Pengertian Biaya Tenaga Kerja, Klasifikasi, Cara Perhitungan, dan Pencatatannya

Biaya tenaga kerja adalah salah satu biaya konversi.

Di samping biaya overhead pabrik yang merupakan salah satu biaya untuk mengubah bahan baku menjadi produk jadi.

Apa pengertian biaya tenaga kerja, cara penggolongannya, biaya yang terkait dengan biaya tenaga kerja, dan pencatatan akuntansinya?

Mari ikuti pembahasan lengkapnya berikut ini…

 

01: Pengertian Biaya Tenaga Kerja

konsep biaya kerja adalah

A: Definisi dan Konsep Biaya Tenaga Kerja

Sebelum membahas akuntansi biaya tenaga kerja, sebaiknya kita perlu memahami batasan biaya TK dan berbagai cara klasifikasinya.

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan biaya tenaga kerja?

Tenaga kerja adalah usaha fisik atau mental yang dikeluarkan karyawan untuk mengolah produk.

Biaya tenaga kerja adalah harga yang dibebankan untuk penggunaan tenaga kerja manusia tersebut.

 

02: Penggolongan Aktivitas dan Biaya Tenaga Kerja 

Dalam perusahaan manufaktur, penggolongan/ klasifikasi aktivitas tenaga kerja dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Penggolongan menurut fungsi pokok dalam organisasi perusahaan
  2. Penggolongan menurut aktivitas departemen-departemen dalam perusahaan
  3. Penggolongan menurut jenis pekerjaannya
  4. Penggolongan menurut hubungannya dengan produk.

Mari dibahas masing-masing klasifikasi tersebut…

 

1: Penggolongan/ klasifikasi menurut fungsi pokok dalam organisasi perusahaan

Organisasi dalam perusahaan manufaktur dibagi ke dalam tiga fungsi pokok, yaitu:

  • Produksi
  • Pemasaran
  • Administrasi

Oleh karena itu perlu ada penggolongan dan pembedaan antara tenaga kerja pabrik dan tenaga kerja non pabrik.

Pembagian ini bertujuan untuk membedakan biaya TK yang merupakan komponen harga pokok produk dari biaya tenaga kerja non pabrik.

Yang bukan merupakan komponen komponen biaya produksi/ harga pokok produksi. Melainkan unsur biaya usaha.

Dengan demikian, biaya TK perusahaan manufaktur diklasifikasikan menjadi:

  • biaya tenaga kerja produksi
  • biaya tenaga kerja pemasaran
  • biaya tenaga kerja administrasi dan umum.

***

Berikut ini beberapa contoh biaya TK yang termasuk dalam tiap golongan tersebut:

#1: Biaya Tenaga Kerja Produksi:

  • Gaji karyawan pabrik
  • Biaya kesejahteraan karyawan pabrik
  • Upah lembur karyawan pabrik
  • Upah mandor pabrik
  • Gaji manajer pabrik

 

#2: Biaya Tenaga Kerja Pemasaran:

  • Upah karyawan pemasaran
  • Biaya kesejahteraan karyawan pemasaran
  • Biaya komisi pramuniaga
  • Gaji manajer pemasaran

 

#3: Biaya Tenaga Kerja Administrasi dan Umum:

  • Gaji karyawan Bagian Akuntansi
  • Gaji karyawan Bagian Personalia
  • Gaji karyawan Bagian Sekretariat
  • Biaya kesejahteraan karyawan Bagian Akuntansi
  • Biaya kesejahteraan karyawan Bagian Personalia/ SDM
  • Biaya kesejahteraan karyawan Bagian Sekretariat

 

2: Penggolongan/ Klasifikasi menurut aktivitas departemen-departemen dalam perusahaan

menghitung biaya tenaga kerja tidak langsung

Misalnya departemen produksi suatu perusahaan kertas terdiri dari 3 departemen, yaitu:

  • Bagian Pulp
  • Bagian Kertas
  • Bagian Penyempurnaan

Biaya tenaga kerja dalam departemen produksi tersebut digolongkan sesuai dengan bagian-bagian yang dibentuk dalam perusahaan tersebut.

Tenaga kerja yang bekerja di departemen-departemen memproduksi digolongkan pula menurut departemen yang menjadi tempat kerja mereka.

Dengan demikian biaya tenaga kerja di departemen-departemen non produksi dapat digolongkan menjadi biaya tenaga kerja bagian akuntansi, biaya tenaga kerja bagian SDM, dan lain sebagainya.

Penggolongan semacam ini dilakukan untuk lebih memudahkan pengendalian terhadap biaya tenaga kerja yang terjadi di tiap departemen yang dibentuk dalam perusahaan.

Kepala departemen yang bersangkutan bertanggung jawab atas pelaksanaan kerja karyawan dan biaya tenaga kerja yang terjadi dalam departemennya.

 

3: Penggolongan/ Klasifikasi menurut jenis pekerjaannya

Di suatu perusahaan, tenaga kerja dapat digolongkan menurut sifat pekerjaannya.

Misalnya, dalam suatu departemen produksi, tenaga kerja digolongkan sebagai berikut:

  • Operator
  • Mandor
  • Penyelia (superintendant)

Dengan demikian biaya tenaga kerja juga digolongkan menjadi upah operator, upah mandor, dan upah penyelia.

Penggolongan biaya tenaga kerja semacam ini digunakan sebagai dasar penetapan deferensiasi upah standar kerja.

 

4: Penggolongan/ Klasifikasi menurut hubungannya dengan produk.

Dalam hubungannya dengan produk, tenaga kerja dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Tenaga kerja langsung dan
  • Tenaga kerja tidak langsung.

Apa perbedaan biaya tenaga kerja langsung dan tidak langsung?

Pengertian tenaga kerja langsung adalah semua karyawan yang secara langsung ikut serta memproduksi produk jadi.

Yang jasanya dapat diusut secara langsung pada produk, dan yang upahnya adalah bagian yang besar dalam memproduksi produk.

Contoh biaya tenaga kerja langsung adalah upah tenaga kerja langsung.

Upah tenaga kerja langsung diperlakukan sebagai biaya tenaga kerja langsung adalah diperhitungkan langsung sebagai sebagai komponen biaya produksi.

Sedangkan pengertian tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja yang jasanya tidak secara langsung dapat diusut pada produk.

Upah tenaga kerja tidak langsung ini disebut biaya tenaga kerja tak langsung adalah unsur biaya overhead pabrik.

Upah tenaga kerja tidak langsung dibebankan pada produk tidak langsung, tapi melalui tarif biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka.

 

03: Akuntansi Biaya Tenaga Kerja 

karyawan kantor

Biaya tenaga kerja dapat dibagi ke dalam tiga golongan besar berikut, yaitu:

  1. Gaji dan Upah reguler, yaitu jumlah gaji dan upah bruto dikurangi dengan potongan-potongan seperti pajak penghasilan (PPh) karyawan dan biaya asuransi hari tua.
  2. Premi lembur
  3. Biaya-biaya yang berhubungan dengan tenaga kerja (labor related cost)

Mari dibahas satu-per-satu…

 

A: Gaji dan Upah

#1: Cara Perhitungan Gaji dan Upah Karyawan

Ada bebagai macam cara perhitungan upah karyawan dalam perusahaan.

Salah satu cara adalah dengan mengalikan tarif upah dengan jam kerja karyawan.

Dengan demikian untuk menentukan upah seorang karyawan perlu dikumpulkan data jumlah jam kerjanya selama periode waktu tertentu.

Dalam perusahaan yang menggunakan metode harga pokok pesanan, dokumen pokok untuk mengumpulkan waktu kerja karyawan adalah:

  • kartu hadir (clock card) dan
  • kartu jam kerja (job time ticket).

***

Pengertian Kartu Hadir adalah suatu catatan yang digunakan untuk mencatat jam kehadiran karyawan.

Yaitu jangka waktu antara jam hadir dan jam meninggalkan perusahaan.

Jika jam kerja perusahaan dimulai jam 07.00 sampai dengan jam 14.00,.

Maka kartu hadir karyawan akan berisi jam kedatangan di perusahaan dan jam pergi dari perusahaan setiap jam kerja.

Jika seorang karyawan hadir di perusahaan dari jam 07.00 sampai dengan jam 14.00.

Maka ia hadir di perusahaan selama 7 jam, yang merupakan jam kerja reguler perusahaan.

Jika karyawan tersebut bekerja lebih dari 7 jam sehari, kelebihan jam kerja di atas jam kerja reguler tersebut dinamakan jam lembur.

***

Pada setiap akhir pekan, kartu hadir tiap karyawan dikirim ke bagian pembuat daftar gaji dan upah.

Tujuannya adalah untuk dipakai sebagai dasar perhitungan gaji dan upah karyawan per pekan/ minggu.

Di samping kartu hadir, perusahaan menggunakan kartu jam kerja untuk mencatat pemakaian waktu hadir karyawan pabrik, dalam mengerjakan berbagai pekerjaan atau produk.

Kartu jam kerja ini biasanya hanya digunakan untuk mencatat pemakaian waktu hadir tenaga kerja langsung di pabrik.

Kartu jam kerja untuk setiap karyawan kemudian disesuaikan dengan waktu yang tercantum dalam kartu jam hadir.

Dan dikirim ke Bagian Akuntansi Biaya untuk keperluan distribusi gaji dan upah tenaga kerja langsung.

Kartu jam kerja sangat penting dalam perusahaan yang menggunakan metode harga pokok pesanan dalam perhitungan harga pokok produknya.

Dalam perusahaan yang menggunakan metode harga pokok proses, kartu jam kerja tersebut tidak diperlukan.

Karena karyawan melakukan pekerjaan atau membuat produk yang sama dalam departemen tertentu dari hari ke hari, sehingga distribusi biaya tenaga kerja tidak diperlukan.

 

#2: Cara Pencatatan Jurnal Gaji dan Upah Karyawan

Akuntansi biaya gaji dan upah dilakukan dalam empat tahap pencatatan, yaitu:

Tahap #1:

Berdasarkan kartu hadir karyawan, baik karyawan produksi, pemasaran, maupun administrasi dan umum.

Bagian pembuatan daftar gaji dan upah kemudian membuat daftar gaji dan upah karyawan.

Dari daftar gaji dan upah tersebut kemudian dibuat rekapitulasi gaji dan upah untuk mengelompokkan gaji dan upah tersebut menjadi:

  • gaji dan upah karyawan pabrik
  • gaji dan upah karyawan administrasi dan umum
  • gaji dan upah karyawan pemasaran.

Gaji dan upah karyawan pabrik dirinci lagi ke dalam upah karyawan langsung dan karyawan tak langsung dalam hubungannya dengan produk.

Atas dasar rekapitulasi gaji dan upah tersebut, Bagian Akuntansi kemudian membuat jurnal sebagai berikut:

[Debit] Barang Dalam Proses Biaya Tenaga Kerja  Rp xxx
[Debit] Biaya Overhead Pabrik Rp xxx
[Debit] Biaya Administrasi dan Umum  Rp xxx
[Debit] Biaya Pemasaran  Rp xxx
[Kredit] Gaji dan Upah Rp xxx

 

Tahap #2:

Atas dasar daftar gaji dan upah tersebut Bagian Keuangan membuat bukti kas keluar dan cek untuk pengambilan uang dan bank.

Atas dasar bukti kas keluar tersebut, Bagian Akuntansi membuat jurnal sebagai berikut:

[Debit] Gaji dan Upah Rp xxx
[Kredit] Utang PPh Karyawan Rp xxx
[Kredit] Utang Gaji dan Upah  Rp xxx

 

Tahap #3:

Setelah cek diuangkan di bank, uang gaji dan upah kemudian dimasukkan ke dalam amplop gaji dan upah tiap karyawan (pada umumnya dan prosedur perusahaan, jika tidak seperti itu pun tak ada ketentuannya)

Upah gaji dan upah karyawan kemudian dibayarkan oleh juru bayar kepada tiap karyawan yang berhak.

Tiap karyawan menandatangani daftar gaji dan upah sebagai bukti telah diterimanya gaji dan upah mereka.

Setelah tiap karyawan mengambil gaji dan upahnya, atas dasar gaji dan upah yang telah ditandatangani karyawan, bagian akuntansi membuat jurnal sebagai berikut:

[Debit] Utang Gaji dan Upah  Rp xxx
[Kredit] Kas  Rp xxx

 

Tahap #4:

Penyetoran pajak penghasilan (PPh) karyawan ke kas negara dijurnal oleh Bagian Akuntansi sebagai berikut:

[Debit] Utang PPh Karyawan  Rp xxx
[Kredit] Kas  Rp xxx

 

Perhatikan contoh soal biaya tenaga kerja langsung berikut ini:

Misalkan perusahaan ABC hanya mempekerjakan 2 orang karyawan, yaitu Budi dan Andi.

Berdasarkan kartu hadir minggu pertama bulan April 20XX, bagian pembuat daftar gaji dan upah membuat daftar upah dan gaji untuk periode yang bersangkutan.

Menurut kartu hadir, Budi bekerja selama satu minggu sebanyak 40 jam, dengan upah per Rp 1.000 per jam.

Sedangkan Andi selama periode yang sama bekerja 40 jam dengan tarif upah Rp 750 per jam.

Menurut kartu jam kerja, penggunaan jam hadir masaing-masing karyawan tersebut disajikan pada tabel berikut ini:

menghitung biaya tenaga kerja langsung
Gambar: Data jam kerja karyawan

Dengan demikian upah karyawan tersebut dihitung sebesar:

= (40 jam X Rp 1.000) + (40 jam X Rp 750)
= Rp 70.000

 

Dan didistribusikan seperti berikut ini:

Biaya Tenaga Kerja Langsung
Gambar: Upah Tenaga Kerja Langsung

Keterangan:

Biaya tenaga kerja yang dibayarkan pada saat karyawan menunggu pekerjaan disebut dengan idle time cost.

Biaya upah yang dikeluarkan pada saat tenaga kerja menganggur merupakan unsur biaya overhead pabrik.

Biaya upah Budi yang dibebankan pada pesanan #1 adalah Rp 15.000, pesanan #2 Rp 20.000, dan biaya overhead pabrik Rp 5.000

Dan setelah dikurangi PPh jumlah upah bersih yang diterima Budi sebesar Rp 40.000

Sedangkan biaya upah Andi dibebankan pada pesanan #1 adalah Rp 15.000, pesanan #2 Rp 15.000, dan biaya overhead Rp 7.500

Jumlah upah bersih yang diterima Anda adalah sebesar Rp 25.000.

 

Akuntansi biaya gaji dan upah atas dasar data tersebut di atas dilakukan sebagai berikut:

Tahap #1:

Berdasarkan atas rekapitulasi gaji dan upah, Bagian Akuntansi kemudian membuat jurnal distribusi gaji dan upah sebagai berikut:

[Debit] Barang Dalam Proses – Biaya  TK  Rp xxx
[Debit] Biaya Overhead Pabrik Rp xxx
[Kredit] Gaji dan Upah Rp xxx

 

Tahap #2:

Atas dasar bukti kas keluar. Bagian Akuntansi membuat jurnal sebagai berikut:

[Debit] Gaji dan Upah Rp xxx
[Kredit] Upah PPh Karyawan Rp xxx
[Kredit] Gaji dan Upah Rp xxx

 

Tahap #3:

Atas dasar daftar gaji dan upah yang telah ditandatangani karyawan (sebagai bukti tidak dibayarkan upah karyawan), Bagian Akuntansi membuat jurnal sebagai berikut:

[Debit] Upah dan Gaji Rp xxx
[Kredit] Kas Rp xxx

 

Tahap #4:

Penyetoran PPh karyawan ke Kas Negara dijurnal oleh Bagian Akuntansi sebagai berikut:

[Debit] Utang PPh Karyawan Rp xxx
[Kredit] Kas Rp xxx

 

B: Insentif

Dalam hitungannya dengan gaji dan upah perusahaan memberikan insentif kepada karyawan agar dapat bekerja lebih baik.

Perhitungan insentif dapat didasarkan atas:

  • waktu kerja,
  • hasil yang diproduksi,
  • kombinasi antara keduanya.

Ada beberapa cara pemberian insentif, antara lain:

  1. Insentif satuan dengan Jam Minimum (straight piecework with a guaranted hourly minimum plan)
  2. Taylor differential piece rate plan.

Begini penjelasan lengkapnya…

A:  Insentif satuan dengan Jam Minimum ( straight piecework with a guaranted hourly minimum plan)

Cara pemberian insentif ini adalah karyawan dibayar atas dasar tarif per jam untuk menghasilkan jumlah satuan keluaran (output) standar.

Untuk hasil produksi yang melebihi jumlah standar tersebut, karyawan menerima jumlah upah tambahan sebesar jumlah kelebihan satuan keluaran di atas standar kali tarif upah per satuan.

Tarif upah per satuan dihitung dengan cara membagi upah standar per jam dengan satuan keluaran stansar per jam.

Perhatikan contoh cara menghitung biaya tenaga kerja langsung berikut ini:

Jika menurut penyelidikan waktu (time study), dibutuhkan waktu 5 menit untuk menghasilkan 1 satuan produk.

Maka jumlah keluaran standar per jam adalah 12 satuan.

***

Jika upah pokok sebesar Rp 600 per jam, maka tarif upah per satuan adalah:

= Rp 600 : 12
= Rp 50

Karyawan yang tidak dapat menghasilkan jumlah standar per jam, tetap dijamin mendapatkan upah Rp 600 per jam.

Tapi bila ia dapat menghasilkan 14 satuan per jam (ada kelebihan 2 satuan dari jumlah satuan standar per jam) maka upahnya dihitung sebagai beriku:

Upah dasar per jam = Rp 600
Insentif:
= 2 x ( Rp 600 : 12) = Rp 100

Upah yang diterima pekerja per jam adalah sebesar:
=  Rp 600 + Rp 100
= Rp 700

 

B: Taylor differential piece rate plan.

Cara pemberian insentif ini adalah semacam straight piece rate plan yang menggunakan tarif tiap potong untuk jumlah keluaran rendah per jam dan tarif potong yang lain untuk jumlah keluaran tinggi per jam.

Perhatikan contoh soal akuntansi biaya upah beserta pembahasannya berikut ini:

Karyawan dapat menerima upah Rp 4.200 per hari (untuk 7 jam kerja).

Misalkan rata-rata seorang karyawan dapat menghasilkan 12 satuan per jam, sehingga upahnya per satuan adalah sebagai berikut:

= Rp 4.200 : (12 x 8)   (upah per hari dibagi dengan jumlah yang dihasilkan per hari):
= Rp 50

***

Dalam Taylor plan ini, misalnya ditetapkan tarif upah Rp 45 per satuan untuk karyawan yang menghasilkan 14 satuan atau kurang per jam.

Dan Rp 65 per satuan untuk karyawan 16 satuan per jam.

Maka upah per jam karyawan dihitung sebagai berikut:

= Rp 65 x 16
= Rp 1.040 per jam

Sedangkan bila karyawan hanya menghasilkan 12 satuan per jam, maka upah per jam dihitung sebagai berikut:

= Rp 45 x 12
= Rp 540

 

C: Premi Lembur Karyawan

Dalam perusahaan, jika karyawan bekerja lebih dari 40 jam satu minggu, maka mereka berhak menerima uang lembur dan premi lembur.

Perhatikan contoh perhitungan biaya tenaga kerja berikut ini:

Misalnya, dalam satu minggu seorang karyawan bekerja selama 44 jam dengan tarif upah (dalam jam kerja biasa maupun lembur) Rp 50 per jam.

Premi lembur karyawan dihitung sebesar 50% dari tarif upah.

Tarif upah karyawan tersebut dihitung sebagai berikut:

Jam biasa : 40 x Rp 600 = Rp 24.000
Lembur : 4 x Rp 600 = Rp 2.400
Premi lembur : 4 x Rp 300 = Rp 1.200
Jumlah upah karyawan tersebut selama satu minggu adalah:

= Rp 24.000 + Rp 2.400 + Rp 1.200
= Rp 27.600

Perlakuan terhadap premi lembur tergantung atas alasan-alasan terjadinya lembur tersebut.

***

Premi lembur dapat ditambahkan pada upah tenaga kerja langsung dan dibebankan pada pekerjaan atau departemen tempat terjadinya lembur tersebut.

Perlakuan ini dapat dibenarkan bila pabrik telah bekerja pada kapasitas penuh dan pelangganan/ pemesan mau menerima beban tambahan karena lembur tersebut.

Premi lembur dapat diperlakukan sebagai komponen biaya overhead pabrik atau dikeluarkan sama sekali dari harga pokok produk dan dianggap sebagai biaya periode (period expense).

Perlakuan yang terakhir ini hanya dapat dibenarkan jika lembur tersebut terjadi karena ketidakefisienan atau pemborosan waktu kerja.

 

D: Biaya-biaya yang Berhubungan Dengan Tenaga Kerja (labor related cost)

biaya bahan baku

#1: Setup Time

Seringkali terjadi sebuah pabrik memerlukan waktu dan sejumlah biaya untuk memulai produksi.

Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memulai produksi disebut biaya pemula produksi (set up costs).

Biaya pemula produksi diperlukan pada waktu pabrik atau proses mulai dijalankan atau dibuka kembali atau pada waktu produk baru diperkenalkan.

Biaya pemula produksi meliputi:

  • Pengeluaran-pengeluaran untuk pembuatan rancang bangun
  • Penyusunan mesin dan peralatan
  • Latihan bagi karyawan
  • Kerugian-kerugian yang timbul akibat belum adanya pengalaman.

Ada 3 cara pendekatan terhadap biaya pemula produksi, yaitu:

#1: Dimasukkan ke dalam kelompok biaya tenaga kerja langsung

Bila biaya pemula produksi dapat diidentifikasikan pada pesanan tertentu, maka biaya ini seringkali dimasukkan dalam kelompok biaya tenaga kerja langsung dan dibebankan langsung ke rekening Barang Dalam Proses.

 

#2: Dimasukkan sebagai komponen biaya overhead pabrik

Biaya pemula produksi dapat diperlakukan sebagai komponen biaya overhead pabrik.

Jurnal untuk mencatat biaya pemula produksi adalah sebagai berikut:

[Debit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya  Rp xxx
[Kredit] Kas  Rp xxx
[Kredit] Utang Dagang Rp xxx
[Kredit] Persediaan  Rp xxx

 

#3: Dibebankan kepada pesanan yang bersangkutan

Biaya pemula produksi dapat dibebankan kepada pesanan tertentu, dalam kelompok biaya tersendiri.

Yang terpisah dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik (BOP)

 

#2: Waktu Menganggur (Idle Time)

Dalam mengolah produk, seringkali terjadi hambatan-hambatan atau kendala-kendala, kerusakan mesin atau kekurangan pekerjaan.

Hal ini menimbulkan waktu menganggur bagi karywan.

Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam waktu menganggur ini diperlakukan sebagai unsur biaya overhead pabrik.

Perhatikan contoh perhitungan dan pencatatan jurnal biaya tenaga kerja berikut ini:

Misalkan seorang karyawan harus bekerja 40 jam per minggu. Upahnya Rp 600 per jam.

Dari 40 jam kerja tersebut misalnya 10 jam adalah waktu menganggur.

Dan sisanya digunakan untuk mengerjakan pesanan tertentu.

Jurnal untuk mencatat biaya TK tersebut adalah sebagai berikut:

[Debit]  Barang Dalam Proses – Biaya  TK Langsung Rp xxx
[Debit]  Biaya Overhead Pabrik Rp xxx
[Kredit]  Gaji dan Upah  Rp xxx

***

Dan untuk melengkapi dan menambah wawasan kita mengenai biaya tenaga kerja, saksikan video pembelajaran berikut ini:

 

04: Kesimpulan

Dalam perusahaan, biaya tenaga kerja digolongkan dengan berbagai macam cara, yaitu:

  • Menurut fungsi pokok dalam perusahaan
  • Menurut kegiatan bagian-bagian dalam
  • Menurut jenis pekerjaan, dan
  • Menurut hubungannya dengan produk atau jasa yang dihasilkan

Akuntansi biaya TK melalui 4 (empat) tahap, yaitu:

  • Pencatatan distribusi tenaga kerja
  • Pencatatan utang gaji
  • Pencatatan pembayaran upah kepada karyawan yang berhak
  • Penyetoran pajak penghasilan karyawan ke kas negara.

Demikian yang dapat saya share tentang biaya tenaga kerja, mulai dari pengertian, cara menghitung dan pencatatan jurnal biaya TK.

Dan bila Anda ingin mengetahui lebih mendalam tentang prosedur pencatatan akuntansi, langsung saja ke Accounting Tools dan SOP.

Terima kasih.

***

manajemen keuangan dan SOP