Mengenal Program Pemberian Saham Kepada Karyawan

Program pemberian saham kepada karyawan adalah salah satu insentif yang diberikan perusahaan kepada pegawainya.

Insentif lain bisa juga berupa bonus saham untuk karyawan.

Bagaimana mekanisme perlakuan akuntansi program tersebut?

Yuk ikuti pembahasannya…

 

#1: Sistem Pemberian Saham Kepada Karyawan

pendaftaran msop/esop

Terkadang seorang karyawan yang bekerja di perusahaan ‘cuek’ dengan kondisi perusahaan.

“yang penting tiap bulan saya digaji  tepat waktu” begitu salah satu komentarnya.

Komentar seperti itu mengindikasikan bahwa karyawan ‘hanya’ bekerja.

Mereka kurang peduli pada kondisi umum dari perusahaan.

Pokoknya kalau sudah dapat gaji tepat waktu dianggap selesai.

Bila kondisi perekonomian makro bagus

Dan kondisi perusahaan juga baik-baik saja, maka karyawan juga akan baik-baik saja.

Namun bila kondisi sebaliknya, maka karyawan yang ‘cuek’ akan terkejut bila waktu penggajian terlambat atau bahkan PHK.

Oleh karena itu, agar karyawan merasa memiliki dan peduli kepada perusahaan, maka mereka diberikan hak untuk diberi raining dan pelatihan karyawan  serta kepemilikan saham perusahaan.

Menarik banget kan?

Perusahaan bisa memberikan hak beli pada pegawai-pegawainya untuk membeli saham di masa yang akan datang dengan harga yang sudah ditentukan.

Program ini dikenal dengan ESOP (Employee Stock Option Program) dan Management Stock Option Program (MSOP).

Pengertian ESOP adalah program kepemilikan saham yang diberikan perusahaan karyawan-karyawannya sebagai bentuk kompensasi perusahaan kepada pegawainya.

Sedangkan MSOP adalah adalah program kepemilikan saham yang diberikan perusahaan kepada Direksi dan Dewan Komisaris dalam rangka kompensasi kepada mereka.

Pemberian hak pada pegawai ini dimaksudkan untuk memberikan kompensasi tambahan atas jasa-jasa yang sudah dan akan diberikan.

Selain itu agar pegawai dapat ikut memiliki perusahaan tempatnya bekerja.

 

#2: Perlakuan Akuntansi Pemberian Saham Kepada Karyawan

pertanyaan tentang esop

Program pemberian saham kepada karyawan diberikan dengan kelonggaran bahwa pembelian bisa dilakukan selama suatu periode tertentu.

Bila ada kenaikan harga pasar saham selama periode pembelian itu maka kenaikan di atas harga beli berdasar hak beli tadi merupakan tambahan kompensasi bagi pegwai.

Biasanya hak beli untuk pegawai ini dibatasi agar tidak dapat dijual pada pihak lain.

Pengeluaran hak beli saham dan penggunaan hak beli saham untuk membeli saham akan dicatat dalam buku.

Hak beli saham atau disebut sebagai jumlah kompensasi adalah selisih antara harga pasr saham “pasar tanggal pemberian hak itu pada pegawai” dengan harga penjualan dengan menggunakan hak beli saham.

Sebagai ilustrasi, perhatikan contoh sebagai berikut :

PT Manajemen Network Berbagi Sejahtera memberikan hak beli saham untuk tiga orang pegawai. Masing-masing untuk membeli 50 lembar saham biasa nominal @ Rp. 1000.

Saham bisa dibeli mulai tahun ketiga sesudah hak diberikan dan sudah harus dibeli sebelum jangka waktu 10 tahun.

Harga saham dengan menggunakan hak beli adalah Rp. 1.500,- per lembar.

Harga pasar saham pada saat pemberian hak adalah Rp. 2.000 per lembar.

Nilai hak beli saham atau jumlah kompensasi dihitung sebagai berikut :

Harga pasar pada saat pemberian hak 150 lembar @ Rp. 2.000,- :

= 150 x Rp. 2.000 = Rp. 300.000

Harga saham dengan menggunakan hak beli  150 lembar @ Rp. 1.500,- :

= 150 x Rp. 1.500,- = Rp. 225.000

Nilai hak beli saham atau jumlah kompensasi :

Rp. 300.000 – Rp. 225.000 = Rp. 75.000,-

Jurnal umum untuk mencatat pemberian hak beli saham :

Laba Tidak Dibagi                                Rp. 75.000
Hak Beli Saham Biasa yang Beredar                  Rp. 75.000

Apabila hak beli saham dipakai untuk membeli saham, maka oleh perusahaan dicatat dengan jurnal sebagai berikut:

 

jurnal pencatatan saham

 

Pemberian hak beli saham dibebankan pada rekening Laba Tidak Dibagi.

Bila hak beli saham diberikan sebagai kompensasi jasa pegawai yang diserahkan di masa lalu.

Jika hak beli saham diberikan untuk kompensasi jasa pegawai di masa yang akan datang maka pemberian hak beli saham ini akan dicatat dalam rekening Beban Ditangguhkan (Deffered Charges).

Dan akan diamortisasi selama masa penerimaan jasa dari pegawai yang bersangkutan di masa yang akan datang.

Dalam contoh di atas, pegawai menggunakan hak belinya untuk membeli saham.

Tapi bila harga pasar saham turun sampai dibawah harga jual dengan menggunakan hak beli saham, maka pegawai tidak akan menggunakan hak belinya.

Jika hak beli tidak dipakai sampai habis waktunya maka dibuat jurnal untuk menghapus rekening Hak Beli Saham yang Beredar sebagai berikut :

Hak Beli Saham Biasa yang Beredar               Rp. 75.000
Modal Hak Beli Saham yang Tidak Dipakai                 Rp. 75.000

Hak beli saham yang beredar akan dilaporkan dalam Neraca sebagai elemen modal yang disetor yaitu dibawah MODAL SAHAM.

Bagaimana sampai di sini, mudah-mudahan cukup jelas ya?

Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat.

***

manajemen keuangan dan SOP