Keuangan Internasional: Analisis Risiko Valuta Asing dan Tingkat Bunga Investasi Luar Negeri

Perusahaan perlu memperhatikan dan memahami konsep-konsep serta alat analisis dalam keuangan internasional.

Hal tersebut akan memungkinkan perusahaan untuk memperkecil risiko-risiko yang ditanggung karena beroperasi tidak hanya di dalam negeri.

Dengan demikian perusahaan akan terbuka (expose to) terhadap risiko valuta asing, risiko tingkat bunga, dan bahkan risiko politik (political or country risk).

Selengkapnya mari ikuti pembahasannya berikut ini…

 

01: Kurs Antar Valuta Asing – Keuangan Internasional

teori manajemen keuangan internasional

Perusahaan dalam menjalankan operasinya bisa jadi akan berhubungan dengan pihak asing (luar negeri) untuk:

  • menjual hasil produksi ke luar negeri (ekpor),
  • membeli bahan dari luar negeri (impor),
  • menggunakan dana dari luar negeri (kredit), atau
  • melakukan penanaman modal di luar negeri (investasi).

Dengan demikian perusahaan akan dihadapkan pada risiko valuta asing (valas).

Di pasar valuta asing, perusahaan dapat memperoleh berbagai mata uang yang dipandang dapat dipercaya.

Dan sering diperlukan dalam kegiatan ekonomi, keuangan internasional dan perdagangan dunia.

Dalam pasar valuta asing (valas) yang efisien, investor tidak akan dapat memperoleh laba arbitrasi.

Perhatikan contoh berikut ini:

Misalnya di Jakarta kurs US$ dan ₤ adalah sebagai berikut:

US$1 = Rp 14.091

₤1 = Rp 17.478

Sedangkan di New York:

₤1 = US$1.230

Bila keadaan ini terjadi, kita dapat memperoleh laba arbitrase, karena perbedaan kurs valas di Jakarta dan New York.

Di Jakarta kurs yang berlaku antara ₤ dan US$ adalah:

= Rp Rp 17.478/ Rp 14.091
= 1,240

Atau

₤1 = US$1.240

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ₤ lebih murah di New York dari pada di Jakarta.

Karena itu kita dapat melakukan kegiatan sebagai berikut untuk memperoleh laba arbitrase:

  1. Beli US$123.000 di Jakarta seharga Rp 1.733.193.000
  2. Transfer ke New York, dan gunakan untuk membeli ₤ sebanyak ₤100.000
  3. Transfer uang senilai ₤100.000 ke Jakarta dan ditukar dengan rupiah. Kita akan memperoleh Rp 1.747.800.000
  4. Dengan demikian kita memperoleh laba arbitrase sebesar Rp 14.607.000 (Rp 1.747.800.000 – Rp 1.733.193.000)

Tentu saja dalam contoh tersebut kita mengabaikan adanya biaya transfer, dan juga perbedaan antara kurs jual dan kurs beli.

Apa itu kurs jual?

Kurs jual adalah kurs yang ditentukan oleh bank (atau money changer) bila mereka menjual valuta asing ke kita.

Lalu apa yang dimaksud kurs beli?

Kurs beli adalah harga yang mereka bayar sewaktu membeli valuta asing dari kita.

Dengan demikian kurs jual akan selalu LEBIH TINGGI dari kurs beli.

Dalam teori pasar keuangan internasional efisien, pemodal tidak akan dapat memperoleh laba arbitrase.

 

02: Analisis Risiko Kurs dan Tingkat Bunga – Keuangan Internasional

sistem keuangan internasional

Misalnya kita mengimpor bahan baku dan akan membayar senilai US$100,000 satu bulan yang akan datang.

Misalnya kurs saat ini  US$1 = Rp 14.000.

Tetapi kita tidak tahu berapa kurs US$ sebulan yang akan datang. Maka kita dapat mengambil beberapa keputusan, antara lain:

Keputusan #1:

Tidak melakukan kegiatan apa-apa dan akan membayar US$ sesuai dengan kurs yang berlaku sebulan yang akan datang.

Bila dalam satu bulan tersebut tidak terjadi penurunan nilai rupiah yang terlalu besar, atau bahkan devaluasi.

Maka keputusan kita untuk tidak melakukan tindakan apa-apa tidak akan merugikan kita.

Keputusan #2:

Melindungi diri dari risiko valuta asing (foreign exchange risk).

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain:

(a): Membeli US$ dengan forward rate

Sebagai contoh:

Kurs forward untuk US$ sebulan yang akan datang US$1 = Rp 14.040.

Dengan membeli dollar dengan kurs forward, kita yakin bahwa pada satu bulan yang akan datang kita akan dapat memperoleh US$100.000 dengan membayar Rp 1.404.000.000.

(b): Menggunakan fasilitas swap yang disediakan oleh BI.

(c): Menyimpan sejumlah dollar yang pada satu bulan lagi jumlahnya akan menjadi US$100.000

Alternatif ketiga ini secara teori akan memberikan kas keluar yang relatif besar.

Hal ini terjadi karena kita telah memasukkan faktor perbedaan antara suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman (atau spread).

 

A: Interest Rate Parity Theory (Teori Paritas Suku Bunga)

Bila kita membandingkan antara tingkat bunga simpanan dengan simpanan, seperti pada cara ketiga di atas, maka seharusnya berlaku teori paritas suku bunga (Interest Rate Parity Theory).

Interest Rate Parity Theory menyatakan bahwa:

rRp = r$ + Depresiasi rupiah yang diharapkan

Dalam hal ini:

rRp = Tingkat bunga simpanan dalam rupiah

r$ = Tingkat bunga simpanan dalam dollar

Sebagai contoh:

Bila rupiah diharapkan akan depresiasi sebesar 6% dalam satu tahun, dan tingkat bunga simpanan dalam dolar adalah 4%, maka tingkat bunga simpanan dalam rupiah adalah:

= 4% + 6%
= 10%

 

B: Purchasing Power Parity Theory (Teori Paritas Daya Beli)

Selain Interest Rate Parity Theory, juga dikenal Purchasing Power Parity Theory (Teori Paritas Daya Beli).

Teori ini menyatakan bahwa:

Depresiasi rupiah terhadap dollar = Inflasi di Indonesia – Inflasi di Amerika Serikat

Sebagai contoh:

Bila inflasi di Indonesia sebesar 9% dalam satu tahun, dan inflasi di USA diharapkan sebesar 3%, maka depresiasi rupiah terhadap dollar diharapkan akan sebesar:

= 9% – 3%
= 6%

Teori paritas daya beli mendasarkan diri atas hukum satu harga (the law of one price)

Sebagai contoh:

Jika kurs US$1 = Rp 14.000, maka harga satu barang di Amerika Serikat senilai $10 akan sebesar Rp 140.000 di Indonesia.

Jika barang tersebut ternyata lebih besar dari Rp 140.000 di Indonesia, maka akan terjadi arus barang dari Amerika Serikat ke Indonesia.

Dengan bertambahnya supply barang di Indonesia, harga akan turun, sampai dengan kemungkinan memperoleh laba arbitrage tersebut akan hilang.

Tentu saja pemikiran dan konsep tersebut didasarkan atas beberapa asumsi.
  • Pertama, tidak ada biaya transaksi (biaya angkutan, asuransi, dan sebagainya dianggap tidak ada).
  • Kedua, tidak ada hambatan (seperti tarif dan pajak) untuk perdagangan.
  • Ketiga, barang tersebut memang identik di kedua negara tersebut.

Bila inflasi di Indonesia sebesar 9% dan di Amerika Serikat sebesar 3%, maka harga barang tersebut akan naik sebesar 9% di Indonesia dan 3% di Amerika Serikat.

Dengan kata lain, sekarang rasio harga barang tersebut di Indonesia terhadap harga barang di Amerika Serikat akan berubah menjadi sebagai berikut:

Rasio harga barang = [(140.000)(1+0,09)] / [10(1+0,03)] =  14.816

Hal ini berarti kurs US$1 akan sebesar Rp 14.816 pada tahun depan.

Perhatikan bahwa rupiah menurun nilainya terhadap dollar, hampir 6%, yaitu SELISIH TINGKAT INFLASI di Indonesia dengan di Amerika Serikat.

 

03: Pendanaan dari Luar Negeri dan Investasi di Luar negeri

makalah teori keuangan internasional

A: Pendanaan dari Luar Negeri – Keuangan Internasional

Ada perusahaan memilih untuk menggunakan sumber pendanaan (kredit) dari luar negeri, dengan pertimbangan bahwa suku bunganya lebih murah bila dibandingkan dengan suku bunga kredit di dalam negeri.

Meskipun demikian perlu diperhatikan kemungkinan depresiasi mata uang rupiah, dan seberapa besar diharapkan, terhadap mata uang asing yang kita pinjam.

Jadi bila kita pinjam dalam bentuk US$ dan membayar bunga 6,5% per tahun, tapi diharapkan rupiah akan depresiasi sebesar 6% per tahun.

Maka tingkat bunga yang kita tanggung sebenarnya berkisar 6% + 6,5% = 12,5%.

Bila angka ini masih cukup rendah, jika dibandingkan dengan bunga kredit dalam rupiah, maka perusahaan akan berusaha untuk memperoleh kredit dalam bentuk valuta asing.

 

B: Investasi di Luar Negeri – Keuangan Internasional

Ada perusahaan yang melakukan investasi di luar negeri. Misalkan perusahaan di AS melakukan investasi di Indonesia.

Dan rencana investasi dengan usia ekonomis 4 tahun, misalnya diperkirakan akan menghasilkan arus kas sebagai berikut:

sistem keuangan internasional

Bila dihitung IRR-nya, maka akan diperoleh IRR investasi tersebut = 20%

Meskipun demikian IRR sebesar 20% adalah IRR yang dinyatakan dalam satuan moneter setempat (dalam hal ini rupiah).

Bagi investor Amerika Serikat, mereka tentu berkepentingan dengan IRR yang dinyatakan dalam US$.

Untuk itu perlu di-estimate bagaimana kurs $ di masa-masa yang akan datang.

Misalnya estimasinya adalah sebagai berikut:

teori keuangan internasional

Dengan demikian bila taksiran arus kas dinyatakan dalam $, maka akan nampak sebagai berikut:

teori manajemen keuangan internasional

Dengan demikian IRR$ = 13,37%.

Perhatikan bahwa karena estimasi nilai rupiah setiap tahun turun 6%, maka IRR$ lebih kecil bila dibandingkan dengan IRRRp .

Dan cara untuk menaksir IRR$ dapat dihitung dengan rumus persamaan berikut ini:

IRRRp = [(1 + IRR$) (1 + Depresiasi Rupiah)] – 1
0,20 = [(1 + IRR$)(1,06)] – 1
= 1,06 + 1,06 IRR$ – 1
0,14 = 1,06IRR$
IRR$ = 0,1321 (perbedaan karena pembulatan)

Masalah lain dalam hal ini adalah penentuan tingkat risiko yang relevan.

Apakah akan digunakan beta Indonesia, ataukah beta Amerika Serikat?

Kesulitan timbul karena mungkin saja suatu industri termasuk mempunyai beta tinggi di Indonesia, tapi tidak terlalu tinggi di USA.

Sebenarnya secara teoritis bila tidak ada hambatan untuk melakukan investasi, perdagangan, dan arus modal antar negara.

Maka kita dapat memandang dunia ini sebagai suatu negara tanpa batas (borderless world).

Dalam keadaan semacam ini, maka perhitungan risiko (beta) harus dipertimbangkan dalam kaitannya dari seluruh kesempatan investasi yang terdapat di dunia.

Oleh karena itu, jika kita menaksir beta, maka indeks portofolio pasar keuangan internasional akan berubah menjadi world market portofolio index.

Hasilnya, beta yang kita peroleh adalah beta dunia (world beta).

Dengan demikian beta suatu investasi (apakah investasi itu di Indonesia, Eropa, atau Amerika Serikat) akan dipandang sama.

Dengan kata lain, tidak terdapat perbedaan beta (risiko) suatu industri, hanya karena industri tersebut berlokasi di negara yang berbeda.

Dalam keadaan seperti ini, bila beta industri otomotif misalnya sebesar 1,10, maka beta ini berlaku baik untuk investor yang berasal dari Indonesia, Inggris, USA dan sebagainya.

Namun dalam praktiknya, terdapat banyak hambatan, baik dalam hal arus modal, maupun arus perdagangan.

Hambatan ditunjukkan dalam bentuk pajak, maupun larangan secara eksplisit.

Karena itu dapat terjadi kita dihadapkan pada situasi di mana pasar modal bersifat tersegmentasikan.

Artinya, tidak terdapat kebebasan bagi individu untuk membeli sekuritas di luar negeri.

Bila investor tidak diizinkan membeli saham di bursa negara lain, tapi perusahaan dapat melakukan investasi di luar negeri, maka keadaan ini adalah peluang untuk melakukan diversifikasi keuangan internasional.

Diversifikasi keuangan internasional akan menguntungkan perusahaan karena meraka dapat melakukan diversifikasi lebih luas.

Manfaat diversifikasi keuangan internasional akan makin besar jika koefesien korelasi tingkat keuntungan investasi di luar negeri sangat rendah dengan investasi di dalam negeri.

Solnik seorang profesor finance menunjukkan manfaat diversifikasi keuangan internasional.

Dengan melakukan diversifikasi keuangan internasional tersebut, perusahaan dapat mengurangi risiko tidak sistematis makin banyak.

Bila investor hanya berkepentingan dengan risiko sistematis, dan hal ini sesuai dengan pendekatan CAPM dalam materi manajemen keuangan.

Maka risiko yang ditanggung menjadi makin kecil.

Pudjiastuti dan Husnan dua orang ahli manajemen keuangan menunjukkan bahwa korelasi antar tingkat indeks pasar berbagai negara, ternyata cukup rendah.

Sebagai akibatnya, biaya modal yang relevan akan makin berkurang.

Menurunnya biaya modal, tentu saja akan membuat usulan investasi makin menarik (NPV menjadi makin besar).

Sayangnya, manfaat diversifikasi keuangan internasional akan berkurang bila diperhatikan kemungkinan munculnya country risk.

Inilah yang menyebabkan mengapa perusahaan-perusahaan transnasional/multinasional berhati-hati dalam melakukan diversifikasi keuangan internasional lewat direct investment.

 

C: Cara Pendanaan Investasi di Luar Negeri

Untuk mendanai investasi di luar negeri, perusahaan dapat memilih alternatif pendanaan sebagai berikut:

Alternatif #1:

Perusahaan menghimpun dana di negara asal dan menyalurkannya ke negara tempat melakukan investasi.

Hal ini berarti bahwa, misalnya perusahaan Inggris yang melakukan investasi di Indonesia akan menghimpun dana di Inggris digunakan untuk membiayai investasi di Indonesia.

Masalahnya adalah kurs rupiah dapat melemah terhadap poundsterling, sehingga perusahaan akan dihadapkan pada risiko valuta asing secara forward.

Tapi umumnya sulit untuk melakukan transaksi forward yang melebihi satu tahun.

Alternatif #2:

Perusahaan menghimpun dana di negara pengundang untuk di-investasikan di negara pengundang.

Sebagai contoh:

Perusahaan Inggris menghimpun dana di Indonesia, misalnya dengan menerbitkan obligasi di Indonesia dan menggunakannya untuk investasi di Indonesia.

Cara ini merupakan cara yang umum digunakan untuk melakukan hedging (perlindungan), lebih-lebih kalau arus kas dari investasi tersebut diharapkan akan terwujud dalam rupiah.

Hanya saja perusahaan tidak dapat melakukan hedging seratus persen, karena tetap ada sebagian modal sendiri yang dibawa dari Inggris dan karenanya dinyatakan dalam poundsterling.

Alternatif #3:

Mencari dana dari negara ketiga, di mana suku bunga pinjaman paling rendah.

Meskipun demikian, perlu dimengerti bahwa rendahnya tingkat bunga mungkin mencerminkan pengharapan rendahnya inflasi di negara tersebut.

Sebagai misal, perusahaan Inggris tersebut meminjam dana dari bank di Jepang yang menawarkan tingkat suku bunga 6% per tahun.

Misalkan angka ini lebih rendah dari bunga pinjaman di Inggris.

Namun demikian belum tentu pilihan tersebut adalah pilihan yang terbaik, karena dengan berjalannya, nilai Yen bisa jadi mengalami apresiasi terhadap poundsterling.

Bila teori paritas tingkat bunga berlaku, maka akhirnya perbedaan suku bunga hampir tidak ada.

Bagi perusahaan-perusahaan internasional Amerika Serikat, mereka dapat memilih apakah akan meminjam dollar dari dalam negeri (ke bank di USA), atau meminjam dalam eurodollar.

Apa itu eurodollar?

Eurodollar adalah dollar yang didepositokan di luar Amerika Serikat, deposannya menerima bunga dalam dollar.

Bank-bank di Eropa (Eurobanks) yang menerima deposito tersebut akan meminjamkannya juga dalam dollar.

Nasabah bank-bank tersebut adalah perusahaan-perusahaan besar dan pemerintah.

Tingkat bunga yang dikenakan adalah tingkat bunga mengambang.

Sebagai contoh:

Misalnya tingkat bunga Eurodollar adalah 0,5% di atas London Interbank Offered Rate (LIBOR atau tingkat bunga antar bank di London).

 

04: Kesimpulan

Perusahaan dalam operasinya memiliki dimensi internasional.

Misalnya perusahaan mengekspor hasil produksinya ke luar negeri, membeli bahan baku dari luar negeri, meminjam dana dari luar negeri, atau melakukan investasi di luar negeri.

Aktivitas perusahaan tersebut akan menghadapkan perusahaan pada:

  • risiko valas (valuta asing)
  • risiko tingkat bunga
  • risiko negara (country risk)

Ada hubungan-hubungan dasar yang menentukan perbedaan kurs forward dan kurs spot, apresiasi dan depresiasi mata uang, dan perbedaan tingkat bunga antar negara.

Bila tidak terdapat distorsi dalam pembentukan harga, maka purchasing power parity theory akan menjelaskan mengapa suatu mata uang mengalami apresiasi/depresiasi terhadap mata uang lainnya.

Demikian juga interest rate parity theory, akan menjelaskan perbedaan suku bunga antar negara.

Dengan memperhatikan konsep-konsep keuangan internasional tersebut, perusahaan dapat melakukan analisis investasi di luar negeri.

Beberapa masalah timbul dalam melakukan evaluasi, antara lain:

  • apakah risiko yang relevan adalah risiko di negara pengndang, ataukah risiko investor di negara asal?
  • Bagaimana memasukkan faktor country risk dalam analisis

Sedangkan pendanaan investasi di luar negeri dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

  • Menghimpun dana di negara asal untuk diinvestasikan ke negara pengundang.
  • Menghimpun dana di negara pengundang dan menginvestasikannya juga di negara pengundang.
  • Menghimpun dana dari negara ketiga yang menawarkan biaya paling rendah.

Dan dalam pemilihan sumber dana, masalah risiko valuta asing dan/risiko tingkat bunga perlu diperhatikan.

Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai keuangan internasional.

Semoga bermanfaat. Terima kasih.

manajemen keuangan dan SOP