Pengertian Aktiva Lancar dan Struktur Utang

Menaksir Jumlah Modal Kerja

Bagaimana cara menaksir jumlah modal kerja?

Ada beberapa kasus di mana hasil perhitungan jumlah modal kerja menghasilkan angka yang berbeda antara satu metode dengan metode yang lain.

Masalah tersebut sebenarnya berasal dari perbedaan pengertian tentang modal kerja. Pengertian modal kerja menurut para ahli adalah dana yang diperlukan untuk operasi sehari-hari.

Karena itu dana untuk investasi jangka panjang (membeli aktiva tetap)tidak dimasukkan ke dalam pengertian ini. Sayangnya pengertian ini kemudian menjadi berbeda sewaktu dikaitkan dengan masalah pendanaannya.

Pengertian yang digunakan oleh berbagai bank di Indonesia adalah bahwa modal kerja diartikan sebagai aktiva lancar untuk operasi perusahaan. Karena itu, misalnya tidak termasuk di dalamnya piutang kepada manajemen dan investasi pada sekuritas.

Untuk menghitung kebutuhan modal kerja, bank akan memproyeksikan berapa aktiva lancar tersebut. Kemudian sekian persennya akan disediakan dananya dalam bentuk kredit modal kerja.

Untuk memperjelas uraian ini, perhatikan contoh perhitungan modal kerja dengan menggunakan berbagai metode berikut ini:

#1: Metode perputaran modal kerja

PT Era Milenial pada tahun 2019 mencapai penjualan sebesar Rp 2.000 juta. Jumlah aktiva lancar pada akhir tahun 2019 adalah sebagai berikut:

  • Kas = Rp 50 juta
  • Piutang = Rp 300 juta
  • Persediaan = Rp 150 juta
  • Jumlah aktiva lancar = Rp 500 juta

Untuk tahun 2020 perusahaan memperkirakan akan bisa menciptakan penjualan senilai Rp 2.500 juta. Perusahaan kemudian mengajukan kredit modal kerja kepada bank.

Untuk menaksir modal kerja (dalam artian aktiva lancar) digunakan metode perputaran modal kerja. Perputaran komponen-komponen aktiva lancar tersebut dihitung dengan cara sebagai berikut:

Kas = Penjualan/Rata-rata kas = Rp 2.000/50 = 40,00x
Piutang = Penjualan/Rata-rata piutang = Rp 2.000/300 = 6,67x
Persediaan = Penjualan/Rata-rata persediaan = Rp 2.000/150 = 13,33x

hitung aktiva lancar

Periode keterikatan dana:

Kas = 360/40 = 9 hari
Piutang = 360/6,67 = 54 hari
Persediaan = 360/13,33 = 27 hari

Dengan demikian maka periode terikatnya dana dalam modal kerja (aktiva lancar):

= 9+54+27 = 90 hari

Hal ini berarti perputaran modal kerja adalah:

= 360/90 = 4x dalam satu tahun

Karena itu, bila diperkirakan pada tahun 2020 penjualan akan mencapai Rp 2.500 juta. Maka jumlah modal kerja (yaitu aktiva lancar) pada tahun 2020:

= Rp 2.500/4 = Rp 625 juta

Jika jumlah aktiva lancar pada tahun 2019 sudah sebesar Rp 500 juta, maka tambahan aktiva lancar adalah Rp 125 juta. Inilah jumlah yang akan dimintakan kredit kepada bank.

Jika bank menetapkan bahwa hanya 70%-nya diberi kredit, maka kredit modal kerjanya adalah:

= Rp 125 juta X 70%
= Rp 57,5 juta

Perhatikan bahwa pada tahun 2019 jumlah aktiva lancar adalah 25% penjualan yang tercapai pada tahun tersebut. Dengan menggunakan metode perputaran modal kerja, maka jumlah aktiva lancar yang diproyeksikan akan mencapai 25% dari penjualan tahun 2020, yaitu:

= 0,25 x Rp 2.500
= Rp 625 juta.

Oleh karena itulah metode peputaran modal kerja ini sebenarnya sama dengan persentase penjualan.

Perhatikan juga bahwa dalam menghitung kebutuhan dana untuk modal kerja.

Perhitungan dana untuk membiayai piutang adalah sejumlah (taksiran) jumlah piutang di Neraca keuangan perusahaan. Hal ini berbeda dengan analisis yang telah kita lakukan yang menjelaskan bahwa jumlah dana untuk membiayai piutang bukanlah keseluruhannya, tapi hanya komponen biayanya.

Profit margin tidak perlu disediakan dananya. Jdai, bila profit margin-nya adalah 10%. Maka dana untuk membiayai piutang adalah 90% x jumlah piutang. Hal ini disebabkan karena piutang akan dicatat pada harga jual, sedangkan dana yang diperlukan sesuai dengan harga pokoknya.

Modal kerja dalam artian aktiva lancar disebut juga modal kerja bruto.

Satu catatan perlu kita berikan untuk istilah perputaran modal kerja. Beberapa buku teks dari USA menggunakan istilah cash cycle untuk pengertian ini.

Dengan ini istilah tersebut menunjukkan bahwa lama kas akan terkait dengan modal kerja sebelum kembali lagi menjadi kas.

Jika periode terikatnya dana pada persediaan adalah 27 hari. Maka hal ini berarti bahwa rata-rata barang tersebut berada di gudang selama 27 hari, kemudian laku terjual. Sayangnya penjualan dilakukan secara kredit. Yang dalam contoh kita memerlukan waktu 54 hari untuk dibayar.

Denga demikian, seandainya pembelian barang tersebut dilakukan secara tunai. Maka setelah jangka waktu 27 hari + 54 hari = 81 hari, kas akan diterima kembali.

Dalam pengertian inilah sebenarnya yang menunjukkan bahwa cash cycle adalah selama 81 hari  atau:

= 360/81 = 4,44x dalam satu tahun

Kalau perhitungan di atas digunakan periode 90 hari. Maka hal tersebut disebabkan oleh kita memasukkan faktor aktiva likuid (untuk keperluan mempertahankan likuiditas) dalam perhitungan modal kerja.

Jadi perhitungan cash cycle, dalam pengertian periode sejak pengeluaran kas sampai menjadi kas kembali sebenarnya adalah 81 hari. Tapi pemasukkan faktor aktiva likuid mengakibatkan periode cash cycle dihitung 80 hari.

Perhatikan juga bahwa istilah terikatnya dana pada kas sebenarnya hanya menunjukkan berapa lama kas tersebut tertahan di perusahaan.

grafik

#2: Metode Keterikatan Dana pada Modal Kerja

Apa yang dimaksud Metode Keterikatan Dana pada Modal Kerja?

Metode keterikatan dana pada modal kerja adalah metode yang mengakui dua hal penting, yaitu:

  1. Untuk mendanai kebutuhan akan modal kerja telah disediakan sebagian oleh pihak lain dalam bentuk pendanaan spontan.
  2. Dana yang diperlukan untuk membiayai piutang seharusnya tidak memasukkan unsur laba.

Karena itu pengertian modal kerja menurut metode ini adalah selisih antara aktiva lancar tidak termasuk laba dalam rekening piutang) dengan pendanaan spontan.

Untuk memperjelas pembahasan marilah kita perhatikan contoh-contoh perhitungan modal kerja berikut ini:

Misalkan Pak Bejo membuka usaha warung makan. Standar Operasional Prosedur – SOP warung makan sederhana yang dilaksanakan Pak Bejo adalah:

  • Berbelanja bahan makanan senilai Rp 50.000
  • Menyediakan uang kecil untuk pengembalian sebesar Rp 5.000

Karena perusahaan kecil sederhana ia tidak menggunakan utang dan karenanya 100% modal sendiri. Pada pagi hari setelah pemilik warung makan tersebut, yaitu Pak Bejo membeli bahan makanan, bagaimana bentuk neraca-nya?

Bentuk sederhana dari neraca warung pak Bejo adalah sebagai berikut:

aktiva lancar dalam laporan keuangan
Contoh Laporan Keuangan Neraca sederhana

Jika dalam satu hari Pak Bejo mampu memperoleh laba bersih sebesar Rp 10.000,

Bagaimana bentuk neraca-nya setelah malam hari warung makan tersebut tutup?

Berikut ini bentuk neraca warung makan Pak Bejo itu:

aktiva lancar dalam neraca disusun berdasarkan
Contoh bentuk neraca warung makan

Dari neraca sederhana warung makan Pak Bejo di atas, kita melihat nilai kas menjadi Rp 65.000.

“mengapa kas-nya menjadi senialai Rp 65.000?

Karena ditambah dengan keuntungan Rp 10.000, dan semua aktiva lancarnyatelah menjadi kas. Bila keadaan ini berlangsung terus, “berapa modal yang diperlukan oleh warung makan Pak Bejo?”

investasi obligasi adalah

Jawabannya sederhana sekali, yaitu Rp 55.000!

Kecuali warung makan Pak Bejo tersebut ingin memperbesar usahanya, istilah keren-nya melakukan ekspansi. Tapi bila warung makan pak Bejo bertahan dengan skala usaha yang ada maka modal kerja yang diperlukan cukup Rp 55.000.

Sekarang, misalkan semua makanan warung tersebut diborong oleh suatu perusahaan, dengan pembayaran akan dilakukan minggu depan atau 7 hari lagi.

Apa yang terjadi?

Bila warung makan Pak Bejo tetap hanya memiliki Rp 55.000, keesokan harinya warung makan Pak Bejo akan BERHENTI beroperasi karena kehabisan dana. Dana tersebut akan tertanam dalam bentuk piutang.

Bila piutang tersebut baru dibayar setelah 7 hari. Maka costs piutang (piutang akan dicatat pada harga jual, tapi dana yang diperlukan adalah sebesar costs-nya) tersebut adalah:

= 7 x Rp 50.000
= Rp 350.000

Jadi rumah makan Pak Bejo akan memerlukan tambahan dana sebesar Rp 350.000 agar bisa beroperasi dengan lancar.

Neraca warung makan Pak Bejo akan nampak seperti berikut:

aktiva lancar berdasarkan likuiditas

Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Saldo kas minimal yang dipertahankan adalah Rp 5.000. pengeluaran kas per hari adalah Rp 5.000.

Sedangkan periode terikatnya dana pada:

Proses produksi = 1 hari
Piutang = 7 hari
Periode terikatnya dana pada modal kerja: 1 hari + 7 hari = 8 hari

Karena itu dana yang diperlukan untuk modal kerja adalah:

= (8 x Rp 50.000) + Rp 5.000
= Rp 425.000

Sekarang, misalkan Pak Bejo sebagai pemilik warung makan tersebut dapat membeli bahan-bahan secara kredit dengan jangka waktu satu minggu.

Apa yang terjadi?

Bagaimana bentuk neracanya?

aktiva lancar dalam neraca
Contoh aktiva lancar dalam neraca

Modal kerja yang diperlukan sekarang adalah hanya Rp 55.000. Mengapa?

Karena meskipun diperlukan tambahan dana untuk membiayai piutang, tambahan dana tersebut sebenarnya disediakan oleh supplier bahan-bahan makanan. Karena itu kebutuhan modal kerjanya hanya Rp 55.000. Persoalan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Periode terikatnya dana tersebut adalah:

Proses produksi = 1 hari
Piutang = 7 hari
Utang Dagang = (7 hari)
Periode terikatnya dana pada modal kerja: 1 hari + 7 hari – 7 hari = 1 hari

Karena itu dana yang diperlukan adalah:

= ( 1 X Rp 50.000 ) + Rp 5.000
= Rp 55.000

Manajemen Keuangan Profil

Profesional lulusan ekonomi yang menekuni ERP (SAP), Accounting Software, Business Analyst dan berbagi pengalaman pekerjaan Finance & Accounting.