Mengenal Akuntansi Perbankan [Pengertian, Konsep, Prinsip, Persamaan Dasar, Contoh]

Pengertian akuntansi sangat perlu dipahami untuk mengelola informasi yang digunakan manajemen bank dalam proses pengambilan keputusan.

Dengan akuntansi, informasi dapat disajikan tepat waktu dan relevan untuk pengambilan keputusan.

Dalam akuntansi, konsistensi metode, teknik dan prinsip tetap dipelihara untuk keseragaman persepsi.

Keseragaman persepsi akan membuat akuntansi tidak hanya dapat digunakan untuk kepentingan internal, tapi juga pihak-pihak eksternal yang membutuhkan informasi akuntansi.

 

01. Pengertian Akuntansi

pengertian akuntansi menurut aicpa

A. Mengapa Perlu Memahami Pengertian Akuntansi?

Memahami tentang pengertian akuntansi sangat bermanfaat bagi pemilik perusahaan dan menajemen perusahaan.

Sebagai contoh:

Akuntansi digunakan untuk ‘mencatat angka’.

Jika seorang manajer suatu perusahaan tidak tahu angkanya, maka ia tidak akan tahu apakah tindakan yang dilakukannya tepat atau tidak.

So, bagaimana ia bisa menentukan keputusan strategis?

“Masa nunggu wangsit dari langit” 🙂

Satu contoh lagi…

Jika anda sebagai mahasiswa atau pelajar dan menjalani ujian, tapi tidak diberi tahu nilai yang diperoleh, maka anda akan kesulitan untuk meningkatkan nilai anda.

Hal yang sama berlaku pula di dunia usaha, jika manajemen perusahaan tidak memahami laporan keuangan, maka mereka tidak dapat menilai efek dari tindakan yang dilakukanya.

Jadi tidak hanya para akuntan yang perlu memahami pengertian akuntansi dan bagaimana membuat serta menganalisis laporan keuangan dan Siklus Akuntansi Lengkap dari A hingga Z.

Namun, semua orang yang terlibat dalam dunia usaha, baik usaha dagang, jasa, manufaktur perlu mengatahui akuntansi.

“Tipis-tipis saja juga boleh, nggak perlu sampai detil”

Sampai di sini saya rasa paham ya…

 

B. Sekilas tentang Sejarah Akuntansi

Bagaimanakah sejarah perkembangan akuntansi hingga kini?

Sejarah terbentuknya akuntansi dimulai dari ribuan tahun silam, individu atau keluarga mampu untuk hidup sendiri, artinya mereka mencari makan sendiri, membuat pakaian sendiri, dan membangun tempat tinggal sendiri.

Kemudian, dimulailah spesialisasi, di mana beberapa orang menjadi mahir dalam membuat tembikar, mata panah, pakaian dan lainnya.

Ketika spesialisai dimulai, begitu pula dengan perdagangan, yang awalnya dalam bentuk pertukaran (barter).

Pada awalnya, setiap pengrajin bekerja sendirian dan perdagangan sepenuhnya masih dilakukan secara lokal.

Namun para ahli pengrajin lama kelamaan membuat pabrik-pabrik kecil dan mempekerjakan buruh,

Yang yang kala itu dalam bentuk kulit kerang mulai digunakan, dan perdagangan meluas tidak terbatas di daerah lokal saja.

Seiring dengan perkembangan ini, dimulailah bentuk primitif dari perbankan.

Pedagang kaya yang meminjamkan hasil keuntungannya dari transaksi-transaksi yang telah lalu kepada pemilik pabrik swasta yang membutuhkan uang untuk membeli kereta kuda, kapal dan barang dagangan.

Ketika pinjaman pertama diberikan, pihak pemberi pinjaman dapat secara fisik memeriksa harta pihak peminjam dan menilai kemungkinan pinjaman tersebut dilunasi.

Namun, lama-kelamaan, keadaan menjadi makin komplek.

Peminjam mulai mengembangkan pabrik-pabrik besar, pedagang membeli armada kapal dan kereta barang, dan pinjaman diberikan untuk mengembangkan tambang dan pos perdagangan yang jaraknya jauh.

Pada titik tersebut, para pemberi pinjaman tidak dapat lagi memeriksa sendiri harta yang mendukung pinjaman mereka, dan mereka membutuhkan suatu cara untuk meng-ikhtisarkan harta dari si peminjam.

Beberapa investasi juga dibuat atas dasar bagi hasil, dan ini berarti laba harus ditentukan.

Pada waktu yang sama, pemilik pabrik dan pedagang besar membutuhkan LAPORAN untuk melihat seberapa efektif perusahaan mereka telah dijalankan dan pemerintah informasi yang dapat digunakan untuk menilai pajak.

Semua alasan tersebut, menyebabkan munculnya kebutuhan akan adanya LAPORAN KEUANGAN, adanya kebutuhan akan AKUNTAN untuk membuat laporan tersebut.

Dan AUDITOR untuk memverifikasi keakuratan hasil pekerjaan akuntan.

Sistem ekonomi telah berkembang pesat sejak awal dimulainya, dan akuntansi menjadi makin kompleks.

Namun alasan-alasan awal adanya laporan keuangan masih tetap berlaku, yaitu :

  • Bankir dan investor membutuhkan informasi akuntansi untuk mengambil keputusan brilian dan cerdas.
  • Manajer membutuhkannya untuk meng-operasikan usaha secara efisien.
  • Badan perpajakan membutuhkannya untuk menilai pajak dengan cara yang wajar.

 

C. Definisi Akuntansi

pengertian akuntansi keuangan

Lalu sebenarnya apa pengertian akuntansi?

Pengertian akuntansi menurut AICPA – Committee on Terminology of The American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) bahwa akuntansi adalah seni mencatat, menggolongkan dan mengikhtisarkan transaksi dan peristiwa yang paling tidak sebagian bersifat keuangan dengan suatu cara yang bermakna dan dalam satuan uang, serta menginterpretasikan hasil-hasilnya.

Ada juga yang mendefinisikan bahwa akuntansi adalah seni, juga dipandang sebagai bahasa dunia usaha, yaitu sebagai sarana untuk mengkomunikasikan informasi tentang suatu perusahaan.

Akuntansi juga bisa didefinisikan sebagai:

#1: Konsep informasi

Sebagai konsep informasi, akuntansi adalah aktivitas jasa yang menyediakan informasi kuantitatif terutama yang bersifat keuangan, tentang kesatuan-kesatuan ekonomi yang dimaksudkan agar bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi, dalam menetapkan pilihan yang pantas di antara berbagai alternatif tindakan.

#2: Sistem informasi.

Akuntansi sebagai sistem informasi adalah proses yang menjalin sumber informasi, saluran komunikasi dan seperangkat penerima.

Pandangan ini menekankan pada konseptual dan empiris, maksudnya adalah:

#1. Diasumsikan bahwa sistem akuntansi adalah satu-satunya sistem pengukuran yang formal suatu organisasi.

#2: Pandangan ini menimbulkan kemungkinan peranscangan suatu sistem akuntansi secara opsional yang mampu menyediakan informasi yang berguna bagi semua pemakai.

#3: Menekankan pentingnya pengirim akuntansi(akuntan) dan penerima akuntansi (pemakai).

Dengan melihat berbagai definisi akuntansi, pengertian akuntansi secara umum adalah sebagai seni, ilmu, sistem informasi yang di dalamnya menyangkut pencatatan, pengklasifikasian, dan pengikhtisarkan dengan cara sepatutnya dan dalam satuan uang atas transaksi dan kejadian yang setidak-tidaknya sebagian mempunyai sifat keuangan serta adanya penginterpretasikan hasil pencatatan dan disajikan dalam laporan keuangan.

Agar fungsi akuntansi dapat tercapai, yaitu menyediakan data yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan, maka disusun prinsip akuntansi.

Penyusunan prinsip akuntansi didasarkan pada asumsi-asumsi dan konsep-konsep dasar.

Hubungan itu bisa dijelaskan dengan gambar berikut:

Selanjutnya yuk kita lanjutkan pembahasannya tentang konsep, prinsip, dan persamaan dasar akuntansi perbankan.

 

02. Kerangka Konsep Akuntansi

konsep akuntansi

Kerangka konsep akuntansi adalah suatu sistem pertalian yang erat (koheren) dari tujuan dan konsep-konsep dasar yang saling berhubungan dan saling mengarahkan terciptanya prinsip-prinsip yang konsisten serta menggambarkan sifat, fungsi dan keterbatasan akuntansi besera laporan keuangan.

Sebagai konsep tentu akan memberikan manfaat bagi perkembangan akuntansi atau sebaliknya perkembangan perkembangan akuntansi yang memberikan manfaat bagi konsep dasar akuntansi.

Oleh karena itu, dalam menghadapi persoalan akuntansi hendaknya dapat dikembalikan pada konsep dasarnya.

Kerangka konseptual akuntansi menjadi sangat penting untuk dipahami, karena dengan kerangka ini akan dapat dirumuskan prinsip-prinsip akuntansi yang dapat menjadi acuan bagipara pemakau informasi akuntansi.

Dan selanjutnya hal ini akan mendasari praktek akuntansi. Di samping itu sebagai kerangka dasar setiap perubahan atau perkembangan akuntansi yang sulit dipecahkan.

Maka harus dilandasi kerangka konseptual ini dalam setiap memecahkan masalah-masalah yang berkembang dan berkaitan dengan akuntansi tersebut.

Dengan kerangka konseptual juga akan dihasilkan tujuan dan dasar-dasar praktik akuntansi dan pelaporan keuangan.

Dengan demikian hal ini akan memudahkan para pemakai dalam memahami tujuan, isi, dan karakteristik informasi yang dihasilkan oleh akuntansi.

Kerangka konseptual juga akan memberikan pedoman untuk memilih alternatif yang mencerminkan posisi keuangan dan hasil operasi dengan cara yang paling akurat dalam lingkungan tersebut.

Setiap jenis usaha mempunyai karakteristik yang berbeda sehingga informasi yang dihasilkan pun juga berbeda.

Padahal untuk menilai aktivitas diperlukan keseragaman persepsi mengenai informasi tersebut.

Dalam konteks ini, maka peran pemasok informasi harus dapat mengembangkan dan bersikap profesional, agar informasi yang diperlakukan oleh pengambil keputusan tidak MENYESATKAN.

Dengan demikian kerangka konseptual akuntansi sangat berguna dalam menyajikan informasi yang dapat diterima oleh semua pihak dalam berbagai lapangan usaha.

Bagaimanakah kerangka konsep akuntansi dibangun?

Kerangka konseptual akuntansi dibangun dari 3 tingkatan:

  • Tingkatan #1: Tujuan pokok akuntansi
  • Tingkatan #2: Konsep dasar pelaporan yang terdiri dari karakteristik informasi dan elemen laporan keuangan. Tujuan pokok dan konsep dasar pelaporan tersebut selanjutnya digunakan pada tingkatan ketiga.
  • Tingkatan #3: Menyusun pedoman pelaksanaan. Pedoman pelaksanaan ini harus memperhatikan:
    • prinsip akuntansi
    • asumsi dan konsep dasar akuntansi
    • kendala atau keterbatasan akuntansi.

Tiga tingkatan ini bila diilustrasikan dengan sebuah gambar adalah seperti berikut:

pengertian akuntansi tujuan peran asumsi prinsip konsep dasar

 

Mari ditelisik satu per satu ya…

A. Tujuan Pokok Akuntansi

Tujuan utama akuntansi adalah tujuan umum laporan keuangan yaitu memberikan informasi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan bagi para pemakainya.

Untuk dapat menyampaikan informasi tersebut harus menggunakan alat atau media berupa laporan keuangan.

Secara khusus laporan keuangan harus mencapai tujuan memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai:

  • Posisi aktiva
  • Hutang dan Modal beserta perubahannya

Sehingga dapat digunakan untuk menaksir :

  • Prospek arus kas
  • Kondisi keuangan
  • Prsetasi
  • Potensi perusahaan atau bank dalam menghasilkan laba
  • Dapat menjelaskan bagaimana dana diperoleh dan digunakan
Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi yang dibutuhkan oleh pengambil keputusan.

Ini berarti tujuan tersebut dapat saja berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan pemakai, situasi dan kondisi ekonomi, politik, hukum maupun aspek lingkungan bisnis.

Tapi yang tidak boleh dilupakan bahwa laporan keuangan tersebut disusun dalam konteks untuk memuaskan atau memenuhi kebutuhan semua pemakai yang berbeda-beda atau bersifat umum.

Jika demikian, maka kelompok pemakai tertentu tidak mempunyai hak untuk menentukan jenis informasi tertentu.

Para pemakai laporan keuangan dituntut untuk mengetahui karakteristik perusahaan dan pengetahuan akuntansi agar memahami informasi dalam laporan keuangan.

Siapa saja pemakai laporan keuangan bank?

Ada 24 pemakai laporan keuangan bank, yaitu:

  1. Pemilik perusahaan
  2. Kreditur/deposan
  3. Pemasok
  4. Investor potensial
  5. Karyawan
  6. Pihak manajemen
  7. Analisi keuangan
  8. Konsultan manajemen
  9. Pialang atau broker
  10. Penjamin emisi
  11. Badan legislatif
  12. Pengelola pasar modal
  13. Organisasi pengusaha
  14. Pakar dan konsultan hukum
  15. Pakar ekonomi
  16. Dinas perpajakan
  17. Badan-badan pemerintah
  18. Penerbit media masa
  19. Serikat pekerja
  20. Periset dan biro riset
  21. Dosen dan mahasiswa
  22. Guru dan siswa
  23. Para pesaing perusahaan
  24. Masyarakat umum

 

B. Konsep Dasar Pelaporan

Dalam memahami konsep pelaporan terlebih dulu perlu menjawab pertanyaan mengapa akuntansi diperlukan, hal ini menyangkut tujuan.

Dan kemudian bagaimana mencapai tujuan tersebut sebagai pedoman pelaksanaan.

Konsep dasar pelaporan merupakan penghubung antara pedoman pelaksanaan dengan tujuan yang hendak dicapai.

Dalam konsep ini harus mampu menjelaskan karakteristik atau mutu informasi dan elemen-elemen yang akan disajikan dalam laporan keuangan sehingga fungsi akuntansi sebagai penyedia jasa informasi dapat menentukan:

  • Kepada siapa informasi tersebut ditujukan
  • Tipe-tipe informasi yang dibutuhkan, dan
  • Bagaimana karakteristik informasi yang dibutuhkan.

Dengan demikian tujuan untuk memberikan informasi yang bermanfaat bagi semua pihak dapat dipenuhi.

01. Karakter Mutu Informasi Akuntansi

Pemilihan metode akuntansi, tipe informasi, dan format informasi yang diperlukan akan menentukan nilai kegunaan informasi bagi pengambil keputusan.

Untuk itu informasi yang disajikan harus informasi yang baik dan memberikan manfaat yang lebih besar dari pada biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh/menyajikan informasi tersebut.

Beberapa alternatif laporan yang dapat disajikan juga harus menjadi pertimbangan.

Misalnya pos-pos apa saja yang harus dikapitalisasikan sebagai aktiva atau sebagai kewajiban (pasiva), pendapatan dan biaya serta komitmen dan kontinjensi (khusus untuk laporan keuangan bank) apa saja yang harus disajikan dari periode pelaporan tersebut.

Dan  apa ukuran yang digunakan dalam menyajikannya?

Untuk ukuran ini, misalnya berupa biaya historis, nilai sekarang atau nilai buku.

Informasi-informasi tersebut harus berhubungan dengan tipe keputusan yang akan diambil oleh pemakai informasi.

Untuk dapat menghubungkan informasi tersebut, para pemakai harus mengerti informasi yang disajikan.

Pemakai harus dapat merasakan kadar kemampuan dan arti pentingnya informasi yang diterimanya.

Informasi yang dapat dimengerti adalah informasi yang mempunyai sifat relevansi dan reliabilitas, memiliki daya banding, dan konsisten.

Pada hubungan informasi yang dapat memberikan manfaat bagi pengambil keputusan tercermin dalam hierarki kualitas informasi akuntansi seperti pada gambar berikut.

pengertian akuntansi manajemen

Penjelasan gambar:
1.1. Relevansi Informasi Akuntansi

Kualitas primer suatu informasi akuntansi ditentukan oleh relevansi dan reliabilitasnya. Relevansi ini dapat diukur melalui maksud penggunaan informasi tersebut.

Dengan demikian relevansi berarti memilih metode pengukuran dan pelaporan yang dapat membantu setiap pemakai laporan keuangan yang akan mengambil keputusan.

Informasi yang relevan adalah informasi yang menimbulkan perbedaan. Perbedaan itu dapat memperlemah atau memperkuat pengharapan yang ada.

Dengan demikian relevansi selalu dikaitkan dengan feedback dan nilai prediktif dari informasi tersebut.

Jika pengambil keputusan tidak merasa diperkuat atau diperlemah oleh informasi yang disajikan, maka informasi itu bisa dikatakan tidak mengandung relevan.

Sebaliknya bila pengambil keputusan dapat memperhitungkan konsekuensi-konsekuensi yang bakal timbul di kemudian hari atas dasar informasi, maka informasi tersebut dikatakan relevan.

Informasi juga bisa dikatakan relevan kalau disajikan tepat waktu, sebab informsi yang basi atau disampaikan tidak tepat waktu akan tidak ada gunanya bagi pengambil keputusan. Dengan kata lain informasi tersebut tidak relevan.

1.2. Reliabilitas Informasi Akuntansi

Informasi yang disampaikan harus ANDAL, dalam arti bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat dipercaya pemakainya yaitu telah disajikan dengan benar dari yang seharusnya disajikan atau secara wajar diharapkan dapat disajikan.

Sehingga mencerminkan secara tepat mengenai keadaan atau peristiwa ekonomi yang akan disampaikan.

Reliabilitas atau keandalan tidak sama dengan keakuratan secara absolut. Informasi-informasi yang disampaikan bisa saja didasarkan pertimbangan-pertimbangan yang didalamnya tidak lepas dari estimasi.

Dan estimasi tersebut tidak akan tepat secara total atau eksak. Namun begitu informasi masih mengandung keandalan untuk digunakan.

Keandalan informasi ini dapat ditentukan oleh:

  • daya uji atau uji kebenarannya,
  • bersifat netral atas dasar pertimbangan sehat, serta
  • harus lengkap dan ada ketepatan dalam penyajian

ketepatan dalam penyajian (jujur) merupakan kesesuaian antara informasi yang dilaporkan dengan hasil-hasil aktual dari aktivitas ekonomi yang diukurnya.

1.3 Komparabilitas atau Daya Banding

Informasi akan semakin bermanfaat apabila dapat dikaitkan dengan standar ukuran tertentu. Standar ukuran  ini menjadikan informasi ini dapat diperbandingkan.

Perbandingan dapat dilakukan terhadap data dari periode yang berbeda dalam satu perusahaan, atau/dan dapat pula terhadap data atau informasi dari perusahaan lain yang sejenis pada periode yang sama.

Perbandingan ini dapat untuk mengidentifikasi kecenderungan atau tren posisi dan kinerja keuangan serta perubahan posisi keuangan baik secara absolut maupun relatif.

Oleh karena itu, pengukuran dan penyajian informasi keuangan dari transaksi atau peristiwa lain yang serupa harus dilakukan secara konsisten.

Konsisten di sini artinya taat asas dan menggunakan metode serta prinsip akuntansi yang sama.

Namun demikian perlu diingat bahwa keseragaman tidaklah selalu menjawab komparabilitas.

Dalam kenyataannya, praktik akuntansi pada lingkungan yang berbeda mungkin akan membutuhkan perlakuan yang berbeda pula.

Sehingga masalah besar dalam akuntansi yang menerima berbagai alternatif metode akuntansi dewasa ini dalam situasi yang tidak begitu berbeda belum memadai untuk membenarkan praktik akuntansi yang berbeda-beda.

1.4. Konsisten

Seperti diungkapkan sebelumnya, bahwa untuk menyajikan informasi keuangan atau akuntansi dihadapkan pada berbagai alternatif metode akuntansi.

Oleh karena itu agar informasi akuntansi bermanfaat, penggunaan metode akuntansi harus konsisten agar ke-kontinuan dan kekomparabelan laporan keuangan tercapai.

 

02. Elemen-elemen Laporan Keuangan

pengertian akuntansi perbankan

Elemen pokok laporan keuangan terdiri dari aktiva, hutang, modal, pendapatan dan biaya.

Tugas akuntansi adalah untuk mengikuti, mengukur dan mengkomunikasikan perubahan-perubahan dan perkembangannya.

Elemen pokok ini telah berlaku umum di dunia usaha dan setiap elemen saling terkait dengan elemen-elemen.

Lantas apa yang dimaksud elemen tersebut?
  1. Aktiva adalah manfaat ekonomi yang dinyatakan untuk sumber-sumber ekonomi yang dimilki perusahaan, yang meliputi barang dan hak-hak yang memberikan manfaat di masa yang akan datang dan didapat dari transaksi-transaksi atau peristiwa yang terjadi di masa lalu.
  2. Hutang atau kewajiban adalah pengorbanan sumber ekonomis yang mungkin di masa yang akan datang yang timbul dari kewajiban entitas tertentu pada saat ini. Untuk menyerahkan aktiva atau memberikan jasa kepada entitas yang lain di masa lampau.
  3. Modal adalah jumlah uang yang dinyatakan untuk sisa hak atas aktiva perusahaan setelah dikurangi seluruh kewajibannya. Modal merupakan hak atas aktiva perusahaan yang melekat pada pemiliknya.
  4. Pendapatan adalah jumlah kotor dari kenaikan aktiva atau penurunan kewajiban (atau kombinasi keduanya). Pendapatan timbul dari aktivitas penjualan barang atau jasa, penyerahan jasa dan aktivitas lainnya yang mengakibatkan diperolehnya pendapatan atau laba bagi perusahaan.
  5. Biaya adalah jumlah kotor dari penurunan aktiva atau kenaikan kewajiban. Biaya ini timbul dari kegiatan-kegiatan pembuatan atau pengadaan barang dan jasa, dan lain-lain kegiatan usaha untuk memperoleh pendapatan dalam suatu periode.
  6. Laba adalah selisih lebih antara pendapatan di atas biaya dalam suatu periode, dan disebut rugi apabila terjadi sebaiknya.

 

03. Bagaimana Akuntan Bekerja Membuat Laporan Keuangan?

pengertian akuntansi bisnis

Sangat disadari bahwa pekerjaan menerjemahkan aset FISIK ke dalam ANGKA.

Dan angka bukanlah suatu hal yang mudah, seperti yang harus dilakukan oleh akuntan ketika menyusun laporan keuangan.

Angka yang disajikan pada neraca umumnya menggambarkan biaya historis dari aset dikurangi persediaan.

Tapi, persediaan dapat rusak, usang, atau bahkan hilang, contohnya aset tetap seperti mesin dan bangunan dapat memiliki nilai yang lebih tinggi.

Atau lebih rendah daripada biaya historis yang telah disusutkan dan piutang bisa jadi tidak dapat tertagih.

Dari sisi kewajiban, beberapa klaim yang sah mungkin tidak tersaji dalam neraca, misalnya kewajiban untuk membayar biaya kesehatan pensiunan.

Beberapa biaya yang dilaporkan pada Laporan LABA RUGI juga mungkin kurang saji, seperti yang terjadi ketika sebuah pabrik dengan masa manfaat 10 tahun disusutkan selama 20 tahun.

Saat memeriksa seperangkat laporan keuangan, anda harus tetap ingat bahwa ada realitas yang nyata di balik angka-angka tersebut.

Dan anda hendaknya menyadari bahwa realitas yang nyata di balik angka-angka tersebut.

Selain itu, sebaiknya anda juga harus menyadari bahwa penerjemahan aset-aset fisik menjadi angka yang benar adalah sesuatu yang jauh lebih akurat.

Sebagaimana dijelaskan dalam paragraf-paragraf sebelumnya, bahwa para akuntan harus dapat membuat laporan keuangan.

Sedangkan pihak lain yang terlibat di dunia usaha perlu mengetahui cara membaca dan menganalisis laporan keuangan.

Agar efektif, baik investor maupun manajer umum harus memiliki pengetahun kerja atas Laporan Keuangan dan apa yang mereka ungkapkan.

Demikian pembahasan tentang pengertian akuntansi dan laporan keuangan serta sejarahnya.

Sebenarnya semua bidang memerlukan akuntansi, sehingga pengertian akuntansi pun banyak, sesuai dengan bidang yang menggunakan akuntansi.

Sehingga ada pengertian akuntansi bisnis, manufaktur, forensik, sosial, koperasi, auditing, biaya, keuangan, keuangan daerah, internasional, pendidikan, perpajakan, anggaran, manajemen, dan pemerintahan.

Ada yang akan ditambahkan tentang pengertian akuntansi?

 

C. Prinsip Akuntansi

Prinsip akuntansi adalah dalil atau doktrin untuk mengawasi suatu sistem atau aktivitas tertentu yang telah diterima kebenarannya.

Prinsip akuntansi bukan merupakan kebenaran yang hakiki dalam bidang akuntansi, karena pada hakekatnya akuntansi selalu berkembang dan selalu berubah sesuai dengan perkembangan dan perubahan nilai-nilai yang terjadi di masyarakat.

Prinsip akuntansi dapat bersifat tertulis maupun tidak tertulis sebagai akibat yang timbul dari pengalaman yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam menyajikan informasi keuangan.

Prinsip akuntansi dibutuhkan dalam kondisi yang selalu berubah, mengingat akuntansi tidak membuat diskriminasi dengan menyelenggarakan aktivitas-aktivitas yang secara khusus diarahkan untuk memenuhi pihak tertentu.

Akan tetapi informasi yang disajikan adalah relevan dengan kepentingan dan memuaskan berbagai pihak yang menggunakan.

Bila informasi keuangan yang disajikan tidak memenuhi kepuasan berbagai pihak berarti laporan keuangan tersebut sebagai media penyampaian informasi telah gagal.

Mengapa demikian?

Karena:

  • Pertama telah kehilangan fungsinya sebagai aktivitas penyedia jasa.
  • Gagal untuk memenuhi fungsinya sebagai suatu sistem informasi
  • Akuntansi tersebut telah kehilangan maknanya sebagai suatu fungsi analisis

Oleh karena itu, penggunaan prinsip akuntansi menjadi sangat penting agar ada kesamaan dalam hal cara, metode prosedur tertentu untuk menghasilkan informasi yang relevan, bersifat netral dan dapat diperbandingkan.

Prinsip akuntansi berterima umum tersebut adalah:

1. Prinsip Harga Perolehan

Prinsip akuntansi yang menghendaki harga perolehan ini ditekankan bahwa aktiva, utang, moda, penghasilan dan biaya hendaknya dicatat sebesar harga perolehan yang disepakati oleh kedua belah pihak yang bertransaksi.

Penggunaan prinsip ini didasari bahwa harga tersebut ditentukan secara obyektif, jumlahnya sudah diketahui dan dapat diuji kebenarannya melalui bukti-bukti transaksi.

Prinsip akuntansi sebagai catatan historis adalah melalui jumlah kas atau yang ekuivalen.

2. Prinsip Realisasi Penghasilan

Prinsip dasar akuntansi realisasi penghasilan ini pada dasarnya mencakup pengertian, pengukuran, dan pengakuan penghasilan.

Penghasilan adalah setiap penambahan aktiva atau penurunan hutang yang timbul dari penjualan barang atau jasa selama periode akuntansi tertentu.

Pengukuran penghasilan dapat ditentukan melalui jumlah kas atau ekuivalennya, jumlah aktiva yang diterima dan jumlah penurunan hutang.

Kemudian pengakuan penghasilan pada prinsipnya berdasarkan realisasi penghasilan.

Realisasi penghasilan dapat ditentukan berdasarkan justifikasi bahwa barang atau jasa telah tersedia dan jumlahnya sudah diketahui secara pasti.

Dalam kaitannya dengan pengakuan penghasilan, maka timbul beberapa metode pengakuan penghasilan, yaitu:

2.1. Pada saat penjualan barang atau jasa.

Bila penjualan barang dan jasa sudah tersedia dan dapat diukur secara pasti, maka metode ini dapat diterapkan.

Sebagai contoh, pada lembaga perbankan ketika memberikan kredit, maka saat komitmen direalisasi seluruh pendapatan non bunga (provisi, administrasi, biaya taksasi) dari kredit tersebut langsung dicatat sebagai pendapatan.

2.2. Pengakuan penghasilan dapat dilakukan pada saat sebelum melakukan penjualan

Metode ini dapat digunakan jika pemasaran barang dan jasa sudah terjamin, misalnya sudah adanya kontrak perjanjian tertentu dengan pihak lain.

Kemudian harganya sudah relatif pasti dan sebagian besar kegiatan untuk memperoleh penghasilan dimaksud sudah dilaksanakan.

Sebagai contoh, dalam transaksi call option.

3.3. Pengakuan penghasilan berdasarkan pada saat penerimaan kas

Metode ini dapat dilakukan jika risiko terjadi piutang tidak tertagih atau jangka waktunya relatif lama.

Metode ini digunakan bank terutama bila mengakui pendapatan bunga yang berasal dari kredit bermasalah atau bahkan macet.

Untuk kredit macet pendapatan bunga tidak akan diakui menjadi rekening nominal (pendapatan bunga) sebelum benar-benar direalisasi.

3. Prinsip Mempertemukan Pendapatan dan Biaya

Prinsip akuntansi yang mempertemukan antara pendapatan dan beban yaitu prinsip yang menghendaki bahwa aktivitas perusahaan selama periode tertentu yang dituangkan dalam laporan keuangan merupakan hasil dalam periode yang sama.

Pendapatan dan biaya harus sesuatu hal yang terjadi dalam waktu yang sama.

Untuk dapat mempertemukan pendaptan dan biaya dalam periode yang sama, maka diperlukan metode pengakuan pendapatan dan biaya.

Pengakuan tersebut bisa menggunakan dasar waktu (accrual basis).

4. Prinsip Obyektif

Prinsip dasar akuntansi objektif ini memberikan pengertian bahwa laporan keuangan yang dihasilkan haruslah didasarkan pada data akuntansi yang didukung oleh bukti-bukti transaksi yang obyektif.

Bukti transaksi yang obyektif dapat diperoleh bila transaksi yang dilakukan berdasarkan kesepakatan antara pihak-pihak yang bertransaksi, serta didukung oleh pengawasan dan pengendalian intern yang baik.

5. Prinsip Pengungkapan Penuh

Laporan keuangan hendaknya dapat memberikan semua informasi baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitaif yang dapat mempengaruhi interpretasi dan pengambilan keputusan para pemakainya.

Untuk mencapai ini, maka laporan keuangan:

  • harus disusun secara baik sesuai dengan standar akuntansi keuangan (SAK) yang disepakati umum,
  • menggunakan istilah-istilah yang tepat,
  • memberikan catatan tambahan,
  • memberikan lampiran,
  • catatan kaki.

6. Prinsip Konsistensi

Prinsip ini pada dasarnya mengatakan bahwa laporan keuangan tersebut harus mempunyai daya banding.

Daya banding ini untuk perusahaan-perusahaan yang sama dalam periode yang berbeda atau dalam perusahaan yang BERBEDA untuk periode yang sama.

Daya banding laporan keuangan akan ditentukan oleh konsistensi penggunaan teori, metode, dasar, pedoman, dan praktik akuntansi yang sama dengan yang diterapkan sebelumnya.

Konsistensi ini bukanlah harga mati, artinya pada kasus tertentu ada metode yang tidak cocok dengan kondisi saat ini, maka perusahaan dapat mengganti metode tersebut asalkan perusahaan menjelaskan tentang perubahan metode tersebut dan pengaruh penggunaan metode tersebut terhadap angka-angka dalam laporan keuangan.

Dan video ini semoga bisa semakin meningkatkan pemahaman kita tentang prinsip akuntansi.

 

D. Asumsi dan Konsep Dasar Akuntansi

prinsip prinsip akuntansi

Untuk memahami akuntansi harus mengetahui konsep dasar akuntansi.

Pengertian Konsep adalah pernyataan yang tidak perlu dibuktikan atau merupakan aksioma yang diterima secara umum karena sesuai dengan tujuan laporan keuangan, dan menggambarkan sifat kesatuan akuntansi dari sebuah perusahaan.

Konsep-konsep akuntansi yang digunakan dalam lingkungannya akan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, kondisi sosial, kondisi ekonomi, dan politik.

Kondisi ini dapat juga dikatakan sebagai asumsi dasar dalam akuntansi.

Asumsi dasar ini terutama dalam menyusun prinsip akuntansi. Prinsip akuntansi disusun dengan memperhatikan tujuan laporan keuangan, keadaan perekonomia, keadaan politik, dan perundang-undangan yang berkaitan dengan dunia usaha.

Bisa saja terjadi perbedaan perumusan konsep dasar akuntansi antara pakar/ahli yang satu dengan pakar yang lain karena faktor-faktor tersebut.

Bahkan sering terjadi sulit membedakan antara konsep dengan prinsip akuntansi. Sedangkan konsep dasar akuntansi tersebut antara lain meliputi:

1. Kesatuan Usaha (Prinsip Akuntansi Business Entity)

Konsep dasar akuntansi yang menyatakan bahwa keuangan perusahaan harus terpisah dari pemiliknya.

Perusahaan merupakan kesatuan usaha yang terpisah dengan pemiliknya dan akuntansi memandang dari segi perusahaannya.

Laporan keuangan yang disusun adalah laporan keuangan perusahaan, BUKAN laporan keuangan pemilik.

Adanya pemisahan ini merupakan faktor utama yang dijadikan pertimbangan untuk membebankan pada kesatuan ekonomi (konsep akuntansi entity economic) tersebut yaitu kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keuangan perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Batas entitas akuntansi usaha tidak harus sama dengan batas hukumnya. Misalnya perusahaan induk dan perusahaan anak merupakan entitas hukum tersendiri.

Tapi secara akuntansi bukan merupakan penyimpanan bila ada penggabungan aktivitas perusahaan untuk tujuan akuntansi dan pelaporan.

2. Kesinambungan (Prinsip Dasar Akuntansi Going Concern)

Prinsip akuntansi yang mengasumsikan bahwa perusahaan akan terus beroperasi adalah ini menjelaskan bahwa  perusahaan didirikan untuk jangka waktu yang tidak terbatas dan akan berlangsung secara terus menerus.

Mendeskripsikan prinsip dasar akuntansi going concern ini akan memberikan dukungan yang kuat untuk penyajian aktiva berdasarkan harga perolehannya dan bukan atas dasar nilai kontan aktiva tersebut atau nilai yang direalisasikan pada saat likuidasi.

3. Periode Akuntansi

Konsep ini menjelaskan bahwa rugi dan laba perusahaan baru dapat diketahui setelah perusahaan dilikuidasi (prinsip akuntansi liquidity)

Atau dengan kata lain bahwa tingkat kesuksesan suatu perusahaan hanya dapat diketahui pada saat perusahaan menghentikan usahanya dan mencairkan seluruh hartanya menjadi kas.

Namun demikian, pada kenyataannya keputusan manajemen banyak dilakukan selama berlangsungnya kegiatan perusahaan.

Untuk mengambil leputusan ini perlu informasi.

Penyusunan laporan keuangan periodik ini beranggapan bahwa unsur kegiatan perusahaan yang tidak terbatas tersebut pada dasarnya merupakan rangkaian kegiatan perusahaan dari beberapa periode.

Bagian-bagian periode dari periode yang tidak terbatas ini selanjutnya disebut periode akuntansi.

4. Pengukuran dalam Nilai Uang

Penyelenggaraan akuntansi beranggapan bahwa mata uang adalah alat pengukur yang berlaku umum terhadap semua kegiatan ekonomi.

Penggunaan satuan mata uang (rupiah) didasarkan pemahaman bahwa mata uang mempunyai nilai yang tetap (static of price).

Jika asumsi ini tidak dipenuhi maka fungsi laporan keuangan sebagai informasi akan berkurang nialainya.

5. Penetapan Beban dan Pendapatan

Penentuan laba periodik dan posisi keuangan/neraca dilakukan berdasarkan metode akrual, yaitu dikaitkan dengan pengukuran aktiva dan kewajiban serta perubahannya pada saat terjadinya.

Bukan hanya sekedar pencatatan penerimaan dan pengeluaran uang. Penentuan laba periodik menyangkut dua masalah yaitu:

  1. Pengakuan pendapatan selama periode
  2. Penentuan beban yang terjadi sehubungan dengan usaha untuk menghasilkan pendapatan tersebut.

 

E. Kendala atau Keterbatasan Akuntansi

pengertian akuntansi dasar

Informasi yang disajikan harus memiliki karakteristik mutu. Tapi untuk menyajikanseperti ini akan dihadapkan pada kendala-kendala.

Kendala tersebut dapat dikelompokkan menjadi kendala primer dan kendala sekunder ini tidak begitu penting, tapi perlu dipertimbangkan dalam menyajikan informasi akuntansi.

1. Asas Manfaat dan Biaya

Untuk mengumpulkan, mengolah, dan melaporkan informasi akuntansi diperlukan biaya.

Para pemakai harus mempertimbangkan biaya untuk menghasilkan informasi tersebut.

Kesulitannya adalah tidak semua manfaat informasi dapat diukur atau dibuktikan.

Manfaat informasi tersebut dapat dirasakan oleh pihak penyaji dalam bentuk efisiensi pengendalian dan oleh para pemakai dalam bentuk alokasi sumber-sumber ekonomi, jumlah pihak yang dibayar, ketaatan terhadap regulasi.

Sedangkan biaya untuk pengadaan informasi umumnya mudah dikuantitatifkan.

 

2. Asas Materialitas

Kerangka teoritis/konseptual akuntansi memang sangat kompleks, namun dalam penyajiannya harus praktis.

Dalam arti hal-hal yang tidak berpengaruh terhadap aktivitas usaha harus dikeluarkan dari laporan/catatan akuntansi.

Asas ini mengemukakan bahwa transaksi –transaksi dan lain-lain peristiwa yang tidak penting/kurang berarti terhadap kegiatan ekonomi perusahaan adalah tidak harus diperlakukan secara konsekuen dengan prinsip-prinsip akuntansi.

Perlakuan seperti ini dapat diterima karena informasi yang tidak materialitas tidak cukup berarti atau tidak dapt mempengaruhi keputusan ekonomi para pemakainya.

Kesulitan mengukur materialitas menjadi kendala, mengingat materialitas sangat tergantung pada pengaruh atau akibatnya kepada para pemakainya.

Dengan demikian perlu adanya batasan bahwa bila suatu item dalam hubungannya dengan laporan keuangan dianggap material jika mempunyai akibat-akibat yang cukup berarti dalam pengambilan keputusan-keputusan yang dibuat berdasarkan laporan keuangan tersebut.

Di sini harus dipahami bahwa item/transaksi dianggap material itu tidak dapat ditentukan atau diukur hanya berdasarkan item itu sendiri, tetapi harus dihubungkan dengan item yang lain yang saling berhubungan.

 

3. Asas Konservatif

Asas ini erat kaitannya dengan risiko ketidakpastian di masa yang akan datang.

Asas ini mencerminkan kehati-hatian dalam hal mengakui adanya pendapatan dan biaya sehingga terhindar dari kemungkinan risiko yang akan timbul di masa yang akan datang.

Perusahaan dalam menghadapi berbagai alternatif harus melaporkan berdasarkan alternatif yang memberikan keuntungan terkecil.

Apabila dalam aktiva terdapat berbagai penilaian, maka nilai aktiva yang paling rendah harus diakui. Sebaliknya bila dalam hutang terdapat dua atau lebih alternatif jumlahnya, maka jumlah hutang yang paling besar yang dicatat.

Begitu pula jika dalam pendapatan dan biaya terdapat berbagai alternatif, maka harus dipilih pendapatan dan biaya yang akan mengakibatkan laba periodik paling rendah.

Dalam kaitannya dengan pengakuan dan penilaian pada asas ini terdapat empat macam, yaitu:

3.1. Pengakuan dan penilaian penghasilan

Dalam hal ini penghasilan harus diakui pada saat realisasinya. Penghasilan adalah setiap nilai yang menambah aktiva.

Untuk itu sangat erat dengan penilaian aktiva yang tidak boleh melebihi harga perolehannya.

Dengan demikian penghasilan tidak boleh diantisipasi terlalu besar atau terlalu kecil.

3.2. Dalam hubungannya dengan pengakuan biaya

Dalam hubungannya dengan pengakuan biaya, maka biaya harus dibebankan pada periode akuntansi sesuai dengan periode pengakuan penghasilan yang diperoleh dengan biaya tersebut.

3.3. Dalam hubungannya dengan laba

Dalam hubungannya dengan laba, maka laba harus diakui pada saat realisasi.

3.4. Dalam hubungannya dengan pengakuan kerugian

Menurut asas ini bahwa perusahaan harus sudah mengakui semua kerugian dan hutang yang diketahui baik yang sudah pasti maupun yang belum pasti.

Dalam hal terjadinya hutang ataupun kerugian yang belum pasti, maka kita mengenal adanya hutang taksiran yang biasanya ditampung dalam rekening kontinjensi.

Asas ini dapat diterima dalam praktik akuntansi, namun bila diterapkan secara berlebihan akan mengakibatkan kesalahan dalam penyajian laba rugi periodik.

Untuk itu harus digunakan secara wajar dan tidak benar digunakan untuk menghindari regulasi-regulasi, terutama di lembaga perbankan.

Misalnya untuk perpajakan dan penyisihan aktiva produktif.

Keberadaan asas ini sebenarnya didasari pemikiran bahwa dalam hal jumlah yang seharusnya tidak dapat ditentukan, akan lebih baik bila menyampaikan kepada para pemakai untuk jumlah yang terkecil di antara yang besar.

 

4. Kebiasaan-kebiasaan dalam Dunia Bisnis

Dalam praktik akuntansi secara nyata lebih menginginkan kepraktisan dan aspek kegunaan, sehingga sering dijumpai penyimpangan-penyimpangan terhadap prinsip-prinsip akuntansi.

Hal ini masih bisa diperkenankan karena setiap jenis usaha mempunyai karakteristik dan spesifikasi tersendiri. Badan usaha tersebut tidak selalu menerapkan akuntansi secara konseptual.

Hal ini menjadi kendala dalam memenuhi kebutuhan informasi yang sesuai dengan karakteristik mutu pelaporan.

 

03. Persamaan Dasar Akuntansi Perbankan

gambar persamaan dasar akuntansi

Lembaga perbankan memiliki karakterisitik dan keunikan yang tidak dimiliki oleh jenis bisnis lain.

Apa karakteristik dan keunikan bank?

Karakteristik umum:
  1. Bank merupakan lembaga perantara keuangan antara pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak-pihak yang membutuhkan dana. Selain itu lembaga perbankan berfungsi untuk memperlancar lalu lintas pembayaran dengan berpijak pada falsafah kepercayaan. Sebagai contoh transaksi kliring
  2. Sebagai lembaga kepercayaan, bank harus selalu menjaga likuiditasnya sehingga mampu memenuhi kewajiban yang harus segera dibayar. Karakteristik ini mengisyaratkan bahwa bank harus memperhatikan sisi sumber dananya.
  3. Bank selalu dihadapkan pada dilema antara pemeliharaan likuiditas atau peningkatan earning power. Kedua hal ini berlawanan dalam mengelola dana perbankan. Artinya, kalau menginginkan likuiditas tinggi, maka earning atau rentabilitas rendah dan sebaliknya. Dengan demikian bank harus bisa menyikapi hal ini.
  4. Bank sebagai lembaga kepercayaan mempunyai kedudukan yang strategis untuk menunjang pembangunan nasional. Sebagai contoh penerbitan bank garansi.
Karakteristik khusus:
  1. Sebagian aset bank adalah monetary assets atau alat-alat likuid yang sifat fisiknya tidak tampak. Sedangkan aktiva yang berwujud nilainya relatif kecil.
  2. Obyek yang diperdagangkan adalah uang dan jasa yang bersifat abstrak, sehingga perlu adanya internal control yang ketat.
  3. Di dalam bank uang berfungsi sebagai alat likuid.
  4. Perdagangan dan administrasi jenis mata uang relatif banyak.
  5. Dalam bertransaksi, bank mengandalkan kepercayaan masyarakat, kode rahasia, dan dokumen-dokumen.
  6. Jumlah kantor cabang relatif banyak bahkan bisa di seluruh dunia.
  7. Lembaga perbankan selalu diatur secara ketat di manapun beroperasi.
Keunikan bank:
  1. Ada peran monitor to monitor Artinya bank sebagai lembaga perantara telah menghimpun dana dari deposan dan menempatkannya ke kredit.
    Deposan akan memonitor bank dan bank akan memonitor debitur.
    Dengan dukungan pengelolaan informasi yang baik, maka biaya informasi untuk monitoring bagi deposan akan lebih rendah dibandingkan monitoring langsung oleh deposan ke pengguna dana (debitur).
  2. Kebutuhan pemberian kredit kepada perusahaan tertentu akan direspon positif oleh pasar. Perusahaan yang diberi kredit berarti perusahaan yang sehat, maka saham perusahaan tersebut akan direaksi positif oleh pasar.
    Keunikan ini tidak dimiliki oleh lembaga bisnis lainnya.
  3. Mampu memerankan transfer kekayaaan dari yang tua ke yang muda (intergenerational wealth transfer).
    Generasi tua sudah pensiun suka menabung atau tidak produktif lagi. Sedangkan generasi muda masih giat berusaha.
    Yang muda menggunakan dana generasi tua untuk kepentingan yang produktif melalui perantara bank.
  4. Dapat bertindak sebagai asset transformer.
    Bank bisa menerbitkan klaimkeuangan berupa surat berharga obligasi, deposito dan lainnya kemudian ditempatkan dalam bentuk kredit atau yang lain.

Dengan memperhatikan karakterisitik dan keunikan bank, maka dapat dipastikan bahwa pengelolaan informasi untuk pengambilan keputusan sangat diperlukan.

 

A. Rumus Persamaan Dasar Akuntansi Perbankan

Sebelum dibahas lebih dalam, sejenak tonton video pembelajaran persamaan dasar akuntansi berikut ini…

Untuk mengelola informasi diperlukan AKUNTANSI.

Dan untuk memahami proses akuntansi adalah dengan persamaan dasar akuntansi.

Apa itu persamaan dasar akuntansi?

Persamaan dasar akuntansi (basic accounting equation) menggambarkan hubungan antara aset, kewajiban, dan modal.

Persamaan dasar akuntansi adalah persamaan akuntansi yang dibangun antara hak dan kewajiban.

Hak merupakan kekayaan atau aktiva atau aset. Hak ini ada karena telah timbul kewajiban.

Konsep akuntansi menghendaki keseimbangan antara hak dan kewajiban. Oleh karena itu, setiap pertambahan kewajiban BANK, harus diikuti peningkatan hak atau aset.

Bagaimana persamaan dasar akuntansi itu ditulis?

Secara umum rumusan persamaan dasar akuntansi adalah:

HAK = KEWAJIBAN
AKTIVA = PASIVA

Kewajiban bank terdiri dari kewajiban terhadap pihak eksternal dan kewajiban terhadap pihak internal.

Kewajiban kepada pihak eksternal adalah kewajiban kepada kreditur atau pemberi dana atau deposan.

Sedangkan kewajiban terhadap internal adalah kewajiban kepada pemilik modal. Dengan demikian format persamaan dasar akuntansi dapat diperluas menjadi:

AKTIVA = HUTANG + MODAL

Bila bank melakukan aktivitas, akan memperoleh pendapatan dan mengeluarkan biaya. Selisih pendapatan dengan biaya merupakan laba bank.

Laba bank merupakan komponen modal bank, untuk itu susunan persamaan dasar akuntansi adalah:

Aktiva = Hutang + Modal + Pendapatan – Biaya

Atau

Aktiva + Biaya = Hutang + Modal + Pendapatan

Perhatikan, pada sisi kiri terdapat aktiva dan biaya, sedangkan pada sisi kanan terdapat hutang, modal, dan pendapatan.

Persamaan ini akan mempermudah bagi pemula dalam membuat jurnal umum. Perhatikan hubungan antara persamaan dasar akuntansi dan jurnal umum berikut ini:

membuat jurnal umum

Dengan persamaan dan penggambaran rekening buku besar maka dapat disimpulkan bahwa:

  1. Setiap pertambahan aktiva akan didebit, dan pengurangan aktiva akan dikredit.
  2. Setiap pertambahan biaya akan didebit, setiap pengurangan biaya akan dikredit
  3. Setiap peningkatan hutang akan dikredit, dan setiap pengurangan/pelunasan hutang akan didebit.
  4. Setiap pertambahan modal akan dikredit dan penurunan modal akan didebit.
  5. Setiap pertambahan pendapatan bank akan dikredit dan setiap penurunan pendapatan akan didebit.
Aktiva bank misalnya berupa:
  • kas,
  • giro BI,
  • penempatan pada bank lain,
  • sekuritas jangka pendek,
  • kredit yang diberikan,
  • penyertaan, dan
  • aktiva tetap.
Hutang bank misalnya:
  • giro nasabah,
  • tabungan,
  • deposito,
  • pinjaman diterima.
Modal misalnya berupa:
  • modal disetor
  • laba ditahan.
Pendapatan bank misalnya bisa berupa:
  • pendapatan bunga
  • pendapatan lainnya.
Biaya bank misalnya berupa:
  • biaya bunga
  • biaya lainnya.

 

B. Contoh Pembukuan Transaksi Perbankan dengan Persamaan Dasar Akuntansi

Untuk membantu pemahaman tentang persamaan dasar akuntansi perbankan ini, berikut ini saya sajikan contoh persamaan dasar akuntansi 7 transaksi:

  1. Mas Kumambang mendirikan bank dengan nama Bank Kumambang. Mas Kumambang menanamkan modalnya sebesar Rp 100.000.000.000 yang disetor secara tunai ke Bank Kumambang.
  2. Untuk memperlancar operasi bank, Bank Kumambang membeli kendaraan seharga Rp 400.000.000 secara tunai.
  3. Diterima tunai untuk pembukaan rekening tabungan atas nama Anita Rp 100.000.000
  4. Diterima tunai Rp 500.000.000 untuk pembukaan rekening deposito berjangka atas nama Ratna
  5. Diberikan kredit kepada Desi sebesar Rp 1.000.000.000. Hari ini direalisasikan dan langsung dikreditkan ke rekening giro Desi sebesar Rp 900.000.000, dan secara tunai Rp 100.000.000
  6. Arip membuka rekening giro dengan setoran perdana Rp 200.000.000 tunai.
  7. Anita menarik tabungan senilai Rp 10.000.000

Sekarang kita catat contoh transaksi-transaksi tersebut dengan konsep persamaan dasar akuntansi perbankan berikut ini:

Tabel contoh persamaan dasar akuntansi dalam Excel  (juta-an)

Cara mencatat jurnal umum

Jika kita perhatikan seperti pada penyelesaian persamaan akuntansi di atas tampak bahwa jumlah total pada sisi AKTIVA sama dengan tota pada sisi PASIVA, yaitu sebesar Rp 101.690.000.000

Hal ini terjadi sebab setiap melakukan pen-debitan rekening pasti harus meng-kredit rekening yang lain.

Misalnya, menerima uang sebesar Rp 100.000.000, otomatis men-debit rekening kas. Penerimaan tunai tersebut untuk membuka rekening tabungan.

Dengan demikian bank akan meng-kredit rekening tabungan. Coba perhatikan lagi tabel di atas.

Dan bila Anda menginginkan template Excel untuk mencatat transaksi bisnis hingga menjadi laporan keuangan lengkap, langsung saja ke Accounting Tools & SOP Finance.

Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai pengertian akuntansi perbankan dari konsep hingga contoh.

Semoga bermanfaat.

***

manajemen keuangan dan SOP