Pengertian Jurnal Reklasifikasi dan Koreksi Beserta Contohnya

Apa yang dimaksud dengan jurnal koreksi (correction journal) dan jurnal reklasifikasi (re-classification journal)? Apa manfaat dan fungsinya?

Jurnal koreksi adalah jurnal yang digunakan untuk pembetulan pencatatan transaksi. Contoh jurnal koreksi persediaan, fiskal, dan rekonsiliasi bank.

Jurnal reklasifikasi adalah jurnal yang digunakan untuk melakukan pencatatan terhadap transaksi yang dicatat tidak sesuai dengan klasifikasi, contoh jurnal reklasifikasi piutang bersaldo kredit.

Untuk lebih jelasnya mari ikuti pembahasan tentang prosedur reklasifikasi (Re-Classification), pembetulan (Correction) dan penyesuaian (Adjustment) beserta contohnya berikut ini.

 

01: Jurnal Reklasifikasi (Re-Classification Journal)

Salah satu tahapan dalam proses pembuatan laporan keuangan perusahaan jasa, dagang, manufaktur, dan entitas yang lain adalah melakukan klasifikasi atau penggolongan transaksi keuangan bisnis dalam periode tertentu, misalnya bulanan, triwulan, semester dan tahunan.

Lalu, bagaimana jika dalam proses melakukan klasifikasi itu terjadi kesalahan? Ya diperbaiki dong, masa dibiarkan begitu saja 🙂

Bagaimana cara memperbaikinya? Caranya adalah dengan membuat jurnal re-klasifikasi.

Untuk lebih jelasnya baca terus pembahasannya berikut ini.

 

A: Pengertian Jurnal Reklasifikasi (Re-classification Journal Entry)

Apa itu jurnal reklasifikasi?

Jurnal reklasifikasi adalah jurnal pencatatan yang dibuat untuk memperbaiki kesalahan klasifikasi atau penggolongan transaksi-transaksi usaha dalam periode tertentu.

Sebagaimana kita pahami bahwa tahap pertama proses penyusunan laporan keuangan adalah melakukan analisis terhadap transaksi. Analisis transaksi dilakukan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan setiap transaksi sesuai dengan komponen-komponen yang disajikan dalam laporan keuangan.

Contoh jurnal reklasifikasi piutang bersaldo kredit, aset tetap, dan utang jangka panjang.

 

B: Fungsi Jurnal Reklasifikasi

Apa manfaat dan fungsi jurnal reklasifikasi?

Fungsi jurnal reklasifikasi adalah untuk mengembalikan pencatatan jurnal transaksi sesuai dengan pos atau account-nya.

Pada laporan keuangan ada 5 jenis pos utama yang disajikan, yaitu:

  1. Aset
  2. Likuiditas
  3. Ekuitas
  4. Pendapatan
  5. Biaya-biaya

Setiap transaksi keuangan bisnis harus digolongkan dalam salah satu pos-pos tersebut. Yang jadi persoalan adalah bagaimana jika dalam proses tersebut ada kesalahan dalam melakukan penggolongan. Bila hal itu terjadi, maka kita perlu melakukan re-klasifikasi dengan jurnal reklasifikasi, sehingga transaksi tersebut sesuai dengan account-nya.

 

C: Cara Membuat Jurnal Reklasifikasi

Perhatikan contoh jurnal reklasifikasi piutang berikut ini:

Tanggal 04 Juni 2021 Toko Komputer “Xidev” menjual 2 buah komputer senilai Rp 15.000.000.

Pencatatan jurnal transaksi awal:

[Debit] Kas …………………………. Rp 15.000.000
[Kredit] Penjualan Komputer ………….. Rp 15.000.000

Pada tanggal 30 Juni 2021 baru diketahui bahwa penjualan komputer tersebut ternyata baru akan dilunasi tanggal 01 Juli 2021, padahal transaksi tersebut sudah dicatat tanggal 4 Juni 2021 dengan account ‘Kas’ di sisi kredit.

***

Untuk memperbaiki kesalahan klasifikasi tersebut, maka kita perlu membuat jurnal reklasifikasi. Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk membuat jurnal reklasifikasi, yaitu:

Cara I membuat jurnal reklasifikasi: Satu Langkah – langsung reklasifikasi

[Debit] Piutang ………… Rp 15.000.000
[Kredit] Kas ………………………… Rp 15.000.000

 

Cara II membuat jurnal reklasifikasi: Dua Langkah – dibuatkan jurnal pembalik dulu

Langkah Pertama, membuat jurnal pembalik:

[Debit] Penjualan Komputer …… Rp 15.000.000
[Kredit] Kas …………………………………………. Rp 15.000.000

Langkah kedua, membuat jurnal reklasifikasi dengan mencatat ke account yang sesuai:

[Debit] Piutang ………………..   Rp 15.000.000
[Kredit] Penjualan Komputer ……… Rp 15.000.000

 

D: Contoh Jurnal Reklasifikasi

Agar pemahaman kita semakin jelas, kami sajikan beberapa contoh jurnal reklasifikasi berikut ini:

01: Jurnal Reklasifikasi Aset Tetap

Untuk yang pertama, kami sajikan contoh jurnal reklasifikasi aset tetap.

Langsung saja perhatikan contohnya berikut ini:

Pada tanggal 01 Juni 2021 PT Arek Sidoarjo membeli mesin senilai Rp 75.500.000. Pembayaran dilakukan dua tahap, pembayaran pertama dilakukan saat terjadi transaksi sebesar Rp 50.000.000. Pembayaran kedua akan dilakukan tanggal 2 Juli 2021.

Atas pembelian tersebut perusahaan melakukan pencatatan jurnal transaksi sebagai berikut:

[Debit] Perlengkapan ……  Rp 75.000.000
[Kredit] Kas ………………………………….. Rp 50.000.000
[Kredit] Utang Usaha ………………… Rp 25.000.000   

Pada tanggal 30 Juni 2021 ditemukan ada kesalahan klasifikasi pada pencatatan di atas, seharusnya menggunakan account Peralatan (equipment) bukan Perlengkapan (supplies).

Atas kekeliruan klasifikasi tersebut, perusahaan akan melakukan re-klasifikasi dengan membuat jurnal reklasifikasi sebagai berikut:

Cara I:

[Debit] Peralatan ….. Rp 75.000.000
[Kredit] Perlengkapan ….. Rp 75.000.000

 

Cara II:

Membuat Jurnal Reversal:

[Debit] Kas …………………………….. Rp 50.000.000
[Debit] Utang Usaha ……………. Rp 25.000.000
[Kredit] Perlengkapan …………………..  Rp 75.000.000

 

Membuat Jurnal Reklasifikasi:

[Debit] Peralatan …..  Rp 75.000.000
[Kredit] Kas ………………………. Rp 50.000.000
[Kredit] Utang Usaha ……… Rp 25.000.000

 

02: Jurnal Reklasifikasi Utang Jangka Panjang

Perhatikan contoh jurnal reklasifikasi utang jangka panjang berikut ini:

PT Abdi Masyarakat mencatat pinjaman utang jangka panjang yang baru diperolehnya dari Bank XYZ sebesar Rp 50.000.000 dengan bunga 10% sebagai berikut:

[Debit] Rekening Bank XYZ ….. Rp 50.000.000
[Debit] Bunga Pinjaman ………. Rp   5.000.000
[Kredit] Hutang Pihak III …………… Rp 55.000.000

Perusahaan seharusnya mencatat pinjaman tersebut dalam rekening Hutang Jangka Panjang, oleh karena itu untuk memperbaiki kesalahan memasukkan ke dalam rekening yang sesuai, maka perusahaan melakukan reklasifikasi denga membuat jurnal reklasifikasi sebagai berikut:

Cara I : Langsung Dibuat Jurnal Reklasifikasi

[Debit] Hutang Pihak III ….. Rp 55.000.000
[Kredit] Hutang Jangka Panjang …… Rp 55.000.000

 

Cara II : Dibuat Jurnal Reversal, kemudian Jurnal Reklasifikasi

Jurnal Pembalik:

[Debit] Hutang Pihak III ……. Rp 55.000.000
[Kredit] Bunga Pinjaman ………. Rp   5.000.000
[Kredit] Rekening Bank XYZ …… Rp 55.000.000

Jurnal reklasifikasi:

[Debit] Rekening Bank XYZ ……. Rp 50.000.000
[Debit] Bunga Pinjaman ……….. Rp    5.000.000
[Kredit] Hutang Jangka Panjang         Rp 55.000.000

 

03: Jurnal Reklasifikasi Piutang

Perhatikan contoh jurnal reklasifikasi piutang berikut ini:

Pak Joni adalah seorang staf accounting di sebuah perusahaan perdagangan. Pak Joni keliru mencatat penerimaan kas senilai Rp 650.000 dari pelunasan piutang usaha di account pendapatan lain-lain, seperti berikut ini:

[Debit] Kas …… Rp 650.000
[Kredit] Pendapatan lain-lain ….. Rp 650.000

Penerimaan kas tersebut seharusnya dicatat pada rekening Pendapatan. Lalu bagaimana cara membuat reklasifikasi kekeliruan tersebut?

Seperti yang telah dicontohkan sebelumnya maka ada dua cara yang bisa dilakukan untuk me-reklasifikasi pada account yang sesuai, yaitu:

Cara I : Langsung Dibuat Jurnal Reklasifikasi

[Debit] Pendapatan Lain-lain ………. Rp 650.000
[Kredit] Pendapatan ………………………… Rp 650.000

 

Cara II : Dibuatkan Jurnal Reversal, baru kemudian Jurnal Reklasifikasi

Membuat Jurnal Pembalik:

[Debit] Pendapatan Lain-lain ….. Rp 650.000
[Kredit] Kas …………………………………. Rp 650.000

Membuat Jurnal Reklasifikasi:

[Debit] Kas……… Rp 650.000
[Kredit] Pendapatan ……. Rp 650.000

 

04: Jurnal Reklasifikasi Piutang Bersaldo Kredit

Secara default piutang mempunyai saldo debit, namun pada kasus tertentu ada piutang bersaldo kredit.

Apa yang menyebabkan piutang bersaldo kredit?

Ada beberapa penyebab hal itu terjadi, antara lain: pemilik utang mengembalikan jumlah utang lebih besar dari jumlah yang seharusnya. Kedua, customer mengembalikan barang yang telah dibeli dan dibayar, namun meminta penggantian barang di waktu yang lain.

Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh jurnal reklasifikasi piutang bersaldo kredit berikut ini:

Pada tanggal 20 Mei 2021 Pak Andi membeli produk minuman sehat dari PT Aneka Minuman Sehat senilai Rp 1.200.000 dan akan dibayar tanggal 1 bulan berikutnya. Atas transaksi penjualan tersebut, PT Aneka Minuman Sehat melakukan pencatatan jurnal transaksi sebagai berikut:

[Debit] Piutang ….. Rp 1.200.000
[Kredit] Penjualan Produk …. Rp 1.200.000

***

Pada tanggal 1 Juni 2021, Pak Andi membayar utangnya kepada PT Aneka Minuman Sehat senilai Rp 1.250.000. Atas pelunasan piutang ini, perusahaan mencatat jurnal transaksi sebagai berikut:

[Debit] Kas …… Rp 1.250.000
[Kredit]  Piutang …..  Rp 1.250.000

Sehingga piutang bersaldo kredit sebesar Rp 50.000 dengan rincian sebagai berikut:

Tanggal 20 Mei = Rp 1.200.000 (sisi debit)
Tanggal 1 Juni = Rp 1.250.000 (sisi kredit)

Saldo piutang = Rp 1.200.000 – Rp 1.250.000 = Rp 50.000 (sisi kredit)

***

Dengan kondisi seperti itu, perusahaan bisa mempertimbangkan membuat reklasifikasi atau tidak. Jika saldo tersebut diperkirakan akan bisa menyesuaikan sendiri maka tidak perlu reklasifikasi. Namun jika perusahaan menganggap perlu melakukan reklasifikasi piutang bersaldo kredit tersebut, maka cara melakukan reklasifikasi adalah sebagai berikut:

[Debit] Piutang (pengembalian kelebihan bayar) … Rp 50.000
[Kredit] Kas ….. Rp 50.000

 

05: Jurnal Reklasifikasi Biaya Iklan

Bagaimana jika ada kesalahan pencatatan rekening biaya iklan?

Perhatikan contoh reklasifikasi berikut ini:

Pada tanggal 6 Juni 2021 ‘Manajemen Hub’ sebuah start up bisnis yang baru didirikan oleh Pak  Budi membayar iklan Google Ads sebesar Rp 1.750.000. Pada akhir periode akuntansi diketahui bahwa pengeluaran kas tersebut dicatat pada rekening Biaya Lain-lain.

Untuk melakukan pembetulan kesalahan klasifikasi ini perusahaan perlu membuat jurnal reklasifikasi berikut ini:

Pencatatan awal:

[Debit] Biaya Lain – lain …… Rp 1.750.000
[Kredit] Kas ………………………………  Rp 1.750.000

Pencatatan jurnal reklasifikasi:

Cara #1 – langsung dibuatkan jurnal reklasifikasi

[Debit] Biaya Iklan …………..   Rp 1.750.000
[Kredit] Biaya Lain – lain ……….. Rp 1.750.000

 

Cara #2, dibuat jurnal reversal dulu, selanjutnya dibuat jurnal reklasifikasi:

Jurnal Reversal:

[Debit] Kas ……………..  Rp 1.750.000
[Kredit] Biaya Lain – lain ……….  Rp 1.750.000

Jurnal Reklasifikasi:

[Debit] Biaya Iklan ….. Rp 1.750.000
[Kredit] Kas ……………………. Rp 1.750.000

***

Demikian 5 (lima) contoh jurnal reklasifikasi, yaitu: reklasifikasi aset, piutang, utang jangka panjang,  piutang bersaldo kredit, dan biaya iklan.

Cara membuat jurnal reklasifikasi dilakukan secara langsung dan dengan dibuat dulu reversal journal, selanjutnya dibuat re-classification journal.

 

02: Jurnal Pembetulan (Correction Journal)

Kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja kadangkali terjadi ketika menyusun laporan keuangan. Dan untuk mengantisipasi kejadian seperti itu, dalam akuntansi sudah diantisipasi dan dipersiapkan proses penyelesaiannya atau solusinya yaitu dengan membuat jurnal pembetulan (correction journal).

Contoh jurnal koreksi persediaan, rekonsiliasi bank, dan jurnal koreksi fiskal.

Bagaimana caranya? Yuk ikuti pembahasan materi jurnal koreksi dari pengertian, fungsi beserta contoh-contohnya berikut ini:

 

A: Pengertian Jurnal Koreksi

Apa itu jurnal koreksi?

Definisi jurnal koreksi adalah ayat jurnal koreksi yang diperlukan untuk melakukan pembetulan terhadap proses analisa dan pencatatannya.

Jurnal koreksi dalam bahasa Inggris disebut sebagai Correction Journal

Contoh jurnal koreksi atas kesalahan perlakuan akuntansi, maka ayat jurnal koreksi yang diperlukan adalah pos-pos yang terkait dengan rekening tersebut.

***

Perhatikan case study berikut ini:

PT Fahima Jaya Bersama mencatat penjualan kredit sebesar Rp 10.000.000. Dan setelah tutup buku baru diketahui ternyata terdapat kelebihan pencatatan senilai Rp 250.000.

Atas kesalahan pencatatan tersebut perusahaan memutuskan untuk melakukan koreksi dengan menggunakan jurnal koreksi setelah tutup buku sebagai berikut:

[Debit] Laba Ditahan …. Rp 250.000
[Kredit] Piutang Usaha …… Rp 250.000

Jika PT Fahima Jaya Bersama tidak melakukan koreksi kesalahan ini maka laba bersih lebih besar dari sesungguhnya.

 

B: Manfaat dan Fungsi Jurnal Koreksi

Apa fungsi dan manfaat jurnal koreksi ?

Fungsi jurnal koreksi adalah untuk melakukan koreksi terhadap kesalahan atau mis-statement yang ditemukan setelah proses penutupan (closing) periode akuntansi.

Pembuatan jurnal koreksi diperlukan jika terjadi hal-hal berikut ini, antara lain:

1: Nilai transaksi keuangan bisnis diakui terlalu besar atau terlalu kecil. Hal ini bisa terjadi karena terjadi kesalahan perlakuan akuntansi.

2: Kesalahan pencatatan transaksi yang tidak sesuai dengan account-nya. Hal ini dapat terjadi karena adanya kesalahan dalam melakukan klasifikasi.

 

C: Cara Membuat Jurnal Koreksi

Bagaimana cara membuat jurnal koreksi?

Untuk melakukan koreksi kesalahan dengan membuat jurnal koreksi akuntansi, ada dua cara sederhana yang bisa dilakukan, yaitu:

Cara #1 Membuat Jurnal Koreksi Komponen Laporan Laba Rugi

Jika koreksi kesalahan dilakukan pada pos-pos yang merupakan komponen yang disajikan dalam Laporan Laba (Rugi), seperti: penjualan, HPP, beban dan biaya, pajak, baik disajikan terlalu besar atau kecil, maka ayat jurnal koreksi yang diperlukan atau jurnal koreksi yang harus dibuat adalah current assets, lawan laba ditahan (retained earning).

Perhatikan contoh jurnal koreksi perusahaan jasa di bawah ini:

PT Putra Utama Jaya mencatat pengeluaran beban pemeliharaan kantor terlalu besar senilai Rp 1.750.000 tahun 2020. Hal tersebut diketahui di bulan Januari 2021. Maka perusahaan membuat jurnal koreksi setelah tutup buku seperti berikut ini:

[Debit] Retained Earning ….. Rp 1.750.000
[Kredit] Beban Pemeliharaan Kantor …… Rp 1.750.000

Jika perusahaan tidak melakukan pembetulan dengan jurnal koreksi di atas, maka laba bersih perusahaan lebih kecil dari yang sesungguhnya.

 

Cara #2 Membuat Jurnal Koreksi Komponen Neraca

Bila pembetulan diperlukan oleh account-account yang disajikan sebagai komponen Neraca (balance sheet), seperti cash, inventory, aset tetap, utang, dan ekuitas, maka perusahaan perlu membuat jurnal koreksi dengan cara account yang akan dibetulkan dilawankan dengan account laporan posisi keuangan yang lain.

Perhatikan contoh jurnal koreksi untuk kesalahan pencatatan nilai depresiasi fixed asset berikut ini:

PT Dinamika Era Milenia pada tahun 2019 mencatat pembelian aset tetap kendaraan sebesar Rp 87.000.000, lebih besar dari kondisi sebenarnya. Sehingga nilai penyusutan juga bertambah sebesar Rp 150.000. Oleh karena itu perusahaan perlu membuat jurnal koreksi aset tetap, penyusutan , dan retained earning atau laba ditahan berikut ini:

[Debit] Kas …… Rp 87.000.000
[Debit] Akumulasi Penyusutan Aset Tetap (kendaraan) …  Rp 150.000
[Kredit] Kendaraan ….. Rp 87.000.000
[Kredit] Laba Ditahan …. Rp 150.000

***

Rumus jurnal koreksi adalah analisis kesalahan account beserta account lain yang terpengaruh. Kemudian analisis pengaruhnya terhadap laporan keuangan. Selanjutnya analisis, apakah perlu dilakukan koreksi atau tidak?

Jika kesalahan tersebut dengan sendirinya bisa melakukan pembetulan, maka menurut kami tidak perlu dibuat jurnal koreksi. Namun bila tidak bisa, maka kita perlu membuat jurnal koreksi untuk membetulkan kesalahan tersebut.

 

D: Contoh Jurnal Koreksi

Untuk memudahkan dalam memahami dan mempraktikkan jurnal koreksi yang benar dalam aktivitas bisnis sehari-hari, perhatikan beberapa contoh jurnal koreksi beserta penjelasannya berikut ini:

01: Jurnal Koreksi Piutang Usaha (Lebih Catat)

Apa yang dimaksud jurnal koreksi piutang dagang?

Adalah jurnal koreksi yang digunakan untuk melakukan pembetulan terhadap kasalahan yang terkait pos piutang usaha.

Perhatikan contoh jurnal koreksi lebih catat piutang usaha berikut ini:

Pencatatan jurnal transaksi penjualan kredit PT Xfahima Raya kepada Toko Aneka Tools terjadi kelebihan sebesar Rp 625.000. Kesalahan itu baru diketahui setelah closing. Oleh karena itu perusahaan perlu melakukan koreksi dengan cara membuat correction journal sebagai berikut:

[Debit] Laba Ditahan ….. Rp 625.000
[Kredit] Piutang Dagang ….. Rp 625.000

Keterangan:

Kesalahan pencatatan penjualan kredit menyebabkan net profit lebih besar dari kondisi sebenarnya. Bila kesalahan ini diketahui sebelum tutup buku (closing), solusinya adalah membuat adjustment journal dengan penulisan sebagai berikut:

[Debit] Penjualan …. Rp 625.000
[Kredit] Piutang Dagang ….  Rp 625.000

Namun demikian, karena telah dilakukan closing, maka penjualan sudah diperhitungkan menjadi laba bersih, sedangkan laba bersih juga sudah diperhitungkan menjadi laba ditahan (retained earning) di laporan posisi keuangan (neraca). Oleh karena itu PT Xfahima Raya harus melakukan pembetulan dengan jurnal koreksi seperti di atas.

 

02: Contoh Jurnal Koreksi Persediaan Barang Dagang

Apa yang dimaksud dengan jurnal koreksi persediaan barang dagang?

Correction journal persediaan barang dagang adalah jurnal yang dibuat untuk membuat pembetulan kesalahan pencatatan persediaan barang dagang.

Perhatikan contoh berikut ini:

PT Dinamika Makmur Sejahtera mencatat nilai persediaan barang dagang Rp 2.250.000, lebih kecil dari nilai sebenarnya, sehingga perusahaan melakukan koreksi dengan correction journal seperti berikut ini:

[Debit] Persediaan Barang Dagangan ….  Rp 2.250.000
[Kredit] Retained Earning ……………………………. Rp 2.250.000

 

Keterangan:

Pencatatan nilai persediaan barang dagangan yang terlalu kecil akan mengakibatkan net earning atau laba bersih lebih kecil dari yang sebenarnya, akibat selanjutnya adalah akan mempengaruhi retained earning atau jumlah laba ditahan yang terlalu kecil.

 

03: Jurnal Koreksi Hutang Dagang

Pengertian jurnal koreksi hutang dagang adalah jurnal yang dibuat untuk melakukan koreksi terhadap kesalahan pencatatan rekening hutang dagang.

 

04: Jurnal Koreksi Biaya Depresiasi

Jurnal koreksi biaya depresiasi adalah jurnal yang digunakan untuk membuat pembetulan terhadap kekeliruan rekening biaya atau beban depresiasi.

Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini:

Perusahaan Perkebunan Porang ‘Porangku” tahun 2019 mencatat perolehan mesin pertaniannya lebih besar dari nilai yang sebenarnya, yaitu Rp 12.500.000, sehingga biaya depresiasi juga terlalu besar diakui, yaitu Rp 535.700. Kesalahan ini diketahui pada bulan Januari 2020.

Sehingga PP “Porangku” harus melakukan pembetulan dengan membuat jurnal koreksi seperti berikut ini:

[Debit] Kas ……………………………………… Rp 12.500.000
[Debit] Akumulasi Penyusutan Mesin …. Rp      535.700
[Kredit] Aset Tetap – Mesin …………………….  Rp 12.500.000
[Kredit] Laba Ditahan (Retained Earning) ….  Rp       535.700

Keterangan:

Pencatatan harga perolehan mesin yang terlalu besar juga menyebabkan nilai depresiasi mesin pertanian juga lebih tinggi dari yang sesungguhnya.

Hal tersebut akan menyebabkan laba bersih lebih kecil dari yang sesungguhnya. Bila kejadian ini diketahui ketika belum closing, maka kita bisa melakukan penyesuaian secara langsung pada account mesin pertanian (fixed assets) dengan cash dan account depresiasi dengan laba bersih.

Namun demikian, karena telah dilakukan closing maka laba bersih telah berpindah menjadi account Laba Ditahan di Laporan Posisi Keuangan (balance sheet). Oleh karena itu cara melakukan pembetulan adalah dengan membuat jurnal koreksi seperti di atas.

 

05: Contoh Jurnal Koreksi Perusahaan Jasa

Apa itu jurnal koreksi perusahaan jasa?

Jurnal koreksi perusahaan jasa adalah jurnal koreksi yang dibuat untuk membuat koreksi atau pembetulan terhadap rekening-rekening yang digunakan dalam transaksi keuangan bisnis perusahaan jasa.

Misalnya rekening jurnal koreksi fiskal positif dan negatif, kurang catat, lebih catat, cek kosong dan jurnal koreksi bunga bank.

Contoh lainnya adalah jurnal koreksi sewa dibayar dimuka, selisih kas, dan jurnal koreksi laba rugi tahun lalu.

 

06: Jurnal Koreksi Salah Catat

Apa yang dimaksud jurnal koreksi salah catat?

Jurnal koreksi salah catat adalah jurnal yang dibuat untuk melakukan pembetulan karena kesalahan pencatatan, baik kurang catat atau lebih catat.

Perhatikan contoh soal jurnal koreksi untuk aset tetap berikut ini:

Pada bulan Januari 2021 PT Aneka Jajanan Pasar menemukan lebih catat pembelian peralatan outlet jualan tahun 2020 sebesar Rp 3.000.000. Sehingga beban penyusutan peralatan juga lebih besar Rp 75.000. Untuk memperbaiki kesalahan tersebut perusahaan membuat koreksi dengan correction journal sebagai berikut:

[Debit] Cash …………………………………………. Rp 3.000.000
[Debit] Akumulasi Penyusutan Peralatan …. Rp      75.000
[Kredit] Peralatan Outlet………….. …………………….  Rp 3.000.000
[Kredit] Laba Ditahan (Retained Earning) ………….  Rp       75.000

Jurnal koreksi salah catat ini bisa juga digunakan untuk melakukan koreksi karena kesalahan pencatatan pada account penjualan, beban gaji, asuransi dibayar dimuka, harga pokok penjualan (HPP) dan piutang dagang.

 

07: Jurnal Koreksi Pendapatan Diterima di Muka

Pengertian jurnal koreksi pendapatan diterima dimuka adalah jenis jurnal yang dibuat oleh perusahaan dengan tujuan untuk memperbaiki atau membetulkan kesalahan pada akun pendapatan diterima di muka.

Misalnya jurnal koreksi kelebihan pencatatan pengembalian pendapatan diterima dimuka.

Perhatikan contoh jurnal koreksi pendapatan diterima di muka berikut ini:

PT Bening Anak Bangsa pada tahun 2020 belum mencatat penerimaan pendapatan dari jasa hosting sebesar Rp 1.560.000.

Kesalahan pengakuan ini mengakibatkan jumlah pendapatan, laba bersih dan laba ditahan lebih tinggi dari yang sesungguhnya. Sedangkan hutang perusahaan terlalu kecil. Kesalahan ini diketemukan oleh eksternal auditor pada bulan Januari 2021 dan meminta agar perusahaan membuat koreksi.

Oleh karena itu, perusahaan membuat jurnal koreksi sebagai berikut:

[Debit] Koreksi Laba Tahun Lalu …..  Rp 1.560.000
[Kredit] Pendapatan Sewa Hosting ……. Rp 1.560.000

 

03: Kesimpulan

Siklus akuntansi perusahaan dimulai dari proses untuk melakukan klasifikasi dan penggolongan transaksi-transaksi keuangan bisnis sesuai dengan pos-pos Laporan Keuangan. Proses klasifikasi dimulai dengan melakukan analisis transaksi, dilanjutkan dengan pencatatan jurnal transaksi sesuai dengan akun-akunnya.

Pada proses klasifikasi dan pencatatan ini terkadang tidak bisa dihindari adanya beberapa kesalahan yang tidak disengaja, baik kesalahan klasifikasi maupun kesalahan pencatatan. Misalnya kesalahan klasifikasi aset tetap dan utang jangka panjang. Kesalahan pencatatan persediaan dan piutang tak tertagih.

Jika kesalahan yang terjadi disebabkan oleh kekeliruan klasifikasi maka perlu di-reklasifikasi dengan jurnal reklasifikasi (reclassification journal) untuk membetulkannya.

Namun bila kesalahan tersebut karena hal lainnya misalnya kesalahan pencatatan (lebih catat atau kurang catat) dan dilakukan setelah TUTUP BUKU (closing), maka untuk membetulkannya kita perlu membuat jurnal koreksi (correction journal).

Bagaimana manfaat, proses membuat jurnal koreksi dan reklasifikasi beserta contoh-contohnya telah diulas dan disajikan pada pembahasan materi di atas.

Demikian pembahasan materi jurnal koreksi dan reklasifikasi beserta contoh-contohnya. Pembahasan ini semoga bisa memberikan gambaran isi jurnal koreksi dan reklasifikasi dengan jelas dan bermanfaat. Terima kasih.*****

Profesional lulusan ekonomi yang menekuni ERP (SAP), Accounting Software, Business Analyst dan berbagi pengalaman pekerjaan Finance & Accounting.