2 Cara Menganalisis Risiko Aset (Step-By-Step Case Study)

2 Cara menganalisis risiko aset

Risiko adalah peluang akan terjadinya suatu peristiwa yang tidak menguntungkan. Dengan kata lain risiko didefinisikan  sebagai ‘suatu halangan, gangguan, eskposur terhadap kerugian atau kecelakaan’.

Jika kita melakukan terjun payung, kita sedang mempertaruhkan nyawa kita, sehingga terjun payung menjadi olahraga yang berisiko.

Individu dan perusahaan yang meng-investasikan dananya hari ini berharap akan menerima tambahan dana di masa depan.

Obligasi menawarkan pengembalian yang relatif rendah, tapi dengan risiko yang relatif kecil, paling tidak jika kita berinvestasi pada obligasi pemerintah dan oblgasi perusahaan yang memiliki peringkat tinggi.

Mengenai peringkat obligasi sudah dibahas pada artikel 15 Kriteria Peringkat Obligasi

Saham menawarkan kesempatan pengembalian yang lebih tinggi, namun saham umumnya lebih berisiko daripada obligasi.

Jika kita berinvestasi pada saham spekulatif atau saham apapun, kita akan mengambil risiko yang signifikan dengan harapan menerima pengembalian yang layak.

Risiko suatu aset dapat dianalisis dengan dua cara, yaitu :

  1. Risiko berdiri sendiri di mana aset dilihat secara terpisah.
  2. Risiko portofolio, di mana aset dimiliki sebagai salah satu dari sejumlah aset lainnya dalam suatu portofolio.

Yuk kita bahas satu persatu…

 

#1. Risiko Berdiri Sendiri

Risiko berdiri sendiri atau stand alone risk adalah risiko yang akan dihadapi oleh investor jika ia hanya memiliki SATU aset. Sudah pasti, sebagian besar aset akan dimiliki dalam bentuk portofolio, tapi kita perlu memahami risiko berdiri sendiri agar dapat memahami risiko dalam konteks portofolio.

Risiko berdiri sendiri dapat diilustrasikan sebagai berikut, Misalkan seorang investor membeli surat utang negara (SUN) jangka pendek senilai Rp. 1 M dengan perkiraan pengembalian sebesar 5%.

Dalam hal ini, tingkat pengembalian investasi sebesar 5% tersebut, dapat diestimasikan dengan cukup akurat dan investasi tersebut pada dasarnya dapat didfinisikan sebagai investasi bebas risiko.

Investor yang sama juga dapat menginvestasikan uang Rp 1 M tersebut pada saham perusahaan yang baru didirikan untuk  melihat apakah terdapat minyak bumi di laut Jawa. Pengembalian saham ini akan jauh lebih sulit diramalkan.

Dalam skenario terburuk, perusahaan tersebut dapat bangkrut dan investor kehilangan seluruh uangnya, sehingga dalam hal ini tingkat pengembaliannya adalah -100 %.

Skenario terbaiknya, perusahaan akan menemukan cadangan minyak bumi dalam jumlah besar dan investor akan menerima pengembalian positif dalam jumlah yang besar.

Saat meng-evaluasi investasi ini, investor akan menganalisis situasi dan mengambil kesimpulan bahwa tingkat pengembalian yang diharapkan secara statistik adalah 20%.

Namun investor sebaiknya juga menyadari bahwa tingkat pengembalian aktual berada di rentang, katakanlah +1.000% hingga -100%.

Terdapat potensi bahaya yang cukup signifikan di mana investor akan menerima pengembalian jauh lebih rendah dari yang diharapkan, maka saham seperti ini menjadi investasi yang cukup berisiko.

( Baca juga : 5 Hal yang Harus Dipertimbangkan Saat Investasi Saham )

Tidak ada investasi yang dilakukan, kecuali jika tingkat pengembalian yang diharapkannya cukup tinggi untuk mengompensasi risiko yang ditanggung oleh investor.

Pada contoh di atas, tampak jelas hanya akan ada sedikit, jika ada, investor yang bersedia membeli saham perusahaan minyak tersebut jika pengembalian yang diharapkannya sama dengan pengembalian surat utang negara (SUN).

Aset yang berisiko jarang memberikan tingkat pengembalian yang diharapkan. Pada umumnya, aset yang berisiko memberikan pengembalian yang lebih tinggi atau lebih rendah dari yang diperkirakan.

Memang bila aset selalu menghasilkan pengembalian yang diharapkan, maka aset bukan aset yang berisiko.

Jadi risiko investasi berhubungan dengan PROBABILITAS mendapatkan pengembalian aktual yang rendah atau negatif, maka besar peluang dihasilkannya pengembalian yang rendah atau negatif, maka investasi tersebut makin berisiko.

 

#2. Risiko Portofolio

Sekarang kita akan menganalisis tingkat risiko aset yang dimiliki sebagai bagian dari portofolio. Sebuah aset yang dimiliki dalam portofolio risikonya akan lebih kecil jika dibandingkan dengan aset yang sama dimiliki secara terpisah.

Investor tidak menyukai risiko, dan karena risiko dapat dikurangi dengan portofolio, yaitu dengan melakukan diversifikasi, maka sebagian besar aset keuangan dimiliki dalam bentuk portofolio, bank, dana pensiun, perusahaan asuransi, dan institusi keuangan lainnya.

Bahkan, investor individual, paling tidak yang kepemilikan efeknya menjadi bagian yang signifikan dari seluruh kekayaan mereka, umumnya memiliki portofolio, dan bukan hanya saham satu perusahaan.

Jadi fakta bahwa saham akan naik atau turun menjadi tidak begitu penting, yang penting adalah pengembalian portofolio investor dan risikonya.

Karena itu, secara logis risiko dan pengembalian dari efek tertentu sebaiknya dianalisis dari sisi bagaimana efek tersebut mempengaruhi risiko dan pengembalian portofolio di mana efek tersebut menjadi bagian di dalamnya.

Sebagai contoh, PT XYZ adalah perusahaan agen penagihan yang beroperasi secara nasional dengan 20 kantor cabang. Perusahaan ini kurang dikenal, sahamnya kurang likuid, dan labanya di masa lalu cukup berfluktuasi.

Hal ini menimbulkan kesan PT XYZ sebagai perusahaan yang berisiko dan tngkat pengembalian yang diminta seharusnya relatif tinggi.  Namun ternyata tidak demikian, tingkat pengembalian PT XYZ lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan lain.

Ini menunjukkan bahwa investor menilai PT XYZ sebagai perusahaan yang risikonya rendah meskipun labanya tidak pasti.

Alasan di balik temuan yang bertolak belakang ini berhubungan dengan diversifikasi dan berdampak pada risiko laba PT XYZ mengalami kenaikan di masa resesi, sedang perusahaan lain cenderung menurun ketika perekonomian melambat.

Jadi, saham PT XYZ sifatnya akan sama seperti asuransi kebakaran, di mana saham akan memberikan keuntungan jika keadaan memburuk.

Ini mengakibatkan penambahan PT XYZ ke suatu portofolio yang berisi saham-saham normal cenderung akan menstabilkan  pengembalian atas portofolio sehingga membuat risiko portofolio tersebut menjadi lebih kecil.

Apa yang akan terjadi jika kita memasukkan lebih dari dua saham dalam portofolio?

Aturannya, risiko portofolio akan turun seiring dengan meningkatnya jumlah saham dalam portofolio.

Penambahan saham ke suatu  portofolio akan mengurangi risiko portofolio tergantung pada tingkat korelasi di antara saham, makin kecil koefisien korelasi, makin kecil risiko dalam suatu portofoio besar.

Jika kita dapat menemukan sekumpulan saham yang korelasinya nol atau negatif, maka seluruh risiko dapat dihilangkan. Namun di dunia nyata, korelasi yang ada di antara saham umumnya positif, tapi lebih kecil dari +1. Jadi hanya sebagian dan bukan seluruh risiko dapat dihilangkan.

Beberapa saham secara individual lebih berisiko dibandingkan saham-saham lainnya sehingga beberapa saham akan lebih membantu dibandingkan saham lain dalam hal penurunan risiko portofolio.

Demikian pembahasan tentang 2 Cara untuk menganalisis risiko suatu aset. Semoga bermanfaat.

***