Akuntansi dan Laporan Keuangan : Dari Zaman Primitif sampai Zaman Now

Akuntansi dan Laporan Keuangan : Dari Zaman Primitif sampai Zaman Now

Akuntansi digunakan untuk ‘mencatat angka’. Jika seorang manajer suatu perusahaan tidak tahu angkanya, ia tidak akan tahu apakah tindakan yang dilakukannya tepat atau tidak.

Jika anda sebagai mahasiswa atau pelajar dan menjalani ujian, tapi tidak diberi tahu nilai yang diperoleh, anda akan kesulitan meningkatkan nilai anda.

Hal yang sama berlaku pula dalam dunia usaha, jika seorang manajer perusahaan, apakah dari bagian pemasaran, personalia, produksi atau keuangan dan tidak memahami laporan keuangan, mereka tidak akan dapat menilai efek dari tindakan yang dilakukanya.

Walaupun hanya para akuntan yang perlu mengetahui cara membuat laporan keuangan. Semua orang yang terlibat dengan dunia usaha perlu mengatahui cara membaca dan menggunakan laporan keuangan.

Baca juga : Anda ingin membuat laporan keuangan?pelajari caranya di Siklus Akuntansi Lengkap dari A Sampai Z.

 

Bagaimana Sejarah Akuntansi dan Laporan Keuangan Dimulai?

Bagaimana Sejarah Akuntansi dan Laporan Keuangan Dimulai?

Laporan keuangan adalah beberapa lembar kertas dengan angka-angka yang tertulis di atasnya.

Namun yang terpenting lagi adalah memikirkan aset-aset nyata yang berada di balik angka-angka tersebut.

Bila anda bisa memahami bagaimana dan mengapa akuntansi ada serta BAGAIMANA Laporan Keuangan digunakan, maka anda akan dapat membayangkan dengan lebih baik apa yang sedang terjadi dan mengapa informasi akuntansi memiliki arti yang begitu penting.

Ribuan tahun silam, individu atau keluarga mampu untuk hidup sendiri, artinya mereka mencari makan sendiri, membuat pakaian sendiri, dan membangun tempat tinggal sendiri.

Kemudian, dimulailah spesialisasi, di mana beberapa orang menjadi mahir dalam membuat tembikar, mata panah, pakaian dan lainnya.

Ketika spesialisai dimulai, begitu pula dengan perdagangan, yang awalnya dalam bentuk pertukaran (barter). Pada awalnya, setiap pengrajin bekerja sendirian dan perdagangan sepenuhnya masih dilakukan secara lokal.

Namun para ahli pengrajin lama kelamaan membuat pabrik-pabrik kecil dan mempekerjakan buruh, uang yang kala itu dalam bentuk kulit kerang mulai digunakan, dan perdagangan meluas tidak terbatas di daerah lokal saja.

Seiring dengan perkembangan ini, dimulailah bentuk primitif dari perbankan, pedagang kaya yang meminjamkan hasil keuntungannya dari transaksi-transaksi yang telah lalu kepada pemilik pabrik swasta yang membutuhkan uang untuk membeli kereta kuda, kapal dan barang dagangan.

Ketika pinjaman pertama diberikan, pihak pemberi pinjaman dapat secara fisik memeriksa harta pihak peminjam dan menilai kemungkinan pinjaman tersebut dilunasi.

Baca juga : Pengertian Perdagangan Internasional dalam Manajemen Keuangan

Namun, lama-kelamaan, keadaan menjadi makin komplek, peminjam mulai mengembangkan pabrik-pabrik besar, pedagang membeli armada kapal dan kereta barang, dan pinjaman diberikan untuk mengembangkan tambang dan pos perdagangan yang jaraknya jauh.

Pada titik tersebut, para pemberi pinjaman tidak dapat lagi memeriksa sendiri harta yang mendukung pinjaman mereka, dan mereka membutuhkan suatu cara untuk meng-ikhtisarkan harta dari si peminjam.

Beberapa investasi juga dibuat atas dasar bagi hasil, dan ini berarti laba harus ditentukan.

Pada waktu yang sama, pemilik pabrik dan pedagang besar membutuhkan LAPORAN untuk melihat seberapa efektif perusahaan mereka telah dijalankan dan pemerintah informasi yang dapat digunakan untuk menilai pajak.

Semua alasan tersebut, menyebabkan munculnya kebutuhan akan adanya LAPORAN KEUANGAN, adanya kebutuhan akan AKUNTAN untuk membuat laporan tersebut, dan AUDITOR untuk memverifikasi keakuratan hasil pekerjaan akuntan.

Sistem ekonomi telah berkembang pesat sejak awal dimulainya, dan akuntansi menjadi makin kompleks. Namun alasan-alasan awal adanya laporan keuangan masih tetap berlaku, yaitu :

  • Bankir dan investor membutuhkan informasi akuntansi untuk mengambil keputusan brilian dan cerdas.
  • Manajer membutuhkannya untuk meng-operasikan usaha secara efisien.
  • Badan perpajakan membutuhkannya untuk menilai pajak dengan cara yang wajar.

 

Bagaimana akuntan bekerja membuat laporan keuangan?

Sangat disadari bahwa pekerjaan menerjemahkan aset FISIK ke dalam ANGKA-angka bukanlah suatu hal yang mudah, seperti yang harus dilakukan oleh akuntan ketika menyusun laporan keuangan.

Bagaimana akuntan bekerja membuat laporan keuangan?

Angka yang disajikan pada neraca umumnya menggambarkan biaya historis dari aset dikurangi persediaan.

Tapi, persediaan dapat rusak, usang, atau bahkan hilang, contohnya aset tetap seperti mesin dan bangunan dapat memiliki nilai yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada biaya historis yang telah disusutkan dan piutang piutang bisa jadi tidak dapat tertagih.

Baca juga : Bila Piutang Anda Sulit Ditagih, Inilah 2 Metode Penghapusan Piutang Tak Tertagih dan Pencatatan Akuntansinya.

Dari sisi kewajiban, beberapa klaim yang sah mungkin tidak tersaji dalam neraca, misalnya kewajiban untuk membayar biaya kesehatan pensiunan.

Beberapa biaya yang dilaporkan pada Laporan LABA RUGI juga mungkin kurang saji, seperti yang terjadi ketika sebuah pabrik dengan masa manfaat 10 tahun disusutkan selama 20 tahun.

Saat memeriksa seperangkat laporan keuangan, anda harus tetap ingat bahwa ada realitas yang nyata di balik angka-angka tersebut. Dan anda hendaknya menyadari bahwa realitas yang nyata di balik angka-angka tersebut.

Selain itu, sebaiknya anda juga harus menyadari bahwa penerjemahan aset-aset fisik menjadi angka yang benar adalah sesuatu yang jauh lebih akurat.

Sebagaimana dijelaskan dalam paragraf-paragraf sebelumnya, bahwa para akuntan harus dapat membuat laporan keuangan, sedangkan pihak lain yang terlibat di dunia usaha perlu mengetahui CARA MENGARTIKANnya.

Agar efektif, baik investor maupun manajer umum harus memiliki pengetahun kerja atas Laporan Keuangan dan apa yang mereka ungkapkan.

Baca juga : cara membaca dan menganalisa laporan keuangan di : Contoh Analisa Laba Rugi untuk Memutuskan Sebuah Bisnis Ditutup atau Tidak

***