit kembali selama 2 bulan, setelah bangkrut dari usaha sebelumnya.

Belajar dari pengalaman bisnis sebelumnya yang belum ada sistem keuangan yang baik, ia bertekad untuk memperkuat sistem akuntansi keuangannya sebelum berekspansi memperluas pemasaran produknya.

Pertama kali yang saya lakukan adalah menyusun Laporan Keuangan.

Kenapa?

Laporan keuangan adalah laksana sebuah DASHBOARD pada kendaraan. Kita bisa melihat dan mengetahui kondisi kendaraan dari dashboard tersebut.

 

Laporan-keuangan-seperti-dashboard

 

Saya telah menulis artikel tentang dashboard Excel untuk BISNIS yaitu Tahukah Anda Fungsi Excel untuk Pertumbuhan Bisnis Anda dan Sudahkah 10 Rumus Excel ini Digunakan untuk Membantu Menyusun Laporan Keuangan untuk Bisnis Anda.

Demikian pula dengan Laporan Keuangan, kita bisa mengetahui kondisi bisnis kita dari laporan keuangan.

Bagaimana kondisi kasnya?

Bagaimana kondisi persediaannya?

Bagaimana kondisi aset-asetnya?

Bagaimana kondisi utangnya?

Berapa keuntungan kotor dan bersih yang diperolehnya?

Data-data tersebut akan digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis.

Intinya, sebuah laporan keuangan menyajikan 3 informasi yang:

  • Berguna bagi pebisnis, investor, kreditur dan pengguna lainnya dalam membuat keputusan untuk pemberian kredit, investasi dan keputusan penting lainnya. Informasi yang disajikan harus memadai bagi mereka mengenai aktivitas perusahan atau bisnsis.
  • Membantu pebisnis, investor dan kreditur yang ada dan yang potensial serta pihak-pihak terkait untuk menaksir jumlah, waktu dan ketidakpastian dari penerimaan kas di masa yang akan datang untuk bisnisnya tersebut.
  • Menunjukkan sumber-sumber ekonomi dari suatu bisnis dan pengaruh dari transaksi-transaski, kejadian-kejadian dan kondisi-kondisi yang mempengaruhi sumber-sumber ekonomi tersebut.

Dan tidak menunggu lama, proses penyusunan laporan keuangan segera dilakukan. Membuat dan menyusun laporan keuangan untuk yang PERTAMA KALI memang membutuhkan energi fisik dan pikiran yang mengharu biru.

Perlu ketelitian, ketelatenan, kesabaran, dan tidak mudah bosan.

Semua transaksi keuangan yang terjadi harus diidentifikasi dan dipilah-pilah sesuai dengan elemen-elemen penyusun laporan keuangan.

Pada saat itu, bagian yang paling banyak menyerap energi adalah di persediaan dan volume penjualan.

Data-data persediaan belum ada, padahal barang dagangan dan bahan baku tersedia di gudang, dan barang dalam proses ada pada bagian produksi.

Baca juga :

Untuk data-data penjualan, saya analisa dari rekening bank dan transaksi di outlet. Kemudian saya jadikan satu.

Selanjutnya untuk membantu pekerjaan ini, saya membuat template pencatatan stok barang dan penjulaan seperti berikut ini :

Tampilan menu :

menu-pencatatan-stok-dan-penjualan

 

Inilah tampilan depan dari template pencatatan stok barang dan penjualan. Kita bisa meng-klik tombol sesuai dengan lokasi yang ingin dituju.

Sheet 1 : Jumlah Barang Masuk

tabel-jumlah-barang-masuk

 

Tabel ini memuat informasi mengenai produk yang ada digudang. Setiap memasukan produk ke gudang melalui sheet 2: input barang, maka jumlah barang di tabel jumlah barang masuk, kolom total barang masuk akan secara otomatis menghitung jumlahnya.

Untuk kolom kode barang dan nama barang sudah saya set list-nya sehingga untuk memasukkan (input) tidak usah mengetik lagi, tapi tinggal memilih dalam list.

Sheet 2 : Input Barang

tabel-input-barang

 

Pada tabel input barang ini digunakan untuk memasukan (input) setiap kali ada barang yang masuk ke gudang. Di sinipun tinggal memilih kode barang yang sudah disediakan dalam list, otomatis nama barang akan muncul.

Setelah memasukkan jumlah barang, maka  secara otomatis jumlah barang di tabel jumlah barang masuk akan ter-update.

Sheet 3 : Input Penjualan

tabel-input-penjualan

 

Tabel ini digunakan untuk memasukan (input) penjualan harian.  Kita pilih saja kode barang, maka nama barang secara otomatis akan mncul.

Selanjutnya memasukkan jumlah penjualan, dan harga, nilai rupiah, uang masuk, dan selisihnya otomatis akan muncul sendiri.

Sheet 4 : Laporan

tabel-laporan

 

Tabel laporan ini adalah resume dari tabel-tabel sebelumnya. Di sini kita tidak usah melakukan input data apapun, semua otomatis muncul.

Dari template pencatatan stok barang dan penjualan seperti itu, semua data  stok barang dan jumlah penjualan bisa diketahui secara akurat setiap hari.

Di akhir bulan dilakukan stock opname gudang untuk mengetahui jumlah dan kondisi fisik barang dagangan, raw material, dan barang dalam proses.

Hasil stock opname selanjutnya diperbandingkan dengan catatan pada tabel laporan, bila ada selisih, maka dilakukan adjustment. Bila sudah sama selanjutkan memasukkan data-data tersebut ke dalam laporan keuangan.

Setelah melalui proses yang cukup menguras tenaga dan pikiran, akhirnya pada bulan Februari 2017, Laporan Keuangan utama yang terdiri dari Laporan Laba Rugi dan Neraca untuk bulan Desember 2016 selesai. Alhamdulillah.

Seiring dengan perbaikan kualitas laporan keuangan, implementasi SOP Akuntansi Keuangan juga terus dipantau dari waktu ke waktu.

Setiap kejadian dan kendala di bagian tertentu dicatat dan dicari solusinya. Kemudian dicoba lagi, sampai benar-benar berjalan sesuai standar operasional prosedur yang berlaku.

Hingga saat ini, proses implementasi SOP Akuntansi Keuangan masih terus berjalan…

Memasuki bulan ke enam, laporan keuangan sudah bisa update tiap bulan.

Saat ini, setelah bagian akuntansi keuangannya dianggap cukup kuat dan mampu mendukung bisnis, pemilik bisnis  mulai melakukan program untuk meningkatkan omset penjualan.

Beberapa program marketing kreatif sedang dikaji dan di-uji coba, selain itu beberapa saluran distribusi mulai diperluas, kita lihat saja bagaimana perkembangan beberapa bulan ke depannya…

Sekilas dari cerita riil tersebut, kita bisa mengambil pelajaran sebaiknya jangan sampai terlambat menerapkan sistem akuntansi keuangan untuk BISNIS kita, atau saat bisnisnya hampir WAFAT.

Iya kalau kita masih diberi kesempatan kedua seperti kisah diatas, bagaimana kalau BISNIS kita keburu SIRNA ditelan kesunyian…

… akan menjadi sekeping kisah eksperimental yang berakhir dengan duka lara…

So… sebelum semuanya terlambat “mengapa nggak sejak awal langsung diterapkan sistem akuntansi keuangan yang baik?”

Susahnya sekali, tapi manfaatnya seumur hidup!

Semoga bermanfaat.

***

2 Komentar

  1. wah bagaimana kalau diimplementasikan dalam dunia internet marketing (blogging). apa bisa pakai konsep yang sama?

    • Terima kasih Mas Andika…

      Sistem Keuangan itu sudah ada standarnya Mas, seperti Kemenku dan PSAK, atau kalau luar sana dan akan diadopsi juga di sini IFRS.
      kalau sampeyan mengelola bisnis, apapun jenisnya ya harus mengacu ke standar yang berlaku.
      Termasuk semua yang bisnis di dunia maya, dan semua pemain besar di dunia internet saat ini, pun mengacu ke sana.
      nggak percaya, coba tanya Gojek, Tokopedia, Bukalapak, Google, Facebook?
      PASTI MEREKA PUNYA SISTEM KEUANGAN YANG AKURAT!

      Nggak tahu kalau yang masih kecil-kecilan 🙂

Komentar ditutup.