Agar Senyummu Terus Merekah dan Tidak Dibuat Pusing Piutang, maka Tentukan Cadangan Kerugian Piutang dan Inilah Cara Menghitungnya

piutang dan senyuman

 

mengapa kerugian piutang perlu dicadangkan?

Masih tentang piutang, kali ini mengkaji mengenai cadangan kerugian piutang.

Mungkin ada yang bertanya seperti quote di atas, jawaban simple-nya tentu agar kita tidak dipusingkan dengan piutang dan aktivitas usaha bisa berjalan dengan baik.

Seperti sudah dibahas dalam artikel ini, kerugian piutang timbul karena adanya prinsip bahwa piutang yang dicatatkan di laporan keuangan (neraca) adalah hanya sebesar jumlah yang diharapkan akan dapat ditagih.

penghitungan_julmlah_piutang

Karena laporan keuangan (neraca) disusun tiap akhir periode, maka tiap akhir periode dilakukan penaksiran jumlah kerugian piutang yang akan dibebankan ke periode yang bersangkutan.

Ada dua dasar yang dapat digunakan untuk menentukan jumlah kerugian piutang, yaitu :

Dasar #1. Jumlah penjualan





Apabila kerugian piutang itu dihubungkan dengan proses pengukuran laba maka dasar perhitungan kerugian piutang adalah jumlah penjualan (pendekatan pendapatan-biaya).

Kerugian piutang dihitung dengan cara mengalikan persentase tertentu dengan jumlah penjualan periode tersebut.

Persentase kerugian dihitung dari perbandingan piutang yang dihapus dengan jumlah penjualan tahun lalu, kemudian disesuaikan dengan keadaan tahun yang bersangkutan.

Kerugian piutang timbul karena adanya penjualan kredit, oleh karena itu sebaiknya kerugian piutang juga dihitung dari penjualn kredit.

Padahal ada penjualan kredit dan tunai maka untuk praktisnya persentase kerugian piutang bisa didasarkan pada jumlah penjualan pada periode yang bersangkutan.

Taksiran kerugian piutang ini dibebankan ke rekening kerugian piutang dan kreditnya adalah rekening cadangan kerugian piutang.

Dasar #2. Saldo piutang

Apabila saldo piutang digunakan sebagai dasar perthitungan kerugian piutang maka arahnya adalah menilai aktiva dengan teliti (pendekatan aktiva-utang).

Perhitungan kerugian piutang atas dasar piutang akhir periode dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu :

Cara #1. Menaikkan Cadangan Kerugian Piutang

Persentase kerugian :

perhitungan_persentase_kerugian

Saldo rekening cadangan kerugian piutang :

perhitungan_saldo_rekening_cadangan_kerugian_piutang

Contoh perhitungan dan pencatatan:
Pada tanggal 31 Desember 2015 saldo rekening piutang sebesar Rp. 15.000.000,-. Saldo kredit rekening cadangan kerugian piutang Rp. 15.000,-. Persentase kerugian piutang ditetapkan sebesar 2%.




Perhitungan dan pencatatan kerugian piutang serta rekening cadangan kerugian piutang adalah sebagai berikut :

metode_cadangan_dinaikkan

Dari contoh perhitungan dan pencatatan jurnal di atas, menunjukkan bahwa saldo rekening cadangan kerugian piutang adalah Rp. 300.000,-.

Selanjutnya dapat ditentukan juga jumlah piutang yang dapat ditagih sebesar :
Rp. 15.000.000 – Rp. 300.000 = Rp. 14.700.000,-

Kekurangan dari cara ini adalah, bila dilihat dari sisi laporan laba rugi tidak bisa menunjukkan kerugian yang sebenarnya dari periode tersebut.

Kenapa?

Karena dalam perhitungannya dipengaruhi oleh cadangan kerugian piutang periode sebelumnya.

Cara #2. Menambah Cadangan Kerugian Piutang

Cara untuk menghitung kerugian piutang hampir sama dengan cara #1, namun tidak memperhatikan saldo rekening cadangan kerugian piutang :

perhitungan_kerugian_piutang_metode_2

Mengambil data contoh perhitungan dan pencatatan dari cara #1 maka perhitungan dan pencatatan kerugian piutang adalah sebagai berikut:

menambah_cadangan_kerugian_piutang

Dari contoh di atas kita bisa melihat dengan jelas bahwa saldo rekening cadangan kerugian piutang sebesar Rp. 315.000,- .

Selain itu kita juga bisa menghubungkan kerugian piutang periode tersebut dengan saldo piutangnya tanpa dipengaruhi perhitungan cadangan kerugian piutang periode sebelumnya.

Beberapa kekurangan dari cara #2 ini adalah tidak bisa memberikan informasi jumlah piutang yang dapat ditagih dan bisa terjadi dua kali pembebanan kerugian piutang bila di akhir periode yang bersangkutan masih ada piutang-piutang tahun sebelumnya yang sudah dihitung kerugian piutangnya.

Namun kelemahan kedua ini bisa dihilangkan dengan cara menghitung saldo piutang pada periode tersebut.

Cara #3. Menaikkan cadangan melalui analisa umur piutang

Cara ini dilakukan dengan membuat klasifikasi umur piutang dari pelanggan, langkah berikutnya adalah menentukan persentase kerugian piutang untuk masing-masing klasifikasi umur piutang.

Sehingga akan diketahui jumlah taksiran kerugian piutang.

Jumlah kerugian piutang pada periode bersangkutan adalah hasil dari jumlah taksiran kerugian piutang dikurangi atau ditambah dengan saldo rekening kerugian piutang. Bila digambarkan secara sederhana adalah sebagai berikut :

rumus_taksiran_kerugian_piutang

Langkah perhitungan dan pencatatannya :

1. Buat analisa umur piutang

Langkah pertama adalah membuat analisa umur piutang. Cara membuat analisa umur piutang dan contoh data saya ambil dari artikel “Cara Membuat Analisa Umur Piutang

form-analisa-umur-piutang

 

2. Buat taksiran kerugian piutang

Dari analisa umur piutang yang sudah dibuat, selanjutnya dihitung kerugian piutang untuk masing-masing klasifikasi umur piutang dengan persentase yang telah ditetapkan.

Taksiran kerugian piutang dapat disusun sebagai berikut :

taksiran_kerugian_piutang

Dari tabel di atas diperoleh jumlah taksiran kerugian piutang sampai akhir periode bersangkutan yaitu sebesar Rp. 3.112.617.

Sedangkan jumlah kerugian piutang yang dibebankan untuk periode bersangkutan adalah Rp. 3.112.617 dikurangi atau ditambah saldo rekening cadangan kerugian piutang (bila saldo rekening cadangan kerugian piutang debit maka ditambah dan dikurangi bila saldo rekeningnya kredit).

Mengambil contoh data dari cara #1, tanggal 31 Desember 2015 Saldo kredit rekening cadangan kerugian piutang Rp. 15.000,-. Maka kerugian piutangnya sebesar Rp. 3.112.617 – Rp. 15.000 = Rp. 3.097.617

pencatatan_kerugian_piutang_cara_3
Dengan cara #3 ini, jumlah piutang yang dilaporkan di laporan keuangan (neraca) lebih mendekati kenyataan karena cara ini dilakukan penaksiran untuk tiap debitur.

***

2 Komentar

  1. pencadangan piutang seperti ini apa juga bisa diterapkan di usaha kecilpak, mengingat marjin keuntungan usaha ini juga tipis (kecil). misalnya toko pracangan di kampung seringkali menggunakan penjualan secara kredit pada pelanggannya.

    • Dalam segala sesuatu selalu ada kepantasan. Misalnya kalau masih bisa menggunakan 10 jari untuk menghitung tentunya tidak/belum perlu membeli kalkulator atau komputer. Namun mempelajari tidak ada salahnya untuk mempelajari ilmunya baik kalkulator atau komputer. salah satu tujuannya agar bila kondisinya sudah pantas untuk menggunakan kalkulator atau komputer maka semuanya sudah siap.

Komentar ditutup.