Pengantar Akuntansi: Konsep Biaya dan Entitas Bisnis

Pengantar Akuntansi: Konsep Biaya dan Entitas

Penggunakan akuntansi dalam mendukung bisnis yang berorientasi profit maupun non profit tak bisa dilepaskan dari konsep dasar akuntansi.

Konsep dan materi dasar akuntansi menjadi landasan pokok serta kerangka dasar dalam mengidentifikasi aktivitas-aktivitas bisnis yang ujungnya adalah berupa laporan keuangan.

Bila kita salah mengidentifikasi sebuah aktivitas bisnis, maka laporan keuangan yang merupakan rangkuman dari aktivitas-aktivitas yang terjadi dalam sebuah bisnis pun akan tidak akurat.

Akibatnya selanjutnya pun kita paham, yaitu analisis strategi yang digunakan untuk masa mendatang pun meleset, sehingga entitas bisnis atau perusahaan mengalami kerugian bahkan bisa bangkrut.

Nah, kali ini kita akan membahas tentang dua konsep dasar akuntansi yaitu biaya dan entitas bisnis.

*

1. Konsep Biaya

Perhatikan contoh berikut ini:

Jika sebidang tanah dengan bangunan yang berdiri di atasnya dibeli dengan harga Rp 250.000.000, maka jumlah itulah yang harus dicatat di pembukuan pembelian tanah dan bangunan.

Pihak penjual mungkin menawarkan harga Rp 300.000.000. Pihak pembeli, bisa jadi awalnya menawar tanah dan bangunan tersebut sebesar Rp 200.000.000.

Dan untuk keperluan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) mungkin juga tanah dan bangunan tersebut dinilai sebesar Rp. 225.000.000.

Dan pembeli mungkin juga bisa mendapat tawaran dari pihak lain sebesar Rp 275.000.000, setelah tanah dan bangunan tersebut dibeli.

Nilai-nilai yang disebutkan di atas tidak memiliki pengaruh terhadap pembukuan karena bukan merupakan nilai pertukaran tanah dan bangunan dari penjual ke pembeli.

Konsep biaya (cost concept) adalah dasar untuk menentukan nilai tukar (exchange price), atau biaya, yaitu sebesar Rp 250.000.000 yang dicatat dalam pembukuan atas perolehan tanah dan bangunan tersebut.

Dari contoh di atas, misalnya tawaran dari pihak lain sebesar Rp 275.000.000 atas tanah dan bangunan yang telah dibeli menunjukkan bahwa pembeli berhasil mendapatkan tanah dan bangunan dengan harga murah, yaitu Rp 250.000.000.

Namun, pencatatan Rp 275.000.000 dalam pembukuan akan menyebabkan pencatatan yang salah atas keuntungan yang belum terjadi.

Jika setelah membeli tanah dan bangunan, pembeli menerima tawaran dan menjual kepada pihak lain seharga Rp 275.000.000, maka keuntungan sebesar Rp 25.000.000 dapat diakui dan selanjutnya dicatat.

Pemilik yang baru akan mencatat Rp 175.000.000 sebagai biaya perolehan tanah dan bangunan.

Konsep Biaya

Menggunakan konsep biaya akan melibatkan dua konsep penting akuntansi lainnya yaitu: 1) obyektifitas, dan 2) unit ukuran.

Konsep obyektifitas (objectivity concept) mengharuskan pencatatan dan pelaporan akuntansi didasarkan pada bukti yang obyektif.

Dalam pertukaran antara pembeli dan penjual, kedua pihak ingin mendapatkan harga terbaik. Hanya nilai akhir yang disepakati yang dikatakan obyektif untuk keperluan akuntansi.

Bila jumlah yang dicatat secara terus menerus direvisi naik dan turun berdasarkan tawaran, penilaian dan opini, maka laporan akuntansi dapat menjadi tidak stabil dan tidak dapat diandalkan.

Konsep unit pengukuran (unit of measure concept) mengharuskan data ekonomi dicatat dalam satuan mata uang, seperti rupiah Indonesia, dolar Amerika Serikat, ringgit Malaysia.

Uang adalah unit pengukuran yang umum digunakan untuk keseragaman pelaporan data keuangan.

Untuk mereview kembali pemahaman kita, perhatikan contoh soal berikut ini:

Pada tanggal 20 Maret 2018, PT Manajemen Keuangan Network mengajukan penawaran sebidang tanah di Surabaya Timur sebesar Rp 225.000.000, yang oleh pemiliknya semula ditawarkan seharga Rp 250.000.000.

Pada tanggal 10 April 2018, PT Manajemen Keuangan Network dan pemilik tanah sepakat pada harga Rp 235.000.000.

Pada tanggal 12 April 2018, tanah dinilai sebesar Rp 100.000.000 oleh kantor pajak untuk perhitungan pajak bumi dan bangunan (PBB).

Pada tanggal 21 April 2018, PT Manajemen Keuangan Network mandapat penawaran Rp 260.000.000 untuk tanah tersebut dari perusahaan lain.

Pada harga berapakah seharusnya tanah itu dicatat di pembukuan PT Manajemen Keuangan Network pada tanggal 30 April 2018?

Solusi:

Pada tanggal 30 April 2018, PT Manajemen Keuangan Network mencatat pada harga Rp. 235.000.000. Sebagaimana kita pahami bahwa dalam konsep biaya, nilai tanah harus dicatat sebesar biaya pertukaran.

Bagaimana, mudah kan?

 

2. Konsep Entitas Bisnis

Unit bisnis adalah entitas bisnis di mana data ekonomi diperlukan. Entitas ini bisa berupa toko, bengkel, showroom mobil, atau pabrik.

Entitas bisnis harus diidentifikasi, sehingga pegawai accounting dapat menentukan data ekonomi mana yang perlu dianalisis, dicatat dan dirangkum dalam laporan.

Konsep entitas bisnis (business entity concept) penting karena konsep ini membatasi data ekonomi dalam sistem akuntansi ke data yang berhubungan langsung dengan aktivitas usaha.

Dengan kata lain, bisnis dipandang sebagai entitas terpisah dari pemilik, kreditor, atau pihak pemangku kepentingan lainnya.

Sebagai contoh, pegawai accounting atau seorang akuntan perusahaan yang dimiliki oleh satu orang (perusahaan perseorangan) akan mencatat aktivitas-aktivitas bisnis saja, bukan aktivitas, aset, atau utang pribadi dari pemilik perusahaan.

 

3. Jenis Entitas Bisnis

Bentuk entitas bisnis yang umum di Indonesia adalah perusahaan perseorangan, persekutuan, perseroan dan koperasi.

Apa saja karakteristik dari ke-empat jenis entitas tersebut?

Yuk dibahas satu per satu …

Perusahaan Perseorangan:

  • Dimiliki oleh satu individu
  • Kebanyakan entitas bisnis di Indonesia dan dunia adalah perusahaan perseorangan
  • Biaya pendirian dan pengelolaan rendah
  • Bergantung ada sumber daya keuangan pemilik usaha
  • Diterapkan oleh usaha kecil

Persekutuan:

  • Mirip perusahaan perseorangan tapi dimiliki oleh dua atau lebih individu.
  • Di Indonesia kita mengenal Firma dan CV sebagai jenis persekutuan.
  • Menggabungkan kemampuan dan sumber daya lebih dari satu orang.

Perseroan:

  • Diatur dalam peraturan perundang-undangan sebagai entitas hukum terpisah yang dikenakan pajak.
  • Kepemilikan berdasarkan jumlah saham yang dijual ke pemegang saham.
  • Dapat memperoleh sumber dana dalam jumlah besar dengan cara mengeluarkan saham.
  • Diterapkan oleh usaha berskala besar.

Koperasi:

  • Dimiliki oleh sekelompok orang, yang biasanya diakui sebagai anggota. Koperasi dijalankan oleh dan untuk anggota saja. Sebagai contoh, koperasi karyawan, koperasi pengusaha sepatu dan tas, koperasi nelayan.

Lalu jenis usaha/bisnis apa saja yang bisa dijalankan oleh ke-empat entitas bisnis tersebut?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, sebaiknya kita pelajari dulu jenis-jenis bisnis. Secara garis besar ada 3 kelompok jenis bisnis yaitu: 1) Bisnis Jasa, 2)Bisnis Dagang, 3) Bisnis Manufaktur.

Usaha Jasa Perhotelan

Bisnis Jasa

Usaha atau bisnis yang menyediakan jasa untuk pelanggan. Contoh:

  • Bank Mandiri, Jasa Keuangan.
  • Telkom, Jasa Telekomunikasi.
  • Hotel Indonesia, Jasa Perhotelan.
  • PT Kereta Api, Jasa Transportasi dan Logistik.

Usaha Dagang Buku

Bisnis Dagang

Usaha atau bisnis yang menjual produk yang diperoleh dari pihak lain ke pelanggan. Perusahaan seperti ini disebut peritel, yang mempertemukan produk dan pelanggan di satu tempat.

Contoh:

  • Alfa Retailindo Tbk, Usaha Dagang dengan menjual barang konsumsi.
  • Toko Gunung Agung Tbk, Usaha dagang dengan menjual buku dan alat tulis.
  • Matahari Putra Prima Tbk, Usaha dagang yang menjual pakaian.

Usaha Manufaktur - Pabrik

Bisnis Manufaktur

Usaha atau bisnis yang mengubah input dasar menjadi produk yang dijual kepada pelanggan individu.

Contoh:

  • Kalbe Farma Tbk, usaha manufaktur yang memproduksi obat-obatan.
  • Krakatau Steel Tbk, usaha manufaktur yang memproduksi baja.
  • Gudang Garam Tbk, usaha manufaktur memproduksi rokok.

Pada dasarnya ke-empat jenis entitas bisnis itu, yaitu perusahaan perseorangan, persekutuan, perseroan, dan koperasi bisa menjalan jenis bisnis jasa, dagang, dan manufaktur.

Namun demikian tidak semua jenis entitas bisnis tersebut mampu menjalankan ketiga jenis bisnis itu.

Misalnya jenis bisnis manufaktur. Untuk mengelola usaha/bisnis di bidang manufaktur diperlukan sumber dana dalam jumlah besar, sehingga kebanyakan usaha ini berbentuk perseroan terbatas.

Demikian juga dengan peritel besar, biasanya dijalankan oleh entitas bisnis yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT).

 

4. Kesimpulan

Dari pembahasan secara rinci di atas sebenar sudah cukup jelas, sehingga dalam kesimpulan ini kami hanya ingin menekankan arti pentingnya mempelajari dan memahami konsep dasar dari sebuah bidang keilmuan, termasuk akuntansi.

Tidak perlu sampai pada tahapan yang njlimet ke dasar-dasar filosofisnya, dan kalaupun sampai ke tahap itu juga tak ada salahnya 🙂

Sehingga saat ilmu tersebut di-aplikasikan dalam dunia nyata menjadi tools yang powerful dan bermanfaat. Bukan sekedar sebutan keren tanpa isi nan abal-abal.

*