C: Risiko Investasi dan Ukuran Standar Deviasi
Perhatikan contoh risiko investasi dengan ukuran standar deviasi berikut:
Misalkan ada dua proyek, proyek 1 dan 2 yang mempunyai informasi sebagai berikut:

Perhitungan dan Analisis Proyek
Bila perusahaan mengambil kedua proyek tersebut, maka NPV yang diharapkan dari dua proyek tersebut adalah:
= Rp 18.000 + Rp 10.000
= Rp 28.000
Sedangkan deviasi standar gabungan dua proyek tersebut dihitung dengan rumus deviasi satandar adalah senilai = Rp 22.538
Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa bila perusahaan mengambil hanya proyek 1, maka NPV yang diharapkan adalah Rp 18.000 dengan deviasi standar Rp 20.000.
Berarti coeficient of variation-nya:
= 20.000 : 18.000
= 1,11
Perbandingan Proyek
Sekarang seandainya proyek 1 diambil bersama-sama dengan proyek 2, maka NPV yang diharapkan meningkat menjadi Rp 28.000. Demikian pula deviasi standar gabungannya meningkat menjadi Rp 22,538. Sebagai akibatnya coeficient of variation-nya menjadi:
= 22.538 : 28.000
= 0,80
Lebih kecil bila dibandingkan hanya mengambil proyek 1 saja. Apabila kita perhatikan, coeficient of variation proyek hanyalah sebesar:
= 6.000 : 10.000
= 0,60
Nilai NPV Proyek
Meskipun demikian bila dihitung rata-rata tertimbang dengan menggunakan NPV yang diharapkan sebagai penimbangnya, maka:
= 1,11 (18/28) + 0,60 (10/28)
= 0,93
Terlihat bahwa coeficient of variation dari portofolio investasi tersebut lebih kecil dari rata-rata tertimbangnya. Inilah manfaat dari diversifikasi dengan memperhatikan coefficient of variation yang rendah.

D: Kesimpulan dan Catatan Analisis Risiko dan Imbal Balik Investasi
Meskipun demikian ada 2 pertanyaan penting yang perlu diajukan dalam analisis di atas.
Pertanyaan #1:
Apa tingkat bunga yang digunakan untuk menghitung NPV yang diharapkan dan deviasi standar-nya?
Karena di sini digunakan coeficient of variation sebagai indikator risiko, maka penghitungan NPV tentunya menggunakan tingkat keuntungan bebas risiko.
Pertanyaan #2:
Apakah pengurangan risiko dalam bentuk penurunan coeficient of variation akan bermanfaat bagi pemodal?
Penurunan risiko total dinilai mempunyai manfaat bila pemodal berkepentingan bukan hanya pada risiko sistematis, tapi juga risiko tidak sistematisnya.
Apa saja yang perlu diperhatikan dalam berinvestasi?
Sehubungan dengan pendekatan risiko total ini, kita perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Proyek yang bisa mengurangi risiko total adalah proyek yang mempunyai koefesien korelasi tingkat keuntungan atau NPV yang rendah dengan proyek yang lain, bisa juga bisnis yang saat ini dilakukan oleh perusahaan.
Jika suatu proyek dinilai dengan R, maka bisa saja proyek tersebut sebenarnya tidak menguntungkan jika dinilai dengan risk adjusted discount rate atau tingkat keuntungan yang telah disesuaikan dengan risiko. Di sini perlu dipisahkan antara ketergantungan statistik dan ketergantungan ekonomi.
Bagaimana cara membedakan ketergantungan statistik dan ketergantungan ekonomi? Ketergantungan statistik yang rendah ditunjukkan oleh koefesien korelasi antar tingkat keuntungan yang rendah.
Ketergantungan ekonomi ditunjukkan ada tidaknya efek sinergi. Berikut ini diilustrasikan kemungkinan masalah yang timbul jika kita menggunakan pendekatan risiko total.
Misalkan PT A beroperasi pada industri A, dan merencanakan untuk melakukan diversifikasi bisnis pada industri B. Industri A dan industri B diperkirakan mempunyai koefesien korelasi yang sangat rendah.
Investasi pada industri B tersebut memerlukan dana sebesar Rp 2 M. Dan untuk memudahkan, diharapkan akan memberikan laba bersih setelah pajak per tahun sebesar Rp 250 juta selamanya, karena n = tak terhingga, maka kas masuk bersih sama dengan laba setelah pajak, karena penyusutan = 0. Dengan demikian bila R = 10%, maka NPV yang diharapkan adalah:
= -2 M + (250 : 0,10)
= +500 juta
Perbandingan Investasi
Karena E(NPV) positif, dan proyek tersebut mempunyai koefesien korelasi tingkat keuntungan yang rendah dengan bisnis yang saat ini dilakukan, maka investasi pada industri B tersebut akan menurunkan risiko total perusahaan.
Dengan demikian maka proyek pada industri B nampak menarik karena memberikan E(NPV) yang positif, dan bisa menurunkan risiko total.
Sekarang misalkan tingkat keuntungan untuk proyek B setelah identifikasi risiko investasi seharusnya sebesar 18%, sehingga NPV proyek tersebut yang dihitung dengan risk adjusted discount rate akan menjadi sebesar:
= -2M + (250 : 0,18)
= -611
Apabila diperhatikan, bahwa sebenarnya salah satu penyebab suatu proyek tidak menguntungkan adalah adanya unsur risiko investasi.
