3 Kebijakan Pembagian Dividen Saham, Mana Pilihan Anda?

Kebijakan pembagian dividen saham adalah persoalan menarik untuk dibahas, karena terdapat lebih dari satu pendapat. Dividen sebaiknya dibagi sebesar-besarnya, dibagi sekecil-kecilnya, atau lainnya?

Tujuan pembahasan topik ini adalah untuk menunjukkan logika yang mendasari kebijakan dividen. Dengan demikian diharapkan kita memahami dengan GAMBLANG,

“Mengapa perusahaan mengambil kebijakan tertentu, dan tidak memahami secara salah perlu tidaknya laba dibagi?”

Dan pada kesempatan ini, blog kesayangan Anda ini J akan membahas dengan tuntas tentang konsep dan framwork analisis untuk masalah-masalah tersebut.

Mari segera dimulai…

 

01. Kontroversi Kebijakan Dividen Saham

kebijakan dividen

Kebijakan dividen adalah menyangkut masalah penggunaan laba yang menjadi hak para pemegang saham.

Pada dasarnya laba tersebut bisa sebagai pembagian dividen saham atau ditahan untuk di-investasikan kembali.

Dengan demikian pertanyaannya seharusnya adalah kapan (artinya dalam keadaan seperti apa) laba akan dibagikan dan kapan akan ditahan, dengan tetap memperhatikan tujuan perusahaan yaitu meningkatkan nilai perusahaan.

Permasalahan kadang menjadi nampak rumit karena adanya alternatif pendanaan dari luar.

Dengan demikian dimungkinkan membagi laba sebagai  dividen, dan pada saat yang sama menerbitkan saham baru.

Ataukah lebih baik tidak membagi dividen dan juga tidak menerbitkan saham baru?

Apakah cara semacam ini memang membawa dampak yang berbeda bagi pemegang saham?

Peraturan pembagian dividen adalah perusahaan bisa membagikan dividen bukan dalam bentuk uang tunai tetapi dalam bentuk saham dan dikenal sebagai stock dividend.

Demikian juga perusahaan bisa membagikan dana ke pemegang saham dengan cara membeli kembali sebagian saham yang juga dikenal sebagai repurchase of stocks.

 

02. Kebijakan Pembagian Dividen Saham

kebijakan dividen manajemen keuangan

Ada 3 pendapat para ahli manajemen keuangan tentang kebijakan dividen adalah:

  • Pendapat yang menginginkan dividen dibagikan sebesar-besarnya
  • Pendapat yang mengatakan bahwa kebijakan dividen tidak relevan
  • Pendapat yang mengatakan bahwa perusahaan seharusnya justeru melakukan pembagian dividen saham sekecil mungkin.

Berikut ini penjelasan dari masing-masing pendapat para ahli tersebut…

 

#1: Pembagian Dividen Saham Sebesar-besarnya

Argumentasi pendapat bahwa dividen dibagi sebesar-besarnya adalah bahwa kebijakan dividen mempengaruhi harga saham.

Harga saham dipengaruhi oleh dividen yang dibayarkan.

Bila n = tak terhingga, maka harga saham (P0 ) bisa dirumuskan sebagai berikut:

cara pembagian dividen

Dengan demikian bila Dt ditingkatkan, bukankah harga saham akan menjadi lebih tinggi?

Argumentasi ini mempunyai kesalahan dalam hal bahwa peningkatan pembayaran dividen hanya dimungkinkan bila laba yang diperoleh oleh perusahaan juga meningkat.

Perusahaan tidak bisa membagikan dividen yang makin besar bila laba yang diperoleh tidak meningkat.

Memang benar kalau perusahaan mampu meningkatkan pembayaran dividen saham karena peningkatan laba, harga saham akan NAIK.

Pengaruh kebijakan dividen terhadap kenaikan harga saham tersebut disebabkan karena kenaikan laba bukan kenaikan pembayaran dividen saham .

Juga tidak benar jika perusahaan harus membagikan semua laba sebagai dividen, hanya karena perusahaan harus membagikan dividen sebesar-besarnya.

Laba dibenarkan untuk ditahan, jika dana tersebut bisa diinvestasikan dan menghasilkan tingkat keuntungan yang lebih besar dari biaya modalnya (investasi tersebut berarti memberikan NPV yang positif).

Perhatikan penjelasan contoh kebijakan dividen perusahaan berikut ini:

Misalkan perusahaan melaksanakan kebijakan dividen dengan contoh pembagian dividen saham pada tahun 1 sebesar Dt, pada tahun ke 2 sebesar D2 dan seterusnya.

Dengan demikian maka harga sahamnya adalah:

contoh pembagian dividen

Sekarang misalkan perusahaan tidak membagikan dividen pada tahun 1, dan menginvestasikan dividen tersebut selama satu tahun untuk kemudian membagikannya bersama-sama dividen pada tahun ke-2.

Bila selama satu tahun tersebut perusahaan menginvestasikan kembali dividen adalah menghasilkan tingkat keuntungan sebesar R, maka pada tahun ke-2 akan dibagikan:

[D(1+R) + D].

Dengan simulasi menggunakan turunan dari rumus di atas, maka diperoleh kesimpulan bahwa:

“dividen boleh saja tidak dibagikan, asal bisa diinvestasikan dan menghasilkan tingkat keuntungan yang lebih besar dari biaya modalnya”

Persamaan tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa keputusan investasilah yang akan membuat harga saham menjadi lebih besar atau lebih kecil.

Keputusan untuk menahan laba dan menginvestasikan dana tersebut, merupakan keputusan investasi.

Kita tahu bahwa bila investasi diharapkan akan memberikan tingkat keuntungan (internal rate of return) yang lebih besar dari biaya modalnya, maka investasi tersebut dapat dibenarkan.

Argumentasi inilah yang sebenarnya kita gunakan dalam analis di atas.

 

#2: Pembagian Dividen Saham Tidak Relevan

Kebijakan dividen tidak relevan adalah  kebijakan dividen perusahaan yang mengatakan bahwa perusahaan bisa saja membagikan dividen yang banyak atau sedikit.

Asalkan dimungkinkan menutup kekurangan dana dari sumber ekstern. Jadi yang penting adalah:

“Apakah investasi yang terrsedia diharapkan akan memberikan NPV yang positif, tidak peduli apakah dana yang digunakan untuk membayar berasal dari dalam perusahaan (menaham laba) atauakah dari luar perusahaan dengan menerbitkan saham baru?”

Dampak pilihan keputusan tersebut sama saja bagi kekayaan pemodal, atau keputusan dividen adalah tidak relevan (the irrelevant of dividend).

Untuk memperjelas penjelasan ini, perhatikan contoh perhitungan pembagian dividen berikut:

Misalkan suatu perusahaan mempunyai ringkasan neraca keuangan sederhana sebagai berikut:

PT Never Stop Learning (NSL)
Neraca
31/07/2019
(dalam jutaan Rp)

contoh Laporan Keuangan Sederhana

Bila terdapat 1.000.000 lembar saham PT Never Stop Learnig (NSL), maka setiap lembar saham harganya adalah Rp 8.050.

Misalkan pada tanggal tersebut tersedia kesempatan investasi yang diharapkan memberikan NPV sebesar Rp 200 juta, dan memerlukan dana sebesar Rp 1.000 juta.

Bila para pemegang saham memutuskan untuk mengambil investasi tersebut )tidak perlu menerbitkan saham baru, karena dana yang ada dalam perusahaan masih mencukupi),.

Maka neraca setelah mengambil kesempatan investasi tersebut akan nampak sebagai berikut:
Contoh Laporan Neraca
Neraca PT NSL, setelah mengambil investasi dengan NPV Rp 200 juta

Saldo kas turun menjadi Rp 50 juta karena sejumlah Rp 1.000 juta di investasikan. Karena NPV investasi tersebut sebesar Rp 200 juta, maka PV investasi adalah Rp 1.200 juta.

Dengan demikian harga saham per lembar naik menjadi Rp 8.250.

Sekarang misalkan para pemegang saham menginginkan membagi dividen per lembar saham Rp 1.000. tapi tetap ingin mengambil investasi dengan NPV Rp 200 juta tersebut.

Karena besarnya dividen saham yang dibagikan adalah Rp 1.000 juta, maka perusahaan perlu menerbitkan saham baru sebesar Rp 1.000 juta.

Kebijakan dividen terhadap harga saham setelah membagi dividen dan menerbitkan saham baru disajikan pada tabel berikut ini:

pembagian dividen dalam laporan keuangan
Neraca PT NSL, setelah mengambil investasi dengan NPV Rp 200 juta dan menerbitkan saham baru.

Sisi aktiva neraca tidak mengalami perubahan karena keputusan investasinya sama. Dengan kata lain, nilai perusahaan tetap sebesar Rp 8.250 juta seperti sebelumnya.

Karena perusahaan harus menerbitkan saham baru senilai Rp 1.000 juta, maka sekarang muncul rekening/akun baru, yaitu saham baru senilai Rp 1.000 juta.

Dengan demikian maka rekening saham lama menjadi sebesar Rp 7.250 juta (selisih antara Rp 8.250 dengan Rp 1.000 juta)

Apa artinya kondisi seperti ini?

Pemegang saham lama karena meminta meminta pembagian dividen sebesar Rp 1.000 per lembar, sekarang nilai sahamnya menjadi hanya Rp 7.250 per lembar.

Dengan kalimat lain, kekayaan pemegang saham lama tetap sebesar Rp 8.250, hanya saja sekarang sebagian dinyatakan dalam uang tunai sebesar Rp 1.000 dan saham senilai Rp 7.250.

Jumlah saham yang perlu diterbitkan adalah Rp 1.000 juta dibagi dengan Rp 7.250, yaitu sebesar 137.931 lembar.

Dengan demikian jumlah lembar saham meningkat menjadi 1.137.931.

 

#3: Pembagian Dividen Saham Sekecil-kecilnya

Pendapat bahwa dividen tidak relevan mendasarkan diri atas pemikiran bahwa membagikan dividen dan menggantinya dengan menerbitkan saham baru mempunyai dampak yang sama terhadap kekayaan pemegang saham (lama).

Analisis tersebut sayangnya mengabaikan adanya biaya emisi (floatation costs).

Bila perusahaan menerbitkan saham baru, perusahaan akan menanggung berbagai biaya yang disebut dengan floatation costs, seperti fee untuk underwriter, biaya notaris, akuntan, konsultan hukum, dan pendaftaran saham.

Besarnya biaya-biaya tersebut biasanya antara 2-4%.

Misalkan biaya-biaya tersebut mencapai 3%. Ini berarti bahwa bila perusahaan menerbitkan saham baru senilai Rp 1.000 juta, maka perusahaan harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 30 juta.

Sebagai akibatnya, jumlah yang diterima hanya sebesar Rp 970 juta.

Karena itu bila perusahaan memerlukan dana sebesar Rp 1.000 juta, dana yang harus ditarik dari masyarakat akan sebesar sebagai berikut:

= Rp 1.000 juta : 0,97
= Rp 1.031 juta (dibulatkan)

Dari jumlah ini, sebesar Rp 31 juta akan dikeluarkan sebagai biaya, sehingga jumlah bersih yang diterima adalah Rp 1.000 juta.

Jika kita kembali menggunakan contoh pembagian dividen saham yang sama seperti di atas, yaitu membagikan dividen dan menerbitkan saham baru, apa akibatnya?

Neraca/laporan poisisi keuangan yang baru akan nampak sebagai berikut:

pembagian dividen dalam akuntansi

Keadaan yang baru menunjukkan bahwa kekayaan pemegang saham lama sekarang hanya:
  • Penerimaan dividen sebesar = Rp 1.000 juta
  • Memiliki saham senilai = Rp 7.219
  • Jumlah : Rp 1.000 + Rp 7.219 = Rp 8,219 juta

Jumlah tersebut lebih kecil bila dibandingkan dengan tidak membagi dividen dan karenanya tidak perlu menerbitkan saham baru.

Mengapa bisa seperti itu?

Sederhana sekali.

Sebagian kekayaan tersebut diberikan kepada berbagai pihak sebagai floatation costs.

Jika memang kita memiliki dana untuk investasi, mengapa dana tersebut harus kita bagikan sebagai dividen sehingga kita perlu menerbitkan saham baru dan membiayai floatation costs?

Karena itulah mereka berpendapat bahwa dividen seharusnya dibagikan sekecil mungkin, sejauh dana tersebut bisa dipergunakan dengan menguntungkan.

 

03. Dana yang Dibagikan sebagai Dividen Saham

cara pembagian dividen

Dalam praktiknya pembagian dividen dikaitkan dengan laba yang diperoleh oleh perusahaan dan tersedia bagi pemegang saham.

Laba ini ditunjukkan dalam laporan laba rugi sebagai baris terakhir dalam laporan, karenanya disebut sebagai bottom line, dan disebut sebagai laba setelah pajak (earning after taxes, EAT).

Untuk itu perhatikan contoh laporan laba rugi berikut ini:

PT KAS Surabaya
Laporan Laba Rugi
31 Desember 2018

Contoh Laporan Laba Rugi perusahaan

Dengan melihat laporan laba rugi maka berikut diketahui bahwa laba setelah pajak yang diperoleh perusahaan pada tahun 2018 adalah sebesar Rp 4.000.

Angka ini kemudian digunakan sebagai dasar penentuan pembagian dividen dengan kata lain, perusahaan akan mengatakan bahwa jumlah maksimum dividen yang bisa dibagikan adalah Rp 450.

Kalau lebih dari jumlah tersebut, perusahaan berarti membagikan modal sendiri.

Apakah hal tersebut benar?

Kalau kita melihat kembali hubungan kebijakan dividen dengan fungsi manajemen keuangan, maka besarnya dana yang bisa dibagikan sebagai dividen atau diinvestasikan kembali bukanlah sama dengan laba setelah pajak.

Dana yang diperoleh dari hasil operasi selama satu periode tersebut adalah sebesar laba setelah pajak ditambah dengan penyusutan.

Meskipun demikian, bukan berarti bahwa kita bisa membagikan sejumlah ini sebagai dividen. Mengapa?

Karena kalau seluruh dana tersebut dibagikan sebagai dividen, maka perusahaan tidak akan bisa melakukan penggantian aktiva tetap di masa yang akan datang.

Jika ini yang terjadi maka kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba akan berkurang.

Dalam teori manajemen keuangan, jumlah dana yang bisa dibagikan sebagai dividen bisa dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:

D = E + Penyusutan – Investasi pada A.T – Penambahan M.K

Dalam hal ini:

  • D    = Dividen
  • E    = Laba setelah pajak
  • A.T = Aktiva tetap
  • M.K = Modal kerja

Persamaan tersebut menunjukkan bahwa dana yang bisa dibagikan sebagai dividen merupakan kelebihan dana yang diperoleh dari operasi perusahaan yaitu:

E + Penyusutan

Di atas keperluan investasi untuk menghasilkan laba di masa yang akan datang, yaitu investasi pada AT dan MK.

Hanya saja, untuk menyederhanakan analisis sering diasumsikan bahwa investasi pada aktiva tetap akan diambilkan dari dana penyusutan dan modal kerja dianggap tidak berubah, sehingga tidak perlu menambah modal kerja.

Bila asumsi ini digunakan, maka bisa dimengerti kalau besarnya D akan ditentukan oleh E. Maksimum D yang bisa dibagikan adalah sama dengan E.

Karena itulah bisa dimengerti mengapa dalam praktiknya digunakan laba bersih setelah pajak sebagai ukuran jumlah maksimum dana yang dibagikan sebagai dividen saham.

Bila dividen yang dibagikan misalnya hanya 40% dari E, maka ini berarti bahwa yang 60% digunakan untuk menambah dana dari penyusutan untuk investasi pada aktiva tetap dan penambahan modal kerja.

 

04. Teori Kebijakan Dividen Residual (Residual Decision of Dividend)

teori kebijakan dividen residual

Teori kebijakan dividen residual adalah kebijakan dividen perusahaan di mana jumlah dividen  yang dibagikan akan dipengaruhi oleh ada tidaknya kesempatan investasi yang menguntungkan.

Sejauh terdapat kesempatan investasi yang menguntungkan, yaitu investasi yang diharapkan memberikan NPV positif.

Maka dana yang diperoleh dari operasi perusahaan yang digunakan untuk mengambil investasi tersebut.

Kalau terdapat sisa, barulah sisa tersebut dibagikan sebagai dividen.

Pendapat ini dikenal sebagai residual decision of dividen.

Bila pendapat ini dianut, tentunya kita akan mengamati adanya pola pembayaran dividen yang sangat erratic.

Contoh kebijakan dividen residual, suatu saat perusahaan membagikan dividen sangat banyak, karena tidak ada investasi yang menguntungkan.

Pada saat yang lain perusahaan tidak membagikan dividen sama sekali, karena seluruh dana digunakan untuk investasi.

Apakah benar demikian?

Dalam praktiknya nampaknya perusahaan tidak menerapkan keputusan dividen sebagai residual decision .

Hal ini terlihat adanya kecenderungan perusahaan membayarkan dividen yang relatif stabil.

Juga terdapat kecenderungan bahwa perusahaan enggan menurunkan pembayaran dividen meskipun barangkali mengalami penurunan perolehan laba.

Dengan kata lain, keputusan dividen nampaknya menjadi keputusan aktif, dan bukan pasif.

Mengapa demikian?

Kemungkinan penyebabnya adalah bahwa dividen nampaknya mempunyai isi informasi (informational content of dividend).

Nampaknya peningkatan atau penurunan pembayaran dividen sering ditafsirkan sebagai keyakinan manajemen akan prospek perusahaan.

Apabila perusahaan meningkatkan pembayaran dividen, hal ini mungkin ditafsirkan sebagai harapan manajemen perusahaan akan membaiknya kinerja perusahaan di masa yang akan datang. Demikian pula bila terjadi sebaliknya.

Dengan demikian manajemen perusahaan akan enggan untuk mengurangi pembagian dividen, jika hal ini ditafsirkan memburuknya kondisi perusahaan di masa yang akan datang sehingga akan menurunkan harga saham.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa yang penting adalah apakah pembagian dividen tersebut ditangkap sebagai signal oleh para pemodal tentang prospek dan risiko perusahaan di masa yang akan datang.

Jadi tidak benar bahwa pemodal menyukai dividen karena penerimaan dividen merupakan penghasilan yang pasti dan kenaikan harga saham (capital gain) merupakan suatu yang tidak pasti.

Argumentasi yang disebut sebagai bird in hand argument tersebut tidaklah tepat.

Argumen tersebut mempunyai kesalahan bila peng-investasian kembali tersebut:
  • Diharapkan memberikan tingkat keuntungan yang lebih besar dari biaya modalnya, dengan kalimat lain, peng-investasi-an kembali tersebut diharapkan memberikan NPV Positif.
  • Semua pemodal mempunyai pengharapan yang sama, dan
  • Pasar modal efisien.

Maka pada waktu informasi tersebut diketahui oleh publik, harga saham akan segera menyesuaikan diri, dan naik sesuai dengan pengharapan para pemodal.

Dengan kata lain harga saham sudah naik sehingga pemodal bisa menjual saham tersebut dan merealisir capital gains, bukan lagi MENGHARAPKAN capital gains.

Yang menjadi permasalahn selanjutnya sebenarnya adalah dengan menjual saham untuk merealisir capital gains, pemodal harus membayar biaya transaksi tertentu dan seharusnya juga membayar pajak.

Sedangkan dengan menerima dividen, pemodal tidak perlu membayar biaya transaksi, tapi hanya membayar pajak.

 

05. Bagaimana Cara Menentukan Kebijakan Dividen?

contoh pembagian dividen

Berdasarkan penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa untuk menentukan cara pembagian dividen perlu memperhatikan faktor kebijakan dividen sebagai berikut:

Faktor #1:

Tidak benar bahwa perusahaan seharusnya membagikan dividen sebesar-besarnya.

Bila dana yang diperoleh dari operasi perusahaan bisa digunakan dengan menguntungkan, dividen tidak perlu dibagikan terlalu besar bahkan secara teoritis tidak perlu membagi dividen.

Faktor #2:

Karena ada ke-engganan untuk menurunkan pembayaran dividen per lembar saham, ada baiknya perusahaan menentukan dividen dalam jumlah dan rasio payout yang tidak terlalu besar.

Hal itu akan memudahkan perusahaan untk meningkatkan pembayaran dividen bila laba perusahaan meningkat, dan tidak perlu segera menurunkan pembayaran dividen bila laba perusahaan menurun.

Faktor #3:

Bila memang perusahaan menghadapi kesempatan investasi yang menguntungkan, lebih perusahaan mengurangi pembayaran dividen daripada menerbitkan saham baru.

Penurunan pembayaran dividen bisa jadi akan diikuti dengan penurunan harga saham, tapi bila pasar modal efisien, harga akan menyesuaikan kembali dengan informasi yang sebenarnya, yaitu adanya investasi yang menguntungkan.

Faktor #4:

Dalam keadaan tidak terdapat biaya transaksi, tambahan kekayaan karena kenaikan harga saham sama menariknya dengan tambahan kekayaan karena pembayaran dividen.

Masalahnya adalah bahwa untuk merealisir uang kas, pemegang saham perlu menjual sebagian saham, sedangkan pembayaran dividen berarti menerima kas yang tidak perlu menjual saham.

Jika pemodal menjual saham, mereka akan terkena biaya transaksi.

Dengan demikian, bila tidak ada faktor pajak, menerima dividen akan lebih menguntungkan daripada memperoleh capital gains.

Karena itulah sekelompok pemodal akan memilih saham yang membagikan dividen secara teratur.

Faktor #5:

Karena pemodal juga membayar pajak penghasilan, maka bagi pemodal yang sudah berada dalam tax bracket yang tinggi, akan lebih menyukai untuk tidak menerima dividen karena harus segera membayar pajak dan memilih menikmati capital gains.

Bila sebagian besar pemegang saham merupakan pemodal yang mempunyai tax bracket tinggi, pembagian dividen akan cenderung tidak terlalu besar.

Sebagai perbandingan:

Di Amerika Serikat pernah tarif pajak untuk capital gain lebih rendah dari tarif pajak untuk dividen.

Dengan demikian pemodal lebih menyukai untuk menerima tambahan kekayaan dalam bentuk capital gains dari pada dividen.

Hal itu karena tambahan kekayaan setelah pajak menjadi lebih besar.

 

06. Pembagian Dividen Saham, Pemecahan dan Pembelian Kembali Saham

pembagian dividen perusahaan

A. Pembagian Dividen Saham

Pembagian dividen dalam perseroan terbatas/PT diputuskan dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham).

Kadangkala perusahaan memutuskan untuk membagikan dividen dalam bentuk saham (stock dividend)

Apakah cara pembagian dividen seperti ini akan meningkatkan kekayaan pemegang saham?

Perhatikan contoh kebijakan dividen saham berikut ini:

Misalkan perusahaan memutuskan membagikan stock dividend sebesar 20%.

Hal ini berarti bahwa setiap pemilik sepuluh lembar saham akan memperoleh tambahan saham sebanyak dua lembar.

Sehingga jumlah lembar saham akan meningkat sebanyak 20%.

Keadaan sebelum membagikan stock dividend adalah sebagai berikut:
  • Laba setelah pajak = Rp 3.000
  • Jumlah lembar saham = 2.000.000
  • Laba per lembar saham, EPS = Rp 1.500
  • Harga saham = Rp 30.000
  • Price earning ratio, PER = 20x

Lalu apa yang akan terjadi dengan cara pembagian dividen seperti ini?

Jika setelah membagikan stock dividend PER ternyata tidak berubah (ini berarti bahwa para pemodal berpendapat bahwa prospek dan risiko perusahaan tidak berubah baik sebelum maupun setelah menerbitkan stock dividend.

  • Laba setelah pajak  = Rp 3.000
  • Jumlah lembar saham = Rp 2.400.000
  • Laba per lembar saham, EPS  = Rp 1.250
  • Price earning ratio, PER = 20x
  • Harga saham = Rp 25.000

Apa arti kondisi tersebut?

Jika semula, seorang pemodal memiliki 100 lembar saham dengan harga Rp 30.000, maka kekayaannya adalah Rp 3.000.000.

Setelah menerima stock dividend 20%, maka jumlah lembar sahamnya menjadi 120, tapi dengan harga hanya Rp 25.000. Kekayaannya tetap sebesar Rp 3.000.000

Perhatikan bahwa faktor kunci kebijakan dividen terhadap profitabilitas di sini adalah apakah para pemodal berpendapat bahwa prospek (profitability) dan risiko perusahaan berubah atau tidak setelah membagikan  stock dividend.

Misalkan para pemodal berpendapat bahwa profitabilitas perusahaan akan membaik, karena dana yang tidak dibagikan sebagai dividen tetapi diinvestasikan kembali diharapkan memberikan hasil yang menguntungkan, maka PER akan meningkat.

Apa akibatnya, jika peningkatan PER menjadi 21x?

Harga saham akan menjadi:

= 21 X Rp 1.250
= Rp 26.250

Meskipun harga ini lebih kecil dari harga semula, yaitu Rp 30.000, tetapi karena pemodal sekarang memiliki 120 lembar saham, maka nilai kekayaannya adalah:

= 120 X Rp 26.250
= Rp 3.150.000

Berarti terjadi peningkatan kekayaan sebesar Rp 150.000

 

B. Pemecahan Saham (stock split)

Kadang-kadang perusahaan melakukan pemecahan saham (stock split) sehingga jumlah lembar saham yang beredar menjadi lebih besar.

Tujuan pemecahan saham adalah untuk membuat saham tersebut lebih likuid dalam perdagangan, artinya lebih sering diperdagangkan.

Ketidak-likuidan saham seringkali disebabkan oleh dua unsur, yaitu:

#1: Harga saham terlalu mahal
#2: Jumlah lembar saham yang beredar terlalu sedikit

Apa fungsi kebijakan dividen perusahaan dengan melakukan pemecahan saham?

Dengan memecah saham, misalnya dari satu menjadi tiga, maka harga saham akan turun menjadi sepertiganya (jika prospek dan risiko tidak berubah) dan jumlah lembar saham akan meningkat tiga kali.

Akhirnya, perusahaan juga bisa mendistribusikan dana yang tidak diperlukan bukan dalam bentuk pembayaran dividen saham tetapi dalam bentuk membeli kembali sebagian saham (repurchase of shock)

Perhatikan contoh kebijakan dividen perusahaan berikut:

PT Bening mempunyai dana yang tidak bisa dipergunakan untuk investasi sehingga akan dibagikan kepada pemegang saham.

Jumlah dana ini sebesar Rp 1.200 juta. Saat ini kondisi perusahaan adalah sebagai berikut:

  • EPS = Rp 1.500
  • Jumlah lembar saham = 2.000.000
  • Harga saham = Rp 18.000
  • PER = 12X

Bila perusahaan membagikan dana tersebut sebagai dividen saham, maka dividend per share (DPS) adalah Rp 600.

Dengan demikian harga saham setelah diumumkan bahwa dividen per lembar saham akan sebesar Rp 600 akan naik menjadi Rp 18.600.

 

C. Pembelian Kembali Saham Perusahaan

Apakah kebijakan dividen mempengaruhi harga saham?

Perhatikan analisis kebijakan dividen PT Milenial Network berikut ini:

Misalkan perusahaan merencanakan untuk membeli sebagian saham sesuai dengan harga pasar.

Dengan dana sebesar Rp 1.200 juta bisa dibeli sejumlah 64.516 lembar.

Dengan demikian maka jumlah lembar saham akan berkurang menjadi 1.935.464 lembar. Jika prospek dan risiko perusahaan tidak berubah, maka:

  • EPS = Rp 1.550
  • Jumlah lembar saham = 1.935.484
  • PER = 12X
  • Harga saham = Rp 18.600

EPS naik menjadi Rp 1.550 karena laba setelah pajak adalah sebesar Rp 3.000 juta. Dengan jumlah lembar saham sekarang hanya sebesar 1.935.484, maka EPS menjadi Rp 1.550.

Karena PER tetap sebesar 12x, maka harga saham menjadi Rp 18.600.

Ini berarti bahwa pembagian dana tersebut sebagai dividen akan membuat kekayaan pemegang saham meningkat sebesar Rp 600, demikian juga kalau dilakukan pembelian sesuai dengan harga pasar.

Sejauh pembelian kembali saham tersebut dilakukan sesuai dengan harga pasar, maka bagi pemilik saham yang dibeli (mereka menerima harga Rp 18.600)

Dan yang tidak dibeli (harga sahamnya naik menjadi Rp 18.600) akan memperoleh manfaat yang sama.

 

07. Kesimpulan

Kebijakan dividen memiliki peran penting dalam keputusan investasi pendanaan.

Keputusan untuk membagi laba sebagai dividen saham ataukah menahannya untuk diinvestasikan kembali, adalah keputusan yang masih mengundang kontroversi.

Bila tidak diperhatikan kemungkinan adanya dana dari luar, maka secara teori manajemen keuangan, laba dibenarkan untuk diinvestasikan kembali bila dapat dipergunakan dan menghasilkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi dari biaya modal sendiri.

Bila diperhatikan kemungkinan adanya pendanaan eksternal, maka pembagian dividen saham dapat dikompensir dengan penerbitan saham baru.

Dalam situasi seperti ini, maka kebijakan dividen menjadi tidak relevan bila kita berbicara tentang kondisi pasar modal sempurna.

Tapi menjadi relevan bila diperhatikan adanya biaya emisi.

Pada saat ada biaya emisi, penahanan laba lebih baik, dari pada membagi dividen saham dan menerbitkan saham baru.

Pembagian dividen saham hanya akan mempengaruhi harga saham bila dengan pembagian tersebut para pemodal berubah pengharapan mereka terhadap prospek dan risiko perusahaan.

Dalam situasi seperti itu, pembagian dividen saham sapat menaikkan atau menurunkan harga saham.

Tapi jika para pemodal tidak berubah pengharapan mereka, maka kebijakan dividen tidak akan mempengaruhi harga saham.

Dividen saham juga mungkin dibagikan dalam bentuk saham (stock dividen). Perusahaan juga dapat membagikan dana dengan cara membeli kembali sebagian saham (stock repurchase).

Kedua cara tersebut tidak akan mempengaruhi kemakmuran para pemegang saham bila:
  1. Pasar pemodal tidak merubah pengharapan mereka
  2. Pembelian saham dilakukan dengan harga yang wajar (market price)

Di samping dua cara tersebut, perusahaan seringkali memecah saham dengan maksud agar saham yang bersangkutan menjadi lebih likuid diperdagangkan.

Dan bila Anda ingin menerapkan sistem keuangan untuk mencatat jurnal pembagian dividen sesuai dengan standar akuntansi keuangan (SAK) langsung saja ke: SOP Finance dengan Accounting Toola untuk mendukung pelaksanaan standar operasional prosedur tersebut di lapangan.

Demikian yang dapat saya bagikan tentang kebijakan pembagian dividen saham.

Mudah-mudahan bermanfaat.

***

manajemen keuangan dan SOP