3 Metode Transfer Pricing Berdasarkan Harga Pasar

3 Metode Transfer Pricing Berdasarkan Harga Pasar

Pada artikel sebelumnya tentang Alasan Mengapa Metode Harga Pasar merupakan Pendekatan Terbaik untuk Menentukan Harga Transfer? Telah disinggung 3 kondisi pasar.

Dan hal ini akan berpengaruh pada hasil perhitungan dari metode transfer pricing dengan berdasarkan pada harga pasar, yang pada akhirnya akan berpengaruh juga terhadap keputusan yang diambil.

Mari kita bedah satu per satu…

#1. Metode Transfer Pricing  Berdasarkan Harga Pasar Perantara yang Ditentukan dengan Baik

 

Metode Transfer Pricing  Berdasarkan Harga Pasar Perantara yang Ditentukan dengan Baik

 

Pasar perantara seringkali menjadi pilihan yang menarik bagi suatu divisi perusahaan untuk menjual produknya. Harga pasar perantara yang sudah ditentukan dengan baik bisa digunakan untuk menentukan harga transfer.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini contoh perhitungan biaya produksi :

PT TP DOC mempunyai beberapa divisi. Divisi XYZ  memiliki produk yang dapat dijual ke salah satu divisi PT TP DOC, yaitu divisi ABC atau ke pelanggan ekstern melalui pasar perantara.

Struktur biaya dan pendapatan dua divisi ini adalah :

#Divisi XYZ

Harga jual di pasar perantara jika produk dijual ke pihak eksternal adalah Rp 25, sedangkan biaya variabel Rp 15

#Divisi ABC

Harga pasar akhir di luar adalah Rp 100.   Divisi XYZ (harga beli di luar) = Rp 25. Tambahan biaya variabel di divisi ABC adalah Rp 40,-

Pertanyaan :

Berapakah harga transfer yang seharusnya untuk mengelola transfer produk antara dua divisi tersebut?

Jawaban :

Untuk menghitung harga transfer yang seharusnya digunakan rumus berikut ini :

Harga transfer  = Biaya variabel per satuan + pengorbanan margin kontribusi per satuan atas penjualan ke pihak ekstern.

= Rp 15 + (Rp 25 – Rp 15 ) = Rp. 25

Jadi harga transfer yang seharusnya adalah Rp 25 yaitu harga yang bagi divisi XYZ merupakan harga jual di pasar perantara. Dan bagi divisi ABC merupakan harga yang harus dibayar kalau tidak menghendaki membeli barang yang diinginkan dari pemasok luar di pasar perantara.

 

#2. Metode Transfer Pricing  Berdasarkan Harga Berubah di Pasar Perantara

 

Metode Transfer Pricing  Berdasarkan Harga Berubah di Pasar Perantara

 

Masih menggunakan contoh studi kasus sebelumnya, misalnya supplier eksternal menawarkan ke divisi ABC dengan harga Rp. 20,- , sedangkan harga normal di pasar perantara yang telah ditetapkan divisi XYZ adalah Rp. 25,-

Berapa harga transfer?

Ada 2 kemungkinan jawaban yang tergantung pada KAPASITAS operasi Divisi Penjual, apakah beroperasi pada kapasitas penuh atau sebagian?

 

#1. Divisi penjual beroperasi pada kapasitas penuh

Bila divisi penjual telah menjual seluruh outputnya ke luar, maka opportunity cost adalah harga yang bersedia dibayar oleh pelanggan ekstern.

Tentang pengertian opportunity cost, cara menghitung biaya peluang, dan contoh soal biaya peluang, saran saya baca juga : Begini Cara Menghitung Biaya Peluang atau Opportunity Cost

Alasannya adalah dengan menyetujui bisnis intern, maka divisi penjual akan menghentikan bisnis ekstern dan mengorbankan pendapatannya.

Maka jika divisi penjualan ada kapasitas penuh, harga transfer  tidak lebih dari harga pasar, kalau tidak divisi penjual akan rugi dan begitu juga perusahaan secara keseluruhan.

Dari perhitungan studi kasus #1 diperoleh harga transfer yang sesungguhnya adalah Rp 25,-.

Jadi kesimpulannya adalah Divisi XYZ tetap memenuhi pelanggan ekstern dan Divisi ABC harus menerima harga pemasok ekstern Rp. 20,- dengan syarat memenuhi kualitas standar dan jadwal yang dibutuhkan.

 

#2. Divisi penjual kelebihan kapasitas

Dua kemungkinan yang sering digunakan adalah :

  • Meskipun tidak ada opportunity cost, harga transfer berdasarkan harga pasar yang berlaku, jika harga tersebut dapat ditentukan dengan baik.
  • Diperlukan negosiasi penurunan harga-harga pasar yang berlaku, sehingga baik pembeli maupun penjual dapat memperoleh keuntungann dari bisnis antar divisi intern perusahaan.

Dari dua situasi di atas, dalam kondisi ada kapasitas lebih, divisi penjual dapat menerima harga yang lebuh besar dari biaya variabelnya. Seluruh pihak akan merasakan manfaat dari mempertahankan bisnis di kalangan intern sendiri daripada mempunyai divisi yang harus membeli dari pihak ekstern.

Kembali pada rumus perhitungan harga transfer :

= Biaya variabel per satuan + marjin kontribusi yang hilang atas penjualan ke luar.

= Rp 15,- + 0

= Rp 15,- atau harga terendah transfer dari Divisi XYZ ke Divisi ABC.

Kesimpulan :

Jika divisi penjual memiliki kapasitas lebih, dan divisi pembeli menggunakan pihak ekstern, maka pertimbangan penting adalah timbulnya sub optimasi (rentabilitas perusahaan menyeluruh lebih kecil).

Dengan demikian jika ada kapasitas lebih pada divisi penjual, setiap upaya harus dilakukan untuk merundingkan harga yang dapat diterima dalam upaya bisnis intern bagi perusahaan sebagai satu kesatuan yang utuh.

 

#3. Metode Transfer Pricing  Berdasarkan Harga yang dirundingkan

Ada 3 poin penting berkenan dengan hal ini, yaitu :

  • Jika terdapat harga pasar perantara, harga ini menunjukkan batas terendah untuk transfer antar divisi.
  • Harga transfer di bawah harga pasar dapat dilakukan, jika divisi penjual mempunyai kapasitas lebih.
  • Harga dirundingkan atau harga pasar yang dirundingkan adalah harga pasar yang telah disetujui bersama antara divisi penjual dan divisi pembeli yang mencerminkan keadaan luar biasa atau kemungkinan tidak tersedianya harga pasar perantara.

Contoh perhitungan biaya produksi :

Divisi X memerlukan 5.000 unit peralatan khusus yang dibuat menurut pesanan. Divisi Y dalam perusahaan yang sama mampu membuat peralatan tersebut.

Divisi Y menentukan bahwa biaya variabel peralatan Rp. 8.000. Untuk memproduksi peralatan itu, Divisi Y harus mengurangi produksi produk A sejumlah 3.500 unit.

Produk A dijual Rp. 45.000 per unit dengan biaya variabel Rp. 25.000 per unit.

Harga transfer adalah = Biaya variabel per satuan + marjin kontribusi yang hilang atas penjualan ke luar.

Contribution Margin adalah :

= harga produk A – biaya variabel

= Rp. 45.000 – Rp. 25.000 = Rp. 20.000

Total Contribution margin yang hilang adalah :

= Rp. 20.000 X 3.500 unit = Rp. 70.000.000,-

Contribution margin per unit yang hilang adalah :

= Total Contribution margin yang hilang : Peralatan khusus yang diproduksi

= Rp. 70.000.000 : 5.000 = Rp. 14.000,-

Jadi harga transfer adalah : Rp. 8.000 + Rp. 14.000 = Rp. 22.000

Harga transfer ini adalah harga minimal atau dinaikkan, tetapi tidak boleh  lebih besar dari Rp. 22.000.

Jika divisi pembeli mempunyai kapasitas lebih, batas harga terendah adalah Rp. 8.000 sama dengan biaya variabel, namun karena divisi penjual perlu menguntungkan, negosiasi perlu diadakan untuk menaikkan harga dengan ‘markup’ yang ditargetkan.

Demikian pembahasan tentang 3 Metode Transfer Pricing  Berdasarkan Harga Pasar dan contoh perhitungan biaya produksi.

Baca juga metode lain penentuan transfer pricing : Metode Transfer Pricing Berdasarkan Harga Pokok

Semoga bermanfaat.

Terima kasih

***