Inilah Contoh Surat Perjanjian Lengkap – Part I

Inilah Contoh Surat Perjanjian Lengkap

Anda akan membuat surat perjanjian BISNIS dan sedang mencari contoh surat perjanjian sebagai referensi? Pas banget blog manajemen keuangan menyajikannya untuk Anda.

Surat perjanjian menjadi bagian penting dalam aktivitas BISNIS. Prosedur untuk membuat surat perjanjian pun dibuat secara detil, dari nomor surat hingga penandatangan surat.

Selengkapnya dapat anda baca dan pelajari di artikel SOP Pembuatan Perjanjian dan SOP Manajemen Korespondensi Bisnis.

Dan kali ini, blog manajemen keuangan akan menyajikan secara lengkap contoh surat perjanjian, yakni tentang perjanjian sewa guna usaha (Leasing).

Contoh surat perjanjian ini terdiri dari 34 pasal, sehingga kami bagi menjadi 2 bagian, bagian pertama menyajikan pasal 1 sampai 15, dan bagian keduanya menyajikan pasal 16 sampai 34.

***

contoh surat perjanjian sewa guna usaha lengkap

Contoh Surat Perjanjian Sewa Guna Usaha

Berikut ini contoh surat perjanjian sewa guna usaha (leasing) bagian pertama. Untuk bagian kedua dapat anda baca di contoh surat perjanjian – part II.

***

Perjanjian Sewa Guna Usaha (Leasing)

………………./………………../………………

Perjanjian Sewa Guna Usaha ini dibuat di ……, pada hari …… tanggal ……. antara lain:

  1. Bapak … berkedudukan dan berkantor pusat di ….. dengan kantor cabangnya di ….. dalam hal ini diwakili oleh:
  • Bapak/Ibu …. dan Bapak/Ibu…. , masing-masing selaku Pimpinan Kantor Cabang …. dan Legal Officer PT ….

Selanjutnya disebut “YANG MENYEWAKAN”

  • Bapak/Ibu …, swasta, pemegang KTP … No…., bertempat tinggal di …
  • Dalam hal ini bertindak untuk diri sendiri dan juga selaku pimpinan PT …, berkedudukan di … Yang anggaran perseroan terbatas tertanggal … dibuat dihadapan …. di …

Selanjutnya disebut “(PARA) PENYEWA”

Bahwa atas permintaan PENYEWA, maka YANG MENYEWAKAN setuju untuk membeli Barang Modal yang akan disebutkan dalam daftar terlampir untuk kemudian disewagunausahakan kepada PENYEWA sebagaimana dimaksudkan dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia No. …

Bahwa para pihak masing-masing dalam kedudukan mereka menyatakan berwenang bertindak menurut hukum untuk membuat dan menandatangani Perjanjian Sewa Guna Usaha ini dan oleh karenanya menerima dan menyetujui syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan seperti yang disebutkan berikut ini:

Contoh Surat Perjanjian Sewa Guna Usaha (Leasing)

Pasal 1 (Barang Modal)

Pihak YANG MENYEWAKAN dengan ini menyetujui untuk menyewa-guna-usahakan kepada PENYEWA.

Dan PENYEWA dengan ini menyetujui untuk menyewa guna usaha dari YANG MENYEWAKAN Barang Modal (yang dengan istilah tersebut mengandung pengertian mencakup semua penggantian dan pembaharuan dari semua atau segala sesuatu yang menyertainya.

Baik yang ada sesudah atau sebelum Perjanjian Sewa Guna Usaha ini)

Yang perinciannya diuraikan dalam daftar dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian Sewa Guna Usaha ini.

 

Pasal 2 (Jangka Waktu)

Kecuali karena ketetuan-ketentuan untuk persetujuan pengakhiran, sebagaimana diatur dalam bagian lain perjanjian sewa guna usaha ini, maka jangka waktu sewa guna usaha untuk permulaan adalah untuk satu dan lain seperti dimulainya terhitung dan tanggal Tanda Penerimaan.

Contoh Surat Perjanjian - Hak dan kewajiban

Pasal 3 (Pemilikan)

PENYEWA mengakui bahwa Barang Modal adalah dan selama seluruh jangka waktu sewa guna usaha merupakan hak tunggal dan khusus dari YANG MENYEWAKAN dan PENYEWA tidak mempunyai hak, hak milik atau kepentingan atasnya, kecuali yang dengan tegas disebutkan dalam perjanjian ini.

Untuk memberi akibat atas pemilikan YANG MENYEWAKAN, PENYEWA setuju untuk membuat surat kuasa yang tidak dapat dibatalkan, dicabut atau ditarik kembali.

Dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari perjanjian sewa guna usaha yang bila mana perlu akan dipergunakan oleh YANG MENYEWAKAN untuk menguasai kembali Barang Modal sebagaimana layaknya seorang pemilik yang sah.

 

Pasal 4 (Pembayaran Sewa Guna Usaha)

PENYEWA akan membayar kepada YANG MEYEWAKAN uang sewa guna usaha menurut waktu, jumlah, mata uang, cara dan tempat pembayaran sebagaimana diatur dalam daftar.

Contoh Surat Perjanjian - Penyewa dan yang menyewakan

Pasal 5 (Pembaharuan Perjanjian Sewa Guna Usaha)

Apabila PENYEWA, dalam jangka waktu paling sedikit 2 (dua) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu permulaan pengajuan permohonan tertulis kepada YANG MENYEWAKAN untuk memperbaharui pernjanjian sewa guna usaha ini.

Dan apabila mulai saat permohonan itu diajukan sampai berakhirnya jangka waktu permulaan, PENYEWA tidak melanggar syarat-syarat dalam perjanjian maka YANG MENYEWAKAN bersedia meneruskan sewa guna usaha Barang Modal kepada PENYEWA dengan ketentuan:

  1. Kecuali ditentukan oleh YANG MENYEWAKAN, YANG MENYEWAKAN akan melanjutkan sewa guna usaha atas Barang Modal itu kepada PENYEWA dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam perjanjian sewa guna usaha ini.
  2. Jangka waktu (selanjutnya disebut jangka waktu baru) dari pembaharuan sewa guna usaha akan berlangsung untuk 1 (satu) tahun segera sesudah lampaunya masa jangka waktu permulaan (kecuali bila para pihak secara tertulis menyetujui lain).
  3. Uang sewa guna usaha sama dengan apa yang diatur pada butir 8 dalam daftar.
  4. Nilai ganti rugi yang disetujui akan seperti apa yang ditentukan pada butir 10 dalam daftar.

Contoh surat perjanjian-pembahruan-addendum

Pasal 6 (Penyerahan Barang Modal)

Ayat 1:

PENYEWA menegaskan telah berunding dengan penjual yang disebutkan pada butir 2 dalam daftar (selanjutnya disebut PENJUAL) mengenai Barang Modal yang akan dipilihnya.

PENYEWA dengan ini menyatakan, bahwa YANG MENYEWAKAN tidak bertanggung jawab atas keterlambatan penyerahan atau tidak diserahkannya Barang Modal oleh penjual, atau tidak berfungsinya Barang Modal.

Atau atas suatu kerusakan atau mutu atau ketidakcocokan Barang Modal baik untuk sebagian atau bagian-bagian Barang Modal itu maupun keseluruhannya.

Ayat 2:

PENYEWA harus memeriksa Barang Modal itu dan membberikan / menandatangani barita acara serah terima / tanda terima (selanjutnya disebut tanda penerimaan) kepada YANG MENYEWAKAN dalam bentuk sebagaimana yang dikehendaki oleh YANG MENYEWAKAN setelah menerima Barang Modal itu dari PENJUAL atuapun dari YANG MENYEWAKAN.

Ayat 3:

Apabila PENYEWA menderita rugi sebagai akibat keterlambatan penyerahan atau tidak diserahkannya Barang Modal atau karena mutu atau ketidakcocokan Barang Modal.

Sedangkan PENYEWA telah menandatangani tanda penerimaan menurut pasal in, maka setelah PENYEWA memenuhi segala kewajiban pembayaran menurut perjanjian sewa guna usaha.

YANG MENYEWAKAN menyetujui mengalhkan kepada PENYEWA  (atas biaya PENYEWA sendiri), hak-hak apapun juga yang dimiliki oleh YANG MENYEWAKAN.

Untuk menuntut ganti rugi kepada PENJUAL, ketentuan bahwa YANG MENYEWAKAN tidak menjamin diperolehnya ganti rugi termaksud.

Ayat 4:
  1. Apabila PENYEWA menemukan suatu kerusakan pada Barang Modal atau mempunyai suatu keluhan atas Barang Modal itu pada waktu menerima Barang Modal.Maka PENYEWA wajib memberitahukan kepada penjual dan yang menyewakan dengan penjelasan kerusakan-kerusakan dan keluhan-keluhan tersebut di dalam Tanda Penerimaan.Dengan catatan bahwa klausul ini tidak dapat ditafsirkan bahwa YANG MENYEWAKAN bertanggungjawab atas kerusakan-kerusakan atau keluhan-keluhan itu.
  2. Apabila PENYEWA tidak memberitahukan kepada YANG MENYEWAKAN menurut ayat 4A pasal ini, maka ini berarti bahwa PENYEWA mengakui Barang Modal telah diserahkan dalam kondisi yang sempurna dan bahwa PENYEWA tidak akan mengajukan sesuatu keberatan apapun di kemudian hari dengan alasan apapun juga.

Perincian isi surat perjanjian

Pasal 7 (Cacat atau Kerusakan Barang Modal)

Ayat 1:

Ketentuan-ketentuan dari pasal 6 juga berlaku atas kerusakan atau cacat yang tersembunyi dari Barang Modal kecuali jika terdapat suatu perjanjian khusus dengan penjual, yang mengecualikan hal itu.

Dengan catatan bahwa tidak ada sesuatupun di dalam perjanjian ini yang dengan cara bagaimanapun dapat ditafsirkan sebagai jaminan dari YANG MENYEWAKAN kepada PENYEWA atas tidak adanya kerusakan/cacat yang tersembunyi atau kekurangcocokan.

Ayat 2:

Tiap kewajiban yang mungkin dibebankan kepada YANG MENYEWAKAN atas setiap hak yang mungkin dimiliki PENYEWA, berkenaan dengan syarat-syarat  dan keadaan Barang Modal atau mutu atau dapat tidaknya diperdagangkannya Barang Modal.

Atau kecocokan Barang Modal atau kepantasan Barang Modal atau kegunaan Barang Modal secara tegas atau tersirat baik yang timbul dari perjanjian sewa guna usaha atau dari perjanjian sebelumnya.

Pernyataan lisan atau tertulis untuk dan atas nama seseorang pada waktu perundingan sedang berjalan yang telah mempengaruhi PENYEWA sebelum perjanjian sewa guna usaha dibuat.

YANG MENYEWAKAN TIDAK WAJIB mengganti kerugian kepada PENYEWA atas tuntutan ganti rugi terhadap PENYEWA yang dilakukan oleh pihak ketiga atas dasar kerugian atau kerusakan apapun juga.

Ayat 3:

Baik penjual maupun dealer atau penyalur melalui siapa perjanjian sewa guna usaha dirundingkan atau oleh siapa Barang Modal ini disalurkan, juga seorang pegawai penjual atau dealer atau penyalur tidak boleh dianggap wakil YANG MENYEWAKAN dalam transaksi ini.

Dan YANG MENYEWAKAN tidak bertanggungjawab terhadap syarat-syarat dan jaminan yang dibuat oleh pegawai penjual atau dealer atau penyalur.

rincian dan pengertian surat perjanjian

Pasal 8 (Pemeliharaan dan Pemakaian Barang Modal)

Ayat 1:

YANG MENYEWAKAN akan membubuhkan merk-merk, pelat-pelat, atau tanda-tanda marker lainnya pada Barang Modal untuk menandakan, bahwa Barang Modal itu dimiliki oleh YANG MENYEWAKAN.

Ayat 2:

PENYEWA tidak akan memindahkan Barang Modal dari tempat/lokasi seperti yang sudah disepakati bersama tanpa izin tertulis terlebih dahulu dari YANG MENYEWAKAN.

Apabila PENYEWA lalai, PENYEWA wajib membayar segala biaya yang dikeluarkan oleh atau atas nama YANG MENYEWAKAN dalam penentuan letak, pengambil alihan dan penyimpanan Barang Modal itu

Dan biaya berperkara yang dikeluarkan oleh YANG MENYEWAKAN untuk pelaksanaan ketentuan-ketentuan perjanjian sewa guna usaha ini.

Ayat 3:

PENYEWA akan mempergunakan Barang Modal itu sebagai seorang penjaga dan pemakai yang baik.

Dengan memperhatikan waktu dan cara pemakaiannya dan atas biaya sendiri mengusahakan dan menyimpan semua surat pendaftaran yang perlu, lisensi dan ijin untuk pemakaian Barang Modal.

Dan akan mematuhi semua peraturan dan instruksi dari badan pemerintah atau dari pihak penguasa yang berwenang dan/atau mematuhi semua undang-undang, kebijaksanaan-kebijaksanaan, serta peraturan-peraturan lainnya yang berkenaan dengan penyimpanan, pemakaian serta pemeliharaan Barang Modal.

Ayat 4:

PENYEWA atau mengikuti dengan penuh tanggungjawab dan mematuhi setiap nasehat-nasehat atau anjuran-anjuran pabrik pembuat Barang Modal perihak pemakaian dan perawatannya.

Ayat 5:

PENYEWA wajib memperbaiki Barang Modal sebaik-baiknya, mengganti bagian-bagian yang hilang, rusak dengan suku cadang yang diberikan atau disarankan oleh pabrik pembuat Barang Modal.

Atau dengan persetujuan tertulis lebih dahulu dari YANG MENYEWAKAN, dengan suku cadang yang mutu dan nilainya sama dengan itu dan apabila ini diabaikan, maka YANG MENYEWAKAN berhak mengambil Barang Modal itu supaya dapat diperbaiki.

Dan PENYEWA wajib mengganti penuh segala biaya perbaikan yang dikeluarkan.

YANG MENYEWAKAN mempunyai hak untuk menahan Barang Modal tersebut sampai semua biaya tadi diganti, dengan catatan semua pelaksanaan dari hal tersebut di atas tidak menghentikan pembayaran uang sewa guna usaha yang berjalan.

pasal-pasal dalam surat perjanjian

Ayat 6:

PENYEWA bertanggung jawab untuk membayar tepat pada waktunya biaya pemeliharaan dan perbaikan serta kewajiban lain termasuk penggantian suku cadang dan peralatan Barang Modal serta menjamin agar Barang Modal bebas dari tuntutan hukum dari yang berwenang.

Ayat 7:

PENYEWA berkewajiban membayar tepat pada waktunya lisensi, uang sewa guna usaha, bunga, pajak, pungutan dan pengeluaran lain sehubungan dengan penggunaan, pemeliharaan, penyimpanan dan penitipan Barang Modal, dan wajib mentaati semua peraturan.

Atas permintaan YANG MENYEWAKAN, PENYEWA wajib menyerahkan tanda terima untuk pembayaran segala biaya tersebut di atas.

Dan apabila PENYEWA cedera/ingkar janji maka YANG MENYEWAKAN akan membayar semua biaya termaksud, dan PENYEWA membayar kepada YANG MENYEWAKAN secara tunai dan sekaligus pada saat ditagih.

Ayat 8:

Menjamin bahwa Barang Modal dijalankan dengan cara yang baik dan pantas oleh orang-orang yang mampu dan cakap dan jika dikehendaki oleh undang-undang/peraturan lainnya untuk memiliki surat ijin untuk menjalankan.

Ayat 9:

PENYEWA akan membayar kepada YANG MENYEWAKAN segala kerugian, biaya, klaim termasuk biaya perkara yang dituntut kepada YANG MENYEWAKAN.

Karena suatu kerugian, cedera fisik atau kerusakan barang yang diderita oleh seseorang atau pihak lain atau kematian yang terjadi karena penempatan atau karena sebab apapun juga.

penjelasan perubahan isi surat perjanjian

Pasal 9 (Perubahan Bahan Modal)

Ayat 1:

Tanpa ijin tertulis dari YANG MENYEWAKAN, PENYEWA tidak akan melakukan penambahan-penambahan, perubahan bagian-bagian baik sebagian maupun separuhnya dari Barang Modal.

Atau mengubah urutan jenis /bentuk serta kerja, fungsi atau pun mutu dari Barang Modal sehingga berbeda dari bentuk, spesifikasi dan identitas semula sebagaimana diuraikan dalam tanda penerimaan Barang Modal.

Ayat 2:

Apabila PENYEWA membuat penambahan-penambahan atau perubahan-perubahan Barang Modal tanpa ijin tertulis terlebih dahulu dari YANG MENYEWAKAN.

Maka PENYEWA segera atas permintaan YANG MENYEWAKAN mengambalikan Barang Modal pada keadaan seperti semula atas biaya dan ongkos PENYEWA.

Ayat 3:

Segala penambahan-penambahan, perubahan-perubahan dan penyempurnaan yang dilakukan terhadap Barang Modal (dengan atau tanpa ijin tertulis YANG MENYEWAKAN) menjadi bagian yang tidak terpsahkan dari Barang Modal.

Kesepakatan barang yang disewakan dalam surat perjanjian

Pasal 10 (Barang Modal Tidak dilekatkan pada tanah dan/atau Bangunan)

Ayat 1:

Tanpa ijin tertulis dari YANG MENYEWAKAN maka PENYEWA tidak boleh menanamkan, mengikatkan, atau dengan cara begaimana pun menyatukan Barang Modal terhadap tanah dan bangunan atau harta tak bergerak lainnya di mana Barang Modal tersebut terletak dan dipakai.

Ayat 2:

Apabila PENYEWA meminta ijin YANG MENYEWAKAN untuk hal-hal yang disebutkan dalam ayat (1) pasal ini, maka PENYEWA hendaknya menyerahkan ijin tertulis dari pemilik tanah dan bangunan atau pemilik harta tak bergerak itu.

Yang isinya menyatakan bahwa si pemilik itu menyetujui dan mengakui, bahwa ia tidak akan memperlakukan Barang Modal itu sebagai bagian dari tanah dan bangunan.

Atau harta tak bergerak miliknya dan oleh karena itu Barang Modal yang disewa guna usaha ini tetap dianggap sebagai milik tunggal yang meyewakan.

Walaupun Barang Modal ini mungkin saja telah dilekatkan pada tanah dan bangunan tadi.

PENYEWA memikul tanggung jawab bagi setiap kerusakan yang timbul terhadap tanah dan bangunan atau harta tak bergerak / barang lainnya.

Karena dilekatkan atau dilepasnya nanti Barang Modal yang disewa guna usaha (baik yang dilakukan oleh YANG MENYEWAKAN maupun PENYEWA) dan PENYEWA akan membayar ganti rugi apabila ada tuntutan karena kerusakan yang timbul.

Ayat 3:

PENYEWA dengan ini manjamin YANG MENYEWAKAN, bahwa ia akan mematuhi semua pembayaran sewa, tarif, pajak dan ongkos lainnya sehubungan dengan tanah dan bangunan.

Atau harta tidak bergerak lainnya di mana Barang Modal untuk sementara waktu ditempatkan serta disimpan dan/atau dipakai dan apabila diminta akan memperlihatkan kepada YANG MENYEWAKAN bukti pembayaran terakhir berkenaan dengan itu.

Ketentuan objek sewa dalam surat perjanjian

Pasal 11 (Kehilangan dan/atau Kerusakan Barang Modal)

Ayat 1:

PENYEWA bersama ini menyatakan memikul dan menanggung seluruh risiko kehilangan dan/atau kerusakan pada Barang Modal.

Atau sesuatu bagian dari padanya karena sebab apapun juga sejak jangka waktu permulaan sebagaimana ditentukan dalam pasal 2 perjanjian ini.

Ayat 2:

Apabila terjadi kehilangan atau kerusakan atas Barang Modal atau bagian-bagiannya maka PENYEWA atas biayanya sendiri seketika akan melakukan tindakan sebagai berikut:

  1. Mengganti keseluruhan ataupun bagian yang rusak/hilang.
  2. Memperbaikinya menjadi seperti keadaan semula dan dapat dipakai lagi dengan baik.
Ayat 3:

Menyimpang dari ayat-ayat pasal ini, apabila seluruh Barang Modal hilang dan/atau menjadi tidak bermanfaat sama sekali (termasuk tetapi tidak terbatas pada karena rusak/tidak berguna lagi secara ekonomis)

Atau karena alasan apapun atau terjadi pelanggaran atas hak kepemilikan YANG MENYEWAKAN karena sebab apapun maka PENYEWA dengan seketika atas permintaan YANG MENYEWAKAN membayar nilai ganti rugi yang disetujui sebagaimana diuraikan pada butir 9 dalam daftar (selanjutnya disebut nilai ganti rugi yang disetujui).

Ayat 4:

Apabila ayat 2 pasal ini yang berlaku, maka perjanjian sewa guna usaha ini beralku terus tanpa perubahan apapun, dan uang sewa guna usaha wajib dibayar terus secara penuh.

Ayat 5:

Apabila pasal 3 ayat ini yang berlaku, maka perjanjian sewa guna usaha ini dianggap berakhir pada saat dilakukannya pembayaran penuh dari nilai ganti rugi yang disetujui setelah nama kedua belah pihak tidak akan saling menuntut lagi kecuali tuntutan ganti rugi lain sebelumnya.

Ketentuan bila barang hilang dalam surat perjanjian

Ayat 6:

Apabila pembayaran penuh nilai ganti rugi yang disetujui telah terjadi, maka YANG MENYEWAKAN akan mengalihkan kepemilikan Barang Modal kepada PENYEWA di tempat dan dalam kondisi sebagaimana adanya pada saat itu.

Berikut jika ada segala hak dan kewajiban yang dimiliki YANG MENYEWAKAN terhadap pihak ketiga tanpa suatu janji dan atau jaminan apapun juga dari YANG MENYEWAKAN.

Ayat 7:

PENYEWA akan membayar kepada YANG MENYEWAKAN kerugian atau kerusakan Barang Modal yang tidak diasuransikan sebagaimana mestinya.

Atau ganti rugi asuransi tidak mencukupi tanpa memperhatikan alasannya, baik yang disebabkan oleh perbuatan kelalaian atau kesalahan PENYEWA maupun pihak lain.

Kesepakatan saat terjadi kehilangan - contoh surat perjanjian

Pasal 12 (Simpanan Jaminan)

Dengan ditandatanganinya perjanjian sewa guna usaha, PENYEWA harus menyerahkan kepada YANG MENYEWAKAN sejumlah uang sebesar seperti yang disebutkan pada butir 5 dalam daftar.

Uang tersebut sebagai jaminan (selanjutnya disebut simpanan jaminan/tanggungan) untuk dibayarnya tepat pada waktunya.

Dan dengan penuh uang sewa guna usaha, setiap jumlah kerugian dan setiap kewajiban-kewajiban PENYEWA lainnya yang harus dibayar berdasarkan perjanjian ini.

Dengan terjadinya peristiwa kelalaian yang tercantum dalam pasal 16, maka YANG MENYEWAKAN berhak akan tetapi tidak diwajibkan menggunakan simpanan jaminan untuk membayar setiap jumlah kerugian, tunggakan pembayaran sewa guna usaha, nilai ganti rugi yang disetujui dan kewajiban-kewajiban PENYEWA lainnya.

Apabila YANG MENYEWAKAN menghendaki mengakhiri sewa guna usaha sesuai dengan pasal 16 perjanjian ini, maka PENYEWA harus membayar kepada yang menyewa jumlah-jumlah sampai terpenuhinya simpanan jaminan yang tercantum pada butir 5 dalam daftar atau suatu jumlah lain yang harus dibayar.

Simpanan jaminan tidak berbunga, jika ditetapkan dalam bentuk jaminan lain sebagai tambahan, maka jaminan tersebut dianggap menjamin semua tuntutan YANG MENYEWAKAN dengan urutan penggunaan jaminan ditetapkan oleh YANG MENYEWAKAN.

Jaminan dalam contoh surat perjanjian

Pasal 13 (Asuransi)

Ayat 1:

Selama berlangsungnya sewa guna usaha, YANG MENYEWAKAN mensyaratkan mengasuransikan Barang Modal pada perusahaan asuransi yang ditunjuk oleh YANG MENYEWAKAN, atas nama YANG MENYEWAKAN, dan pembayaran premi oleh PENYEWA.

Ayat 2:

YANG MENYEWAKAN berhak menentukan terhadap risiko-risiko apa Barang Modal itu harus diasuransikan dan besarnya asuransi harus cukup untuk menutupi nilai ganti rugi yag disetujui sebagaimana diuraikan pada butir 9 dalam daftar.

Ayat 3:

PENYEWA juga wajib mengasuransikan Barang Modal ini terhadap tuntutan ganti rugi dari pihak ketiga yang timbul dari penjagaan, pemeliharaan atau pemakain Barang Modal sebesar jumlah yang dirasa cocok oleh YANG MENYEWAKAN.

Ayat 4:

PENYEWA harus membayar premi-premi asuransi yang ditentukan dalam pasal ini serta membayar premi setiap perpanjangan pertanggungan asuransi.

Jenis asuransi dalam surat perjanjian

Ayat 5:

PENYEWA boleh atas biayanya sendiri mengasuransikan Barang Modal terhadap risiko lain yang dikehendakinya, tetapi asuransi itu tidak akan membebaskannya dengan cara bagaimanapun juga dari semua atau setiap pertanggungan jawab berdasarkan perjanjian sewa guna usaha ini.

Ayat 6:

PENYEWA dapat pula mempertanggungkan Barang Modal kepada kepada perusahaan asuransi yang ditunjuknya sendiri setelah terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari YANG MENYEWAKAN.

Serta menyerahkan polis asuransi kepada YANG MENYEWAKAN untuk disimpan selama berlakunya perjanjian sewa guna usaha selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah polis diterima dari perusahaan asuransi.

Setiap risiko dan kerugian yang timbul akibat kelalaian PENYEWA mempertanggungjawabkan Barang Modal menjadi beban dan tanggung jawab dari PENYEWA.

Ayat 7:

PENYEWA tidak boleh melakukan suatu tindakan atau hal yang dapat membatalkan pertanggungan-pertanggungan asuransi-asuransi yang ditutup menurut pasal ini.

Ayat 8:

Bilamana ternyata, baik disengaja atau tidak disengaja PENYEWA melakukan tindakan yang mengakibatkan batalnya klaim asuransi.

Maka PENYEWA akan menanggung semua risiko yang telah ditutup pada perusahaan asuransi dan mengganti segala kerugian yang diderita oleh YANG MENYEWAKAN akibat batalnya asuransi tersebut.

Jenis Jaminan dalam surat perjanjian

Ayat 9:

Kegagalan mendapatkan ganti rugi dari asuransi yang ditutup tidak akan membebaskan PENYEWA dari pertanggungan jawabnya atas Barang Modal menurut pernjanjian sewa guna usaha ini.

Ayat 10:

Apabila kejadian-kejadian yang ditutup dengan asuransi tesebut terjadi, maka PENYEWA wajib dalam jangka waktu 2×24 jam memberitahu YANG MENYEWAKAN dan perusahaan asuransi tentang hal itu secara tertulis.

Dan segera menyerahkan dokumen-dokumen tentang kejadian tersebut yang diperlukan, agar YANG MENYEWAKAN dapat menerima semua klaim ganti rugi asuransi.

Ayat 11:

Dalam hal terjadi suatu peristiwa/risiko yang secara kebetulan tidak ditutup secara asuransi atau ganti rugi asuransi tidak mencukupi, maka setiap kerugian yang diderita YANG MENYEWAKAN atas Barang Modal sepenuhnya menjadi tanggung jawab dari penerima.

Ayat 12:

Pembayaran ganti rugi asuransi adalah hak YANG MENYEWAKAN sehingga hanya dapat diterima oleh YANG MENYEWAKAN.

Ayat 13:

Ganti rugi asuransi tersebut, atas keinginan YANG MENYEWAKAN akan digunakan sebagai berikut:

  1. Untuk membayar biaya-biaya yang ditentukan pasal 12.
  2. Untuk membayar seluruh nilai ganti rugi yangh disetujui atau sebagian sesuai dengan perjanjian sewa guna usaha ini dalam hal mana PENYEWA akan dibebaskan dari kewajibannya untuk membayar nilai ganti rugi yang disetujui sampai sebesar ganti rugi asuransi yang diterima oleh YANG MENYEWAKAN.
  3. Untuk membayar kerusakan-kerusakan yang diderita pihak ketiga dan/atau PENYEWA karena terjadinya kejadian yang ditutup dengan asuransi.

Asuransi dalam surat perjanjian sewa

Pasal 14 (Larangan bagi PENYEWA)

Ayat 1:

PENYEWA berjanji untuk menjaga agar pemilikan YANG MENYEWAKAN atas Barang Modal tidak dirugikan/dilanggar atau berada dalam ancaman.

Jika hal itu terjadi karena tidakan PENYEWA sendiri maupun pihak manapun juga maka PENYEWA wajib atau yang meyewakan atas ongkos dan biaya PENYEWA sendiri akan segera mengatasi pelanggaran atau ancaman tersebut.

Dengan mengindahkan ayat terdahulu dari pasal ini, maka PENYEWA dilarang:

  1. Menjual, mengalihkan hak, mengalih sewakan, membebani, menjaminkan Barang Modal baik untuk reparasi atau tidakan lain.Dan apabila PENYEWA melanggar salah satu ketentuan dalam ayat ini maka YANG MENYEWAKAN berhak (akan tetapi tidak bersifat mengikat) untuk membayar kepada pihak ketiga suatu jumlah yang diperlukan guna membebaskan Barang Modal dengan hak untuk meminta dibayar kembali jumlah uang itu dari PENYEWA.
  2. Menjual, menghipotikan, membebankan, menyewakan, atau dengan cara lain melepaskan tanah dan/atau bangunan atau barang tidak bergerak lainnya yang menjadi tempat Barang Modal, tanpa persetujuan tertulis dari YANG MENYEWAKAN dan PENYEWA menjamin sepenuhnya bahwa pembeli, kreditur atau pihak lainnya akan tunduk dan mentaati perjanjian sewa guna usaha.

Pemberhentian kesepakatan - contoh surat perjanjian

Pasal 15 (Janji Pengikatan Diri PENYEWA)

PENYEWA berjanji:

  1. Barang Modal akan digunakan untuk keperluan usaha sehari-hari dari PENYEWA
  2. Membayar uang sewa guna usaha yang disebutkan pada butir 6 dalam daftar kepada YANG MENYEWAKAN atau kepada orang lain yang sewaktu-waktu ditunjuk secara tertulis oleh YANG MENYEWAKAN, bebas dari semua pengurangan atau pemotongan.
  3. Atas biaya sendiri, menguasai dan memelihara Barang Modal dalam keadaan terawat baik dan dapat digunakan setiap saat.
  4. Mengijinkan setiap orang atau badan yang diberi kuasa oleh YANG MENYEWAKAN untuk sewaktu-waktu memasuki tempat di mana Barang Modal berada dengan tujuan memeriksa Barang Modal tersebut.
  5. Dan memberitahukan YANG MENYEWAKAN mengenai setiap perubahan alamat/domisili PENYEWA dan atas permintaan YANG MENYEWAKAN segera memberitahukan YANG MENYEWAKAN tempat Barang Modal berada.
  6. Tanpa mengesampingkan ketentuan-ketentuan lainnya dalam perjanjian ini dalam hal Barang Modal terdiri dari kendaraan (kendaraan) maupun alat-alat berat lainnya.
  7. Sekalipun adanya ketentuan-ketentuan dalam perjanjian ini, YANG MENYEWAKAN dapat mengijinkan PENYEWA untuk mendapatkan buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB) dan surat tanda nomor kendaraan (STNK) atas namanya.Dan atas beban sepenuhnya dari PENYEWA.PENYEWA setuju untuk menyerahkan BPKB dan duplikat faktur kepada YANG MENYEWAKAN yang akan menahannya sampai semua kewajiban PENYEWA berdasarkan perjanjian ini telah dilunasi.YANG MENYEWAKAN dapat menetapkan persyaratan apapun yang dipandangnya baik untuk menjamin hak-hak dan kepentingannya atas kendaraan.Surat Perjanjian yang menguntungkan semua pihak
  8. YANG MENYEWAKAN dibebaskan dari tanggung jawab dan kerugian yang berkenaan dengan dokumen-dokumen kendaraan yang tidak asli dan/atau diterbitkan sebagaimana mestinya.
  9. Hanya seorang pengemudi yang ahli dan memiliki surat ijin mengemudi (SIM) yang berlaku untuk jenis Barang Modal, serta memenuhi syarat yang boleh mengemudikan Barang Modal untuk tujuan yang tidak melawan hukum.
  10. Untuk segera memperbaharui pendaftaran Barang Modal dan mentaati undang-undang dan peraturan-peraturan mengenai lalu lintas jalan, memenuhi semua panggilan polisi dan/atau polisi lalu lintas serta melunasi tepat pada waktunya semua denda berkenaan dengan hal tersebut.Segala akibat yang timbul karena kelalaian pelanggaran terhadap undang-undang dan/atau peraturan-peraturan lainnya adalah menjadi tanggung jawab PENYEWA sendiri.
  11. Tidak memindahkan, mengubah, menghilangkan atau merusak atau dengan cara lain mengganggu nomor mesin, rangka, pendaftaran atau nomor-nomor seri atau setiap pelat merek dagang atau pelat tanda pengenal yang terletak pada Barang Modal atau setiap bagiannya.
  12. Membayar atau memberikan penggantian kepada YANG MENYEWAKAN terhadap semua pajak yang dikenakan terhadap Barang Modal berdasarkan sewa guna usaha, termasuk setiap pajak baru yang dikenakan setelah tanggal perjanjian sewa guna usaha.Serta pada semua biaya pendaftaran, premi asuransidan lain sebagainya yang berkenaan dengan pengoperasian atau pemilikan Barang Modal.
  13. Membayar denda keterlambatan sebesar yang disebutkan pada butir 11 dalam daftar (sebelum maupun setelah putusan pengadilan) atas setiap jumlah yang harus dibayar berdasarkan perjanjian sewa guna usaha yang tidak dibayar pada tanggal jatuh tempo.
  14. Membayar semua biaya materei, biaya notaris, biaya penagihan, biaya penarikan kembali Barang Modal, biaya hukum dan biaya-biaya lainnya (termasuk biaya penasehat hukum YANG MENYEWAKAN) berkenaan dengan pembuatan atau pelaksanaan perjanjian sewa guna usaha.
  15. Tidak mengijinkan Barang Modal dipindahkan dari wilayah Indonesia dan tidak boleh memindahkan tempat pendaftaran Barang Modal tanpa persetujuan tertulis dari YANG MENYEWAKAN.
  16. Semua hak yang dimiliki PENYEWA berdasarkan uang muka atau pembayaran lain yang diberikan PENYEWA kepada penjual/supplier, pabrikan atau pembekal dari Barang Modal untuk pembelian Barang Modal dengan ini dialihkan kepada YANG MENYEWAKAN.

Berlanjut ke Contoh Surat Perjanjian – Part 2 ….

sop akuntansi keuangan powerful