Etika Bisnis : Bagaimana Sebaiknya Karyawan Menghadapi Perilaku yang Tidak Etis?

Etika Bisnis

Sebagai karyawan seringkali sulit untuk memilih tindakan yang tepat, apakah menyampaikan sebuah fakta yang sebenarnya tentang aktivitas yang tidak selayaknya dilakukan perusahaan atau diam dan menutupi fakta itu. Lalu apa saja konsekuensi dari pilihan tindakan itu?

Dan dalam kesempatan ini, blog manajemen keuangan akan mencoba untuk mengulasnya…

Seperti yang kita pahami bahwa kejatuhan sebuah perusahaan bisa disebabkan oleh perilaku tidak etis perusahaan tersebut, sebagaimana yang pernah terjadi beberapa tahun lalu pada sebuah kantor akuntan publik (KAP) dan perusahaan yang di-auditnya di Amerika.

Reputasi yang baik akan menguntungkan perusahaan. Hal yang sama berlaku juga untuk karyawan. Reputasi mencerminkan sampai sejauh mana perusahaan dan seorang karyawan berlaku etis.

Baca juga artikel terkait : Ketika Engkau Diminta Menggadaikan Profesi Akuntansimu, Tak Bergeming atau Larut 

Etika usaha (business ethics) adalah sikap dan tingkah laku suatu perusahaan terhadap karyawan, pelanggan, masyarakat dan investornya.

Standar perilaku etis yang tinggi menuntut perusahaan agar memperlakukan pihak-pihak yang berhubungan dengannya secara adil dan JUJUR.

Komitmen suatu perusahaan terhadap etika usaha dapat diukur oleh kecenderungan karyawannya, mulai dari tingkat atas hingga yang terbawah.

Yakni komitmen untuk mematuhi hukum, peraturan, dan standar moral yang berhubungan dengan keselamatan dan mutu produk, praktik ketenagakerjaan yang adil, praktik pemasaran dan penjualan yang wajar.

Selain itu komitmen untuk tidak menggunakan informasi yang bersifat rahasia untuk keuntungan pribadi, keterlibatan masyarakat, dan pembayaran ilegal untuk mendapatkan usaha.

Salah satu contohnya adalah bagaimana sikap perusahaan saat terjadi konflik antara keuntungan dan etika. Pertimbangan etis seringkali nampak begitu nyata, sehingga dapat dipastikan pertimbangan etis akan menjadi penentu sebuah keputusan.

Namun demikian, dalam banyak kasus, pilihan yang benar tidaklah begitu jelas.

 

Bagaimana sebaiknya Karyawan menghadapi perilaku yang tidak etis dari perusahaan?

Apapun tujuannya, perilaku yang tidak etis tidak diperbolehkan. Sebuah kecurangan akan memberikan dampak buruk bagi perusahaan itu sendiri, perusahaan lain, dan bahkan keseluruhan industri.

Bagaimana sebaiknya Karyawan menghadapi perilaku yang tidak etis dari perusahaan?

Jadi, tindakan yang tidak etis dapat memiliki konsekuensi yang lebih luas dan tidak hanya sebatas perusahaan yang melakukannya.

Suatu tindakan tidak etis perusahaan, sebenarnya diketahui oleh karyawan perusahaan pada level tertentu. Dan dalam kasus tertentu, karyawan pada tingkat tertentu tahu apa yang sedang terjadi, bahkan mereka diperintahkan  untuk melakukan tindakan yang curang.

Bila seperti itu, lalu apakah karyawan tersebut mematuhi perintah atasan mereka, menolak untuk mematuhinya, atau melaporkan situasi itu kepada pejabat yang lebih tinggi, misalnya dewan direksi, auditor atau pihak regulator?

 

Sekarang ikuti contoh kasus berikut ini :

Keinginan untuk mendapatkan program pemilikan saham, bonus, dan promosi, bisa mendorong karyawan melakukan tindakan yang tidak etis, antara lain :

  • Memanipulasi pembukuan yang akan membuat LABA divisi tertentu terlihat bagus.
  • Menyembunyikan informasi tentang produk gagal yang dapat menurunkan penjualan.
  • Kegagalan melakukan tindakan yang mahal tetapi dibutuhkan untuk melindungi lingkungan hidup.

Jika hal-hal tersebut terjadi, siapa yang sebaiknya mengambil tindakan dan tindakan apa yang sebaiknya dilakukan?

Dalam kasus ini biasanya permasalahan dapat disebabkan oleh manajer tingkat menengah yang mencoba untuk mendorong LABA unitnya  dan bonus yang akan diterima. Dan ada beberapa karyawan di tingkat yang lebih rendah tahu apa yang sedang terjadi.

Situasi seperti itu sering terjadi dalam konteks lain mulai dari kecurangan AKUNTANSI hingga tanggung  atas produk dan kasus lingkungan hidup.

Karyawan mempertaruhkan pekerjaannya, jika mereka tetap maju meskipun dilarang oleh atasannya. Namun, jika tidak mereka dapat menanggung beban emosional dan juga memberikan kontribusi pada jatuhnya perusahaan dan hilangnya pekerjaan dan tabungan yang menyertainya.

Satu lagi, jika mereka mematuhi perintah yang mereka tahu itu melanggar HUKUM, mereka dapat berurusan dengan msalah hukum.

Kasus lain yang berkaitan dengan penarikan sebuah PRODUK karena alasan tertentu. Alasan dan bukti-bukti untuk menarik produk itu sudah jelas, namun dibutuhkan pertimbangan ketika memutuskan tindakan apa yang akan diambil dan kapan tindakan itu dilakukan.

Jika karyawan di tingkat yang lebih rendah merasa bahwa produk itu sebaiknya ditarik, tapi atasannya tidak setuju.

So, apa yang harus dilakukan oleh karyawan itu?

Jika karyawan tetap maju dan menyembunyikan kekurangan produk tersebut, ia mungkin tetap akan berada dalam kesulitan, demikian juga bila ia membuka kekurangan produknya. Maka perusahaan akan rugi dan si karyawan pun tidak diuntungkan.

Dalam kasus ini, posisi karyawan sulit, karyawan itu mungkin akan kehilangan pekerjaannya. Bahkan, jika karyawan itu benar, kariernya mungkin tidak bagus karena dianggap ‘tidak loyal’.

Memang pada kebanyak kasus, posisi karyawan di tingkat lebih rendah berada di posisi yang terjepit, yaitu antara melakukan hal yang seharusnya mereka lakukan dan kemungkinan kehilangan pekerjaannya atau mematuhi atasan dan kemungkinan berakhir di tangan pihak berwajib.(wdy)