Manajemen Persediaan – Cara Menghitung Biaya Persediaan

Mungkin perlu bagi sebuah perusahaan untuk mengetahui jumlah persediaan barang ketika catatan persediaan perpetual tidak dibuat dan penghitungan fisik persediaan tidak praktis untuk dilakukan.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan yang menggunakan sistem persediaan periodik mungkin memerlukan laporan laba rugi bulanan, tapi penghitungan fisik persediaan setiap bulan mungkin sangat memakan biaya.

Selain itu, ketika terjadi bencana seperti kebakaran atau banjir yang menghancurkan persediaan, perusahaan harus menghitung jumlah kerugian.

Baik untuk kepentingan internal maupun eksternal, misalnya untuk mendapatkan klaim penggantian dari perusahaan asuransi kebakaran.

Dalam hal ini, melakukan penghitungan fisik persediaan tidak dimungkinkan, bahkan jika catatan persediaan perpetual telah dibuat, catatan akuntansi mungkin telah hancur.

Dalam hal ini, biaya persediaan harus diperkirakan menggunakan 2 metode, yaitu: (1) metode ritel dan (2) metode laba kotor.

***

01. Metode Ritel dari biaya persediaan barang

Metode persediaan ritel (ritail inventory method) adalah metode untuk memperkirakan biaya persediaan berdasarkan hubungan biaya barang tersedia untuk dijual terhadap harga ritel barang yang sama.

Untuk menggunakan metode ini, harga ritel seluruh barang disiapkan dan dijumlahkan.

Selanjutnya, persediaan pada harga ritel ditentukan dengan mengurangkan penjualan untuk periode tertentu dari harga ritel barang tersedia untuk dijual selama periode tersebut.

persediaan barang - metode ritel

Perkiraan biaya persediaan kemudian dihitung dengan mengalikan persediaan pada harga ritel dengan rasio biaya terhadap harga jual ritel untuk barang tersedia untuk dijual seperti digambarkan berikut ini:

Metode Ritel dari biaya persediaan barang

Saat memperkirakan persentase biaya terhadap harga jual ritel, kita mengasumsikan bahwa gabungan barang dalam persediaan akhir sama dengan seluruh barang tersedia untuk dijual.

Dari ilustrasi tabel di atas, sebagai contoh bahwa harga ritel untuk setiap barang tepatnya terdiri atas 62% biaya dan 38% laba kotor adalah tidak mungkin.

Tapi kita asumsikan bahwa rata-rata tertimbang persentase biaya dari barang dalam persediaan (Rp 30.000.000) adalah sama seperti dari barang tersedia untuk dijual (Rp 100.000.000).

Ketika persediaan terdiri atas kelas barang yang berbeda dengan tingkat laba kotor yang berbeda, persentase biaya dan persediaan harus dikembangkan untuk setiap kelas persediaan.

Salah satu keuntungan utama metode ritel adalah metode ini memberikan angka persediaan untuk menyiapkan laporan keuangan bulanan atau kuartalan saat sistem periodik digunakan.

Toko serba ada dan perusahaan dagang sejenis dapat menghitung laba kotor dan laba operasi setiap bulan, tapi melakukan penghitungan fisik persediaan hanya satu atau dua kali dalam setahun.

Metode Ritel pada toko serba ada

Selain itu membandingkan perkiraan persediaan akhir dengan persediaan akhr secara fisik.

Keduanya pada harga ritel, akan membantu menunjukkan kehilangan persediaan yang berasal dari pencurian dan sebab lainnya.

Selanjutnya manajemen dapat mengambil tindakan yang diperlukan.

Metode ritel juga dapat digunakan sebagai alat bantu untuk melakukan penghitungan fisik persediaan.

Dalam hal ini, barang yang dihitung dicatat dalam lembar persediaan pada harga jual ritel, buaknya pada biaya.

Kemudian penghitungan fisik pada harga jual diubah ke biaya dengan menggunakan rasio biaya terhadap harga jual ritel untuk barang yang tersedia untuk dijual.

***

Sebagai ilustrasi, mengambil contoh perhitungan persediaan dengan metode ritel di atas, asumsikan bahwa data pada contoh di atas adalah untuk keseluruhan tahun fiskal, bukan hanya untuk bulan Januari.

Jika penghitungan fisik diambil pada akhir tahun berjumlah Rp 29.000.000 pada harga ritel, maka jumlah ini selain Rp 30.000.000 akan diubah ke biaya.

Sehingga, persediaan pada biaya akan menjadi Rp 17.980.000 (Rp 29.000.000 X 62%), bukannya Rp 18.000.000 (Rp 30.000.000 X 62%).

Nilai persediaan Rp 17.980.000 akan digunakan untuk laporan keuangan akhir tahun dan keperluan pajak penghasilan.

Perhatikan contoh berikut:

Sebuah perusahaan yang menggunakan metode ritel dari biaya persediaan menentukan bahwa persediaan pada harga ritel adalah sebesar Rp 900.000.000.

Jika rasio biaya terhadap harga ritel adalah 70%, maka jumlah persediaan yang akan dilaporkan dalam laporan keuangan adalah:

= Rp 900.000.000 X 70% = Rp 630.000.000

Contoh perusahaan yang menggunakan metode ritel untuk biaya persediaannya adalah PT Matahari Putra Prima, dan PT Metro Department Store untuk persediaan supermarketnya.

 

2. Metode Laba Kotor untuk Memperkirakan Persediaan Barang

Metode laba kotor adalah metode yang menggunakan perkiraan laba kotor dalam periode tertentu untuk memperkirakan persediaan pada akhir periode.

Laba kotor biasanya diperkirakan dari tingkat aktual tahun sebelumnya, disesuaikan untuk seluruh perubahan yang dibuat dalam biaya dan harga jual selama periode berjalan.

Dengan menggunakan tingkat laba kotor, jumlah nominal penjualan untuk suatu periode dapat dibagi dalam dua komponen, yaitu:

  1. Laba kotor
  2. Harga pokok penjualan (HPP)

Jumlah yang disebut terakhir kemudian dapat dikurangkan dari barang tersedia untuk dijual untuk menghasilkan perkiraan biaya persediaan.

Bila ingin tahu bagaimana cara menghitung HPP, langsung saja cek di 10 Teknik Sederhana Menhitung HPP, Terbukti Hasilkan Keuntungan Maksimal bagi perusahaan.

Perhatikan tabel perhitungan berikut ini:

Meode Laba Kotor untuk Memperkirakan Persediaan Barang

Tabel di atas menggambarkan metode laba kotor untuk memperkirakan persediaan perusahaan per 31 Januari.

Dalam contoh ini, persediaan barang per 1 Januari diasumsikan sebesar Rp 57.000.000.

Pembelian bersih bulan berjalan sebesar Rp 180.000.000, dan penjualan kotor bulan berjalan adalah Rp 250.000.000.

Sebagai tambahan, laba kotor historis adalah 30% dari penjualan bersih.

Metode laba kotor berguna untuk memperkirakan persediaan barang dagang untuk laporan keuangan bulanan atau kuartalan dalam sistem persediaan periodik.

Dan juga berguna dalam memperkirakan biaya barang rusak yang disebabkan kebakaran atau bencana lainnya.

perhitungan persediaan barang

3. Analisis dan Interpretasi Keuangan Terhadap Persediaan Barang Dagang

Sebuah perusahaan dagang harus menyimpan sisa persediaan barang dagang dalam jumlah memadai untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya.

Kekurangan persediaan barang dagang akan mengakibatkan kehilangan penjualan.

Namun sebaliknya, terlalu banyak persediaan barang dagang akan mengurangi likuiditas perusahaan.

Karena dana yang seharusnya digunakan untuk memperluas atau meningkatkan kegiatan operasional, akan tertanam dalam bentuk persediaan barang dagang.

Di samping itu, kelebihan persediaan barang dagang meningkatkan beban seperti penyimpanan, asuransi, dan pajak properti.

Akhirnya, kelebihan persediaan barang  dagang akan meningkatkan risiko kerugian akibat penurunan harga, kerusakan atau perubahan dalam pola pembelian pelanggan.

Dengan begitu banyaknya analisis keuangan, sangatlah mungkin untuk menggunakan lebih dari satu ukuran untuk menganalisis keefisienan dan keefektifan perusahaan dalam manajemen persediaan.

***

Dua ukuran yang dapat digunakan adalah perputaran persediaan (inventory turnover) dan jumlah hari penjualan dalam persediaan (number of days  sales in inventory)

Perputaran persediaan mengukur hubungan antara volume barang terjual dan jumlah persediaan yang dimiliki selama periode tertentu.

Rasio ini dihitung sebagai berikut:

rasio perputaran persediaan

Sebagai ilustrasi, data berikut diambil laporan tahunan milik Perusahaan HS dan RCL:

contoh perhitungan rasio perputaran persediaan barang

Nilai perputaran persediaan adalah sebesar Rp 8,74 untuk HS dan 3,28 untuk RCL.

Secara umum, semakin besar nilai perputaran persediaan, semakin efisien dan efektif pengelolaan persediaan barang dagang.

Akan tetapi perbedaan dalam perusahaan dan industri bisa sangat besar untuk memungkinkan pernyataan spesifik mengenai yang dimaksud dengan perputaran persediaan yang baik.

Sebagai contoh, HS adalah distributor makanan.

Oleh karena persediaan barang dagang HS merupakan barang yang tidak tahan lama, kita bisa memperkirakan HS mempunyai perputaran persediaan barang dagang yang tinggi.

Kebalikannya, RCL merupakan peritel pakaian dan kosmetik, sehingga kita dapat memperkirakan RCL memiliki perputaran persediaan barang dagang yang lebih rendah dibandingkan HS.

Jumlah hari penjualan dalam persediaan adalah ukuran kasar untuk lamanya waktu yang diperlukan untuk memperoleh, menjual dan mengganti persediaan, yang dihitung sebagai berikut:

Rumus Menghitung Perputaran Persediaan barang

Harga pokok penjualan harian rata-rata ditentukan dengan membagi harga pokok penjualan dengan 365. Jumlah hari penjualan dalam persediaan untuk HS dan RCL dihitung sebagai berikut:

jumlah perputaran persediaan barang

Secara umum, semakin rendah jumlah hari penjualan dalam persediaan barang dagang, berarti semakin baik.

Sama seperti rasio perputaran persediaan barang dagang, kita juga harus mempertimbangkan perbedaan karakter industri antara HS dan RCL.

Demikian dua metode menghitung biaya persediaan barang dagang yaitu:

  1. Metode Ritel
  2. Metode Laba Kotor

Semoga bermanfaat dan terima kasih.

***

sop akuntansi keuangan powerful