3. Taksiran Utang Garansi
Bila barang-barang yang dijual disertai dengan garansi untuk perbaikan-perbaikan maka pada akhir periode dihitung taksiran jumlah biaya yang akan terjadi sebagai akibat garansi tersebut.
Taksiran biaya itu didebitkan ke rekening Biaya Garansi dan dikreditkan ke rekening Taksiran Hutang Garansi:
[Debit] Biaya Garansi ….. Rp xxxx
[Kredit] Taksiran Utang Garansi ….. Rp xxxx
Prinsip pencatatan yang telah diuraikan di atas merupakan cara yang sesuai dengan prinsip matching (mempertemukan). Temukan pembahasan lengkapnya di artikel 5 Konsep Dasar Akuntansi.
Dengan cara tersebut atau disebut sebagai expense warranty treatment, maka biaya garansi dibebankan sebagai biaya pada periode dicatatnya penjualan.
Perhatikan contoh soal dan jawaban akuntansi berikut ini:
MyCom Computer Retail menjual PC. Berdasarkan pengalaman, garansi untuk satu set PC rata-rata Rp. 500.000. Harga jual tiap set PC sebesar Rp. 5.000.000. Jurnal yang dibuat oleh MyCom Computer Retail untuk mencatat penjualan, taksiran garansi, dan biaya yang sesungguhnya dikeluarkan adalah sebagai berikut :
1: Januari – Desember 2024
Penjualan 100 set PC @Rp 5.000.0000
Pencatatan jurnal transaksi penjualan:
[Debit] Piutang … Rp 500.000.000
[Kredit] Penjualan ….. Rp 500.000.000
2: 31 Desember 2024 :
Taksiran biaya garansi :
= 100 x Rp 500.000
= Rp 50.000.000
Pencatatan jurnal garansi :
[Debit] Biaya Garansi … Rp 50.000.000
[Kredit] Taksiran Utang Garansi … Rp 50.000.000
3: Selama tahun 2025:
Biaya perbaikan sesungguhnya untuk PC yang masih dalam masa garansi sebesar Rp 12.000.000. Biaya ini terdiri dari spare part, gaji dan lain-lain.
Pencatatan jurnal biaya perbaikan:
[Debit] Taksiran Utang Garansi … Rp 12.000.000
[Kredit] Kas, Persediaan suku cadang dll… Rp 12.000.000
Kekurangan Metode Taksiran Utang Garansi
Ada metode lain yang bisa digunakan untuk mencatat biaya garansi. Metode ini disebut Sales Warranty Treatment.
Dalam metode ini sebagian harga jual ditunda pengakuannya sampai saat terjadinya pengeluaran biaya garansi yang sesungguhnya. Cara ini berdasar pada accrual, oleh karena itu bisa juga digunakan.
Kelemahan dari metode ini adalah bila dilihat dari prinsip mempertemukan, yaitu penghasilan ditunda menunggu sampai terjadinya biaya.
Seharusnya yang tepat adalah biaya dibebankan sesuai dengan saat pengakuan pendapatan. Oleh karena itu cara pertama yaitu expense warranty treatment sebaiknya yang digunakan.

4. Taksiran Utang Pensiun
Bila karyawan berhenti sesudah bekerja untuk jangka waktu tertentu diberi pensiun, maka biaya pensiun yang dibayarkan selama masa hidupnya karyawan tersebut akan dibebankan sebagai biaya ke periode-periode di mana karyawan tersebut bekerja.
Jumlah pensiun yang akan dibayarkan ditaksir berdasarkan jumlah karyawan, umur dan jangka waktu pembayaran pensiun. Selanjutnya jumlah taksiran tadi dibagi dengan taksiran jangka waktu bekerjanya karyawan tersebut.
Setiap periode jumlah taksiran ini didebitkan ke rekening Biaya Gaji dan Upah ataua Biaya Produksi Tidak Langsung dan dikreditkan ke rekening Uang Pensiun:
[Debit] Biaya Gaji dan Upah …… Rp xxxx
[Kredit] Uang Pensiun ………………. Rp xxxx
Pada saat pensiun dibayar maka rekening Uang Pensiun didebit dan rekening Kas dikredit:
[Debit] Uang Pensiun ….. Rp xxxx
[Kredit] Kas …………………………… Rp xxxx
3. Taksiran Utang vs Utang Bersyarat
Lalu bagaimana dengan hutang-hutang yang sampai pada tanggal pencatatan neraca masih belum pasti apakah akan menjadi kewajiban atau tidak?
Apakah dimasukkan sebagai taksiran hutang atau hutang bersyarat?
Untuk menentukan apakah suatu hutang itu merupakan hutang bersyarat atau taksiran hutang dasarnya adalah kepastian timbulnya kewajiban.
Bila kewajiban membayar itu pasti timbul walaupun jumlahnya belum pasti maka hutang jenis ini merupakan taksiran hutang.
Tapi bila kewajiban membayar itu masih belum pasti, mungkin jumlahnya sudah pasti atau mungkin juga belum pasti, maka hutang-hutang seperti ini merupakan hutang bersyarat.
Jadi perbedaan yang ada antara taksiran hutang dengan hutang bersyarat adalah kepastian timbulnya kewajiban membayar dan bukannya mengenai kepastian jumlahnya. Bagaimana dengan taksiran hutang usaha Anda?
Kesimpulan tentang Taksiran Utang
Persoalan utang piutang perlu dikelola dengan sebaik-baiknya agar keberadaanya tidak mengganggu aktivitas perusahaan secara keseluruhan. Bila jumlah utang piutang masih sedikit, mungkin belum terasa dan belum mengganggu operasi perusahaan.
Namun, bila jumlahnya sudah mulai membesar, maka cepat atau lambat akan mempengaruhi kegiatan perusahaan. Oleh karena itu manajemen perusahaan harus melakukan pengelolaan utang piutang sejak awal. Dan seringkali kelalaian dalam mengelola utang piutang baru akan terasa dampaknya ketika sudah berpengaruh buruk terhadap kegiatan perusahaan.
So, sebelum kejadian seperti itu menimpa Anda, yang belum mulai, mulailah saat ini, dan bagi yang sudah memulai terus lanjutkan menjadi lebih baik lagi. Dan materi tentang taksiran utang ini adalah salah satu bentuk pengelolaan utang yang pelu dilakukan oleh perusahaan.
Dalam pembahasan ini sifatnya hanya pokok-pokoknya saja, silahkan Anda modifikasi dan kembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi usaha serta bisnis Anda.
Demikian sedikit yang bisa kami share, semoga bermanfaat dan terima kasih.
Note:
Boleh menyunting atau menyadur artikel ini, namun mohon SEBUTKAN SUMBERnya, jangan asal ngopy paste, langsung diposting di website Anda/klien Anda. Gak berkah bro!
mmm,,begitu yach mas…. jadi makin tahu dan makin pinter nich,,, gara2 baca artkel mas,,
Mantap bisa belajar lagi nih tentang taksiran hutang mas. Udah lama banget nggak pernah pelajari hal ini.
baru nyadar kalau ke-4 point diatas merupakan hutang yg jumlahnya belum pasti nih mas
hahaha, aku udah gak naksir lagi ne yang namanya utang 😀