Cara Menghitung Harga Pokok Produksi Per Pesanan dengan Metode Full Costing

Harga pokok produksi adalah biaya yang dibutuhkan untuk memproses bahan baku menjadi produk jadi.

Perusahaan yang berproduksi dengan menggunakan metode harga pokok pesanan mengumpulkan harga pokok pokok produksinya dengan menggunakan metode harga pokok pesanan (job order cost method).

Dalam metode ini biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk pesanan tertentu.

Dan harga pokok produksi per satuan dihitung dengan cara membagi total biaya produksi untuk pesanan tersebut dengan jumlah satuan produk dalam pesanan yang bersangkutan.

Lengkapnya, mari ikuti pembahasan materi harga pokok produksi berikut ini…

 

01: Siklus Akuntansi Biaya

unsur unsur harga pokok produksi

Siklus akuntansi biaya dalam suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh siklus aktivitas usaha perusahaan tersebut.

Perhatikan penjelasan singkat siklus aktivitas perusahaan dagang, jasa, dan manufaktur berikut ini:

 

A: Siklus Akuntansi Biaya Perusahaan Dagang

Siklus kegiatan perusahaan dagang dimulai dengan pembelian barang dagangan. Dan tanpa melalui pengolahan lebih lanjut.

Kemudian diakhiri dengan penjualan kembali barang dagangan tersebut.

Dalam perusahaan dagang, siklus akuntansi biaya dimulai dengan pencatatan harga pokok barang dagangan yang dibeli.

Dan berakhir dengan penyajian harga pokok barang dagangan yang dijual.

Tujuan akuntansi biaya dalam perusahaan dagang adalah untuk menyajikan informasi:

  • harga pokok barang dagangan yang dijual
  • biaya administrasi dan umum,
  • biaya pemasaran.

 

B: Siklus Akuntansi Biaya Perusahaan Jasa

Siklus aktivitas perusahaan jasa dimulai dengan persiapan penyerahan jasa dan berakhir dengan penyerahan jasa kepada pemakainya.

Dalam perusahaan jasa siklus akuntansi biaya dimulai dengan pencatatan biaya persiapan jasa.

Dan berakhir dengan disajikannya harga pokok jasa yang diserahkan.

Tujuan akuntansi biaya dalam perusahaan jasa untuk menyajikan informasi harga pokok per satuan jasa yang diserahkan kepada pemakai jasa.

 

C: Siklus Akuntansi Biaya Perusahaan Manufaktur

Siklus aktivitas  perusahaan manufaktur dimulai dengan pengolahan bahan baku di Bagian Produksi dan berakhir dengan penyerahan produk jadi ke Bagian Gudang.

Dalam perusahaan manufaktur, siklus akuntansi biaya dimulai dengan pencatatan harga pokok bahan baku yang dimasukkan dalam proses produksi.

Kemudian dilanjutkan dengan pencatatan biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik yang dikonsumsi untuk produksi.

Akhir dari siklus aktivitas perusahaan manufaktur adalah dengan disajikannya harga pokok produk jadi yang diserahkan oleh Bagian Produksi ke Bagian Gudang.

Akuntansi biaya dalam perusahaan manufaktur bertujuan untuk menyajikan informasi harga pokok produksi per satuan produk jadi yang diserahkan ke Bagian Gudang.

Siklus akuntansi biaya dalam perusahaan manufaktir digunakan untuk mengikuti proses pengolahan produk.

Sejak dari dimasukkannya bahan baku ke dalam proses produksi sampai dengan dihasilkannya produk jadi dari proses produksi tersebut.

Perhatikan hubungan antara siklus pembuatan produk dan siklus akuntansi biaya yang digambarkan sebagai berikut:

#1: Siklus Pembuatan Produk

Siklus pembuatan produk
Gambar: Siklus pembuatan produk

 

#2: Siklus Akuntansi  Biaya

siklus akuntansi biaya
Gambar: Siklus akuntansi biaya

 

Siklus akuntansi biaya dapat pula digambarkan melalui hubungan rekening-rekening buku besar.

Untuk menampung biaya yang dikeluarkan dalam pengolahan bahan baku menjadi barang jadi, di dalam buku besar dibentuk rekening-rekening berikut ini:

1: Barang dalam Proses

Rekening ini  digunakan untuk mencatat biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik (debit).

Dan harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Bagian Gudang (kredit).

 

2: Persediaan Bahan Baku

Rekening ini digunakan untuk mencatat harga pokok bahan baku yang dibeli (debit), dan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi (kredit)

 

3: Gaji dan Upah

Rekening ini adalah rekening antara (clearing account) yang digunakan untuk mencatat utang gaji dan upah (debit).

Dan upah langsung yang digunakan untuk mengolah produk (kredit).

 

4: Biaya Overhead Pabrik (BOP) yang Dibebankan

Rekening ini digunakan untuk mencatat biaya overhead pabrik yang dibebankan pada produk berdasarkan tarif yang ditentukan di muka (kredit).

 

5: Biaya Overhead Pabrik (BOP) Sesungguhnya

Rekening ini digunakan untuk mencatat biaya overhead pabrik (BOP) yang sesunggugnya terjadi (debit)

 

6: Persediaan Produk Jadi

Rekening ini digunakan untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer dari Bagian Produksi ke Bagian Gudang (debit).

Dan harga pokok produk jadi yang dijual.

 

7: Persediaan Produk dalam Proses

Rekening ini digunakan untuk mencatat harga pokok produk yang pada akhir periode masih dalam proses (debit).

 

Siklus akuntansi biaya yang digambarkan melalui hubungan rekening-rekaning buku besar dapat dijelaskan dengan gambar berikut ini:

Aliran Biaya Produksi
Gambar: Aliran Biaya Produksi dalam Rekening Buku Besar

 

02: Karakteristik Metode Harga Pokok Produksi Per Pesanan

harga pokok produksi adalah

Pengumpulan biaya produksi dalam suatu perusahaan dipengaruhi oleh karakteristik aktivitas produksi perusahaan tersebut.

Oleh karena itu, perlu diuraikan lebih dahulu karakteristik aktivitas usaha perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan yang berpengaruh terhadap metode pengumpulan biaya produksi.

 

A: Karakteristik Usaha Perusahaan yang Produksinya Berdasarkan Pesanan

Perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan mengolah bahan baku menjadi produk jadi berdasarkan pesanan dari luar atau dari dalam perusahaan.

Karakteristik usaha perusahaan tersebut adalah sebagai berikut:

  • Proses pengolahan produk terjadi secara terputus-putus. Jika pesanan yang satu selesai dikerjakan, proses produksi dihentikan, dan mulai dengan pesanan berikutnya.
  • Produk dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh pemesan. Dengan demikian pesanan yang satu dapat berbeda dengan pesanan yang lain.
  • Produksi ditujukan untuk memenuhi pesanan, bukan untuk persediaan di gudang.

 

B: Karakteristik Metode Harga Pokok Pesanan

Karakteristik usaha perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, berpengarauh terhadap pengumpulan biaya produksinya.

Metode pengumpulan biaya produksi dengan metode harga pokok pesanan yang digunakan dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, memiliki karakteristik sebagai berikut:

 

Karakteristik #1:

Perusahaan memproduksi berbagai macam produk sesuai dengan spesifikasi pemesan.

Dan setiap jenis produk perlu dihitung harga pokok produksinya secara individual.

 

Karakteristik #2:

Biaya produksi harus digolongkan berdasarkan hubungannya dengan produk menjadi dua kelompok berikut ini:

  1. Biaya produksi langsung
  2. Biaya produksi tidak langsung

 

Karakteristik #3:

Biaya produksi langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.

Sedangkan biaya produksi tidak langsung disebut dengan istilah biaya overhead pabrik (BOP).

 

Karakteristik #4:

Biaya produksi langsung diperhitungkan sebagai harga pokok produksi pesanan tertentu berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi.

Sedangkan biaya overhead pabrik diperhitungkan ke dalam harga pokok pesanan berdasarkan tarif yang ditentukan di muka.

 

Karakteristik #5:

Harga pokok produksi per unit dihitung pada saat pesanan selesai diproduksi.

Rumus perhitungan harga pokok produksinya adalah sebagai berikut:

Jumlah Biaya produksi yang dikeluarkan untuk pesanan tersebut : Jumlah unit produk yang dihasilkan dalam pesanan yang bersangkutan

 

03: Manfaat Informasi Harga Pokok Produksi per Pesanan

fungsi harga pokok produksi

Bagi manajemen perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, ada 5 manfaat informasi harga pokok produksi per pesanan, yaitu:

  1. Menentukan harga jual yang akan dibebankan kepada pemesan
  2. Mempertimbangkan penerimaan atau penolakan pesanan
  3. Memantau realisasi biaya produksi
  4. Menghitung laba rugi tiap pesanan
  5. Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses yang disajikan dalam neraca.

Mari dibahas satu-per-satu…

 

#1: Menentukan harga jual yang akan dibebankan kepada pemesan

Pengertian biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.

Dengan demikian pengertian biaya mencakup pula biaya yang akan datang , yang akan dikorbankan untuk tujuan tertentu.

Perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan memproses produknya berdasarkan spesifikasi yang ditentukan oleh pemesan.

Dengan demikian biaya produksi pesanan yang satu akan berbeda dengan biaya produksi pesanan yang lain, tergantung pada spesifikasi yang dikehendaki oleh pemesan.

Oleh karena itu, harga jual yang dibebankan pada pemesan sangat ditentukan oleh besarnya biaya produksi yang akan dikeluarkan untuk memproduksi pesanan tertentu.

Formula/ rumus untuk menentukan harga jual yang akan dibebankan kepada pemesan adalah sebagai berikut:

(a): Taksiran biaya produksi  untuk pesanan = Rp xx
(b): Taksiran biaya produksi yang dibebankan kepada pesanan = Rp xx

(c): Taksiran total biaya pesanan = (a) + (b)
(d): Laba yang diinginkan = Rp xx

(e): Taksiran harga jual yang dibebankan pada pemesan = (c) + (d)

Manajemen perusahaan konstruksi adalah contoh pihak yang memanfaatkan informasi biaya yang dihasilkan dengan metode harga pokok pesanan.

Perusahaan tersebut, menghitung biaya menurut proyek.

Dan digunakan untuk mengajukan penawaran harga yang akan dibebankan kepada pemilik proyek dalam proses pelelangan proyek (tender).

Jika pelelangan proyek dimenangkan oleh perusahaan konstruksi tersebut.

Maka metode harga pokok pesanan digunakan untuk mengumpulkan biaya proyek yang sesungguhnya dikeluarkan untuk pengendalian biaya proyek.

Dari rumus perhitungan tersebut, terlihat bahwa informasi taksiran biaya produksi yang akan dikeluarkan untuk memproduksi pesanan yang diinginkan oleh pemesan.

Dan dipakai sebagai salah satu dasar untuk menentukan harga jual yang akan dibebankan kepada  pemesan.

Untuk menaksir biaya produksi yang akan dikeluarkan dalam memproduksi tertentu perlu dihitung komponen-komponen biaya berikut ini:

(a): Taksiran biaya bahan baku = Rp xxx
(b): Taksiran biaya tenaga kerja langsung = Rp xxx
(c): Taksiran biaya overhead pabrik = Rp xxx

Taksiran biaya produksi = (a) + (b) + (c)

 

#2: Mempertimbangkan penerimaan atau penolakan pesanan

Adakalnya harga jual produk oleh pemesan telah terbentuk di pasar.

Sehingga keputusan yang akan dilakukan oleh manajemen adalah menerima atau menolak pesanan.

Untuk meningkatkan pengambilan keputusan tersebut, manajemen memerlukan informasi total harga pokok pesanan yang akan diterima tersebut.

Informasi total harga pokok pesanan memberikan dasar perlindungan bagi manajemen agar didalam menerima pesanan perusahaan tidak mengalami kerugian.

Tanpa memiliki informasi total harga pokok pesanan, manajemen tidak memiliki jaminan apakah harga yang diminta oleh pemesan dapat mendatangkan laba bagi perusahaan.

Total harga pokok pesanan dihitung dengan  unsur-unsur harga pokok produksi berikut ini:

Biaya produksi pesanan:
(a): Taksiran biaya bahan baku = Rp xxx
(b): Taksiran biaya tenaga kerja = Rp  xxx
(c): Taksiran biaya overhead pabrik = Rp xxx

(d): Taksiran biaya produksi = (a) + (b) + (c)

Biaya non produksi:
(e): Taksiran biaya administrasi & umum = Rp xxx
(f): Taksiran biaya pemasaran = Rp xxx

(g): Taksiran biaya non produksi = (e) + (f)

Taksiran total harga pokok pesanan = (d) + (g)

 

#3: Memantau realisasi biaya produksi

realisasi biaya produksi

Informasi taksiran biaya produksi pesanan tertentu dapat dimanfaatkan sebagai salah satu dasar untuk menetapkan harga jual yang akan dibebankan kepada pemesan.

Informasi taksiran biaya produksi juga bermanfaat sebagai salah satu dasar untuk mempertimbangkan diterima tidaknya suatu pesanan.

Jika pesanan telah diputuskan untuk diterima, manajemen memerlukan informasi harga pokok produksi yang sesungguhnya dikeluarkan dalam memenuhi pesanan tertentu.

Oleh karena itu, akuntansi biaya digunakan untuk mengumpulkan informasi biaya produksi tiap pesanan yang diterima.

Yaitu untuk memantau apakah pesanan tertentu menghasilkan total biaya produksi pesanan sesuai dengan yang diperhitungkan sebelumnya.

Pengumpulan biaya produksi per satuan tersebut dilakukan dengan menggunakan metode harga pokok pesanan.

Perhitungan biaya produksi sesungguhnya yang dikeluarkan untuk pesanan tertentu dilakukan dengan rumus

(a): Biaya bahan baku sesungguhnya = Rp xxx
(b): Biaya tenaga kerja sesungguhnya = Rp xxx
(c): Taksiran biaya overhead pabrik = Rp xxx

Total biaya produksi sesungguhnya = (a) + (b) + (c)

 

#4: Menghitung laba rugi bruto tiap pesanan

Untuk mengetahui apakah pesanan tertentu mampu menghasilkan laba bruto atau mengakibatkan rugi bruto.

Manajemen memerlukan informasi biaya produksi yang telah dikeluarkan untuk memproduksi pesanan tertentu.

Informasi laba rugi bruto tiap pesanan diperlukan untuk mengetahui kontribusi tiap pesanan dalam menutup biaya non produksi dan menghasilkan laba atau rugi.

Oleh karena itu, metode harga pokok pesanan digunakan oleh manajemen untuk mengumpulkan informasi biaya produksi yang sesungguhnya dikeluarkan untuk tiap pesanan.

Laba atau rugi bruto tiap pesanan dihitung sebagai berikut:

(a): Harga jual yang dibebankan kepada pemesan = Rp xxx

Biaya produksi pesanan tertentu:

(b): Biaya bahan baku sesungguhnya = Rp xxx
(c): Biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya = Rp xxx
(d): Taksiran biaya overhead pabrik = Rp xxx

(e): Total biaya produksi pesanan = (b) + (c) + (d)

Laba Bruto = (a) – (e)

 

#5: Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses yang disajikan dalam neraca.

Pada saat manajemen dituntut untuk membuat pertanggungjawaban keuangan periodik, manajemen harus menyajikan laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi.

Di dalam neraca, manajemen harus menyajikan harga pokok persediaan produk jadi dan harga pokok produk yang pada tanggal neraca masih dalam proses.

Untuk tujuan tersebut, manajemen perlu menyelenggarakan catatan biaya produksi tiap pesanan.

Berdasarkan catatan biaya produksi tiap pesanan tersebut manajemen dapat menentukan biaya produksi yang melekat pada pesanan yang telah selesai diproduksi.

Namun pada tanggal neraca belum diserahkan kepada pemesan.

Di samping itu, berdasarkan catatan tersebut, manajemen dapat pula menentukan biaya produksi yang melekat pada pesanan yang pada tanggal neraca masih dalam proses pengerjaan.

Biaya yang melekat pada pesanan yang telah selesai diproduksi namun pada tanggal neraca belum diserahkan kepada pemesan disajikan dalam neraca sebagai harga pokok persediaan produk jadi.

Biaya yang melekat pada pesanan yang belum selesai pada tanggal neraca disajikan dalam neraca sebagai harga pokok persediaan produk dalam proses.

 

04: Rekening Kontrol dan Rekening Pembantu Dalam Harga Pokok Produksi

komponen harga pokok produksi

Akuntansi biaya menggunakan banyak rekening pembantu untuk merinci biaya-biaya produksi.

Rekening-rekening pembantu (subsidiary accounts) ini dikontrol ketelitiannya dengan menggunakan rekening kontrol (controlling account) di dalam buku besar.

Rekening kontrol menampung data yang bersumber dari jurnal.

Sedangkan rekening pembantu digunakan untuk menampung data yang bersumber dari dokumen sumber.

Perhatikan gambar yang melukiskan hubungan antara rekening kontrol dengan rekening pembantu berikut ini:

Rekening Kontrol dan Rekening Pembantu
Gambar: Rekening Kontrol dan Rekening Pembantu

Untuk mencatat biaya, di dalam akuntansi biaya digunakan rekening kontrol dan rekening pembantu berikut ini:

A: Rekening Kontrol

  • Persediaan Bahan Baku
  • Persediaan Bahan Penolong
  • Barang Dalam Proses
  • Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
  • Biaya Administrasi dan Umum
  • Biaya Pemasaran

 

B: Rekening Pembantu

  • Kartu Persediaan
  • Kartu Harga Pokok
  • Kartu Biaya

 

Karena transaksi terjadinya biaya yang dicatat dalam buku besar bersumber dari jurnal.

Maka dalam melaksanakan identifikasi transaksi yang terjadi, harus ditunjuk nama rekening yang harus didebit dan dikredit dalam buku besar.

Oleh karena itu, penggolongan transaksi pada waktu membuat jurnal selalu menyebut nama rekening yang bersangkutan dalam BUKU BESAR.

Karena akuntansi biaya menggunakan berbagai rekening kontrol seperti tersebut di atas, maka setiap melakukan penjurnalan, harus ditunjuk nama rekening kontrol yang bersangkutan dalam buku besar.

Untuk mencatat biaya produksi, di dalam buku besar dibentuk rekening kontrol Barang Dalam Proses.

Rekening ini dapat dipecah lebih lanjut menurut unsur biaya produksi, sehingga ada 3 (tiga) macam rekening Barang Dalam Proses berikut ini:

  1. Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku
  2. Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Langsung
  3. Barang dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik

Jika produk diolah melalui beberapa departemen produksi, rekening Barang Dalam Proses dapat dirinci lebih lanjut menurut departemen dan unsur biaya produksi seperti contoh berikut ini:

#1: Departemen A:
  • Biaya Bahan Baku Departemen A
  • Biaya Tenaga Kerja Langsung Departemen A
  • Biaya Overhead Pabrik Departemen A
#2: Departemen B:
  • Biaya Bahan Baku Departemen B
  • Biaya Tenaga Kerja Langsung Departemen B
  • Biaya Overhead Pabrik Departemen B

Untuk mencatat biaya non produksi, dalam buku besar dibentuk rekening kontrol Biaya Administrasi & Umum dan Biaya Pemasaran.

Rekening Biaya Pemasaran digunakan untuk menampung biaya-biaya yang terjadi dalam fungsi pemasaran.

Sedangkan rekening Biaya Administrasi dan Umum digunakan untuk menampung biaya-biaya yang terjadi dalam fungsi administrasi dan umum.

Misalnya, biaya yang terjadi di:
  • Bagian Akuntansi,
  • Bagian Personalia,
  • Bagian Hubungan Masyarakat (Humas),
  • Sekretariat, dan
  • Bagian Pemeriksa Intern.

Untuk mencatat pemakaian bahan baku yang dipakai dalam pembuatan suatu produk, maka jurnal yang dibuat adalah:

[Debit] Barang Dalam Proses  Rp xxx
[Kredit] Persediaan Bahan Baku Rp xxx

Dan bukan jurnal berikut ini:

[Debit] Biaya Bahan Baku   Rp xxx
[Kredit] Persediaan Bahan Baku   Rp xxx

Karena rekening Biaya Bahan Baku, tidak diselenggarakan dalam buku besar, melainkan dalam buku pembantu kartu harga pokok.

 

Perhatikan jurnal-jurnal pencatatan biaya berikut ini yang menggunakan rekening kontrol:

#1: Untuk mencatat biaya depresiasi/ penyusutan gedung pabrik:

[Debit] Biaya Overhead Sesungguhnya  Rp xxx
[Kredit] Akumulasi Depresiasi Gedung  Rp xxx

#2: Untuk mencatat biaya listrik:

[Debit] Biaya Administrasi dan Umum  Rp xxx
[Kredit] Kas  Rp xxx

#3: Untuk mencatat biaya depresiasi kendaraan yang digunakan Bagian Pemasaran:

[Debit] Biaya Pemasaran  Rp xxx
[Kredit] Akumulasi Depresiasi Kendaraan  Rp xxx

 

Kartu Harga Pokok (Job Order Cost Sheet)

Kartu harga pokok adalah catatan yang penting dalam metode harga pokok pesanan.

Kartu harga pokok ini berfungsi sebagai rekening pembantu, yang digunakan untuk mengumpulkan biaya produksi tiap pesanan produk.

Biaya produksi untuk mengerjakan pesanan tertentu dicatat secara rinci di dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan.

Biaya produksi dipisahkan menjadi:

  • Biaya produksi langsung terhadap pesanan tertentu
  • Biaya produksi tidak langsung dalam hubungannya dengan pesanan tersebut.

Biaya produksi langsung dicatat dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan secara langsung.

Sedangkan biaya produksi tidak langsung dicatat dalam kartu harga pokok produksi berdasarkan tarif tertentu.

Perhatikan contoh kartu harga pokok berikut ini:

kartu harga pokok produksi
Contoh: kartu harga pokok

 

05: Metode Harga Pokok Pesanan

cara menghitung harga pokok produksi

Setelah diuraikan karakteristik metode harga pesanan, selanjutnya akan diuraikan proses pengumpulan tiap unsur biaya produksi dengan menggunakan metode harga pesanan.

Pembahasan metode harga pokok produksi akan diawali dengan uraian prosedur pencatatan jurnal bahan baku.

Kemudian dilanjutkan dengan pencatatan biaya tenaga kerja langsung , biaya overhead pabrik dan pencatatan harga pokok produk jadi yang ditransfer dari Bagian Produksi ke Bagian Gudang.

Untuk menggambarkan penggunaan metode harga pokok pesanan, berikut ini disajikan contoh pengumpulan biaya produksi.

Dengan menggunakan metode harga pokok pesanan dan pendekatan full costing dalam penentuan harga pokok produksi.

 

Contoh soal harga pokok produksi #1:

PT KAS Surabaya berusaha dalam bidang percetakan, termasuk buku-buku akuntansi keuangan.

Semua pesanan diproduksi berdasarkan spesifikasi dari pemesan.

Biaya produksi dikumpulkan menurut pesanan yang diterima.

Pendekatan yang digunakan dalam penentuan harga pokok produksi adalah  full costing.

Untuk mencatat biaya produksi, tiap pesanan diberi nomor.

Dan setiap dokumen sumber dan pendukung diberi identitas nomor pesanan yang bersangkutan.

Dalam bulan Januari 2020. PT KAS Surabaya mendapat pesanan untuk mencetak undangan sebanyak 1.500  dari Manajemen Keuangan Network.

Harga yang dibebankan kepada pemesan tersebut adalah Rp 3.000 per lembar.

Dalam bulan yang sama, perusahaan juga menerima pesanan untuk mencetak pamflet iklan sebanyak 20.000 lembar dari ILC English Course.

Dengan harga yang dibebankan kepada pemesan sebesar Rp 1000 per lembar.

Pesanan dari Manajemen Keuangan Network diberi nomor 101, dan pesanan dari ILC English Course diberi nomor 102.

Berikut ini adalah aktivitas produksi dan aktivitas lain untuk memenuhi pesanan tersebut:

 

#1: Pembelian Bahan Baku dan Bahan Penolong

proses produksi roti

Pada tanggal 3 Januari 2020, perusahaan membeli bahan baku dan bahan penolong berikut ini:

Bahan Baku:

  • Kertas jenis X 85 gr @Rp 10.000 = Rp 850.000
  • Kertas jenis Y 10 roll @Rp 350.000 = Rp 3.500.000
  • Tinta jenis A 5 kg @Rp 100.000 = Rp 500.000
  • Tinta jenis B 25 kg @Rp 25.000 = Rp 625.000

Jumlah bahan baku yang diberli = Rp 5.475.000

 

Bahan Penolong:

  • Bahan penolong P 17 kg @Rp 10.000 = Rp 170.000
  • Bahan penolong Q 60 ltr @Rp 5.000 = Rp 300.000

Jumlah bahan penolong yang dibeli = Rp 470.000

Jumlah total = Rp 5.475.000 + Rp 5.945.000 = Rp 5.945.000

Bahan baku dan bahan penolong tersebut dibeli oleh Bagian Pembelian.

Bahan tersebut kemudian disimpan dalam gudang menanti saatnya dipakai dalam proses produksi untuk memenuhi pesanan tersebut.

Perusahaan menggunakan 2 (dua) rekening kontrol untuk mencatat persediaan bahan, yaitu:

  • Rekening Persediaan Bahan Baku
  • Rekening Persediaan Bahan Penolong

Pembelian bahan baku dan bahan penolong tersebut dijurnal sebagai berikut:

Jurnal #1:

[Debit] Persediaan Bahan Baku Rp 5.475.000
[Kredit] Utang Dagang  Rp 5.475.000

 

Jurnal #2:

[Debit] Persediaan Bahan Penolong Rp 470.000
[Kredit] Utang Dagang Rp 470.000

 

#2: Pemakaian Bahan Baku dan Penolong dalam Produksi

penggunaan bahan baku produksi

Untuk dapat mencatat bahan baku yang digunakan dalam tiap pesanan, perusahaan menggunakan dokumen yang disebut buku permintaan dan pengeluaran barang gudang.

Dokumen ini diisi oleh Bagian Produksi dan diserahkan kepada Bagian Gudang untuk meminta bahan yang diperlukan oleh Bagian Produksi.

Bagian Gudang akan mengisi jumlah bahan yang diserahkan kepada Bagian Produksi pada dokumen tersebut.

Dokumen ini kemudian dipakai sebagai dokumen sumber untuk mencatat pemakaian bahan.

Untuk memproses pesanan #101 dan #102, bahan baku yang digunakan adalah sebagai berikut:

Bahan baku untuk pesanan #101:

  • Kertas jenis X 85 gr @Rp 10.000 = Rp 850.000
  • Tinta jenis A 5 kg @Rp 100.000 = Rp 500.000

Jumlah bahan baku untuk pesanan #101 = Rp 1.350.000

 

Bahan Baku untuk Pesanan #102:

  • Kertas jenis Y 10ml @Rp 350.000 = Rp 3.500.000
  • Tinta jenis B 25 kg @Rp 25.000 = Rp 625.000

Jumlah bahan baku untuk pesanan #102 = Rp 4.125.000

Total jumlah bahan baku yang dipakai = Rp 1.350.000 + Rp 4.125.000 = Rp 5.472.000

 

Pada saat memproses dua pesanan tersebut, perusahaan menggunakan bahan penolong sebagai berikut:

  • Bahan penolong P 10 kg @Rp 10.000 = Rp 100.000
  • Bahan penolong Q 40 ltr @5.000 = Rp 200.000

Jumlah bahan penolong yang dipakai dalam produksi = Rp 300.000

 

Pencatatan pemakaian bahan baku dalam metode harga pokok pesanan dilakukan dengan:

  • Mendebit rekening Barang Dalam Proses
  • Mengkredit rekening Persediaan Bahan Baku

Atas dasar dokumen bukti permintaan dan pengeluaran barang gudang.

Pendebitan rekening Barang Dalam Proses ini diikuti dengan pencatatan rincian bahan baku yang dipakai dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan.

Jurnal untuk mencatat pemakaian bahan baku tersebut di atas adalah sebagai berikut:

Jurnal #3:

[Debit] Barang dalam Proses – Biaya Bahan Baku  Rp 5.475.000
[Kredit] Persediaan Bahan Baku  Rp 5.475.000

Karena dalam metode harga pokok pesanan harus dipisahkan antara biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung.

Maka bahan penolong yang merupakan unsur biaya produksi tidak langsung dicatat pemakainya dengan mendebit rekening kontrol Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya.

Rekening Barang Dalam Proses hanya didebit untuk mencatat pembebanan biaya overhead pabrik berdasarkan tarif yang ditentukan di muka.

Jurnal pencatatan pemakaian bahan penolong adalah sebagai berikut:

Jurnal #4:

[Debit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp 300.000
[Kredit] Persediaan Bahan Penolong Rp 300.000

 

#3: Pencatatan Biaya Tenaga Kerja

Biaya Tenaga Kerja

Dalam metode harga pokok pesanan harus dipisahkan antara:

  • Upah tenaga kerja langsung
  • Upah tenaga kerja tidak langsung

Upah tenaga kerja langsung dicatat dengan mendebit rekening Barang Dalam Proses, dan dicatat pula dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan.

Upah tenaga kerja tidak langsung dicatat dengan mendebit rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya.

Dan dari contoh di atas, misalnya biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh departemen produksi adalah sebagai berikut:

#1: Upah:

  • Upah langsung untuk pesanan #101 225 jam @Rp 4.000 = Rp 900.000
  • Upah langsung untuk pesanan #102 1.250 jam @Rp 4.000 = Rp 5.000.000
  • Upah tidak langsung = Rp 3.000.000

Jumlah upah = Rp 8.900.000

 

#2: Gaji:

  • Gaji karyawan administrasi dan umum = Rp 4.000.000
  • Gaji karyawan Bagian Pemasaran = Rp 7.500.000

Jumlah gaji = Rp 11.500.000

Jumlah biaya tenaga kerja = Rp 8.900.000 + Rp 11.500.000 = Rp 20.400.000

 

Jurnal pencatatan biaya tenaga kerja dilakukan melalui 3 (tiga) tahap berikut ini:

  1. Pencatatan biaya tenaga kerja yang terutang oleh perusahaan
  2. Pencatatan distribusi biaya tenaga kerja
  3. Pencatatan pembayaran gaji dan upah

Dari data di atas, jurnal pencatatan biaya tenaga kerja adalah sebagai berikut:

#1: Pencatatan biaya tenaga kerja yang terutang oleh perusahaan

Atas dasar daftar gaji dan upah yang dibuat, jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja yang terutang oleh perusahaan adalah sebagai berikut:

Jurnal #5:

[Debit] Gaji dan Upah  Rp 20.400.000
[Kredit] Utang Gaji dan Upah Rp 20.400.000

 

#2: Pencatatan distribusi biaya tenaga kerja

Karena biaya tenaga kerja tersebut terdiri dari berbagai komponen biaya, maka perlu diadakan distribusi biaya tenaga kerja sebagai berikut:

A: Biaya tenaga kerja langsung:

Dibebankan kepada pesanan yang bersangkutan dengan mendebit rekening Barang Dalam Proses dan mencatatnya dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan.

B: Biaya tenaga kerja tidak langsung:

Merupakan unsur biaya produksi tidak langsung dan dicatat sebagai unsur biaya overhead pabrik serta didebitkan dalam rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya.

Biaya tenaga kerja non produksi:

Merupakan unsur biaya memproduksi dan dibebankan ke dalam rekening kontrol Biaya Administrasi dan Umum atau Biaya Pemasaran.

Jurnal distribusi biaya tenaga kerja atas dasar contoh di atas adalah sebagai berikut:

Jurnal #6:

[Debit] Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 5.900.000
[Debit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya  Rp 3.000.000
[Debit] Biaya Administrasi dan Umum Rp 4.000.000
[Debit] Biaya Pemasaran  Rp 7.500.000
[Kredit] Gaji dan Upah  Rp 20.400.000

 

#3: Pencatatan pembayaran gaji dan upah

Pembayaran gaji dan upah yang terutang dicatat dengan jurnal sebagai berikut:

Jurnal #7:

[Debit] Utang Gaji dan Upah  Rp 20.400.000
[Kredit] Kas  Rp 20.400.000

 

#4: Pencatatan biaya overhead pabrik

Pencatatan biaya overhead pabrik dibagi menjadi dua pencatatan biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk berdasarkan tarif yang ditentukan di muka.

Dan pencatatan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi.

Di dalam metode harga pokok pesanan, produk dibebani biaya overhead pabrik (OHP) dengan menggunakan tarif yang ditentukan di muka.

Tarif biaya overhead pabrik ini dihitung pada awal tahun anggaran, berdasarkan angka anggaran biaya overhead pabrik.

Pembebanan produk dengan biaya overhead pabrik berdasarkan tarif ini dicatat dengan mendebit rekening Barang Dalam Proses dan mengkredit rekening Biaya Overhead Pabrik yang dibebankan.

Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi dicatat dengan mendebit rekening kontrol Biaya Pabrik Sesungguhnya.

Misalnya secara periodik setiap akhir bulan

Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada pabrik berdasarkan tarif dengan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi dibandingkan, dan dihitung selisihnya.

Perbandingan ini dilakukan dengan menutup rekening rekening biaya overhead pabrik yang dibebankan ke dalam rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya.

Dari contoh di atas, misalnya biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas tarif sebesar 150% dari biaya tenaga kerja langsung.

Dengan demikian biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada tiap pesanan dihitung sebagai berikut:

  • Pesanan #101 150% x Rp 900.000 = Rp 1.350.000
  • Pesanan #102 150% x Rp 5.000.000 = Rp 7.500.000

Jumlah biaya overhead pabrik yang dibebankan = Rp 8.850.000

Jurnal pencatatan pembebanan biaya overhead pabrik kepada pesanan tersebut adalah sebagai berikut:

Jurnal #8:

[Debit] Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik Rp 8.850.000
[Kredit] Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan  Rp 8.850.000

Misalnya biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi, selain biaya bahan penolong Rp 300.000 dan biaya tenaga kerja tidak langsung sebesar Rp 3.000.000 seperti tersebut dalam jurnal #4 dan #6 di atas, maka:

Biaya penyusutan mesin = Rp 1.500.000
Biaya penyusutan gedung pabrik = Rp 2.000.000
Biaya asuransi gedung dan mesin = Rp 700.000
Biaya pemeliharaan mesin = Rp 1.000.000
Biaya pemeliharaan gedung = Rp 500.000

Jumlah =  Rp 5.700.000

 

Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi tersebut adalah sebagai berikut:

Jurnal #9:

[Debit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp 5.700.000
[Kredit] Akumulasi Penyusutan Mesin  Rp 1.500.000
[Kredit] Akumulasi Penyusutan Gedung Rp 2.000.000
[Kredit] Pembayaran Asuransi Rp 700.000
[Kredit] Pesediaan Suku Cadang Rp 1.000.000
[Kredit] Persediaan Bahan Bangunan Rp 500.000

Untuk mengetahui apakah biaya overhead pabrik yang dibebankan berdasarkan tarif menyimpang dari biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi.

Saldo rekening biaya overhead pabrik yang dibebankan ditutup ke rekening biaya overhead pabrik sesungguhnya.

Jurnal penutup tersebut adalah sebagai berikut:

Jurnal #10:

[Debit] Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan  Rp 8.850.000
[Kredit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya  Rp 8.850.000

Selain biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk dengan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi dalam suatu periode akuntansi, ditentukan dengan menghitung saldo rekening biaya overhead pabrik ssungguhnya.

Setelah jurnal #10 dibukukan, saldo rekening biaya overhead pabrik sesungguhnya adalah sebagai berikut:

Debit:

Jurnal #4 = Rp 300.000
Jurnal #6 = Rp 3.000.000
Jurnal #9 = Rp 5.700.000

Jumlah debit = Rp 9.000.000

Kredit:

Jurnal #10 = Rp 8.850.000

Selisih pembebanan kurang = Rp 150.000

Selisih biaya overhead pabrik pada akhirnya dipindahkan ke rekening selisih biaya overhead pabrik.

Jika terjadi selisih pembebanan kurang, maka dibuat jurnal seperti berikut ini:

Jurnal #11:

[Debit] Selisih Biaya Overhead Pabrik  Rp 150.000
[Kredit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya  Rp 150.000

 

#5: Pencatatan harga pokok produk jadi

harga pokok produk jadi

Pesanan yang telah selesai diproduksi ditransfer ke Bagian Gudang oleh Bagian Produksi.

Harga pokok pesanan yang telah selesai diproduksi ini dapat dihitung dari informasi biaya yang dikumpulkan dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan.

Misalnya dari contoh di atas pesanan #101 telah selesai diproduksi.

Maka dari kartu harga pokok produksinya akan dapat dihitung biaya produksi yang telah dikeluarkan untuk pesanan yang bersangkutan.

Harga pokok pesanan #101 dihitung sebagai berikut:

Biaya bahan baku = Rp 1.350.000
Biaya tenaga kerja langsung = Rp 900.000
Biaya overhead pabrik = Rp 1.350.000

Jumlah harga pokok pesanan #101 = Rp 3.600.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi tersebut adalah sebagai berikut:

 

Jurnal #12:

[Debit] Persediaan Produk Jadi Rp 3.600.000
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku  Rp 1.350.000
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 900.000
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik Rp 1.350.000

 

#6: Pencatatan harga pokok produk dalam proses

Pada akhir periode kemungkinan terdapat pesanan yang belum selesai diproduksi.

Biaya yang telah dikeluarkan untuk pesanan tersebut dapat dilihat dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan.

Kemudian dibuat jurnal untuk mencatat persediaan produk dalam proses dengan mendebit rekening Persediaan Produk Dalam Proses dan mengkredit rekening Barang Dalam Proses.

Misalnya dari contoh di atas, pesanan #102 pada akhir periode akuntansi belum selesai dikerjakan.

Harga pokok pesanan #102 dapat dihitung dengan menjumlah biaya-biaya produksi yang tidak dikeluarkan sampai dengan akhir bulan Januari 2020 yang tekah dicatat dalam kartu harga pokok pesanan tersebut.

Jurnal untuk mencatat harga pokok pesanan yang belum selesai adalah sebagai berikut:

Jurnal #13:

[Debit] Persediaan Produk Dalam Proses   Rp 16.625.000
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku  Rp 4.125.000
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Langsung  Rp 5.000.000
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik  Rp 7.500.000

 

#7: Pencatatan harga pokok produk yang dijual

Harga pokok produk yang diserahkan kepada pemesan dicatat dalam rekening Harga Pokok Penjualan dan rekening Persediaan Produk Jadi.

Dari contoh di atas, jurnal untuk mencatat harga pokok pesanan #101 yang diserahkan kepada pemesan adalah sebagai berikut:

Jurnal #14:

[Debit] Harga Pokok Penjualan  Rp 3.600.000
[Kredit] Persediaan Produk Jadi  Rp 3.600.000

 

#8: Pencatatan pendapatan penjualan produk

Pendapatan yang diperoleh dari penjualan produk kepada pemesan dicatat dengan mendebit rekening Piutang Dagang dan mengkredit rekening Hasil Penjualan.

Pada awal contoh ini telah disebutkan bahwa pesanan #101 berupa pesanan 1500 lembar dengan harga jual Rp 3.000 per lembar. Atau harga total Rp 4.500.000.

Jurnal yang dibuat untuk mencatat piutang kepada pemesan adalah sebagai berikut:

Jurnal #15:

[Debit] Piutang Dagang  Rp 4.500.000
[Kredit] Hasil Penjualan  Rp 4.500.000

 

06: Kesimpulan

Siklus akuntansi biaya dalam suatu perusahaan mengikuti siklus aktivitas usaha perusahaan yang bersangkutan.

Siklus aktivitas perusahaan dagang dimulai dengan pembeliaan barang dagangan dan tanpa melalui pengolahan lebih lanjut, diakhiri dengan penjualan kembali barang dagangan tersebut.

Dalam perusahaan tersebut, siklus akuntansi biaya juga dimulai dengan pencatatan harga pokok barang dagangan yang dibeli dan berakhir dengan penyajian harga pokok barang dagangan yang dijual.

Siklus perusahaan jasa dimulai dengan persiapan penyerahan jasa dan berakhir dengan penyerahan jasa kepada pemakainya.

Dalam perusahaan tersebut, siklus akuntansi biaya dimulai dengan pencatatan biaya persiapan penyerahan jasa dan berakhir dengan disajikannya harga pokok jasa yang diserahkan.

Siklus perusahaan manufaktur dimulai dengan pengolahan bahan baku di Bagian Produksi dan berakhir dengan penyerahan produk jadi ke Bagian Gudang.

Dalam perusahaan tersebut, siklus akuntansi biaya dimulai dengan pencatatan harga pokok bahan baku yang dimasukkan dalam proses produksi, dilanjutkan dengan pencatatan biaya tenaga kerja langsung.

Dan biaya overhead pabrik yang dikonsumsi untuk produksi serta berakhir dengan disajikannya harga pokok produk jadi yang diserahkan oleh Bagian Produksi ke Bagian Gudang.

Dalam metode harga pokok pesanan, biaya produksi dibagi menjadi dua kelompok biaya produksi, yaitu:

  • biaya tidak langsung dan
  • biaya produksi tidak langsung.

Biaya produksi langsung dibebankan kepada pesanan berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi.

Sedangkan biaya produksi tidak langsung dibebankan kepada produk berdasarkan tarif yang ditentukan di muka.

Untuk mencatat biaya produksi, baik yang langsung maupun tidak langsung, di dalam buku besar disediakan rekening Barang Dalam Proses.

Untuk merinci biaya produksi yang dicatat dalam rekening Barang Dalam Proses tersebut, dibentuk rekening pembantu berupa kartu harga pokok.

Perusahaan yang produksinya berdasar pesanan, memproses produknya sesuai dengan spesifikasi pemesan, dan proses produksinya terputus-putus untuk memenuhi pesanan.

Karakteristik aktivitas perusahaan ini menentukan karakterisitik metode harga pokok pesanan yang digunakan untuk mengumpulkan biaya produksi dalam perusahaan tersbut.

Akuntansi biaya banyak sekali menggunakan rekening pembantu yang diawasi dengan membentuk rekening kontrol biaya dalam buku besar.

Rekening kontrol yang digunakan untuk menampung biaya produksi adalah rekening-rekening:

  • Barang Dalam Proses,
  • Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
  • Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan

Rekening kontrol untuk menampung biaya non produksi adalah rekening-rekening:

  • Biaya Administrasi dan Umum
  • Biaya Pemasaran

Untuk merinci biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi pesanan tertentu digunakan kartu harga pokok.

Kartu harga pokok ini berfungsi sebagai rekening pembantu akun Barang Dalam Proses yang terdapat dalam buku besar.

Dan untuk melengkapi pembahasan materi harga pokok produksi ini, yuks saksikan video berikut ini:

Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai materi, komponen/ unsur-unsur, fungsi, jurnal pencatatan, dan cara menghitung Harga Pokok Produksi per pesanan dengan menggunakan metode  full costing.

Semoga bermanfaat. Terima kasih.

***

manajemen keuangan dan SOP