Inilah Pengertian Anjak Piutang dan Fungsinya Bagi Perusahaan

pengertian-anjak-piutang
Kemampuan perusahaan dalam mengelola cash flow akan sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan perusahaan. Diperlukan kreatifitas yang tinggi dalam mengelola kas, kreatifitas dalam mencari sumber-sumber pemasukan dan penggunaannya.

Itu lah alasan kenapa orang akuntansi keuangan juga harus kreatif! Bukan hanya untuk mereka yang berkecimpung di industri periklanan, brand, dan seni saja.

Misalnya perusahaan membutuhkan dana yang melebihi kas yang tersedia, lalu apa yang bisa dilakukan?

Apa Anda akan menyerah begitu saja lalu melaporkan ke bos Anda dan berkata “Uangnya tidak ada Pak” tanpa memberikan solusi kreatif justeru akan membuat kondisi bertambah runyam. Bos Anda bahkan akan semakin puyeng 🙂

Bila Anda sebagai orang akuntansi keuangan hanya bisa mengelola sejumlah dana yang sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan perusahaan, lalu apa bedanya dengan kasir?

Bukankah Anda tidak ingin menjadi karyawan yang karirnya berhenti atau karyawan yang sengsara ditempat kerjanya 🙂

Maka be creative dan terus belajar serta mempraktekkan pengetahuan tersebut untuk kemanfaatan di perusahaan tempat Anda berkarya.

Bila perusahaan membutuhkan uang yang melebihi ketersediaan dana kas, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah meneliti dan me-review piutang dagang perusahaan.

Lalu apa yang bisa dilakukan dengan piutang-piutang tersebut? Piutang adalah salah satu cara yang bisa digunakan untuk memenuhi sumber dana perusahaan.

Inilah caranya...

Ada dua cara menggunakan piutang sebagai sumber dana segar untuk operasional perusahaan yaitu :

 

Cara #1. Menggunakan Piutang sebagai jaminan

Perusahaan yang memerlukan uang dengan segera dapat meminjam ke bank atau lembaga keuangan non bank lain dengan menjaminkan piutang dagang.

Penggunaan piutang dagang sebagai jaminan biasanya dengan ketentuan jika ada yang tidak dapat ditagih, maka peminjam berkewajiban untuk menggantinya dengan piutang dagang lain.

Pelanggan yang piutangnya dipakai sebagai jaminan biasanya tidak diberitahu bahwa piutangnya dijaminkan sehingga penagihan tetap dilakukan oleh perusahaan yang meminjam uang.

Hasil tagihan dari piutang-piutang yang dijaminkan digunakan untuk melunasi pinjaman. Biasanya jumlah piutang yang dijaminkan lebih besar daripada pinjaman yang diterima.

Apabila pinjaman sudah dilunasi kembali sedangkan masih ada piutang yang dijaminkan maka kelebihan tersebut adalah milik peminjam.

Penggunaan piutang sebagai jaminan dapat juga dapat diberitahukan kepada debitur-debitur yang piutangnya dijaminkan dan penagihan piutang itu dilakukan oleh bank atau lembaga keuangan bukan bank pemberi pinjaman.

Kelebihan jumlah piutang yang ditagih di atas jumlah pinjaman dan biaya-biaya dikembalikan kepada peminjam.

Pinjaman uang dengan jaminan piutang dikenakan biaya administrasi, komisi dan bunga serta pinjaman yang diberikan akan lebih kecil daripada piutang yang dijaminkan.

Misalnya PT MCC Sidoarjo pada tanggal 1 April 2015 meminjam uang ke bank A sebesar Rp. 50.000.000 dengan jaminan berbentuk piutang dagang sebesar Rp 75.000.000.

Pinjaman ini dipungut biaya administrasi sebesar 5% dan bunga 12% setahun.
Pelanggan yang piutangnya dipakai sebagai jaminan tidak diberitahu dan penagihan tetap dilakukakan oleh PT MCC Sidoarjo.

Selama bulan April 2015 piutang yang dapat ditagih sejumlah Rp. 30.000.000 dan pada tanggal 30 April 2015 disetor ke bank untuk melunasi pinjaman dan bunga.

Selama bulan Mei 2015 piutang yang dapat ditagih sebesar Rp 25.000.000. Sisa piutang dan bunga dilunasi pada tanggal 31 Mei 2015.

1 April 2015:

Meminjam uang Rp. 50.000.000 dikurangi biaya 5%. Piutang dijaminkan sebesar Rp 75.000.000.

pencatatan-pengertian-anjak-piutang

April 2015:

Piutang yang ditagih sebesar Rp 30.000.000.

            Kas                          Rp. 30.000.000
                   Piutang dijaminkan                   Rp. 30.000.000   

 

30 April 2015 :

pencatatan-anjak-piutang-2

 

Mei 2015 :

Piutang yang ditagih sebesar Rp. 25.000.000

            Kas                           Rp 25.000.000
                  Piutang dijaminkan                  Rp. 25.000.000

 

31 Mei 2015 :

pencatatan-anjak-piutang-3

 

Cara #2. Menjual Piutang (Factoring)

Factoring atau anjak piutang merupakan salah satu upaya perusahaan untuk memenuhi kebutuhan dana. Pengertian anjak piutang atau factoring adalah menjual piutang dagang yang dimiliki ke bank atau lembaga-lembaga non bank.

Semua kemungkinan yang timbul terhadap piutang yang dijual misalnya potongan tunai atau tidak dapat ditagih menjadi tanggungjawab bank atau lembaga-lembaga kredit yang membeli piutang-piutang tersebut.

Biaya yang timbul dalam transaksi tersebut antara lain: service charge, yaitu biaya yang terkait dengan fungsi pembukuan penjualan, yang besarnya tergantung persetujuan kedua belah pihak, untuk piutang domestik 0,5% – 1,5% dan 1% – 2,5 % untuk internasional yang pembayarannya dipotong dari pembayaran dimuka.

Kemudian discount charge, yaitu biaya yang terkait dengan pembayaran dimuka, yang besarnya tergantung negosiasi sebelum kontrak dilakukan dengan rata-rata 2% -3% diatas prime rate.

Pada waktu terjadi penjualan piutang, para pelanggan yang piutangnya dijual diberitahu untuk melunasi ke bank atau lembaga-lembaga kredit tersebut.

Untuk menentukan jumlah uang yang akan dibayarkan, bank atau lembaga kredit akan memeriksa keadaan piutang-piutang yang akan dibelinya mengenai saat timbulnya piutang , periode potongan, dan jangka waktu kredit.

Piutang-piutang yang masih dalam jangka waktu potongan diakui sebesar jumlah bersihnya yaitu piutang dikurangi potongan, dan potongannya dicatat dalam buku penjual piutang. Lebih jelasnya baca artikel perlakuan diskon retur penjualan.

Apabila piutang yang dijual itu sudah dicadangkan kerugian piutangnya maka cadangan kerugian piutang dihapuskan pada waktu penjualan.

Misalnya PT MCC Sidoarjo pada tanggal 10 Januari 2016 menjual piutang sebesar Rp. 50.000.000. Syarat pembayaran adalah 2/10, n/30. Cadangan kerugian piutang yang sudah dibentuk sebesar Rp 2000.000.

Piutang sebesar Rp. 50.000.000 dibeli oleh bank A seharga Rp. 45.000.000. Setelah diteliti, piutang yang masih berada dalam periode potongan adalah sebesar Rp 40.000.000.

Jurnal yang dibuat oleh PT MCC Sidoarjo untuk mencatat transaksi di atas adalah sebagai berikut :

10 Januari 2016:

pencatatan-anjak-piutang-4   

Rugi penjualan piutang dalam jurnal di atas didebitkan ke rekening macam-macam biaya karena jumlah Rp. 2.200.000 itu merupakan bunga, komisi dan biaya-biaya yang diperhitungkan oleh bank terhadap piutang yang dibelinya.

Oleh karena itu, bagi PT MCC Sidoarjo jumlah Rp. 2.200.000 itu merupakan biaya-biaya yang timbul dalam piutang.

Sudahkah Anda memberdayakan fungsi piutang sebagai alternatif sumber dana perusahaan?

***

 

2 Komentar

  1. tulisannya sangat bagus dan gampang dipahami menambah wawasan khususnya akuntansi dan manajemen keuangan.

    terima kasih telah berbagi secara GRATIS. semoga ilmunya bermanfaat

Komentar ditutup.