Sudahkah Anda Manfaatkan Peluang yang Datang? 7 Langkah ini akan Membantu Anda Meraih Kesuksesan




memanfaatkan-peluang

Peluang dan kesempatan  silih berganti kita temui. Bahkan bisa diciptakan.

Sudahkah kita memanfaatkan peluang yang bersliweran di depan mata?

Bila ada teman, saudara, dan kenalan bertanya dan mencari tempat ‘kulakan’ beras yang bagus, bagaimana reaksi anda?

Atau ada orang yang menawarkan barang dagangannya ke anda, apa yang akan anda lakukan?

Membiarkan begitu saja,

Cuek dan acuh tak acuh,

Atau memanfaatkan peristiwa-peristiwa itu sebagai peluang untuk keberuntungan dan keberhasilan Anda.

Peristiwa apa saja yang bisa dimanfaatkan, sudah penulis bahas di artikel Sudahkah Anda Memanfaatkan 13 Moment ini untuk Merajut Keuntungan Anda.

Bila pilihan ketiga yang anda ambil, maka 7 langkah ini bisa anda lakukan untuk memanfaatkan peluang untuk meraih kesuksesan kehidupan anda dan orang lain, yaitu :

#1. Mengetahui keunikan fakta

fakta-unik

Anda tidak akan dapat memanfaatkan peluang, bila anda tidak mengkaji semua fakta yang ada terlebih dahulu

Walaupun kenyataan itu saja tidak menjamin bahwa anda mendapat peluang, tapi hal itu dapat melindungi anda dari kemungkinan memberikan peluang itu kepada orang lain.

Bila anda tidak mengetahui semua atau hamper semua fakta penting yang menentukan situasi saat itu, maka pengetahuan anda tidak lengkap.

Andaikan bahwa satu fakta yang tidak anda ketahui mungkin karena agak sulit diketahui justru merupakan fakta yang akan menentukan keberhasilan anda.

Misalnya kita ingin berbisnis dan berkarir sebagai professional, mana jalan yang akan ditempuh?

Banyak jalan pintas untuk berkarir sebagai karyawan atau berusaha sendiri. Tapi ini bukan salah satu dari peluang yang akan kita manfaatkan.

Bila kita melalui jalan yang benar, maka akan sampai dengan selamat di tempat yang benar pula.

Dalam contoh ini, jalan yang benar yang sebaiknya dilalui adalah dengan melakukan persiapan yang matang terutama berkenaan dengan sesuatu yang diperlukan.

Sediakan waktu dan usahakan mempelajari segala sesuatu dapat dapat diketahui mengenai perusahaan-perusahaan dan orang-orang yang berhubungan anda.

Misalnya tentang fakta-fakta operasional, yaitu fakta-fakta yang menentukan situasi, berikutnya fakta lain akan muncul dengan sendirinya.

Ada rangkaian fakta kedua yang seringkali harus diperoleh secara intuitif. Fakta-fakta ini timbul dari situasi itu sendiri.

Hal-hal yang dikatakan dan dilakukan orang akan memberikan wawasan baru yang bermanfaat.

Bila kita mau mengamati, pemunculan atau penginderaan satu fakta bias mengubah keseluruhan dinamika atau semua strategi yang akan dijalankan.

Ada satu contoh bagus mengenai hal ini, yaitu manakala sebuah pembicaraan kerja sama bisnis mengalami kebuntuan. Ketika kedua pihak tidak ada yang mengalah dan ‘ngotot’ dengan kepentingannya sendiri.

Hal ini adalah fakta yang jauh melebihi bobot fakta lainnya. Persoalaannya tidak lagi pada apa yang akan diperoleh masing-masing pihak, dan akan selesai bila waktu pembicaraan itu lebih lama lagi.

Pembicaraan itu praktis mengalami kebuntuan dan upaya untuk menyelesaikannya hanya akan menciptakan kesenjangan yang lebih lebar.

Upaya yang sebaiknya dilakukan adalah secepatnya mengakhiri pembicaraan tersebut!

Dan masing-masing pihak diberi kesempatan untuk memikirkan posisinya untuk beberapa waktu.

Setelah itu lakukan pembicaraan lagi.

#2. Mengenali para pelaku

Salah satu tujuan dari mengenali orang secara ‘mendalam’ adalah untuk kemaslahatan anda sendiri.

Membaca orang, menentukan ego, dan menemukan titik lemahnya adalah beberapa hal yang perlu diketahui dari seseorang.

Semua informasi tersebut bisa dimanfaatkan untuk kebaikan anda dengan cara mengungkapkan hal yang anda ketahui mengenai seseorang pada rangsangan yang tepat.

Bila anda ingin menjalin kerjasama dengan sebuah perusahaan agar mau mensponsori suatu event yang anda selenggarakan, maka cobalah membawa orang perusahaan tersebut ke event itu.

Tunjukkan semua hal yang berkaitan dengan bidang usahanya. Tujuannya tentu agar perusahaan itu yakin bahwa event yang anda selenggarakan itu layak untuk disponsori.

Ada satu contoh mengenai point ke #2 ini, yaitu saat penyelenggara event olahraga di Wimbledon berusaha menggaet Rolex agar mau mensponsori pembangunan sebuah sistem penentuan waktu dan papan nilai (score board) elektronik yang baru.

Awalnya Rolex tidak bersedia dan beranggapan bahwa hal itu sebagai pemborosan  dan menyamakan pensponsoran penunjuk waktu pada kegiatan olahraga dengan pembuat arloji untuk konsumsi massa yaitu Seiko dan Timex.

Penyelenggara event olahraga Wimbledon tidak menyerah. Dia mengajak Rolex ke Wimbledon. Dan dengan berbagai keunikan dan fakta yang ada di event Wimbledon,  Rolex pun akhirnya ‘menyerah’ dan menyetujui pembangunan sistem timing dan score board.

#3. Menilai Situasi

mengamati-situasi

Bila anda sudah melakukan poin #1 dan #2 yaitu telah menganilis seluk beluk serta para pelaku, selanjutnya anda dapat memulai penilaian situasi.

Mundurlah selangkah dan coba melihat semua kesempatan yang ada sejak awal.

Manfaat melangkah mundur adalah untuk menyediakan waktu guna menempatkan setiap peristiwa penting baik yang buruk ataupun yang baik dalam perspektif yang lebih luas.

Jadikan adanya jarak anda dan berbagai peristiwa sebagai sesuatu yang sudah semestinya dan memperlakukan kebutuhan ini sama halnya dengan kebutuhan menelepon atau menghadiri pertemuan.

Mungkin hal ini tidak dapat diajarkan tapi dapat dipelajari.

Contoh dari point #3 ini sering kita lihat dari beberapa pebisnis yang ‘seolah-olah’ beruntung terus. Di mana pun dan kemana pun ia berada akan menjadi uang.

Dia bisa menciptakan kesempatannya.

Saat dia berada di bank atau rumah sakit dan melihat antrian yang mengular, dia menciptakan peristiwa antrian itu sebagai kesempatan bisnis yang menguntungkan melalui pembuatan aplikasi/software antrian.

Saat dia mengalami kesulitan mencari tempat praktek dokter dan tempat berobat untuk anggota keluarganya atau membantu saudaranya yang sakit, peristiwa ini pun bisa menjadi peluang bisnis yang menguntungkan dan bermanfaat bagi banyak orang.

Ia membangun sistem yang memudahkan orang untuk mencari informasi tentang praktek dokter, rumah sakit dan fasilitasnya. Misalnya Medismap. Tinggal klik, ketemu deh 🙂

Contoh lain, saat beberapa teman, saudara atau orang lain mencari tempat belajar akuntansi dan manajemen keuangan yang baik dan memberikan support seumur hidup.

Peristiwa ini dimanfaatkan untuk mendirikan jasa kursus akuntansi dan akuntansi komputer. Seperti di sini 🙂

Peristiwa lain yang lebih fenomenal adalah saat pendiri Salim Grup menjadi supplier beras untuk Kodam Diponegoro, membangun pabrik terigu dan mendirikan BCA.

Kepandaian melihat setiap kesempatan yang tidak dilihat oleh orang lain dan mengambil untuk keuntungannya adalah salah satu faktor penyebab kesuksesan seseorang.

#4. Berpikir di tempat anda berpijak

berpikir-di-tempat-berpijak

Bertindak dan bukan bereaksi

Kalimat di atas merupakan suatu aturan umum dalam berbagai kondisi, sehingga tidak akan timbul reaksi berlebihan dalam situasi apapun.

Salah satu pengecualian terhadap hal ini adalah keadaan di mana kesempatan harus segera diraih, jika tidak akan hilang untuk selama-lamanya.

Kita perlu berpikir di tempat kita berpijak untuk ‘menyesuaikan’ diri dengan orang lain, tidak saja mendengar apa yang dikatakannya tapi juga pada arti sebenarnya yang mendasarinya.

Hal ini akan memberitahukan kepada anda ketika mengambil kesempatan yang tergantung pada reaksi seketika.

Memperoleh keberuntungan sebagian besar merupakan persoalan mengetahui kapan kita telah mendapat keberuntungan.

Kemudian mengetahui bagaimana mengubahnya menjadi kesempatan merupakan hal yang tidak terlalu sulit.

Perbedaan antara mereka yang beruntung dengan mereka yang tidak adalah kelompok yang secara alamiah beruntung dapat melihat kesempatan yang kecil sekalipun dan mengubahnya menjadi lebih besar.

Sedangkan kelompok yang ‘tidak beruntung’ dan tidak akan melihat kesempatan itu walaupun sudah berada di depan mata.

#5. Mengubah krisis menjadi peluang

Istilah ini sangat populer di dunia motivasi, namun kali ini kita bahas dari sisi lain yang beda dari biasanya.

Orang-orang cenderung menangani krisis hanya dalam hubunganya dengan malapetaka yang mungkin ditimbulkannya.

Namun pada saat krisis orang lebih tegang dan gelisah dari biasanya, meskipun kerentanan mereka ini dapat diubah menjadi kesempatan besar.

Kabar buruk tidaklah seburuk seperti kedengarannya.

Bila anda sedang menghadapi situasi krisis dengan rekan kerja anda, bagaimana cara menyelesaikannya?

Salah satu kebiasaan yang bisa digunakan dalam menghadapi krisis yang telah atau sedang akan terjadi adalah jangan bereaksi.

Katakan saja bahwa anda akan memikirkannya. Carilah alasan apa pun tetapi jangan memberikan tanggapan.

Jika anda sudah menganalisis krisis itu menurut kemungkinannya apakah memberikan kesempatan ataupun bencana, barulah anda kemudian dapat menanggapinya.

Hal ini setidak-tidaknya memungkinkan anda menangani persoalan itu dengan pikiran yang lebih jernih dan jika anda dapat menanggapinya dengan arif dan tidak terjerat oleh krisis itu mungkin saja akan terdapat kesempatan yang sangat menarik.

#6. Belajar menunggu

belajar-menunggu

Berlalunya waktu beberapa saat saja dapat mengubah situasi sama sekali, dapat menyelesaikan berbagai persoalan, membuat persoalan lain tidak berarti, dan dapat mendinginkan konfrontasi atau menambah suatu perspektif baru.

Apa hubungannya dengan mengambil kesempatan?

Sebagian dari sifat mencari kesempatan adalah meunggu. Belajar menunggu, belajar sabar, mengandung demikian banyak penerapan dan seluk beluk.

Keberhasilan membutuhkan kesabaran.

#7. Mendisiplinkan Diri

disiplin

Kesiplinan diri bisa dimulai dengan membangun kebiasan-kebiasan kecil yang terus menerus dan berkesinambungan.

Kekuatan bisa dibangun dengan kedisiplinan.

Apa kaitannya dengan memanfaatkan peluang?

Ini contohnya :

Sering kita jumpai mereka yang termasuk dalam eksekutif manajemen madya dan tingkat manajemen bagian bawah, jika tidak memperoleh kemajuan seringkali menyalahkan semua hal atau semua orang kecuali diri mereka sendiri.

Sebenarnya mereka mengetahui betul, apa yang harus dan tidak harus dikatakan dan bila harus atau tidak harus mereka katakan.

Namun mereka tidak bisa MENGENDALIKAN DIRI, atau keinginan untuk mengatakan apa adanya, sekalipun mereka sadar bahwa dengan berbuat begitu mereka sangat dirugikan.

Maka latihlah kedisiplinan dengan mengendalikan kebiasaan-kebiasaan buruk itu, agar keberuntungan ‘seolah-olah’ selalu memihak anda.

Sudahkah anda memanfaatkan peluang-peluang dengan baik? Ataukah membiarkan saja peluang-peluang yang bersliweran di depan anda?

***