Pengertian Biaya Overhead Pabrik, Klasifikasi, Perhitungan, Pencatatan Jurnalnya

Biaya overhead pabrik (factory overhead cost) adalah elemen biaya produksi menurut objek pengeluarannya.

Biaya overhead pabrik disebut juga biaya konversi (conversion cost), yaitu biaya untuk mengkonversi (mengubah) bahan baku menjadi produk jadi.

Bagaimana penggolongan, penentuan tarif, pembebanan, pengumpulan, cara menghitung biaya overhead pabrik dan perlakuan terhadap selisih biaya overhead pabrik?

Yuk ikuti pembahasannya…

 

01: Penggolongan/ Klasifikasi Biaya Overhead Pabrik (BOP)

Biaya overhead pabrik dapat digolongkan dengan 3 cara penggolongan, yaitu:

  1. Klasifikasi BOP menurut sifatnya
  2. Klasifikasi BOP menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan.
  3. Klasifikasi BOP menurut hubungannya dengan departemennya.

Mari dibahas satu-per-satu…

 

A: Penggolongan/ Klasifikasi BOP Menurut Sifatnya

Dalam perusahaan yang produknya berdasarkan pesanan, biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.

Biaya-biaya produksi yang termasuk dalam BOP dikelompokkan menjadi beberapa golongan berikut ini:

  1. Biaya bahan penolong
  2. Biaya reparasi dan pemeliharaan
  3. Biaya tenaga kerja tidak langsung
  4. Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap
  5. Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu
  6. Biaya overhead lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran uang tunai.

 

Sekarang kita bahas satu per satu ya…

#1: Biaya Bahan Penolong

Bahan penolong adalah bahan yang tidak menjadi bagian produk jadi atau bahan yang meskipun menjadi bagian produk jadi.

Tapi nilainya relatif kecil bila dibandingkan dengan harga pokok produksi tersebut.

Dalam perusahaan percetakan misalnya, yang termasuk dalam bahan penolong antara lain adalah bahan perekat, tinta koreksi, dan pita mesin ketik.

Bahan penolong dalam perusahaan kertas adalah soda, kaporit, tapioka, bahan warna, tylose, tawas, arpus, kaoline dan bahan-bahan kimia yang lain.

 

#2: Biaya Reparasi dan Pemeliharaan

Biaya reparasi dan pemeliharaan berupa:

  • biaya suku cadang (spare part),
  • biaya bahan habis pakai (factory suplies) dan
  • harga perolehan jasa dari pihak luar perusahaan untuk keperluan perbaikan dan pemeliharaan emplasemen,
  • perumahan,
  • bangunan pabrik,
  • mesin-mesin dan equipment,
  • kendaraan,
  • perkakas laboratorium, dan
  • aktiva tetap lain yang digunakan untuk keperluan pabrik.

 

#3: Biaya tenaga kerja tidak langsung

Tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja pabrik yang upahnya tidak dapat diperhitungkan secara langsung kepada produk atau pesanan tertentu.

Biaya tenaga kerja tidak langsung terdiri adari:

  • Upah
  • Tunjangan dan biaya kesejahteraan yang dikeluarkan untuk tenaga kerja tidak langsung.

Tenaga kerja tidak langsung terdiri dari:

  • Karyawan yang bekerja dalam departemen pembantu, seperti:
    • Departemen pembangkit tenaga lsitrik
    • Bengkel dan
    • Gudang
  • Karyawan tertentu yang bekerja dalam departemen produksi, seperti:
    • Kepala departemen produksi
    • Karyawan administrasi pabrik
    • Mandor

 

#4: Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap

Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah:

  • Biaya-biaya depresiasi emplasemen pabrik,
  • Bangunan pabrik
  • Mesin dan ekuipmen
  • Perkakas laboratorium
  • Alat kerja
  • Aktiva tetap lain yang digunakan di pabrik

 

#5: Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu

Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya-biaya:

  • Asuransi gedung dan emplasemen
  • Asuransi mesin dan ekuipmen
  • Asuransi kendaraan
  • Asuransi kecelakaan karyawan
  • Biaya amortisasi kerugian trial-run

 

#6: Biaya lain yang secara langsung memerlukan pen

Biaya overhead yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah:

  • Biaya reparasi yang diserahkan kepada pihak luar perusahaan
  • Biaya listrik PLN

 

B: Penggolongan/ Klasifikasi BOP Menurut Perilakunya

Penggolongan biaya overhead pabrik menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume Produksi

Ditinjau dari perilaku unsur-unsur biaya overhead dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, by overhead pabrik dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar overhead pabrik, yaitu:

  • BOP tetap
  • BOP variabel
  • BOP semivariabel

Apa pengertian by overhead variabel?

Biaya overhead pabrik variabel adalah biaya overhead yang berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

Apa pengertian biaya overhead variabel?

Biaya variabel pabrik tetap adalah biaya overhead yang tidak berubah dalam kisar perubahan volume kegiatan tertentu.

Apa yang dimaksud biaya overhead semivariabel?

Biaya overhead pabrik semivariabel adalah by overhead pabrik yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

Untuk keperluan penentuan tarif biaya overhead pabrik dan untuk pengendalian biaya, BOP yang bersifat semivariabel dipecah menjadi dua unsur biaya tetap dan biaya variabel.

 

C: Penggolongan/ Klasifikasi BOP Menurut Hubungannya Dengan Departemen

Jika di samping memiliki departemen produksi, perusahaan juga mempunyai departemen-departemen pembant.

Seperti misalnya, departemen pembangkit tenaga listrik, departemen bengkel, dan departemen air.

Maka biaya overhead mencakup biaya yang terjadi di departemen-departemen pembantu ini, yang meliputi:

  • Biaya tenaga kerja
  • Depresiasi
  • Reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap,
  • Asuransi yang terjadi di departemen pembantu tersebut

***

Ditinjau dari hubungannya dengan departemen-departemen yang ada di pabrik, biaya ovrhead pabrik dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu:

  • Biaya langsung departemen (direct departemental overhead expense)
  • Biaya overhead tidak langsung departemen (undirect departemental overhead expense)

***

Apa itu biaya overhead langsung departemen?

By overhead pabrik langsung departemen adalah biaya overhead yang terjadi dalam departmen tertentu  dan manfaatnya hanya dinikmati oleh departemen tersebut.

Contoh biaya ini adalah:

  • gaji mandor departemen produksi
  • biaya depresiasi mesin
  • biaya bahan penolong.

***

Apa yang dimaksud biaya departemen langsung?

Biaya overhead tidak langsung departemen adalah biaya yang manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departemen.

Contoh beberapa jenis kos produksi tak langsung:

  • biaya depresiasi
  • pemeliharaan dan asuransi gedung pabrik (gedung pabrik digunakan oleh beberapa departemen produksi)

 

02: Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik (BOP)

Dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, biaya overhead dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka.

Mengapa pembebanan BOP kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka?

Lalu bagaimana langkah-langkah penentuan tarif byoverhead pabrik?

Begini alasan dan langkah-langkahnya…

 

A: Alasan Pembebanan BOP Atas Dasar Tarif

Alasan pembebanan biaya overhead kepada pabrik atas dasar tarif yang ditentukan di muka adalah sebagai berikut:

Alasan Pembebanan BOP Atas Dasar Tarif yang Ditentukan di Muka #1:

Pembebanan by overhead pabrik sesungguhnya terjadi seringkali mengakibatkan berubah-ubahnya harga pokok per satuan produk yang dihasilkan dari bulan yang satu ke bulan yang lain.

Hali ini akan berakibat pada penyajian harga pokok persediaan dalam neraca dan besar kecilnya laba atau rugi yang disajikan dalam laporan laba rugi.

Sehingga mempunyai kemungkinan memperngaruhi keputusan-keputusan tertentu yang diambil oleh manajemen.

Sebenarnya harga pokok produksi per satuan tidak harus tetap sama dari bulan ke bulan.

Apabila harga-harga bahan, baik bahan baku maupun bahan penolong.

Serta tarif upah, baik tarif upah tenaga kerja langsung maupun tidak langsung mengalami kenaikan.

Maka wajar juga bila terdapat kenaikan harga pokok produksi per satuan dalam bulan terjadinya kenaikan tersebut.

***

Naik turunnya harga pokok produksi per satuan tidaklah dikehendaki bilamana penyebabnya adalah karena:

  • terjadinya ketidakefisienan,
  • terjadinya biaya yang tidak normal, dan
  • turunnya kegiatan produksi yang sifatnya sementara.

 

Apabila biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi dibebankan kepada produk.

Maka harga pokok produksi per satuan mungkin akan berfluktuasi karena sebab berikut ini:

  1. Perubahan tingkat kegiatan produksi dari bulan ke bulan.
  2. Perubahan tingkat efisiensi produksi.
  3. Adanya BOP yang terjadinya secara sporadik, menyebar tidak merata selama jangka waktu setahun.
  4. Biaya overhead tertentu sering terjadi secara teratur pada waktu-waktu tertentu.

Yuk di bahas satu-per-satu ya…

 

01: Perubahan tingkat kegiatan produksi dari bulan ke bulan.

Karena di antara biaya overhead ada yang bersifat tetap dalam kisar (range) perubahan aktivitas produksi tertentu.

Maka perubahan volume produksi dari bulan ke bulan akan mempunyai dampak terhadap perhitungan harga pokok produksi per satuan.

Jika by overhead pabrik sesungguhnya dibebankan kepada produk.

Produk yang dihasilkan pada bulan yang volume produksinya rendah akan dibebani by overhead pabrik tetap satuan yang tinggi.

Sedangkan produk yang dihasilkan pada bulan yang volume produksinya tinggi akan dibebani dengan biaya overhead tetap per satuan yang rendah.

 

02: Perubahan tingkat efisiensi produksi.

Dalam bulan terntu misalnya, karena tidak adanya pengawasan yang baik terhadap aktivitas produksi.

Maka terjadi kenaikan jumlah bahan penolong yang dipakai dan kelebihan pembayaran upah tenaga kerja tidak langsung, sehingga akan mengakibatkan kenaikan harga pokok produksi per satuan.

 

03: Adanya BOP yang terjadinya secara sporadik.

Adanya biaya overhead pabrik yang terjadinya secara sporadik, menyebar tidak merata selama jangka waktu setahun.

Dalam bulan tertentu seringkali hanya terjadi dua atau tiga kali kerusakan mesin yang menelan biaya perbaikan yang besar.

Bila pesnan harus dibebani dengan by overhead pabrik yang sesungguhnya, maka pesanan yang dikerjakan pada saat jumlah reparasi mesin sedikit, akan menerima beban biaya overhead yang relatif kecil.

Sedangkan pesanan yang sedang dikerjakan pada saat terjadi reparasi mesin besar-besaran, akan menerima beban by overhead pabrik yang relatif besar pula.

Adanya BOP yang bersifat sporadik ini menyebabkan penggunaan biaya overhead sesungguhnya akan menimbulkan ketidakadilan pembebanan biaya tersebut pada produk.

 

04: Biaya overhead tertentu sering terjadi secara teratur pada waktu-waktu tertentu.

Pada bulan terjadinya pembayaran pajak bumi dan bangunan, by overhead pabrik yang dibebankan pada produk menjadi lebih besar.

Bila dibandingkan dengan bulan-bulan lain yang tidak terjadi pembayaran pajak tersebut.

Contoh lain adalah tunjangan hari raya karyawan dan pakain dinas yang diberikan kepada karyawan.

 

Alasan Pembebanan BOP Atas Dasar Tarif yang Ditentukan di Muka #2:

Dalam perusahaan yang menghitung harga pokok produksinya dengan menggunakan metode harga pokok pesanan.

Maka manajemen memerlukan informasi harga pokok produksi per satuan pada saat pesanan selesai dikerjakan.

Padahal ada elemen by overhead pabrik yang baru dapat diketahui jumlahnya pada akhir setiap bulan, atau akhir tahun.

Sebagai ontoh soal biaya overhead:

Bila perusahaan memakai listrik dari perusahaan listrik negara (PLN), maka jumlah tagihan listriknya baru dapat diketahui setelah bulan tertentu berakhir.

 

B: Langkah-langkah Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik

Penentuan tarif biaya overhead pabrik dilakukan melalui tiga tahap, yaitu:

  1. Menyusun anggaran biaya overhead
  2. Memilih dasar pembebanan biaya overhead kepada produks.
  3. Menghirung tarif biaya overhead

Mari di-uraikan satu-per-satu…

 

#1: Menyusun anggaran biaya overhead pabrik

Dalam menyusun anggaran biaya overhead pabrik harus diperhatikan tingkat keagiatan (kapasitas) yang akan dipakai sebagai dasar penaksiran biaya overhead pabrik

Ada tiga macam kapasitas yang dapat dipakai sebagai dasar pembuatan anggaran by overhead pabrik, yaitu:

  • Kapasitas praktis
  • Kapasitas normal
  • Kapasitas sesungguhnya diharapkan

Penentuan praktis dan kapasitas normal dapat dilakukan dengan lebih dahulu menentukan kapasitas teoritis, yaitu volume produksi maksimum yang dapat dihasilkan oleh pabrik.

 

#1.1. Kapasitas teoritis (theoritical capacity)

Apa itu kapasitas teoritis?

Kapasitas teoritis adalah kapasitas pabrik atau suatu departemen untuk menghasilkan produk pada kecepakatan penuh tanpa berhenti selama jangka waktu tertentu.

Apa yang dimaksud kapasitas praktis?

Kapasitas praktis adalah kapasitas teoritis dikurang dengan kerugian-kerugian waktu yang tidak dapat dihindari karena hambatan-hambatan intern perusahaan.

Karena sangat tidak mungkin suatu pabrik dijalankan pada kapasitas teoritis, maka diperhitungkan kelonggaran-kelonggaran waktu dalam penentuan kapasitas, seperti:

  • Penghentian pabrik yang tidak dapat dihindari karena adanya reparasi mesin
  • Tertundanya kedatangan bahan baku dan suku cadang
  • Hari-hari libur
  • Ketidakefisienan

Jadi untuk menentukan kapasitas praktis, maka kapasitas teoritis dikurangi dengan sebab-sebab intern pabrik.

Dalam penentuan kapasitas praktis dalam belum diperhitungkan sebeb-sebab yang berasal dari luar perusahaan, misalnya penurunan permintaan produk.

 

# 1.2. Kapasitas normal (normal capacity)

Apa itu kapasitas normal?

Kapasitas normal adalah kemampuan perusahaan untuk menproduksi dan penjual produknya dalam jangka panjang.

Jika dalam penentuan kapasitas praktis hanya diperhitungkan kelonggaran-kelonggaran waktu akibat faktor-faktor intern perusahaan.

Maka dalam penentuan kapasitas normal diperhitungkan pula kecenderungan penjualan dalam jangka panjang.

 

# 1.3. Kapasitas sesungguhnya yang diharapkan (expected actual capacity)

Apa yang dimaksud biaya overhead pabrik sesungguhnya?

Biaya overhead pabrik sesungguhnya  adalah kapasitas sesungguhnya yang diperkirakan akan dapat dicapai dalam tahun yang akan datang.

Jika anggaran biaya overhead didasarkan pada kapasitas sesungguhnya yang diharapkan tercapai, maka berarti ramalan penjualan tahun yang akan datang dipakai sebagai dasar penentuan kapasitas.

Sedangkan jika anggaran tersebut didasarkan pada kapasitas paraktis dan normal, maka titik berat diletakkan pada kapasitas fisik pabrik.

Penentuan tarif by overhead pabrik atas dasar kapasitas sesungguhnya yang diharapkan adalah pendekatan jangka pendek.

Metode ini pada umumnya mengakibatkan digunakannya tarif yang berbeda dari periode ke periode.

Penentuan tarif biaya overhead pabrik pada dasarnya adalah penaksiran biaya ovehead pabrik sesungguhnya di masa yang akan datang, dan menurut pendekatan jangka pendek.

Dan hal ini dapat dilakukan bila tarif tersebut dibuat atas dasar tingkat kapasitas sesungguhnya yang diharapkan.

 

Kelebihan dan Kelemahan Metode Kapasitas Aktual

Penggunaan kapasitas sesungguhnya yang diharapkan sebagai dasar penentuan tarif biaya overhead pabrik mempunyai beberapa kelemahan sebgai berikut:

Kelemahan #1:

Akan berakibat terjadinya perbedaan yang besar pada tarif biaya overhead pabrik dari tahun ke tahun.

Hal ini biasanya dialami oleh perusahaan-perusahaan yang menggunakan peralatan yang serba otomatik, yang biaya overhead pabrik tetapnya relatif besar, serta yang penjualannya cenderung berfluktuasi.

 

Kelemahan #2:

Sebagai akibat perubahan yang besar pada tarif biaya overhead pabrik lain perode ke periode.

Maka biaya-biaya akibat adanya fasilitas yang menganggur (cost of idle facilities) dikapitalisasikan dan diperhitungkan dalam harga pokok produksi.

Dimasukkannya idle capacity cost dalam tarif by overhead pabrik akan mempengaruhi keputusan tertentu yang dibuat oleh manajemen.

***

Perhatikan contoh berikut ini:

Bila terdapat hubungan antara harga pokok dengan harga jual produk.

Maka pada periode yang difasilitasnya menganggur, harga pokok dan harga jual produk akan lebih tinggi dan manajemen akan kesulitan dalam menjual produknya.

Penentuan tarif biaya overhead pabrik atas dasar kapasitas praktis atau kapasitas normal adalah pendekatan jangka panjang.

Yang menghubungkan tingkat aktivitas perusahaan dengan kapasitas fisik pabrik.

Dan tidak dipengaruhi oleh perubahan-perubahan penjualan yang bersifat sementara.

Dengan pendekatan ini, tarif by overhead pabrik akan tetap konstan untuk jangka waktu yang relatif lama.

Asalkan tidak ada penanmbahan atau pengurangan fasilitas pabrik atau terjai perubahan besar pada tarif pengupahan karyawan atau tenaga kerja langsung (misalnya kenaikan UMK).

Dan kenaikan harga-harga bahan penolong, bahan habis pakai pabrik (factory supplies), dan suku cadang.

 

#2: Memilih dasar pembebanan biaya overhead pabrik kepada produksi

Setelah anggaran biaya overhead pabrik disusun.

Langkah selanjutnya adalah memilih dasar yang akan dipakai untuk membebankan secara adil biaya overhead pabrik pada produk.

Ada berbagai macam dasar yang dapat dipakai untuk membebankan biaya overhead pada produk, antara lain:

  1. Satuan produk
  2. Biaya bahan baku
  3. Biaya tenaga kerja langsung
  4. Jam tenaga kerja langsung
  5. Jam mesin

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih dasar pembebanan yang dipakai adalah:

  1. Harus diperhitungkan jenis BOP yang dominan jumlahnya dalam departemen produksi.
  2. Harus diperhatikan sifat-sifat BOP yang dominan tersebut dan eratnya hubungan sifat-sifat tersebut dengan dasar pembebanan yang akan dipaaki.

***

Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini:

Dalam departemen produksi terdapat 25 jenis elemen biaya overhead pabrik.

Dari sekian banyak jenis biaya overhead pabrik tersebut, biaya asuransi bahan baku adalah jumlah ynag relatif besar.

Karena biaya asuransi bahan baku mempunyai sifat bervaraasi jumlahnya dengan harga pokok bahan baku yang diasuransikan.

Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa by overhead pabrik erat hubungannya dengan harga pokok bahan baku.

Maka adalah masuk akal jika by overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar biaya bahan baku yang dipakai masing-masing produk.

Dan berikut ini diuraikan beberapa dasar pembebanan biaya overhead pabrik pada produk, disertai dengan uraian kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Let’s dive right in….

 

A: Pembebanan BOP Berdasarkan Satuan Produk

Metode satuan produk adalah yang paling sederhana dan langsung membebankan biaya overhead pabrik pada produk.

Beban biaya OHP untuk setiap produk dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Tarif BOP Per Satuan

 

Perhatikan contoh soal biaya overhead pabrik berikut ini:

Taksiran biaya ohp selama 1 tahun anggaran = Rp 2.000.000

Taksiran jumlah produk yang akan dihasilkan selama tahun anggaran tersebut = Rp 4.000 unit

Taksiran biaya overhead sebesar:

= Rp 2.000.000 : 4.000
= Rp 500 per unit produk

***

Jadi misalnya suatu pesanan sebanyak 200 unit akan dibebani biaya overhead pabrik sebesar:

= Rp 500 X 200
= Rp 100.000

Metode ini cocok digunakan dalam perusahaan yang hanya memproduksi satu macam produk.

Bila perusahaan menghasilkan lebih dari satu macam produk yang serupa dan berhubungan erat satu dengan yang lain (perbedaannya hanya pada  berat atau volume).

Pembebanan by overhead pabrik dapat dilakukan dengan dasar tertimbang atau dasar nilai (point basis).

 

B: Pembebanan BOP Berdasarkan Biaya Bahan Baku

Jika biaya overhead pabrik yang dominan bervariasi dengan nilai bahan baku, contoh biaya bahan baku adalah biaya asuransi bahan baku.

Maka dasar yang dipakai untuk membebankannya pada produk adalah biaya bahan baku yang dipakai.

Rumus perhitungan tarif biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut:

Persentase BOP

 

Perhatikan cara menghitung biaya bahan baku dan contoh soal biaya bahan baku berikut ini:

Taksiran biaya overhead selama 1 tahun anggaran = Rp 2.000.000

Taksiran biaya bahan baku selama 1 tahun anggaran = Rp 4.000.000

Tarif biaya overhead adalah sebesar:

= (Rp 2.000.000 : Rp 4.000.000) x 100%
= 50% dari biaya bahan baku yang dipakai

***

Jadi, misalnya suatu pesanan menggunakan bahan baku seharga Rp 30.000

Maka pesanan ini akan dibebani biaya overhead pabrik sebesar:

= 50% x Rp 30.000
= Rp 15.000

***

Semakin besar biaya bahan baku yang dikeluarkan dalam pengolahn produk, maka semakin besar pula biaya overhead yang dibebankan kepadanya.

Metode ini terbatas pemakaiannya.

Suatu produk mungkin dibuat dari bahan baku yang harganya mahal, sedangkan produk yang lain dibuat dari bahan yang lebih murah.

Jika proses pengerjaan kedua macam produk tersebut adalah sama.

Maka produk pertama akan menerima beban biaya overhead pabrik yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan produk yang kedua.

Hal ini kurang fair kan.

Bila biaya overhead bervariasi dengan jumlah (berat) bahan baku, misalnya biaya penanganan persediaan (material handling), biaya maintenance piutang usaha.

Maka dasar pembebanan by overhead pabrik yang dipakai adalah kuantitas bahan baku yang dipakai.

 

C: Pembebanan BOP Berdasarkan Biaya Tenaga Kerja

Jika sebagian besar elemen biaya overhead pabrik mempunyai hubungan yang erat dengan jumlah upah tenaga kerja langsung.

Misalnya: pajak penghasilan dan upah karyawan menjadi tanggungan perusahaan.

Maka dasar yang dipakai untuk membebankan biaya overhead pabriik adalah biaya tenaga kerja langsung.

Tarif biaya overhead dihitung dengan rumus biaya tenaga kerja langsung sebagai berikut:

Biaya TK Langsung

 

Perhatikan contoh biaya tenaga kerja langsung berikut ini:

Taksiran biaya overhead pabrik selama 1 tahun anggaran = Rp 2.000.000

Taksiran biaya tenaga kerja langsung selama 1 tahun anggaran = Rp 5.000.000

Tarif by overhead pabrik adalah sebesar:

= (Rp 2.000.000 : Rp 5.000.000) x 100%
= 40% dari biaya tenaga kerja langsung yang dipakai

 

Jadi, misalnya suatu pesanan menggunakan biaya tenaga kerja lagsung sebesar Rp 20.000, maka pesanan ini akan dibebani biaya overhead pabrik sebesar:

= 40% x Rp 20.000
= Rp 8.000

 

Kelebihan dan Kelemahan Pembebanan BOP Berdasarkan Biaya Tenaga Kerja

Metode biaya tenaga kerja ini mengandung kelemahan sebagai berikut:

Kelemahan #1:

Biaya overhead pabrik harus dipandang sebagai tambahan nilai produk.

Tambahan nilai seringkali disebabkan karena biaya depresiasi mesin dan peralatan yang mempunyai harga pokok tinggi, yang tidak mempunyai hubungan dengan biaya tenaga kerja langsung.

 

Kelemahan #2:

Jumlah biaya tenaga kerja langsung adalah jumlah total upah dengan tarif tinggi dan rendah.

Bila suatu pekerjaan atau produk ditangani oleh karyawan yang tarif upahnya tinggi.

Maka biaya beban biaya overhead akan relatif tinggi bila dibandingkan dengan produk yang dikerjakan oleh karyawan yang tarif upahnya rendah.

 

D: Pembebanan BOP Berdasarkan Jam Tenaga Kerja Langsung

Karena ada hubungan yang erat antara jumlah upah dengan jumlah jam kerja (jumlah upah adalah hasil kali jumlah jam kerja dengan tarif upah).

Maka di samping biaya overhead dibebankan atas dasar upah tenaga kerja langsung, dapat pula dibebankan atas dasar jam tenaga kerja langsung.

Jadi apabila BOP mempunyai hubungan erat dengan waktu untuk membuat produk,.

Maka dasar yang dipakai untuk membebankan adalah jam kerja langsung.

Tarif biaya overhead dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Tarif BOP Per jam

 

Perhatikan contoh berikut ini:

Taksiran by overhead pabrik selama 1 tahun anggaran = Rp 2.000.000

Taksiran jam tenaga kerja langsung selama tahun anggaran tersebut = 2.000 jam

Tarif biaya overhead adalah sebesar:

= Rp 2.000.000 : 2.000
= Rp 1.000 per jam tenaga kerja langsung

 

Jadi, misalnya suatu pesanan menggunakan jam tenaga kerja langsung sebanyak 200 jam, maka pesanan ini akan dibebankan biaya overhead pabrik sebesar:

= Rp 1.000 x 200
= Rp 200.000

 

E: Pembebanan BOP Berdasarkan Jam Mesin

Apabila biaya overhead pabrik adalah bervariasi dengan waktu penggunaan mesin (misalnya bahan bakar atau listrik yang dipakai untuk menjalankan mesin), maka dasar yang dipakai untuk membebankannya adalah jam mesin.

Tarif biaya overhead dihitung sebagai berikut:

Tarif Mesin

Perhatikan contoh berikut ini:

Taksiran by overhead pabrik selama satu tahun anggaran = Rp 2.000.000

Taksiran jam mesin selama tahun anggaran tersebut = 10.000 jam mesin

Tarif by overhead pabrik adalah sebesar:

= Rp 2.000.000 : 10.000
= Rp 200 per jam mesin

 

Jadi, misalnya suatu pesanan menggunakan jam mesin sebanyak 300 jam mesin (dapat dilihat dari laporan produksi), maka pesanan ini akan dibebani by overhead pabrik adalah sebesar sebagai berikut:

= 300 x Rp 200
=  Rp 60.000

 

#3: Menghirung tarif biaya overhead pabrik

Setelah tingkat kapasitas yang akan dicapai dalam periode anggaran ditentukan, dan anggaran by overhead pabrik telah disusun, serta dasar pembebanannya telah dipilih dan diperkirakan.

Maka langkah terakhir adalah menghitung tarif biaya overhead pabrik dengan rumus sebagai berikut:

Tarif BOP

 

Untuk keperluan analisis selisih antara by overhead pabrik sesungguhnya dengan yang dibebankan pada produk atas dasar tarif.

Tarif by overhead pabrik harus dipecah menjadi dua macam tarif biaya OHP tetap dan OHP variabel.

Oleh karena itu, tiap-tiap elemen BOP yang dianggarkan harus sudah digolongkan sesuai dengan perilaku dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan.

Dalam penentuan tarif BOP ini, terdapat masalah mengenai diikutsertakan tidaknya elemen by overhead pabrik yang bersifat tetap dalam perhitungan harga pokok produksi.

***

Dalam akuntansi biaya terdapat dua pendapat tentang elemen-elemen biaya yang dimasukkan dalam harga pokok produksi.

Pendapat pertama: Elemen Harga Pokok Produksi

Pendapat ini mengatakan bahwa semua biaya produksi adalah harga pokok produksi.

Jadi, menurut pendapat ini harga pokok produksi terdiri dari:

  • biaya bahan baku
  • biaya tenaga kerja langsung
  • by overhead tetap maupun variabel

Metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua biaya produksi sebagai harga pokok produksi dikenal dengan nama full costing method.

 

Pendapat Kedua: Elemen Harga Pokok Produksi

Pendapat ini mengatakan bahwa harga pokok produksi hanya terdiri dari biaya-biaya produksi yang berperilaku variabel saja.

Biaya-biaya produksi yang berperilaku tetap diperlakukan sebagai biaya periode (period expense).

Jadi menurut pendapat ini, harga pokok produksi terdiri dari:

  • biaya bahan baku
  • biaya tenaga kerja langsung
  • biaya overhead variabel

Metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi variabel ke dalam harga pokok produksi dikenal dengan nama direct costing atau variabel costing.

***

Adanya dua metode penentuan harga pokok produksi tersebut menyebabkan perlu dipertimbangkannya pemasukan biaya overhead tetap sebagai harga pokok produksi.

Perhatikan contoh perhitungan by overhead pabrik berikut ini:

PT Milenia Jaya memproduksi produknys berdasarkan pesanan.

Dalam menentukan tarif by overhead pabriknya, telah disusun anggaran by overhead pabrik seperti yang dicantumkan dalam tabel berikut ini:

 

PT Milenia Jaya
Anggaran Biaya Overhead Pabrik untuk tahun 20XX
Atas Dasar Kapasitas Normal 80.000 Jam Mesin

Contoh Anggaran Biaya Overhead

***

By overhead pabrik dibebankan pada produk berdasarkan jam mesin.

Anggaran biaya overhead pabrik tersebut disusun pada kapasitas normal sebanyak 80.000 jam mesin.

Perhitungan tarif biaya overhead  adalah sebagai berikut:

Tarif BOP Variabel:

= Rp 5.800.000 : 80.000 jam mesin
= Rp 72,50 per jam mesin

Tarif By BOP Tetap:

= Rp 5.400.000 : 80.000 jam mesin
= Rp 67,50 per jam mesin

Tarif BOP Total:

= Rp 72,50 + Rp 67,50
= Rp 140 per jam mesin

 

03: Pembebanan Biaya Overhead Pabrik (BOP)

Tarif biaya overhead pabrik yang telah ditentukan di muka kemudaian digunakan untuk membebankan BOP pada produk yang diproduksi.

Jika perusahaan menggunakan metode full costing dalam penentuan harga pokok produksinya.

Maka produk akan dibebani BOP dengan menggunakan tarif biaya overhead variabel dan tarif biaya overhead tetap.

Jika perusahaan menggunakan metode variable costing dalam penentuan harga pokok produksi.

Maka produk akan dibebani by overhead pabrik dengan menggunakan tarif by overhead pabrik variabel saja.

 

A: Pembebanan Biaya Overhead Pabrik Metode Full Costing

Setelah tarif by overhead ditentukan sebesar Rp 140 per jam mesin, maka produk yang diproduksi sesungguhnya dibebani dengan menggunakan tarif tersebut.

Jika dari contoh di atas, PT Milenia Jaya menerima 100 macam pesanan dan menghabiskan waktu pengerjaan sebanyak 75.000jam mesin dalam tahun 20XX.

 

Maka by overhead pabrik adalah dibebankan pada produk sebesar:

= Rp 140 x 75.000 jam mesin
= Rp 10.500.000

Pembebanan by overhead pabrik tersebut dicatat dengan jurnal umum sebagai berikut:

[Debit] Barang Dalam Proses – BOP Rp 10.500.000
[Kredit] by overhead pabrik yang Dibebankan Rp 10.500.000

 

B: Pembebanan Biaya Overhead Pabrik Metode Variable Costing

Jika dari contoh PT Milenia Jaya di atas menggunakan metode variable costing, maka by overhead pabrik yang dibebankan pada produk adalah sebesar:

= Rp 72,50 x 75.000 per jam
= Rp 5.437.500

Dan dicatat dengan jurnal sebagai berikut:

[Debit] Barang Dalam Proses –  BOP Rp 5.437.500
[Kredit] By overhead pabrik yang dibebankan Rp 5.437.500

 

Dalam metode variable costing, biaya overhead tetap tidak diperhitungkan sebagai unsur biaya produksi.

Sehingga tidak diperhitungkan sebagai unsur harga pokok persediaan produk jadi maupun persediaan produk dalam proses.

By overhead pabrik tetap diperhitungkan sebagai biaya periode dan langsung digunakan untuk mengurangi pendapatan penjualan dalam periode yang bersangkutan.

 

04: Pengumpulan Biaya Overhead Pabrik Aktual/Sesungguhnya 

A: Tujuan Pengumpulan By Overhead Pabrik

Biaya overhead pabrik sesungguhnya terjadi dikumpulkan untuk dibandingkan dengan biaya overhead yang dibebankan pada produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka.

Selisih yang terjadi antara by overhead pabrik yang dibebankan pada produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka.

Dengan by overhead pabrik aktual/sesungguhnya terjadi adalah by overhead pabrik yang lebih atau kurang dibebankan.

Dalam tahun berjalan, BOP yang sesungguhnya terjadi dikumpulkan dalam rekening By Overhead Pabrik Sesungguhnya.

Sebagai contoh:

Melanjutkan contoh pada PT Milenia Jaya di atas, BOP aktual/sesungguhnya adalah sebesar Rp 10.700.000 dengan rincian seperti berikut ini:

PT Milenia Jaya
Biaya Overhead Pabrik  Aktual/Sesungguhnya Terjadi Tahun 20XX
Pada Kapasitas Sesungguhnya yang dicapai

Contoh biaya overhead aktual

 

B: Pengumpulan BOP Sesungguhnya Metode Full Costing

Biaya overhead pabrik sesungguhnya terjadi dicatat dalam rekening kontrol BOP Sesungguhnya.

Rekening ini dirinci lebih lanjut dalam kartu biaya untuk jenis by overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi.

Jurnal yang dibuat oleh PT Milenial Jaya untuk mencatat biy overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi berdasarkan data dalam tabel berikut ini:

[Debit] BOP sesungguhnya = Rp 10.700.000

[Kredit] Persediaan Bahan Peolong = Rp 1.100.000
[Kredit] Persediaan Bahan Bakar = Rp 750.000
[Kredit] Gaji dan Upah = Rp 3.500.000
[Kredit] Persediaan Suku Cadang = Rp 500.000
[Kredit] Asuransi Gedung = Rp 600.000
[Kredit] Akumulasi Depresiasi Mesin = Rp 800.000
[Kredit] Kas  = Rp 3.450.000

Note:

Biaya yang dibayar dengan kas terdiri dari:

  • Biaya listrik = Rp 1.450.000
  • Biaya kesejahteraan karyawan = Rp 1.500.000
  • Biaya reparasi dan pemeliharaan tetap = Rp 500.000
  • Total = Rp 3.450.000

 

C: Pengumpulan BOP Sesungguhnya Metode Variable Costing

Seperti halnya dalam metode full costing, by overhead pabrik sesungguhnya terjadi dicatat dalam rekening kontrol BOP Sesungguhnya.

Rekening ini dirinci lebih lanjut kartu biaya untuk jenis by overhead pabrik sesungguhnya terjadi.

Karena dalam metode variable costing biaya overhead tetap sesungguhnya dibebankan sebagai biaya dalam periode terjadinya, tidak diperhitungkan harga pokok produksi.

Maka biaya overhead sesungguhnya yang telah dicatat dalam rekening BOP Sesungguhnya.

Kemudian dipecah menjadi dua kelompok, yaitu:

  • by overhead pabrik variabel sesungguhnya
  • by overhead pabrik tetap sesungguhnya

***

Jurnal yang dibuat untuk mencatat biaya overhead pabrik aktual/sesungguhnya terjadi berdasarkan data berikut ini:

Jurnal yang dibuat untuk mencatat pemisahan biaya  aktual atau yang sesungguhnya terjadi menurut perilakunya berdasarkan data di atas adalah sebaga berikut:

[Debit] By Overhead Pabrik Variabel Sesungguhnya Rp 5.300.000
[Debit] By Overhead Pabrik Tetap Sesungguhnya Rp 5.400.000
[Kredit] By Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp 10.700.000

 

C: Perhitungan dan Analisis Selisih Biaya Overhead Pabrik Dengan Metode Full Costing

Jika perusahaan menggunakan metode full costing dalam penentuan harga pokok produksinya.

Maka pada akhir periode akuntansi dilakukan penghitungan selisih by overhead pabrik yang dibebankan pada produk sebagai berikut:

By overhead pabrik yang dibebankan pada produk:

= 75.000 jam mesin x Rp 140
= Rp 10.500.000

By overhead pabrik sesungguhnya = Rp 10.700.000

Selisih biaya overhead :

= Rp 10.500.000 – Rp 10.700.000
= Rp 200.000

***

Untuk mencatat selisih by overhead pabrik tersebut perlu dibuat dua jurnal sebagai berikut:

#1: Jurnal Pertama Pencatatan Selisih BOP

Jurnal untuk menutup rekening By Overhead Pabrik yang Dibebankan ke rekening By Overhead Pabrik Sesungguhnya.

Berdasarkan dari soal contoh sebelumnya, jurnal penutupan tersebut dibuat sebagai berikut:

[Debit] By Overhead Pabrik yang Dibebankan Rp 10.500.000
[Kredit] By Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp 10.500.000

 

#2: Jurnal Kedua Pencatatan Selisih BOP

Jurnal untuk mencatat selisih biaya overhead., berdasarkan dari contoh sebelumnya, jurnal tersebut dibuat sebagai berikut:

[Debit] Selisih By Overhead Pabrik Rp 10.500.000
[Kredit] By Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp 10.500.000

***

Selisih BOP sebesar Rp 200.000 tersebut dapat dipecah ke dalam dua macam selisih (variances) sebagai berikut:

1: Selisih Anggaran (Budget Variance)

Selisih anggaran (budget atau spending variance) menunjukkan perbedaan antara biaya yang sesungguhnya terjadi dengan taksiran biaya yang seharusnya dikeluarkan menurut anggaran.

Selisih anggaran pada dasarnya berhubungan dengan by overhead pabrik variabel.

Tapi jika by overhead pabrik tetap berbeda dari apa yang dianggarkan (misalnya kenaikan pajak, tarif premi asuransi.

Atau kenaikan biaya depresiasi karena tambahan fasilitas pabrik) hal ini juga menimbulkan selisih anggaran.

 

Selisih anggaran dihitung sebagai berikut:

Metode Perhitungan Selisih Anggaan #1:

By overhead pabrik sesungguhnya Rp 10.700.000

By overhead pabrik yang dianggarkan, pada kapasitas yang dicapai:

By overhead pabrik sesungguhnya Rp 5.400.000

By overhead pabrik variabel:

= 75.000 x Rp 72,50
= Rp 5.437.500

By overhead pabrik yang dianggarkan:

= Rp 5.400.000 + Rp 5.437.500
= Rp 10.837.500

Selisih anggaran:

= Rp 10.700.000 – Rp 10.837.500
= Rp 137.500

 

Metode Perhitungan Selisih Anggaran #2:

By overhead pabrik sesungguhnya = Rp 10.700.000

By overhead pabrik tetap menurut anggaran = Rp 5.400.000

By overhead pabrik variabel sesungguhnya:

= Rp 10.700.000 – Rp 5.400.000
= Rp 5.300.000

BOP yang dibebankan = Rp 5.437.500

Selisih anggaran:

= Rp 5.300.000 – Rp 5.437.500
= Rp 137.500

 

2: Selisih Kapasitas (Idle Capacity Variance)

Selisih kapasitas disebabkan karena tidak dipakainya atau dilampauinya kapasitas yang dianggarkan.

Jumlah selisih kapasitas adalah perbedaan antara BOP tetap yang dianggarkan dengan biaya BOP tetap yang dibebankan pada produk.

Selisih kapasitas dihitung sebagai berikut:

#1: Metode Pertama Perhitungan Selisih Kapasitas

BOP tetap yang dianggarkan = Rp 5.400.000

Biaya overhead tetap yang dibebankan pada produk:

= 75.000 x Rp 67,50
= Rp 5.062.500

Selisih kapasitas:

= Rp 5.400.000 – Rp 5.062.500
Rp 337.500

 

#2: Metode Kedua Perhitungan Selisih Kapasitas

Kapasitas yang dianggarkan = 80.000 jam mesin

Kapasitas sesungguhnya yang dicapai = 75.000

Kapasitas yang tidak terpakai:

= 80.000 – 75.000
= 5.000 jam mesin

Tarif biaya overhead  = Rp 67,50 per jam mesin

Selisih kapasitas:

= 5.000 x Rp 67,50
= Rp 337.500 (Rugi)

Terjadinya selisih tersebut disebabkan karena satu atau beberapa faktor.

Antara lain kurang tepatnya taksiran BOP yang digunakan untuk menghitung tarif.

***

Faktor-faktor yang lain adalah sebagai berikut:

Faktor #1:

Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi lebih besar atau lebih kecil bila dibandingkan dengan biaya overhead  yang dianggarkan.

Yang digunakan untuk menghitung tarif BOP atas dasar kapasitas normal, yang telah disesuaikan pada tingkat kapasitas sesungguhnya.

Hal ini merupakan petunjuk bahwa perusahaan telah mengeluarkan BOP terlalu banyak atau sangat hemat.

Penyebab selisih ini adalah biaya overhead variabel.

 

Faktor #2:

Kegiatan produksi lebih besar atau kurang untuk menyerap bagian biaya overhead  tetap untuk bulan terntentu.

Hal ini adalah petunjuk ketidak-efisienan atau efisien, adanya idle time atau overtime.

Selisih ini berhubungan dengan biaya overhead tetap.

 

Faktor #3:

Selisih biaya overhead  bisa saja terjadi sebagai akibat faktor-faktor musiman

Seperti perbedaan jumlah hari dalam bulan dan sifat-sifat musiman elemen biaya overhead tertentu.

Selisih ini disebabkan oleh BOP baik yang variabel maupun yang tetap.

 

D: Perhitungan dan Analisis Selisih Biaya Overhead Metode Variable Costing

Jika perusahaan menggunakan metode variable costing dalam mennetukan harga pokok produksinya,

Pada akhir periode akuntansi dilakukan perhitungan by overhead pabrik yang lebih atau kurang dibebankan kepada produk sebagai berikut:

Biaya overhead  variabel yang dibebankan pada produk:

= 75.000 jam mesin x Rp 72,50
= Rp 5.437.500

Biaya overhead variabel sesungguhnya = Rp 5.300.000

Selisih biaya overhead variabel:

= Rp 5.437.500 –  Rp 5.300.000
= Rp 137.500

 

Untuk mencatat selisih by overhead pabrik variabel tersebut perlu dibuat dua jurnal sebagai berikut:

#1: jurnal Pertama:

Jurnal untuk menutup rekening by overhead pabrik yang dibebankan ke rekening by overhead pabrik variabel sesungguhnya.

Masih berdasarkan pada data contoh sebelumnya, jurnal penutupan tersebut dibuat sebagai berikut:

[Debit] BOP variabel yang dibebankan Rp 5.437.500
[Kredit] BOP variabel sesungguhnya Rp 5.437.500

 

#2: Jurnal Kedua:

Jurnal untuk mencatat selisih by overhead pabrik variabel.

Masih menggunakan data-data di contoh sebelumnya, maka jurnal tersebut dibuat sebagai berikut:

[Debit] Selisih biaya overhead variabel Rp 5.437.500
[Kredit] biaya overhead variabel sesungguhnya Rp 5.737.500

Selisih BOP  variabel Rp 137.500 dan jumlah ini disebut selsih pengeluaran variabel (variable spending variance).

Karena metode variable costing tidak membebankan biaya overhead tetap pada produk.

Maka tidak ada selisih yang dihitung yang bersangkutan dengan kapasitas (seperti halnya dengan selisih kapasitas dalam metode full costing).

 

05: Perlakuan Terhadap Selisih Biaya Overhead

Setiap akhir bulan, biaya overhead  yang kurang atau lebih dibebankan dipindahkan dari ekening biaya overhead sesungguhnya ke rekening selisih BOP .

Rekening selisih by overhead pabrik dicantumkan dalam neraca sebagai beban yang ditangguhkan (deferred charges) atau deferred credits.

Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa selisih BOP yang terjadi dalam bulan tertentu akan diimbangi dengan selisih biaya BOP pada bulan berikutnya.

 

Perhatikan gambar yang memperlihatkan pemindahan selisih biaya overhead  dari rekening by overhead pabrik sesungguhnya ke rekening BOP.

Gambar: Pemindahan selisih BOP dari rekening BOP aktual ke rekening selisih biaya overhead.

 

Perlakuan terhadap selisih biaya overhead pada akhur tahun tergantung pada penyebab terjadinya selisih tersebut.

Jika selisih tersebut disebabkan karena kesalahan dalam penghitungan tarif biaya overhead.

***

Atau keadaan-keadaan yang tidak berhubungan dengan efisiensi operasi.

Seperti karena perubahan harga bahan penolong dan tarif upah tenaga kerja tidak langsung.

Maka selisih tersebut dibagi rata ke dalam rekening-rekening:

  • persediaan produk dalam proses
  • persediaan produk jadi
  • harga pokok penjualan

Sebagai akibatnya, harga pokok produksi yang semula berisi BOP yang diperhitungkan berdasarkan taksiran, disesuaikan menjadi biaya overhead yang sesungguhnya terjadi.

***

Jika selisih biaya overhead disebabkan karena ketidakefisienan pabrik atau aktivitas perusahaan di atas atau di bawah kapasitas normal.

Maka selisih tersebut harus diperlakukan sebagai pengurang atau penembah rekening harga pokok penjualan(HPP).

Tidak ada alasan yang kuat untuk menaikan harga pokok persediaan hanya karena ketidakefisienan atau karena adanya kapasitas yang tidak terpakai.

Metode perlakuan terhadap selisih biaya overheadini seringkali digunakan tanpa memperlihatkan penyebab terjadinya selisih itu sendiri dengan alasan sebagai berikut:

  1. Manajemen tidak pernah mencoba menentukan penyebab terjadinya selisih biaya biaya overhead
  2. Jumlah selisih tersebut relatif kecil bila dibandingkan dengan saldo rekening-rekening yang akan dibebani dengan pembagian selisih tersebut.
  3. Saldo rekening-rekening barang dalam proses dan persediaan produk jadi biasanya relatif kecil bila dibandingkan dengan harga poko penjualan.

 

Penyajian selisih biaya overhead dalam laporan laba rugi diilustrasikan dalam forma berikut ini:

Penyajian Selisih BOP dalam Laporan Laba Rugi

 

Berikut ini adalah contoh kedua metode perlakuan terhadap selisih BOP :

Metode #1:

Selisih by overhead pabrik dibagikan kepada rekening-rekening persediaan dan harga pokok penjualan.

Perhatikan contoh berikut ini:

Masih menggunakan data-data contoh dari PT Milenial Jaya di atas, misalkan saldo rekening-rekening persediaan dan harga pokok penjualan (HPP) pada akhir tahun 20XX sebagai berikut:

  • Persediaan produk dalam proses = Rp 400.000
  • Persediaan produk jadi = Rp 600.000
  • Harga pokok penjualan (HPP) = Rp 7.000.000
  • Jumlah = Rp 8.000.000

 

Pembagian selisih biaya overhead pada rekening-rekening persediaan dan harga pokok penjualan (HPP) adalah seperti berikut ini:

Penggolongan BOP

Jurnal untuk membagikan selisih by overhead pabrik atas dasar data di atas adalah sebagai berikut:

[Debit] Persediaan Produk dalam Proses  Rp 10.000
[Debit] Persediaan Produk Jadi Rp 15.000
[Debit] Harga Pokok Penjualan (HPP) Rp 175.000
[Kredit] Selisih Biaya Overhead Rp 200.000

 

Metode #2:

Selisih biaya overhead diperlakukan sebagai pengurang atau penambah rekening harga pokok penjualan (HPP).

Jurnal untuk membagikan selisih by overhead pabrik atas dasar data di atas adalah sebagai berikut:

[Debit] Harga Pokok Penjual Rp 200.000
[Kredit] Selisih BOP Rp 200.000

***

Dan untuk menyegarkan ingatan kita tentang BOP ini, saksikan penjelasan dalam video singkat berikut ini ….

 

06: Kesimpulan

Dalam perusahaan yang produknya berdasar pesanan, biaya overhead pabrik dibebankan pada produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka.

Alasan penggunaan tarif yang ditentukan  di muka untuk memperhitungkan biaya overhead ke dalam harga pokok produksi.

Hal ini adalah kebutuhan manajemen akan informasi harga pokok produksi yang tidak dipengaruhi oleh:

  • adanya perubahan tingkat kegiatan produksi yang bersifat sementara,
  • perubahan tingkat efisiensi produksi,
  • terjadinya biaya overhead  yang bersifat sporadik, dan
  • adanya biaya yang terjadinya hanya pada saat-saat tertentu saja.

Di samping itu, dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, manajemen perusahaan memerlukan informasi harga pokok produksi per satuan pada saat pesanan selesai dikerjakan.

Sedangkan beberapa elemen BOP ada yang baru dapat diketahui jumlahnya dengan pasti pada akhir periode.

Dengan demikian, penggunaan tarif biaya overhead  yang ditentukan di muka untuk membebankan jenis biaya tersebut pada produk adalah suatu keharusan.

***

Ada 3 tahap yang dilakukan untuk menghitung tarif biaya overhead  menyusun anggaran biaya overhead , yaitu:

  • menyusun anggaran by overhead pabrik
  • memilih dasar pembebanan
  • menghitung tarif biaya overhead

 

Dasar yang dapat dipakai sebagai dasar pembebanan biaya overhead kepada produk adalah:

  • satuan produk,
  • contoh biaya bahan baku,
  • biaya tenaga kerja langsung,
  • jam tenaga kerja langsung, dan
  • jam mesin.

Setelah tarif biaya overhead ditentukan, produk yang diproduksi dalam tahun anggaran dibebani dengan BOP dengan tarif tersebut.

Dalam tahun anggaran tersebut dikumpulkan BOP tang sesungguhnya terjadi.

Pada akhir tahun, BOP yang dibebankan kepada produk berdasarkan tarif dibandingkan dengan BOP yang sesungguhnya terjadi.

Dalam metode full costing selisih yang terjadi antara biaya overhead yang dibebankan berdasarkan tarif.

Dengan biaya overhead yang sesungguhnya terjadi dianalisis menjadi dua macam selisih yaitu selsih anggaran dan selisih kapasitas.

Selisih tersebut pada akhir tahun diperlakukan sebagai penyesuai terhadap rekening-rekening.

Persediaan dan Harga Pokok Penjualan (HPP) atau diperlakukan sebagai penyesuai perhitungan laba rugi.

Dan bila Anda menginginkan template perhitungan HPP yang tinggal pakai beserta prosedur standa pencatatan jurnal akuntansinya, langsung saja ke SOP Accounting Tools.

Demikian yang dapat saya bagikan mengenai makalah biaya overhead yang merupakan bagian dari materi akuntansi biaya.

Semoga bermanfaat. Terima kasih. *****

Profesional lulusan ekonomi yang menekuni ERP (SAP), Accounting Software, Business Analyst dan berbagi pengalaman pekerjaan Finance & Accounting.