Metode Perhitungan Harga Pokok Proses Lanjutan dalam Produksi

Ada dua metode menentukan harga pokok adalah metode rata-rata tertimbang dan metode masuk pertama, keluar pertama.

Harga pokok persediaan produk dalam proses yang dihitung harga pokoknya pada akhir periode, akan menjadi harga pokok persediaan produk dalam proses pada awal periode dalam departemen produksi yang bersangkutan.

Harga pokok persediaan produk dalam proses awal periode akan berpengaruh dalam penentuan harga harga pokok produk jadi.

Ada dua metode yang bisa digunakan untuk menghitung harga pokok persediaan produk, yaitu:

  • Metode harga pokok rata-rata tertimbang
  • Metode masuk pertama-keluar pertama (MPKP)

Selengkapnya mari ikuti pembahasannya berikut ini…

 

01: Persediaan Produk Dalam Proses Awal

harga pokok produksi adalah

A: Proses Produksi Awal

Dalam suatu departemen produksi, produk yang belum selesai diproses pada akhir periode akan menjadi persediaan produk dalam proses pada awal periode berikutnya.

Produk dalam proses awal periode ini membawa harga pokok produksi per satuan yang berasal dari periode sebelumnya.

Harga pokok produksi ini kemungkinan akan berbeda dengan harga pokok produksi per satuan yang dikeluarkan oleh departemen produksi yang bersangkutan dalam periode sekarang.

Dengan demikian, jika dalam periode sekarang dihasilkan produk jadi yang ditransfer ke gudang atau ke departemen berikutnya.

Maka, harga pokok yang melekat pada persediaan produk dalam proses awal akan menimbulkan masalah dalam penentuan harga pokok produk jadi tersebut.

 

B: Proses Produksi Departemen Lanjutan

Dalam proses pembuatan produk, umumnya bahan baku hanya dimasukkan dalam proses di departemen produksi pertama.

Departemen produksi berikutnya hanya menambahkan biaya konversi saja.

Tapi ada kalanya di departemen setelah departemen produksi pertama, ditambahkan juga bahan baku ke dalam proses produksi.

Tambahan bahan baku ini kemungkinan akan menambah jumlah produk yang dihasilkan oleh departemen yang menambah bahan baku tersebut.

Tetapi terkadang tambahan baku tersebut tidak menambah jumlah satuan produk yang dihasilkan.

Tambahan bahan baku ini akan berpengaruh dalam penentuan harga pokok produk.

 

C: Contoh Penentuan Harga Pokok

Untuk memberikan gambaran tentang pengaruh adanya persediaan produk dalam proses awal periode terhadap penentuan harga pokok produk dalam metode harga pokok proses lanjutan.

Berikut ini disajikan contoh mengenai penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi (material costing).

Permsalahan yang timbul hampir sama dengan persoalan perhitungan pengaruh harga pokok persediaan produk dalam proses awal dalam metode harga pokok proses.

 

Perhatikan contohnya berikut ini:

Pada awak periode terdapat persediaan bahan baku sebanyak 100 kg, dengan harga  pokok Rp 1.000 per kg.

Pada periode tersebut terjadi pembelian bahan baku sebanyak 400 kg dengan harga Rp 1.200 per kg.

Pada akhir periode diketahui jumlah bahan baku yang dipakai sebanyak 250 kg.

Timbul masalah harga pokok yang akan digunakan untuk menghargai bahan baku yang dipakai tersebut.

Untuk menentukan harga pokok mana yang akan digunakan untuk menilai bahan baku yang dipakai tersebut, akuntansi biaya menggunakan berbagai anggapan tentang aliran biaya.

Adanya berbagai anggapan ini, menimbulkan berbagai metode penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai.

Contohnya adalah metode harga pokok rata-rata tertimbang, metode masuk pertama keluar pertama, dan metode masuk terakhir keluar pertama.

Jika dalam contoh pemakaian bahan baku tersebut digunakan metode masuk pertama, keluar pertama.

Maka perhitungan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam periode tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Persediaan bahan baku awal: 100 kg x Rp 100 = Rp 100.000
  2. Pembelian bahan baku selama periode: 400 kg x Rp 1.200 = 480.00
  3. Jumlah bahan baku yang tersedia untuk dipakai:
    = (1) + (2)
    = Rp 100.000 + Rp 480.000 = Rp 580.000
  4. Harga pokok bahan baku yang dipakai selama periode yang ditentukan atas dasar metode masuk pertama, keluar pertama:
    = 100 kg x Rp 1.000 = Rp 100.000
    = 150 kg x Rp 1.200 = Rp 180.000
    Total = Rp 100.000 + Rp 180.000 = Rp 280.000
  5. Persediaan bahan baku pada akhir periode:
    = (3) – (4)
    = Rp 580.000 – Rp 280.000 = Rp 300.000

 

Jika contoh tersebut diterapkan dalam metode harga pokok proses, di mana pada awal periode terdapat persediaan produk dalam proses.

Maka pengaruh adanya persediaan produk dalam proses awal tersebut terhadap penentuan harga pokok produk jadi yang ditransfer ke departemen berikutnya.

Atau ke gudang tidak berbeda dengan contoh penentuan biaya bahan baku tersebut di atas.

 

Perhatikan contoh berikut ini:

Misalnya, pada awal periode terdapat persediaan produk dalam proses sebanyak 200 kg dengan harga pokok yang dibawa dari periode sebelumnya sebesar Rp 800.000.

Misalnya, dalam periode sekarang produk yang dihasilkan sebanyak 3.200 kg.

Sedangkan biaya produksi yang dikeluarkan dalam periode sekarang berjumlah Rp 9.600.000.

Biaya tersebut untuk menyelesaikan persediaan produk dalam proses awal maupun untuk mengolah produk yang dimasukkan dalam proses periode  sekarang.

Jika produk jadi yang dihasilkan dalam periode tersebut berjumlah 2.800 kg.

Harga pokok produksi per kg manakah yang akan digunakan untuk menghargai produk jadi tersebut?

 

Pembahasan perhitungan harga pokok:

Permasalahan tersebut dapat diringkas sebagai berikut:

rumus harga pokok
Tabel: Contoh Ringkasan Biaya Produksi

Persoalannya adalah penentuan harga pokok produk jadi yang dihasilkan dalam periode sekarang.

Karena ada dua jenis harga pokok produksi per kg yang berbeda, yaitu:

1: Harga pokok per kg persediaan produk dalam proses awal:

= Rp 800.000 : 200 kg
= Rp 4.000

2: Harga pokok per kg produksi periode sekarang:

= Rp 9.600.000 : 3.200 kg
= Rp 3.000

 

Harga pokok produksi per kg manakah yang akan digunakan untuk menentukan harga pokok 2.800 kg produk jadi tersebut?

Seperti halnya dengan contoh pemakaian bahan baku dalam contoh tersebut, maka dalam metode harga pokok proses juga digunakan anggapan aliran biaya produksi.

Sehingga, untuk menentukan harga pokok produk jadi dalam contoh ini, terdapat dua metode yang dapat digunakan, yaitu:

  • Metode harga pokok rata-rata tertimbang
  • Metode harga pokok masuk pertama, keluar pertama.

 

Jika digunakan metode masuk pertama, keluar pertama, maka harga pokok produk jadi sebanyak 2.800 kg tersebut dihitung sebagai berikut:

  • Harga pokok persediaan produk dalam proses awal:
    = 200 kg @ Rp 4.000
    = Rp 800.000
  • Harga pokok produksi sekarang:
    = 2.000 kg @ Rp 3.000
    = Rp 7.800.000
  • Harga pokok produk jadi 2.800 kg:
    = (a) + (b)
    = Rp 800.000 + Rp 7.800.000
    = Rp 8.600.000

 

02: Metode Harga Pokok Rata-Rata Tertimbang (Weighted Average Cost Method)

harga pokok proses adalah

Dalam metode ini, harga pokok persediaan produk dalam proses awal ditambahkan pada biaya produksi sekarang.

Kemudian jumlahnya dibagi dengan unit ekuivalensi produk untuk mendapatkan harga pokok rata-rata tertimbang.

Harga pokok rata-rata tertimbang ini selanjutnya digunakan untuk menentukan harga pokok produk jadi yang ditransfer ke departemen berikutnya.

Atau ke gudang, dengan cara mengalikan jumlah kuantitasnya.

 

A: Metode Harga Pokok Rata-Rata Tertimbang – Departemen Pertama

Di departemen produksi pertama, biaya yang harus diperhitungkan dalam menentukan harga pokok produk adalah biaya yang melekat pada persediaan produk dalam proses awal.

Dan biaya produksi yang dikeluarkan dalam periode sekarang.

Biaya yang melekat pada persediaan produk dalam proses awal adalah biaya yang berasal dari periode sebelumnya.

Pada metode harga pokok rata-rata tertimbang, biaya yang berasal dari periode sebelumnya, ditambah dengan biaya dari periode sekarang kemudian dihitung rata-ratanya.

Cara perhitungannya adalah dengan cara membagi jumlah tersebut dengan unit ekuivalensi unsur biaya yang bersangkutan.

Harga rata-rata per unit ini, kemudian dikalikan dengan jumlah unit produk selesai yang ditransfer ke departemen berikutnya.

Tujuanya adalah untuk meghitung total harga pokok produk selesai tersebut.

Harga pokok rata-rata per unit ini digunakan untuk menghitung harga pokok persediaan produk dalam proses pada akhir periode.

 

Rumus perhitungan harga pokok rata-rata tertimbang adalah sebagai berikut:

#1: Biaya Bahan Baku Per Unit:

  1. Biaya bahan baku yang melekat pada produk dalam proses awal
  2. Biaya bahan baku yang dikeluarkan dalam periode sekarang
  3. Unit ekuivalensi biaya bahan baku
  4. Biaya bahan baku per unit: [(1) + (2)] : (3)

 

#2: Biaya tenaga kerja per unit:

  1. Biaya tenaga kerja yang melekat pada produk dalam proses awal
  2. Biaya tenaga kerja yang dikeluarkan dalam periode sekarang
  3. Unit ekuivalensi biaya tenaga kerja
  4. Biaya tenaga kerja per unit: [(1) + (2)] : (3)

 

#3: Biaya overhead pabrik per unit:

  1. Biaya overhead pabrik yang melekat pada produk dalam proses awal
  2. Biaya overhead pabrik yang dikeluarkan dalam periode sekarang
  3. Unit ekuivalensi biaya overhead pabrik
  4. Biaya overhead pabrik per unit: [(1) + (2)] : (3)

 

B: Metode Harga Pokok Rata-Rata Tertimbang – Departemen Lanjutan

Bagaimana cara menghitung harga pokok produk dengan metode harga pokok rata-rata tertimbang di departemen setelah departemen pertama?

Harga pokok produk yang dihasilkan oleh departemen produksi setelah departemen produksi yang pertama adalah harga pokok kumulatif.

Yaitu penjumlahan harga pokok dari departemen sebelumnya dengan biaya produks yang ditambahkan dalam departemen yang berangkutan.

Dalam metode harga pokok rata-rata tertimbang, untuk menghitung harga pokok per satuan kumulatif produk yang dihasilkan departemen lanjutan adalah:

Setelah departemen produksi pertama, perlu dihitung rata-rata harga pokok per satuan produk yang berasal dari departemen sebelumnya.

Dan harga pokok rata-rata yang ditambahkan dalam departemen setelah departemen pertama bersangkutan.

Rumus perhitungan harga pokok produk per unit produk departemen lanjutan dengan menggunakan metode harga pokok rata-rata tertimbang adalah sebagai berikut:

#1: Harga Pokok Produk per satuan yang dibawa dari departemen sebelumnya.

  1. Harga pokok produk dalam proses awal yang berasal dari departemen sebelumnya.
  2. Harga pokok produk yang ditransfer dari departemen debelumnya dalam periode sekarang.
  3. Produk dalam proses proses awal.
  4. Produk yang ditrasfer dari departemen sebelumnya dalam periode sekarang.
  5. Harga pokok produk per unit yang dibawa dari departemen sebelumny:
    = [(1) + (2)] : [(3) + (4)]

 

#2: Harga Pokok Produk per unit yang ditambahkan dalam departemen lanjutan, setelah departemen pertama.

Biaya bahan baku per unit:

  1. Biaya bahan baku yang melekat pada produk dalam prosuk awal.
  2. Biaya bahan baku yang dikeluarkan dalam periode sekarang.
  3. Unit ekuivalensi biaya bahan baku.
  4. Biaya bahan baku per unit:
    = (1 + 2) : (3)

 

Biaya tenaga kerja per unit:

  1. Biaya tenaga kerja yang melekat pada produk dalam proses awal.
  2. Biaya tenaga kerja yang dikeluarkan dalam periode sekarang.
  3. Unit ekuivalensi biaya tenaga kerja.
  4. Biaya tenaga kerja per unit:
    = (1 + 2) : (3)

 

Biaya overhead pabrik per unit:

  1. Biaya overhead pabrik yang melekat pada produk dalam proses awal.
  2. Biaya overhead pabrik yang dikeluarkan dalam periode sekarang.
  3. Unit ekuivalensi biaya overhead pabrik.
  4. Biaya overhead pabrik per unit:
    = (1 + 2) : (3)

 

Total harga pokok produksi per satuan: #1 + #2

 

03: Metode Masuk Pertama Keluar Pertama

fifo adalah

A: Metode Masuk Pertama, Keluar Pertama Departemen Produksi Pertama

Metode masuk pertama, keluar pertama (MPKP) menganggap bahwa produksi periode sekarang.

Pertama kali digunakan untuk menyelesaikan produk yang pada awal periode masih dalam proses.

Baru kemudian sisanya digunakan untuk mengolah produk yang dimasukkan dalam proses periode sekarang.

Oleh karena itu, dalam perhitungan unit ekuivalensi, tingkat penyelesaian persediaan produk dalam proses awal harus diperhitungkan.

 

B: Metode Masuk Pertama, Keluar Pertama – Departemen Produksi Lanjutan

Dalam departemen produksi lanjutan setelah departemen produksi pertama, produk telah membawa harga pokok dari departemen sebelumnya.

Produk dalam proses yang membawa harga pokok dari periode sebelumnya.

Digunakan pertama kali untuk menentukan harga pokok produk yang ditransfer ke departemen berikutnya atau ke gudang.

 

04: Tambahan Bahan Baku Departemen Produksi Lanjutan

Umumnya bahan baku diolah pertama kali dalam departemen pertama.

Departemen produksi berikutnya hanya mengolah lebih lanjut produk hasil departemen pertama dengan mengeluarkan biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik.

Namun, seringkali dalam proses produksi, bahan baku ditambahkan dalam departemen produksi setelah departemen produksi pertama.

Tambahan bahan baku ini mempunyai dua kemungkinan, yaitu:

Kemungkinan #1:

Tidak menambah jumlah produk yang dihasilkan oleh departemen produksi yang mengkonsumsi tambahan bahan baku tersebut.

Jika tambahan bahan baku tidak menambah jumlah produk yang dihasilkan.

Maka tambahan ini tidak berpengaruh terhadap perhitungan unit ekuivalensi produk yang dihasilkan.

Dan sebagai akibatnya tidak mempengaruhi perhitungan harga pokok produksi per satuan produk yang diterima dari departemen produksi sebelumnya.

 

Kemungkinan #2:

Menambah jumlah produk yang dihasilkan oleh departemen produksi yang mengkonsumsi tambahan bahan baku tersebut.

Jika terjadi tambahan produk yang dihasilkan dengan adanya tambahan bahan baku dalam departemen lanjutan setelah departemen produksi pertama.

Maka, hal ini akan berakibat diadakannya penyesuaian harga pokok produksi per satuan produk yang diterima dari departemen produksi sebelumnya.

Penyesuaian ini dilakukan karena total harga pokok produk yang berasal dari departemen sebelumnya.

Yang semula dipikul oleh jumlah tertentu, sekarang harus dipikul oleh jumlah produk yang lebih banyak, sebagai akibat tambahan bahan baku tersebut.

Akibatnya harga pokok produk per unit yang berasal dari departemen sebelumnya menjadi lebih kecil.

Dan untuk memperkaya pemahaman, berikut disajikan video yang membahas soal perhitungan persediaan:

 

05: Kesimpulan

Dalam akuntansi biaya, harga pokok persediaan pokok dalam proses awal menimbulkan masalah penentuan harga pokok produk jadi yang ditransfer dari suatu departemen ke departemen produksi berikutnya atau ke gudang.

Untuk mengatasi masalah terebut ada dua metode penentuan harga pokok, yaitu:

  • Metode harga pokok rata-rata tertimbang.
  • Metode masuk pertama, keluar pertama.

Dalam metode harga pokok rata-rata tertimbang, untuk menghitung harga pokok rata-rata tertimbang.

Tiap unsur harga pokok produksi yang melekat pada persediaan produk dalam proses dijumlahkan dengan unsur biaya produksi yang dikeluarkan dalam periode sekarang.

Selanjutnya harga pokok rata-rata tertimbang ini dikalikan dengan kuantitas produk jadi yang ditransfer ke departemen berikutnya.

Atau ke gudang untuk menentukan harga pokok produk tersebut.

Dalam metode masuk pertama, keluar pertama, harga pokok persediaan produk dalam proses awal adalah harga pokok pertama yang membentuk harga pokok produk.

Produk tersebut selanjutnya ditransfer ke departemen berikutnya atau ke gudang.

Tambahan bahan baku di departemen lanjutan, mempunyai dua kemungkinan menambah jumlah produk yang dihasilkan dalam departemen yang bersangkutan.

Jika tambahan bahan baku tersebut tidak menambah jumlah produk yang dihasilkan dalam departemen yang bersangkutan.

Maka tambahan biaya bahan baku tersebut hanya menambah biaya bahan baku per satuan  dalam departemen tersebut.

Jika bahan baku tersebut menambah jumlah produk yang dihasilkan oleh departemen yang bersangkutan.

Maka tambahan bahan baku tersebut akan brakibat terhadap penyesuaian harga pokok per satuan produk yang berasal dari departemen sebelumnya.

Dan tambahan biaya bahan baku per satuan dalam departemen lanjutan.

Demikian yang dapat saya bagikan, semoga bermanfaat.

Terima kasih.

manajemen keuangan dan SOP