Metode CAPM (Capital Asset Pricing Model), Cara Praktis Menilai Risiko dan Return Investasi

2. Diversifikasi Bisnis dan Keputusan Investasi

A: Hubungan Risiko dan Imbal Balik Investasi

Yang menarik dari metode CAPM ini adalah bahwa setiap proyek diperlakukan sebagai ‘perusahaan mini’.

Artinya, kalau suatu perusahaan, misalkan bisnis utamanya adalah industri farmasi akan mendirikan perusahaan pembangunan perumahan (real estate), maka rencana investasi tersebut akan diperlakukan sebagai suatu proyek yang terpisah dari bisnis saat ini.

Dengan kata lain, risiko bisnis tersebut tidak dipengaruhi oleh bisnis perusahaan saat ini, kecuali jika rencana investasi tersebut ternyata diharapkan memberikan synergistic effect pada bisnis saat ini, barulah perlu dipertimbangkan efek sinergi tersebut pada analisis.

Efek sinergi biasanya diharapkan muncul jika perusahaan melakukan diversifikasi ke bisnis yang berkaitan.

B: Contoh Perhitungan dan Analisis Hubungan Risiko dan Pengembalian Investasi

susunan makalah

Perhatikan contoh hubungan risiko investasi dengan ekspektasi imbal hasil berikut:

Misalnya sebuah perusahaan manufaktur melakukan ekspansi dengan membentuk perusahaan distributor. Dengan cara ini diharapkan bisa menghemat biaya distribusi. Penghematan ini merupakan efek sinergi. Bila present value penghematan biaya mencapai Rp X, maka dalam perhitungan NPV, Rp X ini perlu ditambahkan.

Marilah kita perhatikan contoh evaluasi risiko investasi dalam angka berikut ini:

Misalkan perusahaan distributor tersebut didirikan dengan investasi sebesar Rp 2.000 juta. Karena perusahaan distributor akan beroperasi selamanya, maka n = tak terhingga.

Taksiran kas masuk bersih tahun pertama adalah sebesar Rp 250 juta, dan diperkirakan akan meningkat setiap tahun sebesar 10% selamanya. Dengan menggunakan CAPM diperkirakan tingkat keuntungan yang relevan untuk usaha distribusi adalah 20%.

Bagaimana  cara menghitung NPV investasi?

Berdasarkan data-data yang tersedia, maka kita bisa melakukan perhitungan NPV investasi tersebut adalah:

= -2.000 + [250 : (0,20 – 0,10)
= +Rp 500 juta

Sekarang misalkan dengan perusahaan distributor tersebut perusahaan manufaktur dapat menghemat biaya pemasaran sebesar Rp 110 juta per tahun(tidak meningkat) selamanya.

Tingkat keuntungan yang dipandang relevan untuk perusahaan manufaktur adalah 22%. Present value penghematan ini adalah:

PV penghematan:

= 110 : 0,22
= Rp 500 juta

Dengan demikian NPV proyek tersebut adalah:

= Rp 500 juta + Rp 500 juta
= Rp 1 M

NPV bertambah lebih besar karena ada tambahan manfaat dalam bentuk penghematan biaya, bukan karena diversifikasi. Dengan demikian pendekatan CAPM menolak investasi yang semata-mata dilakukan untuk diversifikasi.

Analisis Risiko Investasi

Setiap investasi hendaknya dinilai dari NPV-nya, bukan karena investasi tersebut merupakan diversifikasi ataukah tidak. Hal ini disebabkan karena CAPM mengukur risiko investasi dengan risiko sistematik (beta).

Per definisi risiko sistematis adalah risiko investasi yang tidak bisa dihilangkan dengan diversifikasi. Oleh karena itu diversifikasi tidaklah memberikan manfaat.

Memang ada beberapa penulis yang berpendapat bahwa diversifikasi ke berbagai jenis industri memberikan manfaat bagi perusahaan yang melakukannya.

Dengan melakukan diversifikasi risiko arus kas diharapkan akan menjadi lebih stabil sehingga mengurangi risiko yang diukur dari risiko total.

Mengapa perlu melakukan diversifikasi risiko?

Manfaat diversifikasi dalam menstabilkan arus kas atau tingkat keuntungan ditentukan terutama oleh koefisien korelasi antar arus kas atau tingkat keuntungan.

Bila koefisien korelasi antar tingkat keuntungan investasi makin kecil, maka diversifikasi akan makin efektif menurunkan risiko portofolio.

Pada dasarnya pemikiran ini adalah mendasarkan pada teori portofolio, yang diterapkan pada portofolio proyek real assets.

Manajemen Keuangan Profil

Profesional lulusan ekonomi yang menekuni ERP (SAP), Accounting Software, Business Analyst dan berbagi pengalaman pekerjaan Finance & Accounting.