Hubungan Aktiva Lancar dan Operasi Perusahaan
Sekarang kita beralih ke aktiva lancar.
Seandainya perusahaan telah menetapkan kebijakan tentang piutang dan persediaan. Maka jumlah aktiva lancar disamping dipengaruhi oleh tingkat operasi perusahaan. Atau penjualan yang diharapkan akan tercapai juga akan dipengaruhi oleh besar kecilnya perusahaan menyediakan kas atau aktiva likuid.
Untuk tingkat operasi yang sama, semakin besar aktiva likuid yang disediakan, semakin besar jumlah aktiva lancar yang dimiliki.
Hubungan antara tingkat operasi perusahaan dengan jumlah aktiva lancar dan aktiva tetap yang dimiliki ditunjukkan pada gambar berikut:

Meskipun hubungan antara jumlah aktiva lancar dengan tingkat kegiatan tidaklah linear, tapi dapat dilihat bahwa semakin besar tingkat kegiatan. Semakin besar pula jumlah aktiva lancar yang dimiliki perusahaan.
Besar kecilnya aktiva lancar tersebut juga dipengaruhi oleh besar kecilnya aktiva likuid yang dipertahankan oleh perusahaan.
Semakin besar aktiva likuid yang disediakan, semakin besar jumlah aktiva lancar yang dimiliki. Semakin besar saldo kas yang disediakan, semakin besar kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban kasnya.
Sebaliknya, dengan semakin banyaknya kas yang dimiliki, semakin rendah profitabilitas perusahaan, karena bisa diasumsikan memberikan profitabilitas yang paling rendah.
Dan bagaimana cara menghitung nilai depresiasi aset tetap, pelajar langkah-langkahnya di Metode Penyusutan Aset Tetap
Perhatikan contoh analisis aktiva lancar berikut:
Perusahaan berpendapat bahwa perputaran piutang sebanyak 6X dalam satu tahun dan rasio persediaan sebesar 20% dari penjualan merupakan kebijakan baik.
Perusahaan menganut tiga kebijakan tentang penyediaan aktiva likuid, yaitu kas dan sekuritas yang dimiliki, yaitu: Kebijakan I, II, dan III. Kebijakan I adalah kebijakan yang paling konservatif, sedangkan kebijakan III adalah kebijakan yang paling agresif.
Perhatikan perbandingan 3 kebijakan tersebut disajikan dalam tabel berikut:

Nampak bahwa kebijakan yang paling konservatif (kebijakan I) memberikan profitabilitas (yaitu rentabilitas ekonomi) yang paling rendah. Sedangkan kebijakan yang agresif (kebijakan III) memberikan rentabilitas ekonomi yang paling tinggi.
Contoh yang disederhanakan tersebut menunjukkan adanya trade-off antara risiko yaitu likuiditas dengan profitabilitas.
Jika manajemen perusahaan mengutamakan likuiditas, mereka terpaksa mengorbankan profitabilitas. Maka mereke terpaksa mengorbankan profitabilitas dan sebaliknya. Masalah ini disebut juga sebagai manager’s delimma

Hubungan Aktiva Lancar dan Kewajiban Lancar
Bagaimana kombinasi keputusan struktur hutang dan aktiva lancar?
Apabila kedua keputusan dikombinasikan, maka kita bisa menjumpai berbagai situasi.
Sebagai contoh:
Perusahaan memilih pendanaan agresif. Ini berarti sebagian kebutuhan dana jangka panjang dibiayai dengan dana jangka pendek. Di samping itu, perusahaan juga memilih untuk menyediakan jumlah kas yang sangat sedikit.
Kebijakan ini tentu saja akan sangat meninggikan risiko menghadapi technical insolvency meskipun diharapkan akan memperoleh profitabilitas yang tinggi.
Sebaliknya, perusahaan bisa memilih pendanaan yang agresif, tapi dibarengi dengan penyediaan aktiva likuid yang relatif besar. Dengan demikian risiko technical insolvency bisa dibarengi dengan adanya aktiva likuid yang cukup besar.
Seandainya perusahaan bisa memperkirakan secara akurat pola arus kasnya, maka jumlah aktiva likuid tidak terlalu besar. Demikian juga jangka waktu pinjaman akan bisa sesuai dengan pola kebutuhan akan kas. Sayangnya masa depan selalu penuh ketidakpastian.
Risiko inilah yang harus ditanggung perusahaan.
Dengan demikian perusahaan harus memutuskan berapa margin of safety yang dianggap aman, dan berapa aktiva likuid yang harus disediakan.
Masalah dalam analisis adalah biaya karena technical insolvency kadang sulit diukur.
Jika suatu perusahaan sering tidak mampu memenuhi kewajiban finansial, hanya karena pada saat kewajiban tersebut jatuh tempo tidak memiliki kas. Maka mungkin saja para suppliers, bank, dan pihak-pihak lain, berkurang kepercayaan mereka terhadap perusahaan tersebut.
Masalahnya adalah berapa biaya yang ditanggung oleh perusahaan, oleh karena berkurangnya kepercayaan tersebut? Bagaimana menaksir biayai ini?
Karena itulah sering perusahaan hanya menentukan probabilitas bahwa perusahaan akan mengalami kesulitan likuiditas. Misalnya 5%.
Berdasarkan pengalaman, perusahaan kemudian menentukan berapa aktiva likuid yang pantas dimiliki, bagaimana struktur pendanaan, dan sebagainya.