4. Analisis Sensitivitas untuk Menilai Keputusan Investasi
A: Definisi Analisis Sensitivitas
Apa pengertian analisis sensitivitas untuk malakukan keputusan investasi?
Yang dimaksud dengan analisis sensitivitas adalah analisis risiko investasi yang dilakukan untuk mengetahui NPV proyek jika ada perubahan salah satu dari variabel yang mempengaruhi arus kas masuk.
Dalam melakukan analisis terhadap risiko investasi, kita menyadari akan adanya ketidakpastian taksiran arus kas yang kita buat.
Kita mengetahui bahwa arus kas masuk bersih dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti:
- Unit yang dijual
- Harga jual per unit
- Biaya tetap
- Biaya variabel per unit
Dengan kata lain, bila salah satu faktor tersebut berubah, maka arus kas yang diharapkan yang akan diperoleh pun akan berubah. Analisis sensitivitas mencoba menganalisis apa yang terjadi terhadap NPV proyek bila salah satu variabel berubah.

B: Contoh Analisis Sentivitas dalam Pengambilan Keputusan Investasi
Perhatikan contoh analisis sensitivitas berikut ini:
Misalkan suatu rencana investasi ditaksir memerlukan dana sebesar Rp 5M pada tahun ke-0.
Proyek tersebut mempunyai usia ekonomis 5 tahun, dan investasi selama Rp 5M tersebut disusut dengan metode GARIS Lurus tanpa nilai sisa.
- Beban penyusutannya adalah Rp 1M setiap tahunnya.
- Taksiran penjualan per tahun adalah 1.000 unit dengan harga jual Rp 5 juta per unit.
- Biaya variabel per unit Rp 2 juta
- Biaya tetap (belum termasuk penyusutan) Rp 1 M per tahun.
- Taksiran unit yang terjual, harga jual, biaya variabel, dan biaya tetap diasumsikan tidak berubah setiap tahunnya.
- Pajak yang ditanggung adalah 35%
Taksiran Kas Masuk
Dari data-data keuangan tersebut, maka taksiran kas masuk bersih pertahun adalah sebagai berikut (semua angka dalam jutaan):

Bila r yang dipandang relevan adalah 18%, maka NPV investasi tersebut adalah:
= -5.000 + 5.160
= +Rp .650
Proyek masih menguntungkan bila estimasi kita nantinya tidak banyak meleset. Sekarang misalkan terjadi peningkatan biaya variabel sebesar 10%, apa yang terjadi dengan kas masuk bersih dan NPV proyek tersebut?
Kenaikan biaya variabel sebesar 10% akan mengakibatkan biaya variabel naik menjadi Rp 2,2M. Bila variabel risiko investasi lain tidak berubah, maka kas masuk bersih akan menjadi Rp 1,520M (Anda bisa mencoba dengan memasukkan angka-angka seperti perhitungan di atas). Dengan demikian maka NPV = -Rp 247 juta.
Apa yang terjadi, seandainya harga jual turun sebesar 10%?
Dengan cara perhitungan yang sama (kita pegang variabel-variabel lain konstan sama seperti sebelum ada perubahan) maka kita akan dapat menghitung bahwa kas masuk bersih akan menjadi Rp 1,325 M per tahunnya.
Sehingga NPV = -Rp 856 juta.
Dengan demikian nampak bahwa variabel harga jual lebih sensitif terhadap probabilitas investasi.Hal ini berarti bahwa perusahaan perlu mengkaji lebih seksama tentang prospek harga jual.

C: Catatan Analisis Sensitivitas dalam Pengambilan Keputusan Investasi
Apakah di masa yang akan datang perubahan harga akan cukup besar?
Jika ‘ya’ apakah perubahan tersebut akan lebih banyak turun ataukah juga mempunyai peluang yang sama untuk naik?
Informasi-informasi tambahan perlu dicari untuk meminimumkan risiko. Analisis sensitivitas tetap menggunakan tingkat suku bunga investasi yang telah disesuaikan dengan risiko dalam menaksir NPV investasi.
Hal tersebut disebabkan karena tujuannya adalah tetap menggunakan expected cash flow dalam analisis, meskipun bisa jadi perlu melakukan kaji ulang dalam penaksiran arus kas tersebut. Analisis sensitivitas tidak bermaksud untuk menaksir probabilitas NPV mencapai NOL atau negatif.
Okay dilanjutkan ya…
5. Kesimpulan
Analisis Risiko
Salah satu cara untuk memasukkan faktor risiko dalam analisis investasi adalah dengan menyesuaikan tingkat keuntungan (r) yang dipanang relevan.
Dalam Manajemen Keuangan CAPM bisa digunakan sebagai salah satu metode untuk menganalisis faktor keputusan investasi dan mengambil keputusan investasi. Dalam CAPM, risiko investasi dicerminkan dari beta investasi. Semakin besar beta, semakin tinggi risiko investasi, dan semakin besar r yang relevan.
Dua faktor yang mempengaruhi beta adalah operating leverage dan cyclicality, yang menarik dari penggunaan beta sebagai pengukur risiko investasi adalah bahwa beta menunjukkan risiko sistematis karena risiko sistematis merupakan risiko yang tidak dapat dihilangkan dengan diversifikasi bisnis, maka pemilihan proyek dengan maksud untuk diversifikasi saja tidak dapat dibenarkan oleh CAPM.
Alternatif Pemilihan Metode
Karakteristik lain dari penggunaan CAPM adalah bahwa setiap proyek akan merupakan ‘perusahaan mini’. Hal ini berarti bahwa risiko proyek tersebut tidak dipengaruhi oleh risiko perusahaan. Demikian juga dengan probabilitasnya, kecuali menimbulkan efek sinergi.
Tidak semua penulis sepakat dengan penerapan risiko sistematis dalam analisis proyek. Sebagai alternatifnya mereka menggunakan risiko total perusahaan sebagai ukuran risiko investasi yang relevan.
Jika ukuran risiko ini yang digunakan, maka diversifikasi akan dinilai bermanfaat bagi perusahaan yang menjadi masalah adalah bahwa penggunaan tingkat bunga bebas risiko dapat memberikan simpulan yang SALAH.
—
Akhirnya, penggunaan metode penyesuaian tingkat suku bunga terhadap risiko dapat dilengkapi dengan analisis sensitivitas.
Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasikan bagaimana pengaruh keputusan investasi terhadap profitabilitas dengan berbagai variabel keputusan investasi mana yang paling peka terhadap profitabilitas proyek. Bila suatu variabel dinilai sangat sensitif, maka analis perlu melakukan analisis yang lebih seksama terhadap variabel tersebut.
FAQ tentang Capital Asset Pricing Model (CAPM)
Bagaimana cara menghitung CAPM?
Cara praktis menghitung CAPM adalah menggunakan rumus E(Ri) = Rf + β(Rm – Rf), di mana E(Ri) adalah imbal hasil yang diharapkan, Rf adalah pengembalian bebas, β adalah beta, dan Rm adalah imbal hasil pasar.
Apa kelemahan dari teori CAPM?
Kelemahan teori CAPM adalah adanya asumsi pasar yang efisien, akurasi beta dalam mencerminkan risiko, dan tidak adanya pertimbangan faktor risiko lain.
Apakah keunggulan dari pendekatan CAPM Capital Asset Pricing Model?
Tiga keunggulan penggunaan metode CAPM adalah:
- Penghitungan imbal hasil investasi relatif sederhana
- Memberikan prediksi risiko
- Bisa membuat estimasi penghasilan yang proporsional.
Bagaimana CAPM membantu investor dalam pengambilan keputusan investasi?
Bagi investor, CAPM sangat membantu untuk membuat perbandingan yang lebih akurat antara potensi penghasilan dengan risiko, sehingga seorang investor bisa mengestimasikan imbal hasil yang diharapkan dari investasi saham.
Bagaimana cara menghitung pengembalian pasar untuk CAPM?
Cara menghitung potensi return dengan CAPM adalah dengan membandingkan pengembalian pasar rata-rata dalam periode tertentu melalui market index.
Bagaimana CAPM yang mengasumsikan pada pasar saham yang ideal?
Tiga asumsi kondisi pasar yang ideal menurut pendekatan CAPM adalah:
- Setiap investor rasional
- Informasi yang tersedia bisa diakses oleh setiap investor
- Setiap investor bisa melakukan investasi tanpa biaya transaksi atau lainnya.
Apakah konsep capital asset pricing model CAPM masih digunakan saat ini?
Iya, pendekatan Capital Asset Pricing Model (CAPM) sampai saat ini masih digunakan oleh para investor untuk melakukan analisis risiko dan penentuan harga saham, tentunya dilengkapi dengan metode lain yang saling mendukung.
Video tentang Pendekatan CAPM
Untuk menyegarkan ingatan kita tentang penggunaan CAPM untuk proses pengambilan keputusan investasi, yuk tonton video pembelajaran berikut ini….
Bagaimana, jelas ya?
Demikian materi manajemen keuangan tentang metode untuk mengukur risiko dan keuntungan investasi dengan Capital Asset Pricing Model (CAPM). Semoga bermanfaat. Terima kasih.*****
Catataan:
Kalau mengutip artikel ini mohon disebutkan link-nya ya, thanks.