Penilaian Persediaan Barang Dagang Pada Nilai Realisasi Bersih
A: Cara Penilaian Persediaan Barang
Kita paham bahwa barang yang sudah kadaluwarsa atau rusak hanya dapat dijual pada harga di bawah biaya harus diturunkan nilainya. Barang semacam ini harus dinilai pada nilai realisasi bersih.
Nilai realisasi bersih (net realizable value) adalah perkiraan harga jual dikurangi seluruh biaya yang berkaitan langsung dengan penjualan, seperti komisi penjualan.
B: Contoh Penerapan Metode Nilai Realisasi Bersih
Perhatikan contoh berikut ini:
Diasumsikan sebuah barang rusak yang memiliki biaya Rp 1.000.000 hanya dapat dijual seharga Rp 800.000. Dan beban penjualan langsung diperkirakan sebesar Rp 150.000.
Persediaan tersebut harus dinilai sebesar Rp 650.000 ( Rp 800.000 – Rp 150.000 ) yang merupakan nilai realisasi bersihnya.
Kebanyakan peritel mencatat penyisihan untuk barang yang sudah kedaluwarsa dan ketinggalan jaman. Sebagai contoh, Hero Supermarket yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari, bahan pangan, serta obat-obatan bebas tanpa resep dokter.
Di laporan keuangan tahun 2006, Hero mencatat penyisihan kerugian atas kehilangan persediaan sebesar Rp 5,9 M, serta penyisihan kerugian atas barang yang kedaluwarsa dan perputarannya lambat sebesar Rp 40,2 M (hampir 10% dari nilai barang tersedia untuk dijual).
—
Dalam catatan atas laporan keuangan tahun 2006, Hero mengungkapkan pencatatan akuntansi untuk persediaannya sebagai berikut:
“Nilai realisasi bersih adalah estimasi harga jual dalam kegiatan usaha normal dikurangi estimasi beban penjualan.
Penyisihan atas kehilangan persediaan dihitung berdasarkan estimasi kehilangan persediaan sejak tanggal penghitungan fisik persediaan yang lalu.
Penyisihan atas barang yang kedaluwarsa dan perputarannya lambat dihitung berdasarkan estimasi penjualan persediaan di masa depan”

Penyajian Persediaan Barang Dagang di Neraca
A: Prosedur Penyajian Persediaan di Laporan Keuangan
Persediaan biasanya disajikan di bagian aset lancar dari neraca, setelah akun-akun piutang.Baik metode untuk menghitung biaya persediaan (FIFO, LIFO atau biaya rata-rata). Maupun metode penilaian persediaan (biaya, atau nilai pasar atau biaya yang lebih rendah) perlu ditunjukkan.
Merupakan hal yang biasa bagi perusahaan besar dengan berbagi aktivitas untuk menggunakan metode biaya yang berbeda untuk segmen persediaan yang berbeda. Misalnya, PT Astra Internasional yang menghasilkan kendaraan dan komponen suku cadang.
Menggunakan metode rata-rata tertimbang untuk menilai persediaan barang jadi dari komponen pengganti. Beberapa anak perusahaannya menggunakan FIFO, atau identifikasi spesifik.
Untuk mobil rakitan total yang di-impor dari luar negeri dalam kondisi utuh (dikenal dengan istilah Completely Build Up – CBU) dan peralatan berat lainnya. Perinciannya dapat diungkapkan dengan tanda kurung di neraca atau di catatan atas laporan keuangan.
B: Contoh Penyajian Persediaan Di Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Perhatikan contoh berikut ini:

Perusahaan dapat mengganti metode biaya persediaannya untuk alasan tertentu. Pada kasus tertentu, pengaruh perubahan dan alasan dari perubahan tersebut dapat diungkapkan dalam laporan keuangan untuk periode di mana perubahan terjadi.
—
Metode penilaian persediaan manakah yang paling tepat untuk digunakan oleh perusahaan?
Tergantung pada jenis bisnis, dan metode FIFO sering digunakan pada saat kondisi inflasi, karena mencerminkan laba lebih besar.
Sebutkan apa saja metode penilaian persediaan?
- First in First out (FIFO)
- Last in Fisrt out (LIFO)
- Average Cost (Biaya rata-rata)
Bagaimana cara mengevaluasi persediaan?
- Menghitung dengan metode yang sesuai dengan jenis bisnis
- Membandingkan dengan harga pasar
- Memeriksa kondisi fisik dan kualitas persediaan.