Aset lancar atau aktiva lancar adalah aktiva yang secara normal berubah menjadi kas dalam waktu satu tahun atau kurang. Aktiva lancar (current asset) yang paling likuid adalah kas dan setara kas.
Pengelolaan aktiva lancar dan struktur utang akan mempengaruhi besarnya modal kerja, baik dalam artian neto maupun bruto, dan ada 3 metode pendanaan untuk menilai jumlah modal kerja agar perusahaan memutuskan kebijakan yang optimal. Apa saja 3 metode tersebut dan bagaimana cara menghitung aset lancar? Mari ikuti pembahasan beserta contoh-contohnya berikut ini…
Manajemen Aktiva Lancar
Hubungan Aktiva Lancar dan Kewajiban Lancar
Apa hubungan antara keduanya?
Manajemen modal kerja biasanya menyangkut pengelolaan aktiva-aktiva ini dan manajemen hutang lancar. Sedangkan pengelolaan aktiva tetap, yaitu aktiva yang berubah menjadi kas merlukan waktu lebih dari satu tahun, dan biasa disebut sebagai capital budgeting.
Hubungan aktiva lancar dan kewajiban lancar berkaitan dengan penentuan tingkat yang layak dari aktiva lancar dan kewajiban lancar, yaitu menyangkut keputusan-keputusan mendasar dalam likuiditas perusahaan dan komposisi umur (maturity) hutang-hutangnya.
Keputusan-keputusan tersebut akan dipengaruhi oleh trade-off antara profitabilitas dan risiko. Keputusan yang menyangkut likuiditas aktiva perusahaan berkaitan dengan:
- manajemen kas
- keputusan investasi pada sekuritas
- kebijakan dan prosedur penjualan kredit
- manajemen persediaan, dan
- manajemen aktiva tetap.
Semakin rendah proporsi aktiva likuid, semakin besar profitabilitas perusahaan.
Bila kita pertimbangkan bahwa biaya hutang jangka pendek lebih rendah dari biaya hutang jangka panjang. Maka dipandang dari pertimbangan profitabilitas, perusahaan akan lebih baik menggunakan hutang jangka pendek.
Jika strategi tersebut dilakukan, maka perusahaan akan mempunyai modal kerja. Dalam artian selisih antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar (modal kerja netto) yang rendah, bahkan negatif. Yang menjadi kompensasi strategi ini adalah risikonya, yaitu risiko mengalami kesulitan likuiditas (technical insolvency).
Apa itu technical insolvency?
Pengertian technical insolvency adalah kejadian bila bila perusahaan tidak mampu membayar kewajiban tunainya. Yaitu keadaan di mana nilai aktiva sesudah lebih kecil dari nilai hutang-hutangnya, atau modal sendiri negatif, atau disebut sebagai insolvable.
Baca artikel terkait tentang keputusan investasi.

Struktur Jangka Waktu Pendanaan
Bila diasumsikan bahwa perusahaan telah mempunyai kebijakan tentang:
- pembayaran pembelian, tunai atau kredit (kalau kredit berapa lama akan dilunasi)
- pembayaran upah dan gaji
- pembayaran pajak dan biaya-biaya lain
Maka jumlah hutang dagang dan rekening/akun accruals, seperti:
- pajak yang harus dibayar
- hutang gaji
akan berubah dengan sendirinya bila aktivitas perusahaan berubah.
Dengan kata lain, rekening-rekening tersebut adalah sumber pendanaan spontan jangka pendek yang tidak perlu dicarikan sumbernya. Yang menjadi perhatian kita adalah: “bagaimana aktiva yang tidak didukung oleh pendanaan spontan tersebut?”
Ada 3 jenis pendanaan yang perlu diperhatikan terkait struktur jangka waktu , yaitu:
#1: Pendanaan Hedging Aktiva Lancar
Apa yang dimaksud pendanaan hedging?
Strategi pendanaan hedging adalah membiayai setiap aktiva dengan dana yang jangka waktunya kurang lebih sama dengan jangka waktu perputaran aktiva tersebut menjadi kas. Dengan demikian, variasi jangka pendek aktiva lancar akan dibiayai dengan pendanaan jangka pendek.
Struktur komposisi aktiva lancar permanen akan dibiayai dengan hutang panjang atau modal sendiri, demikian pula untuk aktiva tetap.
Perhatikan gambar yang menunjukkan kondisi tersebut:

Strategi pendanaan hedging mendasarkan diri atas prinsip akuntansi matching principle, yang menyatakan:
“sumber dana hendaknya disesuaikan dengan berapa lama dana tersebut diperlukan”
Jadi bila dana tersebut hanya untuk keperluan jangka pendek, maka sumber dana jangka bisa digunakan. Sebaliknya, penggunaan untuk jangka panjang, seharusnya dibiayai dengan sumber dana jangka panjang pula.
Dengan menyelaraskan antara struktur aktiva dan struktur hutang perusahaan, maka risiko yang dihadapi adalah penyimpangan aliran kas dari diharapkan.
Kesulitan penggunaan strategi pendanaan hedging adalah memperkirakan jangka waktu skedul arus kas bersih dan skedul pembayaran hutang.
Selalu terdapat unsur ketidakpastian. Karena selalu muncul trade-off antara profitabiltas dan risiko.
Semakin besar margin of safety yang disediakan dalam penentuan jangka waktu pinjaman untuk menutup kemungkinan penyimpangan arus kas bersih, semakin aman bagi perusahaan.
Tetapi akibatnya perusahaan akan mencari dana yang melebihi jangka waktu dana tersebut akan digunakan dalam perusahaan. Dengan kata lain akan terjadi kecenderungan dana menganggur yang berarti penurunan profitabilitas juga rendah.sehingga, risiko rendah profitabilitas rendah.
Bagaimana jika perusahaan selalu menggunakan hutang jangka pendek, dengan pertimbangan nanti akan diperpanjang?
Jika cara ini ditempuh, ada dua hal yang perlu diperhatikan:
- Apakah benar perusahaan nanti bisa memperpanjang kredit tersebut?
- Apakah suku bunga tetap akan seperti kredit sebelum diperpanjang?
Inilah risiko yang perlu diperhatikan, meskipun kredit jangka pendek memberikan bunga yang lebih rendah.