4 Rasio Profitabilitas yang Mencerminkan Hasil Akhir dari Seluruh Kebijakan Keuangan dan Keputusan Operasional

4 Rasio Profitabilitas yang Mencerminkan Hasil Akhir dari Seluruh Kebijakan Keuangan dan Keputusan Operasional

Rasio profitabilitas (profitability ratios) adalah sekelompok rasio yang menunjukkan kombinasi dari pengaruh likuiditas, asset management dan utang pada hasil operasi.

Sebagaimana kita ketahui bahwa laporan keuangan mencerminkan keadaan yang telah terjadi di masa lalu, namun demikian laporan tersebut juga memberikan petunjuk tentang hal-hal yang sebenarnya memiliki arti penting mengenai apa kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.

Dan rasio profitabilitas ini bisa digunakan untuk melihat hasil akhir dari seluruh kebijakan keuangan dan keputusan operasional.

Empat rasio profitabilitas tersebut adalah : 1) Margin Laba atas Penjualan, 2) Pengembalian atas total aset, 3) Rasio Kemampuan Dasar untuk Menghasilkan Laba, dan 4) Pengembalian Ekuitas Biasa.

Yuk kita bahas satu per satu….

#1. Margin Laba atas Penjualan

Margin laba atas penjualan (profit margin on sales) adalah rasio yang dihitung dengan membagi laba bersih dengan penjualan.

Bila dituliskan dalam sebuah formula adalah sebagai berikut :

Margin Laba atas Penjualan = Laba Bersih : Penjualan

Berikut ini contoh perhitugan Margin Laba atas Penjualan :
Dengan menggunakan contoh laporan keuangan perusahaan tbk berikut ini :

Contoh : Laporan Keuangan – Neraca

 

Contoh : Laporan Keuangan – Laba Rugi

Dari contoh laporan keuangan perusahaan tbk di atas, maka :

Margin Laba atas Penjualan = Laba Bersih : Penjualan
= $117,5 : $3.000 = 3,9%

Sedangkan rata-rata industri sejenis adalah sebesar = 5%.

Dari hasil perhitungan di atas, kita bisa melihat bahwa margin laba perusahaan tersebut adalah di bawah rata-rata industri.

Hasil yang berada di bawah rata-rata ini terjadi karena biaya yang terlalu tinggi. Biaya yang terlalu tinggi ini, terjadi karena operasi yang tidak efisien.

Margin laba yang rendah ini juga bisa disebabkan oleh tingginya penggunaan utang. Sebagaimana kita tahu bahwa LABA BERSIH adalah laba setelah bunga.

Jadi jika dua perusahaan yang memiliki operasi yang identik  di mana penjualan, biaya operasi, dan EBIT sama. Namun jika satu perusahaan menggunakan lebih banyak utang dibandingkan lainnya, maka perusahaan tersebut akan memiliki BEBAN BUNGA yang lebih tinggi.

Beban bunga tersebut akan menurunkan laba bersih, karena penjualan konstan, hasilnya adalah margin laba yang relatif rendah.

Dalam situasi yang seperti ini, margin laba yang rendah akan menunjukkan adanya perbedaan pada strategi pendanaan dan bukan masalah operasi.

Jadi perusahaan dengan margin laba yang rendah kemungkinan akan mendapatkan tingkat pengembalian atas nvestasi pemegang saham yang tinggi karena adanya penggunaan leverage keuangan.

Baca juga : Begini Cara Sederhana dan Praktis me-LEVERAGE LABA Perusahaan Melalui Rekayasa Penjualan

Perhatikan pula bahwa jika tingkat pengembalian atas penjualan yang tinggi itu dianggap sebagai hal yang baik, hal-hal yang lain dianggap konstan, maka harus dipertimbangkan juga tingkat perputarannya.

Jika suatu perusahaan memasang harga yang sangat tinggi untuk produknya, perusahaan tersebut mungkin mendapat pengembalian yang tinggi atas setiap penjualan, tapi tidak menghasilkan banyak penjualan.

Hal ini bisa jadi memberikan margin laba yang tinggi, tapi tetap tidak optimal karena total penjualannya rendah.

 

#2. Pengembalian atas Total Aset

Pengembalian atas Total Aset atau Return on Total Assets (ROA) adalah rasio Laba Bersih terhadap Total Aset.

Bila dituliskan dalam sebuah rumus, adalah seperti berikut ini :

ROA = Laba Bersih : Total Aset

Untuk lebih jelasnya, berikut ini contoh perhitungan ROA dengan menggunakan data-data dari contoh laporan keuangan perusahaan tbk di atas.

ROA = Laba Bersih :Total Aset
ROA = $117,5 : $2.000 = 5,9%

Dan rata-rata industri sejenis adalah = 9%

Dengan melihat hasil perhitungan ROA di atas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa pengembalian perusahaan tersebut jauh di bawah standar. Dan hal ini bukanlah sesuatu yang baik, walaupun tingkat pengembalian atas aset yang rendah tidak selalu berarti buruk.

Hal itu bisa disebabkan oleh keputusan perusahaan yang disengaja untuk menggunakan utang dalam jumlah besar, dan beban bunga yang tinggi menyebabkan laba bersih menjadi relatif lebih rendah. Utang menjadi penyebab rendahnya ROA perusahaan tersebut.

Untuk itu, saat akan menilai kinerja suatu perusahaan dan mencari berbagai alternatif terbaik apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kinerja perusahaan, maka melihat beberapa rasio, melihat arti tiap-tiap rasio kemudian melihat situasi secara keseluruhan.

 

#3. Rasio Kemampuan Dasar untuk Menghasilkan Laba

Rasio Kemampuan Dasar untuk Menghasilkan Laba (Basic Earning Power) adalah rasio yang menunjukkan kemampuan aset perusahaan dalam menghasilkan laba operasi.

Cara perhitungannya adalah dengan membagi jumlah laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) dengan total aset. Dan bila dituliskan dalam sebuah rumus, maka akan seperti berikut ini :

Rasio Kemampuan Dasar untuk Menghasilkan Laba (BEP) = EBIT : Total Aset

Untuk lebih jelasnya berikut ini contoh perhitungan BEP dengan data-data dari contoh laporan keuangan perusahaan tbk di atas, sehingga hasilnya adalah :

BEP = EBIT : Total Aset
BEP = $283,8 : $2.000 = 14,2%

Dan rata-rata industri yang sejenis besarnya BEP adalah = 18%.

Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aset perusahaan, sebelum pengaruh pajak dan leverage.

Rasio ini bermanfaat ketika membandingkan perusahaan dengan berbagai tingkat leverage keuangan dan situasi pajak.

Dan karena rasio perputarannya rendah serta margin laba atas penjualan juga buruk, perusahaan tidak mendapatkan tingkat pengembalian atas aset setinggi rata-rata perusahaan sejenis.

 

#4. Pengembalian Ekuitas Biasa

Pengembalian Ekuitas Biasa atau ROE adalah rasio laba bersih terhadap ekuitas biasa; mengukur tingkat pengembalian atas investasi pemegang saham biasa.

Rasio akuntansi “bottom line” adalah pengembalian atas ekuitas biasa (return on common equity – ROE), dan bila ditulisakan dalam sebuah formula sebagai berikut :

ROE = Laba Bersih : Ekuitas Biasa

Untuk contoh perhitungan ROE, masih menggunakan contoh laporan keuangan perusahaan tbk di atas, kita dapat mengetahui ROE-nya sebagai berikut :

ROE = Laba Bersih : Ekuitas Biasa
ROE = $117,5 : $940 = 12,5%

Sedangkan rata-rata industri sejenis adalah sebesar = 15%.

Pemegang saham berharap mendapatkan pengembalian atas uang mereka, dan rasio ini menunjukan besarnya pengembalian tersebut dari sisi akuntansi.

Dari hasil perhitungan di atas diperoleh nilai ROE sebesar 12,5%, berada dibawah nilai standar di industri sejenis sebesar 15%. ROE yang sedikit lebih baik ini disebabkan banyaknya penggunaan utang oleh perusahaan.

Demikian pembahasan mengenai 4 rasio profitabilitas yang mencerminkan hasil akhir dari kebijakan keuangan perusahaan dan keputusan operasional.

Bagaimana dengan bisnis anda?

***