Tata Cara I’tikaf yang Benar Sesuai Syarat Rukun

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dilakukan pada waktu 10 hari terakhir atau pada sepertiga yang akhir di bulan Ramadhan dengan syarat, rukun dan amalan sesuai sunnah.

Ada juga yang menyampaikan bahwa i’tikaf menurut bahasa artinya berdiam diri di masjid dengan tata cara dan syarat tertentu.

Apa makna, syarat, jenis dan keutamaan i’tikaf di bulan ramadhan?

Mari dibahas dengan lebih mendalam berikut ini …

 

01: Arti I’tikaf

i'tikaf adalah 10 hari terakhir ramadhan

A: Pengertian I’tikaf

Apa arti i’tikaf?

I’tikaf menurut bahasa artinya berdiam sejenak atau sementara di suatu tempat. Sedangkan menurut pengertian syar’i, i’tikaf adalah tinggal di masjid selama masa tertentu dengan cara dan syarat serta rukun tertentu untuk beribadah kepada Alloh Yang Maha Baik.

 

B: Jenis I’tikaf

Ada berapa jenis i’tikaf?

Dalam Islam ada dua jenis i’tikaf adalah :

1: I’tikaf Ramadhan

I’tikaf Ramadhan adalah i’tikaf yang  dilakukan 10 hari terakhir Ramadhan dan bertempat di masjid yang digunakan untuk sholat lima waktu dan sholat Jum’at.

2: I’tikaf Nadzar

Pengertian i’tikaf nadzar adalah i’tikaf yang dilakukan seseorang karena nadzar atau janjinya sendiri. I’tikaf juga bisa dilakukan di masjid kapan saja dan lamanya terserah pada kemauan yang melakukannya.

 

C: Keutamaan I’tikaf di Bulan Ramadhan

Apa kelebihan dan keutamaan i’tikaf di bulan Ramadhan?

Menurut Ibnul Qayyim, keutamaan dan hikmah i’tikaf di bulan Ramadhan adalah memusatkan hati dan pikiran seseorang hanya kepada Tuhan Yang Maha Lembut dan membersihkan hatinya dari segala gangguan dan rintangan yang dapat melemahkan, membelokkan atau menutupnya dari jalan-jalan yang diridlai Alloh.

I’tikaf pada bulan Ramadhan sangat dianjurkan pada setiap muslim agar seseorang dapat meraih kebersihan pikiran dan hatinya dari segala hal yang merusak hubungan Tuhannya, ia perlu menyendiri untuk waktu tertentu, sehingga dapat mengusir dan mengelola dorongan-dorongan hawa nafsu yang tidak baik.

Oleh karena itu, dia perlu mengurangi makan, minum, dan pergaulan dengan masyarakat sehingga memiliki kesempatan agar hati dan pikirannya dan merasakan nikmatnya dekat dengan Alloh.

Untuk mencapai kondisi seperti itu ada jalan yang bisa ditempuh untuk melakukannya, yaitu berdiam diri atau i’tikaf di masjid atau di rumah yang dapat dilakukan oleh seseorang dalam waktu, tempat dan syarat-syarat tertentu.

Seseorang dapat melakukan introspeksi secara jujur tentang kekurangan dan kelemahan dirinya dengan beri‘tikaf, selain itu dapat juga meningkatkan hubungannya dengan Tuhannya. Inilah keutamaan i’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan.

 

02: I’tikaf dan Tata Caranya

i'tikaf di masjid

Bagaimana tata cara, ptosedur, waktu, syarat, bacaan dan amalan i’tikaf pada bulan ramadhan? Perhatikan dan baca sampai tuntas pembahasan cara i’tikaf yang benar berikut ini ….

 

A: Syarat I’tikaf

Apa saja syarat i’tikaf?

Syarat i’tikaf Ramadhan dalam HR Abu Dawud bahw disebutkan oleh ‘Aisyah

Rukun dan syarat i’tikaf yaitu tidak menjenguk orang sakit, tidak melayat jenazah, tidak menggauli isteri, tidak menyenggamainya, tidak keluar dari masjid kecuali karena keperluan yang mendesak, dilakukan dengan berpuasa, dan bertempat di masjid jami’.

Jadi, syarat orang yang melakukan i’tikaf Ramadhan ialah sebagai berikut :

  1. Hanya keluar dari masjid bila ada keperluan yang benar-benar mendesak, sehingga mengunjungi orang sakit atau melayat orang yang meninggal tidak dibenarkan sebab hal-hal tersebut masih bisa diwakilkan kepada orang lain.
  2. Tidak menggauli, atau berhubungan suami isteri walaupun pada malam hari.
  3. Berpuasa
  4. Bertempat di masjid jami’
  5. Tidak mengurusi kepentingan duniawi dan hanya menyibukkan diri dengan mendekatkan diri kepada Alloh Yang Maha Pengasih Penyayang.

Bila salah satu dari syarat ini tidak dipebuhi, maka i’tikaf Ramadhan yang dilakukan oleh seseorang batal.

 

B: Waktu itikaf

Kapan waktu i’tikaf yang paling utama?

i’tikaf lebih utama dikerjakan pada saat 10 hari terakhir Ramadhan, seperti disebutkan dalam hadis berikut ini:

Dari ‘Aisyah : sesungguhnya Nabi saw biasa beri’tikaf sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau pulang ke rahimullah, kemudian isteri-isterinya melakukan i’tikaf sesudah wafatnya (HR. Bukhari dan Muslim)

Kapan seseorang memulai i’tikaf Ramadhan?

Waktu i’tikaf yang paling utama adalah mulai tanggal 21 saat bulan Ramadhan setelah sholat Subuh, seperti disebutkan dalam hadis berikut ini:

Dari ‘Aisyah adalah Nabi saw, bila ingin i’tikaf, lebih dahulu shalat Subuh, kemudian masuk ke tempat i’tikafnya (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi, waktu i’tikaf yang paling utama adalah malam titik-titik bulan Ramadhan.

 

C: Amalan I’tikaf Ramadhan

Apa saja amalan yang sebaiknya dilakukan orang yang sedang i’tikaf agar dapat lebih dekat kepada Alloh Yang Maha Lembut?

Amalan i’tikaf Ramadhan yang dapat mendekatkan diri kepaa Allh ketika sedang i’tikaf adalah sebagai berikut:

  • Memperbanyak dzikir
  • Banyak membaca Al Qur’an
  • Melakukan shalat-shalat sunah yang ada tuntunannya dari Rasulullah saw, seperti shalat rawatib, shalat dhuha’, shalat istikharah, shalat lail, shalat tarawih.
  • Banyak membaca kitab-kitab agama
  • Mengikuti kajian agama
  • Menulis buku agama, ilmu bermanfaat, dan artikel yang bermanfaat.
  • Mengeluarkan shadaqah atau infaq dan melakukan amal-amal kebaikan lainnya.

 

03: Soal Jawab i’tikaf

i'tikaf saat bulan ramadhan

Berikut ini disajikan materi soal jawab i’tikaf. Tujuan kami menyajikan materi ini adalah untuk memperkaya pengetahuan dan wawasan tentang i’tikaf.

A: Mengikuti Pengajian dan Pelajara Agama

Bolehkah orang yang sedang i’tikaf mengikuti atau mengisi pengajian atau pelajaran agama?

Orang yang beri’tikaf boleh melakukan kegiatan tersebut di dalam masjid tempat i’tikaf. Hal ini termasuk amalan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Alloh.

 

B: Senda Gurau

Bolehkah orang yang sedang itikaf bercakap-cakap atau bersenda gurau?

Ada yang membolehkan sepanjang tidak berlebihan dan ada juga yang tidak membolehkan.

Pada intinya tujuan beri’tikaf adalah mendekatkan diri kepada Alloh. Segala perbuatan yang dapat menjauhkan perhatiannya dari upaya mendekatkan diri kepada Alloh hendaknya ditinggalkan. Sebaliknya, ia harus berupaya mengisi waktunya dengan melakukan amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Alloh.

***

Bolehkah orang yang sedang itikaf membicarakan masalah bisnis atau menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan masalah bisnis?

Berhubungan dengan hal itu ada yang membolehkan dan ada yang tidak. Mereka yang tidak membolehkan menjelaskan bahwa orang yang itikaf tidak boleh melayani pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan masalah bisnis karena orang yang i’tikaf adalah tidak boleh menyibukkan diri dengan kegiatan duniawi.

Jika alasan tidak diperbolehkannya itikaf seperti di atas, bagaimana bila kita niat melakukan kesibukan bisnis untuk kepentingan dunia dan akhirat? Apalagi di zaman sekarang banyak tersedia sarana dan prasarana yang memungkinkan seseorang bekerja di mana saja, misalnya menggunakan Zoom, Gmeet, dan Google Workspace.

 

C:  Berobat

Bolehkah orang yang sedang itikaf keluar masjid untuk berobat?

Boleh, karena pergi berobat termasuk keperluan yang mendesak bagi dirinya dan tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Bila dapat memanggil dokter untuk datang memeriksanya dan mengobatinya di dalam masjid dengan sempurna juga boleh.

 

D: Makan di rumah

Apakah boleh seseorang yang melakukan itikaf pulang ke rumah untuk makan dan berbincang-bincang atau bercengkerama dengan keluarga?

Pulang untuk makan boleh, bagaimana bila dilanjutkan dengan bercengkerama dengan keluarga?

Ada hadits berikut ini:

Dari ‘Aisyah “sungguh aku pernah masuk ke rumah karena sesuatu keperluan ketika ada orang sakit di rumah itu, tetapi aku tidak berhenti untuk menanyainya kecuali sambil berjalan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

E: Menyanyi dan Menonton TV

Bolehkah itikaf dengan menyibukkan diri menyanyi atau menonton TV dan sebagainya agar tidak dirundung kesepian?

Kita kembalikan lagi kepada tujuan i’tikaf adalah untuk bertakarrub kepada Alloh Yang Maha Esa. Oleh karena itu sebaiknya melakukan hal-hal yang bermanfaat dengan dzikir, istighfar, membaca Al Qur’an, menela’ah hadits, dan amalan-amalan sunah lainnya sehingga bisa melupakan godaan-godaan duniawi.

 

F: Meninggalkan Pekerjaan

Apakah sah itikaf seorang pegawai atau karyawan yang meninggalkan pekerjaannya?

I’tikaf sah selama memenuhi syarat-syaratnya, tetapi i berdosa karena meninggalkan pekerjaannya. Seorang pegawai atau karyawan wajib memenuhi SOP perusahaan dan tugasnya dengan baik, karena hal itu sudah merupakan perjanjian yang telah dibuatnya dengan pihak lain di tempat kerjanya.

Melanggar janji adalah dosa dan orang yang melakukannya harus mempertanggungjawabkannya sebagaimana tersebut dalam  QS. Al-Israa’ (17) : 34 yang artinya:

“Dan penuhilah perjanjian karena perjanjian itu pasti dipertanggungjawabkan”

 

G: Anak dilarang orang tuanya

Apakah sah i’tikaf seorang anak yang dilarang orang tuanya?

Menaati orang tua adalah wajib, sedangkan itikaf itu sunah. Jadi, perbuatan sunah tidak boleh mengalahkan perbuatan wajib.

 

H: Tidak memenuhi nafkah keluarga

Bolehkah seseorang itikaf tanpa memenuhi nafkah keluarga?

Memberi nafkah keluarga, anak dan istri adalah wajib, sedangkan i;tikaf adalah sunah. Orang seperti ini berdosa kepada keluarga, isteri dan anaknya yang terlantar akibat ditinggal itikaf.

 

I: Wanita Haid

Bagaimana itikaf bagi kaum perempuan haid?

Hukum beriktikaf ketika haid adalah tidak boleh melakukan itikaf di masjid karena ia tidak boleh masuk masjid, padahal salah satu syarat i’tikaf adalah tinggal di masjid.

Bagaimana dengan perempuan istihadlah, bolehkah beri’tikaf?

Boleh sebagaimana tersebut dalam hadits berikut ini:

Dari ‘Aisyah sesungguhnya Nabi saw beri’tikaf ditemani salah seorang isterinya yang tengah mengalami istihadlah (HR. Bukhari)

 

J: Tidur

Bolehkah i’tikaf tidur?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita kembalikan lagi kepada niat melakukan itikaf. Jika niat melakukan itikaf adalah untuk mendekatkan diri kepada Alloh, maka kalaupun tidur pun tidak akan berlebihan, kalau berlebihan sama juga pindah tidur dari rumah ke masjid 🙂

 

04: I’tikaf Lailatul Qadar

i'tikaf lailatul qadar

Bagaimana i’tikaf di malam lailatul qadar dan amalan i’tikaf lailatul qadar?

Perhatikan pengertian, prosedur dan tata cara itikaf saat malam lailatul qadar beserta amalannya berikut ini:

A: Pengertian Lailatul Qadar

Apa arti lailatul qadar?

Lailatul qadar artinya malam yang mulia atau malam yang agung.

Malam lailatul qadar yaitu malam saat diturunkannya sekaligus Al Qur’an oleh Alloh dari Lauhil Mahfuds ke Baitul Izzah di langit yang paling dekat dengan bumi. Dari tempat ini kemudian diturunkan beangsur-angsur kepada Nabi Muhammad saw selama kurang lebih 23 tahun dan bermula pada suatu malam pada bulan Ramadhan.

Jadi, secara umum pengertian lailatul qadar adalah malam lailatul qadar yaitu malam penuh kemuliaan dan kesejahteraan sampai subuh.

Bagaimana i’tikaf saat malam lailatul qadar?

Tata caranya sama seperti yang sudah dijelaskan pada pembahasan di atas.

 

B: Keistimewaan Lailatul Qadar

Apa keistimewaan lailatul qadar?

Keistimewaan lailatul qadar yaitu :

  1. Pada malam itu malaikat turun dari langit ke bumi. Mereka membawa kebaikan, barakah, rahmat dan rasa aman. Malaikat-malaikat itu dipimpin oleh malaikat Jibril.
  2. Saat pertama Al Qur’an di turunkan dari Lauhil Mahfuds ke langit yang terdekat dengan bumi, kemudian secara berangsur-angsur diturunkan kepada Nabi Muhammad saw untuk menjadi petunjuk bagi orang-orang yang beriman.
  3. Ketika lailatul qadar Alloh menurunkan suasana sejahtera dan aman, sejak permulaan malam saat lailatul qadar terjadi sampai waktu Subuh.
  4. Lailatul qadar memiliki nilai kebaikan 1000 bulan daripada malam-malam lain. Lailatul qadar seribu bulan berapa tahun? Bila dihitung kurang lebih senilai 83,33 tahun.
  5. Saat itu Alloh menetapkan rincian semua amal yang akan diterima manusia tahun berikutnya, mencakup ajal, rezeki, kejadian yang akan dialami dan sebagainya (QS Ad-Dukhaan ; 4)
  6. Merupakan waktu mustajab untuk berdoa.
  7. Lalilatul qadar adalah malam diampunkannya dosa-dosa masa lalu orang yang berjaga pada malam itu karena iman dan mengharapkan keridhaan Alloh.

Itulah beberapa keistimewaan lailatul qadar.

 

C: Waktu Lailatul Qadar

01:  Waktu Terjadinya Lailatul Qadar

Lailatul qadar terjadi pada tanggal berapa?

Lailatul qadar sering terjadi pada tanggal-tanggal ganjil sepuluh terakhir di bulan Ramadhan, seperti yang disebutkan dalam hadist berikut ini:

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, sabdanya “barang siapa berjaga-jaga pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap keridhaan Alloh, dosa-dosanya pada masa lalu akan diampuni (HR. Tujuh ahli hadist, kecuali Ibnu Majah)

Pada malam-malam ganjil tersebut kita terjaga untuk mengamati tanda-tanda datangnya lailatul qadar. Bila kita menemukan tanda-tandanya pada suatu malam, maka dicocokkan dengan suasana pagi harinya.

Jika pada pagi harinya terbukti tanda-tandanya, berarti lailatul qadar turun pada waktu semalam. Jadi, kita tidak dapat memastikan malam harinya sebelum mengetahui keadaan pagi harinya.

 

02: Tanda-tannda Lailatul Qadar

Apakah tanda-tanda datangnya lailatul qadar?

Tanda-tandanya adalah suasana pada malam hari itu tenang, angin bertiup sepoi-sepoi, udara nyaman, langit bersih, tidak ada petir dan kilat. Pagi harinya langit bersih dan matahari tidak memancarkan sinar yang menyengat.

Apakah datangnya lailatul qadar selalu ditandai dengan turunnya hujan pada waktu Subuh? Tidak selalu demikian karena apa yang terjadi pada masa Nabi saw hanya sekali seperti disebutkan dalam Hadist riwayat Bukhari dan Muslim.

 

03: Kemunculan Lailatul Qadar

Ada yang berpendapat bahwa lailatul qadar hanya terjadi sekali, yaitu ketika pertama kali Al Qur’an diturunkan kepda Nabi Muhammad saw dan tidak muncul lagi untuk selamanya?

Pendapat ini kurang kuat karena alasan-alasan sebagai berikut:

1: Kejadian lailatul qadar

Lailatul qadar adalah malam yang agung ketika Alloh menurunkan Al Qur’an  sekaligus dari lauhil mahfudz ke langit yang terdekat dengan bumi.

Lailatul qadar sebagai peristiwa turunnya Al Qur’an memang hanya sekali terjadi, akan tetapi lailatul qadar sebagai saat yang mulia atau agung tetap terjadi setiap tahun sampai hari kiamat.

 

2: Kedatangan lailatul qadar

Rasulullah saw menjelaskan bahwa lailatul qadar tetap datang setiap bulan Ramadhan pada suatu malam ganjil seperti yang disebutkan pada hadist-hadist berikut ini:

“Carilah lailatul qadar pada tanggal ganjil dalam 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

“Barangsiapa hendak mencarinya, carilah dia pada tujuh hari terakhir.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Carilah dia pada malam kesembilan, ketujuh atau kelima (dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan).” (HR. Bukhari)

Hadist-hadist tersebut menjelaskan bahwa lailatul qadar itu datangnya pada salah satu malam dan malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan. Jika lailatul qadar tidak datang lagi setiap tahun, tentu Rasulullah tidak akan menyuruh kita mencarinya seperti yang disebutkan dalam hadist-hadist itu.

 

D: Amalan I’tikaf Lailatul Qadar

Apa amalan i’tikaf lailatul qadar ketika datang?

Kita melakukan semua amal kebajikan dan dzikir lailatul qadar serta berdoa kepada Alloh memohon kebaikan dan ampunan-Nya. Doa yang kita panjatkan pada malam lailatul qadar adalah seperti dalam hadist berikut ini:

Dari ‘Aisyah, saya bertanya: “Wahai Rasulullah, sekiranya saya menjumpai dzikir lailatul qadar, apa yang harus saya baca pada waktu?” Sabdanya: “Bacalah Allaahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii (Ya Alloh, Engkau sungguh-sungguh pengampun, Engkau suka mengampuni), oleh karena itu ampunilah aku).” (HR. Tirmidzi)

Bila kita melakukan amal shalih (bersedekah), berdzikir, tasbih, membaca Al Qur’an dan lainnya bertepatan dengan dzikir lailatul qadar sedangkan kita tidak tahu, kita tetap mendapat pahala amal shalih seperti kita melakukannya selama 1000 bulan atau 83,33 tahun.

***

Apakah orang yang mencari lailatul qadar harus melakukan i’tikaf Ramadhan?

Jawabannya tidak, karena Rasulullah saw tidak pernah bersabda bahwa orang yang mencari lailatul qadar harus beri’tikaf. Beliau hanya bersabda demikian:

“Dari Ibnu ‘Abbas, sesungguhnya seorang laki-laki datang kepada Nabi saw, lalu berkata: “Wahai Nabiyullah, saya sudah tua lagi sakit-sakitan, sulit bagi saya untuk berjaga sepanjang malam. Oleh karena itu, suruhlah aku mencari suatu malam yang barangkali pada malam itu Alloh menakdirkan turunnya lailatul qadar.” Beliau bersabda: “Berjagalah pada malam ketujuh (duapuluh tujuh).” (HR. Ahmad)

Hadist tersebut menjelaskan bahwa orang yang mencari lailatul qadar tidak harus melakukan i’tikaf.

 

05: Kesimpulan

I’tikaf adalah salah satu amalan bulan Ramadhan. Ibadah dan amalan Ramadhan lainnya seperti puasa, shalat tarawih, berbagi ta’jil dan zakat fitrah. Setiap ibadah dan amalan memiliki syarat, rukun, dan prosedur pelaksanaannya.

I’tikaf lebih utama dilakukan pada sepertiga yang akhir di bulan Ramadhan di masjid. Ada satu peristiwa luar biasa yaitu lailatul qadar terjadi pada bulan pada bulan Ramadhan yaitu malam penuh kemuliaan dan kesejahteraan sampai Subuh.

Oleh karena itu, jika tidak ada aral melintang mengoptimalkan amalan-amalan Ramadhan, seperti i’tikaf akan memberikan dampak luar biasa bagi diri kita baik saat ini maupun setelah kehidupan di dunia.

Demikian sedikit yang bisa kami sampaikan tentang i’tikaf dan tata caranya serta lailatul qadar, semoga bermanfaat dan terima kasih.*****

manajemen keuangan dan SOP