Penyimpangan Prinsip Harga Perolehan Aktiva Tetap

Penyimpangan Prinsip Harga Perolehan Aktiva Tetap

Penyimpangan dari prinsip harga perolehan bisa dibenarkan untuk beberapa keadaan.

Misalnya berkaitan dengan Aktiva Lancar.

Surat-surat berharga akan dilaporkan di bawah harga perolehannya apabila harga pasar lebih rendah dari harga pokoknya, demikian juga dengan persediaan barang.

Untuk aktiva tetap bila harga-harga sudah berubah dalam jumlah yang besar, maka rekening-rekening aktiva yang tetap menggunakan harga perolehan di masa lalu sudah tidak menunjukkan HARGA yang RIEL dari aktiva tersebut.

Karena harga perolehannya sudah tidak sesuai dengan keadaan maka perhitungan depresiasi yang didasarkan pada harga perolehan tersebut juga menjadi tidak layak lagi.

Perubahan harga ini biasanya terjadi pada masa inflasi atau deflasi.

Dalam keadaan seperti ini, penyimpangan dari prinsip harga pokok perolehan bisa dapat dibenarkan, agar neraca dapat menunjukkan jumlah aktiva dan modal yang sesuai dengan keadaan sekarang.

Demikian juga dengan Laporan Laba Rugi dapat menunjukkan laba atau rugi yang layak.

Penyimpangan dari prinsip ini dapat diterima karena TUJUAN POKOK dari AKUNTANSI adalah untuk membandingkan penghasilan dan biaya yang layak untuk satu periode.

Jika nilai penyusutan atau depresiasi dihitung dari harga perolehan yang sudah jauh berbeda dengan keadaan sekarang maka biaya-biaya yang dicantumkan dalam laporan laba rugi tidak sesuai dengan pendapatannya.

Penyimpangan ini bisa dilakukan dengan cara revaluasi dalam keadaan harga-harga naik atau devaluasi dalam keadaan harga-harga turun.

Pemerintah Indonesia sudah beberapa kali mengeluarkan peraturan mengenai revaluasi, karena adanya penilaian kembali akan mempengaruhi perhitungan pajak perusahaan atau pendapatan dari laba bersih.

Biasanya dalam peraturan tersebut dicantumkan obyek yang perlu dilakukan penilaian kembali, cara perhitungan dan ketentuan-ketentuan lain yang terkait.

Saat mengadakan penilaian kembali, terkadang hanya nilai buku aktiva yang berubah, tapi juga bisa umur aktiva.

Penilaian kembali dapat dicatat dalam akun tapi juga tidak dicatat, yang terpenting adalah nilai buku aktiva harus dikoreksi agar sesuai dengan kondisi yang ditentukan dari penilaian kembali.

Untuk melengkapi pengertian mengenai penilaian kembali, yuk kita lihat contoh-contoh berikut ini:

Contoh 1:

MyCom Computer Retail memiliki sebidang tanah dengan harga perolehan Rp. 10 Juta. Seiring dengan perjalanan waktu, sebidang tanah tersebut nilainya menjadi Rp. 50 Juta.

Agar akun tanah dapat menunjukkan jumlah sebesar harga perolehan kembali, maka ditambah sejumlah Rp. 40 juta.

Kenaikan jumlah aktiva ini juga dicatat sebagai Modal Penilaian Kembali.

Jumlah kenaikan nilai aktiva yang berasal dari penilaian kembali dicatat dalam akun Tanah.

Sedangkan jurnal untuk mencatat aktivitas penilaian kembali ini adalah sebagai berikut :

jurnal pencatatan aktivitas penilaian kembaliContoh 2 :

PT Berkah Jaya membeli sebuah kompresor dari PT Atlas Copco Indonesia dengan harga Rp. 50 Juta. Kompresor tersebut diperkirakan berumur 8 tahun tanpa nilai sisa.

Setelah digunakan selama 4 tahun dinilai kembali sebagai berikut :

Harga perolehan kembali : Rp. 75 juta
Persentase kondisi kompresor : 60% = Rp. 45 juta
Harga perolehan dan data penilaian kembali adalah :

perhitungan penilaian kembali aktiva tetapHasil penilaian kembali, persentase keadaan aktiva menunjukkan 60% dari harga perolehan. Sedangkan menurut buku, persentase kondisinya adalah 50%.

Dengan demikian penyusutan tahun-tahun sebelumnya terlalu tinggi sebesar 10%. Hal itu dapat terjadi karena kompresor yang umurnya 10 tahun ditaksir 8 tahun.

Sehingga perlu dibuatkan jurnal koreksi untuk rekening Akumulasi Penyusutan.

Bila angka-angka dalam penilaian kembali tidak dicatat dalam akun-akun, maka jurnal yang dibuat cukup sampai mengoreksi akun cadangan penyusutan agar sesuai dengan persentase keadaan aktiva berdasar pada data penilaian kembali.

Sedangkan bila data-data dari penilaian kembali akan dicatat dalam akun-akun, maka jumlahnya seperti pada contoh berikutnya.

Contoh 3:

PT Berkah Prima memiliki ruko yang digunakan untuk kantor pemasaran dengan harga perolehan Rp. 500 juta.

Taksiran umur pemakaian = 20 tahun. Ruko tersebut sudah digunakan selama 10 tahun.

Akumulasi penyusutan ruko = Rp. 250 juta.

Pada awal tahun ke-11 ruko terebut dinilai kembali sebagai berikut :

Harga perolehan kembali = Rp. 750 juta.

Persentase kondisi ruko : 60% = Rp. 450 juta

Jadi umur ruko tersebut ditaksir :

( 750.000.000/300.000.000 ) x 10 tahun = 25 tahun

Pencatatannya dalam buku jurnal adalah sebagai berikut :

pencatan jurnal penilaian kembali aktiva tetapDemikian pembahasan tentang penyimpangan dari prinsip harga perolehan.

Bagaimana menurut Anda?

Terima kasih

***

Downlad gratis

One comment on “Penyimpangan Prinsip Harga Perolehan Aktiva Tetap

Comments are closed.