Begini Cara Pencatatan Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah

Sejak beberapa waktu yang lalu sampai hari ini (31 Agustus 2018) masih terjadi fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat.

Fluktuasi nilai tukar rupiah tersebut tentu mempengaruhi aktivitas perusahaan, terutama perusahaan yang transaksi bisnisnya berkaitan dengan mata uang asing, terutama dollar Amrika Serikat.

Misalnya transaksi pembelian bahan baku dan bahan pembantu dari luar negeri, perusahaan yang meng-ekspor atau menjual hasil produksinya atau jasanya ke luar negeri.

Perubahan nilai tukar Rupiah yang terjadi secara cepat akan menyulitkan perusahaan. Mereka akan mengalami kesulitan untuk menentukan harga jual produk dan jasa.

Mengapa terjadi perbedaan nilai mata uang antara satu negara dan negara lain, mari saksikan sejenak penjelasannya dalam video berikut:

Dan mengingat pentingnya topik ini dan fluktuasi nilai tukar mata uang seringkali terjadi, maka Blog Manajemen Keuangan akan membahasnya.

Bagaimana cara melakukan pencatatan fluktuasi nilai tukar Rupiah tersebut?

Langsung saja mari dibahas bareng-bareng ya…

 

Pengaruh Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Elemen Laporan Laba Rugi dan Neraca

fluktuasi nilai tukar rupiah

Sebelumnya saya sarankan bagi yang belum tahu cara membuat Laporan Laba Rugi dan Laporan Posisi Keuangan (Neraca) serta ingin mengetahui cara yang mudah untuk membuatnya, anda dapat membacanya di artikel Laporan Laba Rugi dan Neraca.

Kenapa perlu mengetahui Laporan Laba Rugi dan Laporan Posisi Keuangan (Neraca)?

Iya, karena kita akan menggunakan elemen-elemen di laporan laba rugi dan neraca untuk menganalis transaksi dan kemudian melakukan pencatatan jurnal akuntansinya.

Sehingga kita harus mengetahui pada elemen-elemen apa saja perubahan kurs (nilai tukar) mata uang itu berpengaruh?

Perhatikan data-data berikut ini:

pengaruh perubahan nilai tukar rupiah

Menurut standar akuntansi keuangan (SAK) di Indonesia, transaksi yang terjadi dalam mata uang asing harus dicatat dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat terjadinya transaksi.

Aset dan kewajiban moneter yang tercantum dalam mata uang asing pada tanggal laporan posisi keuangan (neraca), harus dikonversikan ke dalam rupiah dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal laporan posisi keuangan (neraca), selisih kurs yang terjadi dibebankan atau dikreditkan pada laba rugi tahun berjalan.

Sedangkan yang dimaksud aset moneter adalah kas, bank, piutang, dan laibiltas moneter adalah liabilitas jangka pendek dan liabilitas jangka panjang.

Apa yang dimaksud dengan kurs tengah?

Kurs tengah adalah kurs beli ditambah kurs jual kemudian dibagi dua. Kalau dituliskan dalam sebuah formula adalah sebagai berikut:

Rumus Perhitungan Kurs Tengah BI
rumus perhitungan kurs tengah BI

Untuk memudahkan pemahaman tentang kurs tengah ini, saya sajikan contoh nilai kursus kurs tengah Bank Indonesia tanggal 28 Agustus 2018 sebagai berikut:

Kurs Tengah BI

Perhatikan grafik di atas, nilai kurs tengah Bank Indonesia per tanggal 28 Agustus 2018 adalah sebesar Rp 14.614.

Dari mana angka tersebut diperoleh?

Mari kita hitung…

Perhatikan elemen-elemen dalam rumus perhitungan kurs tengah di atas, yaitu ada kurs jual dan kurs beli.

Sekarang kita lihat nilai kurs beli dan kurs jual pada tanggal 28 Agustus 2018 adalah sebagai berikut:

Nilai Tukar Rupiah per 28-8-2018

Dari data di atas kita sudah mengetahui nilai tukar rupiah untuk 1 dollar Amerika sebesar Rp 14.541 untuk jual, sedangkan untuk kurs beli Rp 14.687

Sehingga kita bisa menghitung nilai kurs tengahnya dengan menggunakan rumus perhitungan kurs tengah seperti berikut ini:

= ( Kurs Beli + Kurs Jual ) : 2

= ( Rp 14.541 + Rp 14.687 ) : 2 = Rp 14.614

 

Pencatatan Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah

Bagaimana cara melakukan pencatatan jurnal akuntansi dari fluktuasi nilai tukar Rupiah?

Perhatikan contoh berikut:

Pada tanggal 31 Juli 2018 PT XYZ mempunyai saldo piutang dari PT ABC sebesar US$ 15.000 yang berasal dari penjualan produk tanggal 27 Juli 2018.

Pada tanggal 27 Juli 2018,  kurs 1 US$  adalah Rp 14.411 sehingga saldo per 31 Juli 2018 tercatat Rp 216.165.000

Berikut data kurs rupiah per tanggal 27 Juli 2018 yang diambil dari situs Bank Indonesia:

Kurs Rupiah BI - 27-7-2018

 

Sedangkan Kurs Bank Indonesia per 31 Juli 2018 adalah kurs beli 1 US$ = Rp 14.341 dan kurs jual 1 US$ = Rp 14.485.

Nilai Tukar Rupiah BI

Dengan menggunakan rumus perhitungan kurs tengah, kita bisa mengetahui kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal 31 Juli 2018 sebagai berikut:

= ( Rp 14.341 +  Rp 14.485 ) : 2 = Rp 14.413

Jadi saldo piutang PT XYZ per 31 Juli 2018 adalah Rp 216.195.000. Terdapat selisih sebesar Rp 30.000.

Pada tanggal 31 Juli 2018 harus dibuat jurnal koreksi untuk penyesuaian selisih nilai tukar rupiah seperti berikut:

Di PT XYZ:

(Debit) Piutang Rp 30.000
(Kredit) Laba Rugi Selisih Kurs Rp 30.000

Di PT ABC:

(Debit) Laba Rugi Selisih Kurs Rp 30.000
(Kredit) Utang  Rp. 30.000  

Ini contoh sederhananya, cara perhitungan dan pencatatan seperti ini ini juga digunakan di akhir periode satu tahun, yaitu di tanggal 31 Desember 2018.

Demikian pembahasan tentang Cara Melakukan Pencatatan Akuntansi Terhadap Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah. Mudah kan?

Semoga bermanfaat dan terima kasih.

***

manajemen keuangan dan SOP