Bagaimana Potensi Manfaat dan Risiko Penggunaan Utang Terhadap LABA dan ROE?

Bagaimana Potensi Manfaat dan Risiko Penggunaan Utang Terhadap LABA dan ROE?

Laba bersih atau net income adalah laba hasil pengurangan laba operasi dengan pajak. Laba operasi adalah hasil pengurangan pendapatan dengan total biaya operasi. Sedangkan ROE adalah rasio yang mengukur tingkat pengembalian investasi.

ROE mencerminkan pengaruh dari seluruh rasio lain dan merupakan ukuran kinerja tunggal yang terbaik dilihat dari sisi AKUNTANSI.

Investor sudah pasti menyukai nilai ROE yang tinggi, dan ROE yang tinggi umumnya memiliki korelasi positif dengan harga saham yang tinggi. Namun ada beberapa faktor lain yang terlibat, seperti model pendanaan melalui utang yang akan kita bahas.

Pada umumnya pendanaan melalui utang akan meningkatkan nilai ROE, namun juga akan meningkatkan risiko perusahaan.

Pembahasan lengkap tentang ROE bisa anda baca di artikel Rasio Profitabilitas.

Pendanaan melalui utang akan memberikan tiga dampak, yaitu :

  1. Menghimpun dana melalui utang, pemegang saham, dapat mengendalikan perusahaan dengan jumlah investasi ekuitas yang terbatas.
  2. Kreditur melihat ekuitas atau dana yang diberikan oleh pemilik sebagai batas pengaman. Makin tinggi proporsi total modal yang diberikan oleh pemegang saham, makin kecil risiko yang dihadapi oleh kreditur.
  3. Jika hasil yang diperoleh dari aset perusahaan lebih tinggi daripada tingkat bunga yang dibayarkan, maka penggunaan utang akan mengungkit (leverage) atau memperbesar pengembalian atas ekuitas atau ROE.

Untuk menggambarkan potensi manfaat dan risiko yang berasal dari penggunaan utang, maka berikut ini kita menggunakan sebuah study case, ada dua perusahaan yang identik kecuali dalam hal bagaimana perusahaan tersebut didanai.

Baca juga : Siklus Akuntansi Lengkap dari A sampai Z

Misal PT TU (Tanpa Utang) tidak memiliki utang, sehingga 100% ekuitas saham biasa, sedangkan PT U(Utang) didanai setengah dengan utang dengan tingkat bunga 10 % dan setengah lagi dengan ekuitas.

Kedua perusahaan memiliki aset 100 juta. Penjualan kedua perusahaan berada di rentang 150 juta hingga turun 75 juta bergantung pada kondisi usahanya dengan tingkat yang diharapkan sebesar 100 juta.

Beberapa biaya operasi seperti sewa, gaji dan lain sebagainya adalah biaya tetap dan akan tetap ada berapa pun tingkat penjualan yang terjadi, sedangkan biaya-biaya lainnya seperti biaya tenaga kerja dan bahan baku akan bervariasi mengikuti penjualan.

Laporan keuangan tidak menunjukkan perincian antara biaya operasi tetap dan variabel, tapi perusahaan dapat dan melakukan perincian ini untuk tujuan internal.

Tentu saja, perbedaannya tidak selalu jelas karena apa yang dikatakan biaya tetap dalam waktu yang sangat singkat bisa menjadi biaya variabel selama rentang waktu yang lama.

Perlu dicatat bahwa banyak perusahaan sedang bergerak menuju biaya variabel yang lebih besar dengan menggunakan teknik-teknik seperti menaikkan bonus daripada gaji pokok. Memindahkan program pensiun dari tetap ke BAGI HASIL, serta mengontrakkan  berbagai suku cadang dan bahan baku.

Ketika menggurangi biaya operasi dari pendapatan penjualan, kita akan mendapatkan laba operasi atau laba sebelum bunga dan pajak (EBIT).

Perhatikan tabel berikut ini :

Sedangkan data-data perusahaan yang menggunakan pendanaan utang adalah sebagai berikut :

Perhatikan dalam kedua tabel di atas, tidak ada perbedaan antara perusahaan yang menggunakan pendanaan utang dan tanpa utang sampai di laba operasinya. Kedua perusahaan memiliki EBIT yang sama dalam tiga kondisi perekonomian yang berbeda.

Dan selanjutnya, keadaan mulai berubah, PT TU tidak memiliki utang sehingga tidak perlu membayar bunga dan laba kena pajaknya akan sama dengan laba operasi.

Sehingga diperoleh LABA BERSIH di rentang 0  sampai 27 juta, tergantung pada kondisi. Ketika laba bersih dibagi dengan ekuitas biasa, maka akan diperoleh ROE sebesar 0 sampai 27%.

PT U, yang memiliki utang, besarnya EBIT masih sama untuk setiap kondisi. Karena perusahaan memiliki utang sebesar 50 juta dengan tingkat bunga 10% maka ada beban sebesar 5 juta apa pun kondisi usahanya. Jumlah ini akan dikurangkan dari EBIT untuk mendapatkan LABA KENA PAJAK.

Selanjutnya, pajak dikeluarkan dan hasilnya adalah laba bersih yang berada di rentang -5 sampai 24 juta, tergantung pada kondisi perekonomian.

Dari hasil perhitungan di atas, sekilas kita bisa melihat bahwa PT TU yang tidak memiliki utang, ‘sepertinya’ memberikan hasil yang lebih baik dalam seluruh kondisi.

Namun bila diamati lebih seksama, maka kondisi ini tidaklah benar, kita perlu mempertimbangkan jumlah uang yang telah diinvestasikan oleh pemegang saham kedua perusahaan tersebut.

Pemegang saham PT U, hanya menginvestasikan 50 juta. Jadi ketika laba bersih dibagi dengan investasi tersebut, maka ROE-nya sebesar 48% dibanding PT TU yang hanya 27%. Dan 12% dibandingkan dengan PT TU 9% untuk kondisi yang diharapkan.

Namun ROE PT U turun menjadi -10% dalam kondisi yang buruk. Artinya perusahaan tersebut akan bangkrut jika kondisi itu berlangsung selama beberapa tahun.

Ada dua alasan di balik pendanaan utang, yaitu :

  1. Bunga dapat menjadi pengurang pajak, sehingga penggunaan utang akan mengurangi kewajiban pajak dan menyisakan laba operasi yang lebih besar bagi investor perusahaan.
  2. Jika laba operasi sebagai persentase terhadap aset melebihi tingkat bunga atas utang yang seperti pada umumnya diharapkan, maka perusahaan dapat menggunakan utang untuk membeli aset, membayar bunga atas utang, dan masih mendapatkan sisanya sebagai bonus bagi pemegang saham.

Dalam contoh tabel di atas, dalam kondisi yang diharapkan, perusahaan berharap akan menerima 15% atas aset dibandingkan dengan manfaat pajak dari utang, maka akan mendorong tingkat pengembalian atas ekuitas yang diharapkan dari PT TU naik jauh di atas tingkat PT U.

Jadi dapat dilihat perusahaan dengan rasio utang yang relatif tinggi memiliki perkiraan pengembalian yang lebih tinggi ketika perekonomian normal, tetapi akan mengalami risiko kerugian ketika perekonomian memasuki masa resesi.

Oleh karena itu, keputusan digunakannya utang mengharuskan perusahaan membandingkan antara perkiraan pengembalian yang lebih tinggi dengan meningkatnya resiko.

Secara umum ada dua prosedur yang lazim digunakan untuk menganalisis utang perusahaan, yaitu :

  1. Memeriksa NERACA untuk menentukan proporsi TOTAL dana yang diwakili oleh utang.
  2. Memeriksa Laporan LABA RUGI untuk melihat sejauh mana beban tetap dapat ditutup oleh laba operasi.

Pembahasan lebih lanjut tentang analisis utang perusahaan dengan berpijak pada dua prosedur tersebut adalah berikut ini :

 

#1. Total Utang terhadap Total Aset (Debt Ratio)

Rasio Total Utang terhadap Total Aset atau sering disebut dengan rasio utang (debt ratio) adalah rasio yang mengukur persentase dana yang diberikan oleh kreditur. Bila dinyatakan dalam sebuah rumus adalah sebagai berikut :

Rasio Utang = Total Utang : Total Aset

Total utang termasuk seluruh kewajiban lancar dan utang jangka panjang.

Untuk contoh-contoh perhitungan analisis menggunakan contoh laporan keuangan perusahaan tbk berikut ini :

Contoh Neraca Perusahaan :

 

Contoh Laporan Laba Rugi :

Dari data-data contoh laporan keuangan perusahaan di atas, maka besarnya debt ratio adalah :

= ($310 + $750) : $2.000 = 53%

Rata-rata industri sejenis adalah = 40%

Rasio utang perusahaan sebesar 53%, artinya kreditur memberikan lebih dari setengah total pendapatan.

Rasio utang perusahaan tersebut melebihi rata-rata standar di industri sejenis, hal ini harus menjadi perhatian, karena sudah berada di zona merah. Dan ini akan membuat sulit perusahaan untuk meminjam tambahan dana tanpa harus menghimpun ekuitas terlebih dahulu.

Kreditur menjadi enggan meminjamkan lebih banyak uang ke perusahaan, dan manajemen kemungkinan akan memaparkan risiko bangkrut pada perusahaan jika ia mencari tambahan dana dalam jumlah yang cukup besar melalui pinjaman.

Kreditur lebih menyukai rasio utang yang rendah karena makin rendah rasio utang, makin besar perlindungan terhadap kerugian kreditur jika terjadi likuidasi.

Di sisi lain, pemegang saham mungkin menginginkan lebih banyak pendanaan melalui utang karena akan memperbesar laba yang diharapkan.

Baca juga  : Inilah Pengertian Utang dan modal

 

#2. Rasio Kelipatan Pembayaran Bunga (time interest earned)

Rasio Kelipatan Pembayaran Bunga (time interest earned) adalah rasio laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) terhadap beban bunga, yaitu suatu ukuran kemampuan perusahaan dalam memenuhi pembayaran bunga tahunannya.

Rasio Rasio Kelipatan Pembayaran Bunga (TIE) mengukur sampai sejauh apa laba operasi dapat mengalami penurunan sebelum perusahaan tidak mampu memenuhi biaya bunga tahunannya.

Kegagalan dalam membayar bunga akan menyebabkan pihak kreditur melakukan tindakan hukum dan kemungkinan berakhir  dengan kebangkrutan.

Bila dinyatakan dalam sebuah formula adalah sebagai berikut :

Rasio Kelipatan Pembayaran Bunga = EBIT : Beban Bunga

Perhatikan bahwa yang digunakan sebagai pembilang adalah laba sebelum bunga dan pajak, bukannya laba bersih. Karena bunga dibayar sebelum pajak, kemampuan perusahaan untuk membayar bunga berjalan tidaklah terpengaruh oleh pajak.

Masih dari data contoh laporan keuangan perusahaan di atas, maka besarnya Rasio Kelipatan Pembayaran Bunga adalah :

= $283,8 : $88 = 3,2x

Rata-rata industri adalah = 6x.

Dari hasi perhitungan ini, bunga perusahaan ditutup 3,2 kali, sedangkan rata-rata industri adalah 6 kali, sehingga perusahaan menutup beban bunganya dengan batas penggunaan yang relatif rendah.

Rasio Rasio Kelipatan Pembayaran Bunga ini mempertegas kesimpulan sebelumna bahwa perusahaan akan mengalami kesulitan jika mencoba untuk meminjam dana tambahan.

 

#3. Rasio Cakupan EBITDA (EBITDA Coverage Ratio)

Rasio Cakupan EBITDA adalah rasio yang menunjukkan seluruh arus kas yang tersedia untuk pembayaran sebagai pembilang dan seluruh pembayaran finansial yang dibutuhkan sebagai penyebut.

Bila dinyatakan dengan sebuah rumus adalah sebagai berikut :

Rasio Cakupan EBITDA = (EBITDA + Pembayaran sewa guna usaha) : (Bunga + Pembayaran Pokok + Pembayaran Sewa Guna Usaha)

Rasio Cakupan EBITDA sebenarnya digunakan untuk mengatasi kelemahan pada rasio kelipatan pembayaran bunga (TIE).

Ada dua kelemahan dalam rasio kelipatan pembayaran bunga (TIE), yaitu :

  1. Bunga bukanlah satu-satunya beban tetap keuangan, perusahaan juga harus mencicil utang dalam jadwal yang tetap, dan banyak perusahaan juga menyewa aset melalui sewa guna usaha dan akibatnya harus melakukan pembayaran sewa.
    Jika perusahaan gagal melunasi utang atau memenuhi pembayaran sewanya, maka perusahaan tersebut dapat digugat bangkrut.
  2. EBIT tidak mencerminkan seluruh arus kas yang tersedia untuk membayar utang, khususnya jika perusahaan memiliki beban penyusutan dan atau amortisasi yang tinggi.

Bila menggunakan contoh data laporan keuangan perusahaan di atas, maka kita dapat menghitung nilai Rasio Cakupan EBITDA sebagai berikut :

= ($383,8 + $28) : ($88 + $20 +$28)
= $411,8 : $136 = 3x

Rata-rata industri adalah = 4,3x

Sebagai pembilang, perusahaan memiliki EBITDA sebesar $383,8 yang terdiri dari LABA OPERASI (EBIT) sebesar $283,8 dan penyusutan sebesar $100.

Namun pembayaran sewa guna usaha sebesar $28 dikurangkan saat menghitung EBITDA meskipun $28 tadi tersedia untuk memenuhi beban keuangan.

Oleh karena itu harus menambahkan kembali jumlah tersebut pada EBITDA sehingga memberikan jumlah total $411,8 yang tersedia untuk beban tetap keuangan.

Pembayaran sewa guna usaha disertakan dalam pembilang karena berbeda dengan bunga. Pembayaran ini dikurangi ketika menghitung EBITDA.

Kita ingin menghitung seluruh dana yang tersedia untuk melayani beban tetap. Jadi, pembayaran sewa guna usaha harus ditambahkan ke EBIT dan DA untuk menemukan dana yang dapat digunakan untuk melayani utang dan memenuhi pembayaran sewa guna usaha.

Dari contoh perhitungan di atas kita juga jadi mengetahui beban keuangan tetap yang terdiri dari bunga sebesar $88, pembayaran dana pelunasan $20, dan pembayaran sewa guna usaha $28 dengan jumlah total sebesar $136.

Dana pelunasan merupakan pembayaran tahunan yang dirancang untuk mengurangi saldo suatu obligasi atau emisi saham preferen.

Baca juga : Beginilah Cara Menilai Kinerja Keuangan Sebuah Bank

Pembayaran dana pelunasan  mirip dengan porsi pelunsan pokok dalam pembayaran pinjaman yang diamortisasi.

Hanya saja, dana pelunasan digunakan untuk emisi obligasi yang diperdagangkan untuk publik, sedangkan pembayaran amortisasi digunakan untuk pinjaman bank dan swasta lainnya.

Oleh karena itu, perusahaan tersebut menutup beban tetap keuangannya sebesar 3 kali.  Namun jika laba operasi menurun, kecukupan ini akan ikut TURUN daaba operasi sudah pasti dapat menurun.

Dan rasio perusahaan tersebut jauh dibawah rata-rata industri, maka kita bisa menganalisis bahwa perusahaan memiliki tingkat utang yang relatif tinggi.

Rasio Cakupan EBITDA sangat berguna bagi pemberi pinjaman yang relatif bersifat jangka pendek, seperti bank yang jarang memberikan pinjaman di atas angka waktu lima tahun, kecuali pinjaman yang dijamin dengan tanah dan bangunan.

Dalam jangka waktu yang relatif singkat tersebut, dana yang menimbulkan penyusutan dapat digunakan untuk melayani utang.

Dalam jangka waktu yang lebih panjang, dana tersebut harus diinvestasikan kembali untuk mempertahankan pabrik dan peralatan, karena jika tidak, maka perusahaan tidak dapat terus menjalankan usahanya.

Karena itu bank dan pemberi pinjaman yang relatif bersifat jangka pendek lainnya berfokus pada rasio cakupan EBITDA, sedangkan pemegang obligasi jangka panjang berfokus pada rasio kelipatan pembayaran bunga (TIE).

Demikian pembahasan tentang  Bagaimana potensi manfaat dan risiko penggunaan utang Terhadap LABA dan ROE?

Bagaimana dengan manajemen utang usaha anda?

***