Taksiran Utang: Konsep dan Analisis Studi Kasus

Taksiran utang digunakan untuk menghitung utang-utang yang sudah pasti harus dibayar namun jumlahnya belum pasti. Strategi cerdas ini akan sangat membantu Anda untuk bisa tidur nyenyak dan tidak khawatir ketika utang sudah jatuh tempo dan harus dibayar.

“Kok bisa ya orang utang tidak tahu jumlahnya? Lupa atau ‘melupakan’?” “Tidak takut ditagih debt collector di akhirat ta?”

Mungkin ada beberapa orang yang mengeluarkan statement seperti itu, walaupun tidak 100% benar namun tidak 100% salah. Sebenarnya apa itu taksiran utang, apa saja jenis dan bagaimana cara pencatatannya? Mari ikuti pembahasan lengkap beserta contoh soal beserta pembahasan jawaban penyelesaiannya berikut ini…

1. Sekilas Tentang Taksiran Utang

A: Penyebab Timbulnya Taksiran Utang

Biasanya orang yang berhutang tentu tahu jumlah pinjamannya, baik dari jumlah hutang sudah dapat ditentukan, baik dari kontrak maupun dari perhitungan dengan dasar suatu tarif tertentu, misalnya pajak.

Namun tidak semua hutang dapat ditentukan jumlahnya. Pada kasus tertentu ada hutang-hutang yang sudah jelas harus dibayar, tapi pada saat pencatatan jumlahnya masih belum pasti, karena jumlahnya masih belum jelas, tapi kewajibannya sudah pasti maka pada tanggal pencatatan dilakukan perhitungan jumlah kewajiban dengan cara taksiran.

Jurnal Utang

Jurnal utang adalah prosedur akuntansi yang digunakan untuk mencatat transaksi yang menyangkut utang. Misalnya, perusahaan mengajukan permohonan utang kepada bank dan disetujui, maka pada saat terjadi transaksi perusahaan harus membuat jurnal utang. Pada saat membayar angsuran juga harus dibuatkan jurnalnya.

Bagaimana cara membuat jurnal utang? Perhatikan contoh berikut ini:

Pada tanggal 12 Agustus 2022, PT Panongan Indah Permai mengajukan kredit usaha kepada sebuah bank ternama dan disetujui senilai Rp 300.000.000. Tingkat bunga 18% dan akan jatuh tempo 5 tahun.

Transaksi utang tersebut akan dicatat oleh  PT Panongan Indah Permai sebagai berikut:

Sebelum dilakukan pencatatan jurnal, mari dilakukan analisis sederhana terhadap transaksi tersebut. Untuk melakukan pencatatan, kita menerapkan prinsip pencatatan akuntansi double entry.

Apa itu sistem double entry? yaitu prinsip akuntansi yang menerangkan bahwa setiap transaksi keuangan minimal akan berpengaruh terhadap dua pos dan selalu balance di sisi Debit dan Kredit.

Sekarang, yuk diterapkan untuk transaksi utang bank di atas. Transaksi tersebut akan memengaruhi akun kas, yaitu menambah saldo kas perusahaan sehingga dicatat pada sisi Debit. Selain itu juga akan mempengaruhi akun utang, yaitu menambah jumlah utang perusahaan, sehingga dicatat pada sisi Kredit.

Pengenaan bunga berpengaruh terhadap beban bunga, sehingga dicatat di bagian Debit. Utang Bunga pun menjadi bertambah sehingga dicatat di Kredit.

Setelah kita mengetahui pengaruh transaksi, mari dicatat ke dalam format jurnal akuntansi sebagai berikut:

(Debit) Kas …. 300.000.000
(Debit) Beban Bunga 18% …. 54.000.000
(Kredit) Utang Bank Jangka Panjang … 300.000.000
(Kredit) Utang Bunga ….. 54.000.000

Note:

Perhitungan bunga pinjaman bank:

= Rp 300.000.000 x 18%
= Rp 54.000.000

B: Pengelompokkan Taksiran Utang

Taksiran hutang ini mungkin dikelompokkan sebagai hutang jangka pendek atau jangka panjang, tergantung pada saat pelunasan hutang tersebut.

Jika pelunasannya segera maka dikelompokkan sebagai hutang jangka pendek tapi jika pelunasannya akan dilakukan beberapa periode yang akan datang maka dikelompokkan sebagai hutang jangka panjang.

2. Jenis Taksiran Utang Jangka Pendek

Apa saja jenis taksiran utang jangka pendek?

Ada 4 jenis taksiran utang jangka pendek yang nampak dalam laporan posisi keuangan atau neraca (balance sheet) adalah:

1. Taksiran Utang Pajak Penghasilan

Pada akhir periode sesudah diketahui laba yang diperoleh, diperlukan untuk menaksir besarnya Pajak Penghasilan yang akan menjadi beban tahun yang bersangkutan. Besarnya pajak biasanya ditaksir dengan cara mengalikan tarif pajak yang berlaku dengan jumlah laba.

Sesudah taksiran pajak ini dihitung akan dicatat dengan jurnal yang mendebit rekening Pajak Penghasilan dan dikreditkan ke rekening Hutang Pajak Penghasilan.

Perhatikan pencatatan jurnal hutang pajak penghasilan berikut ini:

[Debit] Pajak Penghasilan ……….. Rp xxxx
[Kredit] Utang Pajak Penghasilan …. Rp xxxx

2. Taksiran Utang Hadiah yang Beredar

Kadang-kadang ditawarkan hadiah atas pembelian barang-barang tertentu. Hadiah-hadiah ini merupakan biaya untuk periode di mana penjualan barang-barang tersebut terjadi. Apabila hadiah-hadiah itu habis waktunya pada akhir periode maka tidak perlu dibuat jurnal penyesuaian.

Tapi bila jangka waktu pengambilan hadiah melampaui suatu periode akuntansi, maka pada akhir tahun dibuat jurnal penyesuaian yang mendebit rekening Biaya Hadiah Penjualan dan mengkredit rekening Hutang Hadiah yang Beredar.

Jumlah Hutang Hadiah yang Beredar dihitung dengan cara taksiran dari jumlah penjualan:

[Debit] Biaya Hadiah Penjualan ….. Rp xxxx
[Kredit] Utang Hadiah Yang Beredar ….. Rp xxxx

Manajemen Keuangan Profil

Profesional lulusan ekonomi yang menekuni ERP (SAP), Accounting Software, Business Analyst dan berbagi pengalaman pekerjaan Finance & Accounting.

7 pemikiran pada “Taksiran Utang: Konsep dan Analisis Studi Kasus”

  1. mmm,,begitu yach mas…. jadi makin tahu dan makin pinter nich,,, gara2 baca artkel mas,,

  2. Mantap bisa belajar lagi nih tentang taksiran hutang mas. Udah lama banget nggak pernah pelajari hal ini.

  3. baru nyadar kalau ke-4 point diatas merupakan hutang yg jumlahnya belum pasti nih mas

Komentar ditutup.