Pengertian Cost, Karakteristik dan Aplikasinya

Cost adalah pengukur dan sekaligus bahan olah akuntansi.

Istilah cost memang mempunyai banyak arti, akan tetapi dalam konteks akuntansi sebagai penyedia informasi finansial kuantitatif, istilah cost mempunyai arti khusus.

Apakah istilah biaya, harga pokok,  harga perolehan, atau beban tepat sebagai padan kata istilah cost?

Mari ikuti pembahasan lengkapnya berikut ini…

 

01: Pengertian Cost dan Istilah yang Berkaitan

pengertian biaya menurut para ahli

Sumber acuan yang digunakan dalam pembahasan pengertian cost adalah diambil dari literatur akuntansi yang dianggap otoritatif.

Berikut ini adalah kutipan beberapa pengertian cost dalam literatur akuntansi tersebut:

 

A: Pengertian Cost Menurut Para Ahli:

#1: Menurut Kohler pengertian cost adalah sebagai berikut:

An expenditure or outlay of crash, other property, capital stock, or services, or the incurring of a liability therefore, identified with goods or services acquired or with any loss incurred.

Anda measured by the amount of cash paid or payable or the marekt value of other property, capital stock, or services given in exchange or in other situation, any commonly accepted basis of valuation.

 

#2: Menurut Sprouse dan Moonits definis cost adalah:

Cost is a foregoing, a sacrifice made to secure benefit, and is measured by an exchange price.

Expense is the decrease in net assets as a result of the use of economic services in the creation of revenues or the imposition of taxes by governmental unit.

 

#3: Hilton memaknai expense, cost of goods sold, dan cost adalah:

Cost is the sacrifice made, usually measured by the resource given up, to achieve a particular purpose.

An expense is the cnsumption of assets for the purpose of generating revenue.

Cost of goods sold is the expense measured by the cost pf the finished goods sold during a period of time.

Bila dicari dari sumber-sumber yang lain, makna yang dilekatkan pada istilah cost dan expense akan sama dengan pengertian yang diberikan menurut para ahli di atas.

 

02: Karakteristik Cost

Dengan mempelajari secara seksama definisi-definisi yang telah disampaikan oleh para ahli di atas, semoga memudahkan kita untuk memahami pengertian cost yang sesungguhnya.

Dan berikut ini atribut dan karakteristik yang melekat pada cost adalah:

Karakteristik Cost #1:

Cost adalah pengukur dalam unit moneter suatu sumber ekonomi yang digunakan atau dikorbankan untuk tujuan tertentu.

Dalam konteks akuntansi yang mendasarkan diri pada konsep kesatuan usaha, pengorbanan berarti keluarnya sumber ekonomi (aset) dari kesatuan usaha.

Ada berbagai pengertian pengorbanan ditinjau dari berbagai konteks.

Hal yang perlu dicatat adalah walaupun cost itu sendiri sering disebut sebagai pengorbanan, yang dikorbankan sebenarnya adalah sumber ekonomi (baik fisik maupun non fisik).

Dan cost hanyalah sebagai pengukur secara kuantitatif pengorbanan tersebut dalam unit moneter.

Secara umum dapat dikatakan bahwa cost adalah mengukur penggunaan atau pengorbanan suatu sumber ekonomi.

Dalam akuntansi, pada umumnya sumber ekonomi yang dikorbankan pun sebelumnya sudah diukur dengan cost.

 

Karakteristik Cost #2:

Cost dinyatakan dalam unit moneter khususnya dalam kerangka akuntansi sebagai penyedia informasi kuantitatif.

Cost mengukur seberapa banyak atau besar penggunaan sumber ekonomi dalam unit moneter untuk tujuan tertentu.

Pengukuran ini penting karena hasilnya akan menjadi data dasar dalam penyediaan informasi untuk menentukan total penggunaan berbagai jenis dan jumlah sumber ekonomi dalam satuan yang homogenus.

Dengan satuan yang homogenus, dapat diperoleh pengetahuan mengenai besar dan hubungan berbagai sumber ekonomi yang secara keseluruhan membentuk aset perusahaan.

Pengetahuan seperti itulah yang disebut informasi kuantitatif.

Kalau kuantifikasi dinyatakan dalam unit moneter, informasi yang diperoleh adalah informasi finansial.

Memang tidak semua cost dapat diukur dalam unit moneter. Akan tetapi dalam akuntansi semua faktor harus dikuantifikasi, pengertian cost dapat dinyatakan sebagai pengukur dalam unit moneter.

 

Karakteristik Cost #3:

Pengukuran cost selalu dihubungkan dengan suatu fokus, objek, tujuan atau pusat perhatian.

Fokus atau obyek ini dikenal secara teknis sebagai cost object atau cost objective.

Cost object dapat berupa produk, departemen, proyek, aktivitas atau sesuatu yang unsur pembentuknya perlu diukur secara moneter.

Agar pihak yang berkepentingan dapat memperoleh informasi tentang ukuran dan hubungan yang bermakna.

Tujuan perlu diidentifikasi karena tujuan yang berbeda memerlukan pengukuran cost yang berbeda pula.

Tujuan memperoleh informasi cost adalah untuk perencanaan (planning), pengendalian (control) dan pertanggungjawaban keluar.

***

Secara  fisik dan operasional, perusahaan dapat dipandang sebagai susunan atau kumpulan berbagai sumber ekonomi.

Tentu saja, besar dan hubungan antara komponen yang membentuk perusahaan dapat dilihat dari berbagai aspek.

Perhatikan contoh berikut ini:

Seorang kepala bagian personalia akan melihat perusahaan sebagai kumpulan orang dengan hubungan seperti yang digambarkan dalam struktur organisasi perusahaan.

Dari segi akuntansi, aktivitas operasi perusahaan digambarkan dalam bentuk simbol-simbol (elemen-elemen finansial) sebagaimana ditunjukkan oleh Laporan Keuangan.

Komponen Laporan Keuangan termasuk dalam pengertian obyek atau fokus yang harus diukur. Dan cost adalah salah satu dasar pengukurannya.

Dari sisi manajemen melihat perusahaan sebagai satuan-satuan aktivitas (terdiri atas fasilitas fisik, bahan, dan manusia) yang mengolah input menjadi output.

Satuan-satuan kegiatan berkaitan satu sama lainnya secara terpadu.

Untuk tujuan pengendalian melalui inforamasi finansial, satuan aktivitas fisik direpresentasikan dalam bentuk pertanggungjawaban.

Sedangkan masukan dan keluaran direpresentasikan dan diukur dalam bentuk cost.

Dengan demikian, berbagai satuan kegiatan, termasuk masukan dan keluaran dapat menjadi objek cost.

***

Dari segi akuntansi, sebenarnya bukan cost itu sendiri yang mempunyai arti penting, akan tetapi justeru JASA yang ada di balik angka cost yang mempunyai arti penting.

Jadi arti pentingnya objek atau jasa diwakili oleh cost yang tercatat dalam sistem akuntansi.

Di balik deretan angka-angka akuntansi, terkandung jasa-jasa yang berwujud fisik maupun non fisik.

Jasa-jasa tersebut adalah daya, kemampuan atau kapasitas yang jika ditukarkan atau digabungkan satu dengan lainnya dapat menimbulkan daya, kemampuan.

Atau kapasitas lain yang kekuatannya paling tidak sama dengan yang dimiliki perusahaan.

Perhatikan contoh berikut ini:

Kas ditukarkan dengan mesin. Ini berarti bahwa daya beli ditukarkan dengan daya produksi.

Oleh karena itu, akuntansi berusaha untuk menentukan simbol-simbol yang dapat merepresentasikan daya tersebut.

Sehingga tanpa melihat perusahaan secara fisik orang dapat membayangkan kegiatan operasi perusahaan hanya dengan membaca Laporan Keuangan.

FASB mengidentifikasi dan mendefinisikan 10 komponen Laporan Keuangan yang dapat menjadi simbol sumber daya dan aktivitas, yaitu:

  • Aset
  • Liability
  • Equity
  • Revenue
  • Expense
  • Gain
  • Loss
  • Investment by owners
  • Distribution to owners
  • Comprehensive income.

 

Karakteristik Cost #4:

Secara fisik, kesatuan usaha menguasai dan mengelola sumber ekonomi yang membentuk aset.

Cost aset adalah hasil pengukuran yang ditentukan pada saat transaksi perolehannya dan didasarkan pada harga pertukaran.

Karena sudah terjadi dan tercatat, cost ini sering disebut dengan historical cost.

Walaupun demikian, pengertian cost adalah tidak terbatas pada cost yang sudah terjadi.

Memang pengertian cost yang dominan adalah sebagai historical cost.

Namun demikian, cost dapt juga mengukur objek yang akan terjadi (future cost).

Akuntansi menganut cost principles concept yang berarti bahwa komponen laporan keuangan dinilai/ diukur atau dilekati dengan cost yang telah terjadi agar menjadi informasi.

Oleh karena itu, laporan keuangan yang dihasilkan dengan penilaian seperti itu sering disebut dengan historical cost financial statements.

Lebih dari itu, untuk mengukur cost, dasar yang digunakan tidak hanya pengeluaran sumber ekonomi yang telah terjadi.

Pengeluaran tersebut mungkin saja baru akan terjadi di masa yang akan datang.

Kalau cost sudah terjadi tapi pengeluarannya belum terjadi, maka kewajiban akan timbul.

Itulah sebabnya kewajiban didefinisikan sebagai ‘pengorbanan sumber ekonomi masa datang yang cukup pasti”

Pengeluaran Juga tidak harus berupa kas, tapi dapat pula berubah sumber ekonomi lain seperti jasa perusahaan, barang dagangan, atau surat berharga perusahaan.

 

Karakteristik Cost #5:

Sebagai dasar pengukuran, cost tidak mempunyai konotasi sebagai sesuatu hal yang negatif atau merugikan atau sesuatu yang jelek.

Kesan seperti ini akan menghalangi atau mengacaukan pemahaman makna cost.

Kerancuan dan kesalahan dalam menangkap makna cost disebabkan orang tidak memandang cost sebagai suatu pengertian yang netral atau generik.

Kerancuan pemahaman dan aplikasi terjadi karena orang memandang cost sebagai objek, wadah atau elemen dan bukan sebagai pengukur (monetary measurement) elemen itu sendiri.

Cost sendiri bukanlah informasi tetapi sekadar data dasar.

Obyek yang telah dilekati dengan cost itulah yang secara bersama-sama (obyek dan pengukurnya) merupakan informasi.

Oleh karena itu, cost harus dihubungkan dengan sesuatu yang menjadi pusat perhatian.

Suatu obyek yang menjadi pusat perhatian harus diidentifikasi sehingga cost akan mempunyai nilai informasi.

Berbagai obyek yang akan dilekati cost akan menjadi basis klasifikasi cost.

Dan cost accounting adalah suatu proses, prosedur, metode, dan teknik pengolahan data cost untuk dilekatkan pada obyek yang menjadi pusat perhatian manajemen perusahaan.

Sehingga informasi finansial untuk kepentingan pengambilan keputusan dapat diperolah.Tergantung pada kepentingan manajemen dan keperluan informasi yang diinginkan.

Dasar klasifikasi cost dapat dicontohkan berikut ini:

#1:
Dasar Klasifikasi: Fungsi operasi
Contoh Obyek dalam Klasifikasi = Produksi, pemasaran, administratif

#2:
Dasar Klasifikasi: Komponen produk
Contoh Obyek dalam Klasifikasi = Bahan baku, Tenaga Kerja Langsung, Overhead

#3:
Dasar Klasifikasi: Variabilitas
Contoh Obyek dalam Klasifikasi = Tetap, Variabel, Semi Variabel

#4:
Dasar Klasifikasi: Waktu Terjadinya
Contoh Obyek dalam Klasifikasi = Historis, sekarang, masa datang.

#5:
Dasar Klasifikasi: Komponen Laporan Keuangan
Contoh Obyek dalam Klasifikasi = Aset, Kewajiban, ekuitas, pendapatan

 

03: Cost Sebagai Bahan Olah Akuntansi

jenis jenis beban dalam akuntansi

Atas dasar pengertian yang dikutip dari berbagai sumber di atas mengenai cost, expenditure, expense.

Dan cost of goods sold dan dihubungkan dengan konsep kesatuan usaha, konsep periode waktu, dan komponen Laporan Keuangan.

Dalam akuntansi, cost mempunyai kedudukan sebagai pengukur atau bahan olah akuntansi dan bukan sebagai objek atau wadah.

Pengorbanan (pengeluaran sumber ekonomi) untuk memperoleh barang dan jasa harus dibedakan dengan pengorbanan (pengeluaran sumber ekonomi) untuk memperoleh pendapatan.

Kalau terjadi transaksi perolehan barang atau jasa, berarti perusahaan melakukan pengeluaran (expenditure).

Pengeluaran ini adalah pengukur cost barang dan jasa yang diperoleh.

Cost ini harus dicatat karena akan menjadi data dasar untuk menghasilkan informasi tentang aktivitas operasi perusahaan selama perioe tertentu.

Secara teknis pembukuan, cost atau jumlah pengeluaran tersebut dapat dicatat ke dalam wadah yang namanya aset.

Atau biaya tergantung pada karakteristik hubungan pengeluaran dengan pendapatan sebagai tujuan akhir.

Kalau cost tersebut dicatat ke dalam aset, maka disebut dengan pengeluaran untuk aset atau pengeluaran untuk barang modal (capital expenditure).

Sedangkan jika dicatat ke dalam biaya, yang berarti langsung dikaitkan dengan pendapatan, maka disebut pengeluaran untuk pendapatan (revenue expenditures).

Hal yang penting adalah kemanapun jumlah rupiah pengeluaran tersebut dicatat, itu tetap merupakan cost.

Dengan cara berfikir yang sama, jika perusahaan melakukan pengeluaran untuk memperoleh mesin.

Atau persediaan barang, maka akan menjadi cost mesin atau cost persediaan barang.

Dengan demikian orang akan dapat bertanya:

“berapakah cost mesin?”

“berapakah cost persediaan barang?”

Lalu apa jawaban dari dua pertanyaan tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan ini yang pertama kali perlu dipahami adalah bahwa ada bermacam-macam pengeluaran untuk memperoleh mesin dan persediaan barang.

Masalahnya adalah pengeluaran yang mana saja yang membentuk cost mesin atau persediaan barang.

Oleh karena itu perlu adanya kesepakatan tentang hal ini, dalam bentuk prinsip atau bila perlu standar akuntansi keuangan.

Prinsip akuntansi yang sekarang dianut tentang apa yang masuk dalam cost mesin adalah biaya mesin meliputi seluruh pengeluaran dalam rangka memperoleh mesin (aset tetap).

Sampai mesin tersebut siap digunakan sesuai dengan tujuannya.

Demikian juga cost persediaan barang adalah semua jumlah rupiah pengeluaran yang diperlukan persediaan barang sampai siap dipakai atau siap dijual.

Dengan cara seperti ini, maka tidak perlu lagi ada inkonsistensi penggunaan istilah:

  • biaya,
  • harga pokok dan
  • harga perolehan.

Dengan memperhatikan kerangka konsep cost sebagai bahan olah.

Maka akan mudah untuk menjelaskan pengertian expense dan revenue, sert konsep penandingan atau pengasosiasian (matching).

Yang jelas, keduanya (expense dan revenue) adalah wadah atau obyek dan bukan bahan olah.

Jika keduanya diukur dengan cost, maka ukuran dan hubungan keduanya dapat diketahui sehingga dihasilkan suatu informasi.

 

04: Istilah Beban

Secara definisional , expense adalah jasa atau manfaat suatu sumber ekonomi yang telah digunakan adalam rangka menciptakan pendapatan yang merupakan tujuan setiap unit usaha.

Berdasarkan makna expensi tersebut, istilah biaya sebenarnya lebih mendekati pengertian dan makna expense.

Sehingga tepatlah jika dikatakan bahwa biaya adalah sumber ekonomi (yang cerminkan dalam bentuk cost) yang telah keluar dari kesatuan usaha menjadi expired cost.

Akibat penyerahan barang atau jasa kepada pelanggan dalam upaya menghasilkan pendapatan.

Untuk tujuan pelaporan yang informatif, cost yang telah keluar ini secara konvensi ditampung ke dalam tiga wadah, yaitu:

  1. produk terjual
  2. periode berjalan
  3. rugi yang secara keseluruhan merupakan biaya.

Bahwa suatu saat cost adalah berubah menjadi biaya bukan berarti bahwa cost sama dengan biaya.

Yang sesungguhnya terjadi adalah data cost yang semula ditampung dalam wadah aset atau lainnya, sekarang dialihkan atau dinyatakan masuk ke wadah biaya.

Tujuannya adalah untuk merepresentasikan aktivitas perusahaan yang senyatanya.

Demikian juga, kalau bahan baku, tenaga kerja, dan overhead digabungkan menjadi produk.

Maka biaya yang melekat pada komponen produk tersebut sekarang melekat pada produk tersebut.

Oleh karena itu, semua komponen akan membentuk cost produk, bukan biaya produk atau harga pokok produk.

Istilah beban sebagai sinonim kata expense secara rasa bahasa tidak tepat, karena istilah beban sama sekali tidak mengandung makna ekonomi.

Artinya, istilah tersebut, khususnya bila berdiri sendiri tidak memberi kesan sebagai jumlah rupiah atau nilai ekonomi sebagaimana istilah biaya, cost rugi, pendapatan, dan laba.

Kecuali itu, istilah beban tidak mengisyaratkan makna sebagai suatu aliran keluar sumber ekonomi dari kesatuan usaha.

Istilah beban mempunyai arti tidak lebih dari sekedar pengurang atau debit (charge to revenue) dan berkaitan dengan teknik pembukuan semata-mata.

Secara teknis, biaya memang sering disebut beban karena dalam akun laba rugi (income summary), semua biaya dibebankan atau didebit (charged) ke akun tersebut.

Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa biaya dapat disebut sebagai beban atau debit.

Lebih jauh, beban mempunyai arti sebagai sesuatu yang harus ditanggung padahal secara konseptual  expense (biaya) adalah  sesuatu yang harus dikorbankan dahulu untuk menciptakan pendapatan.

Menyebut expense sebagai beban sama saja dengan mengatakan bahwa pendapatan harus menangung biaya.

Dan ini bertentangan dengan konsep bahwa cost yang telah dikorbankan (keluar dari kesatuan usaha) merupakan upaya (effort) untuk menimbulkan pendapatan.

Namun demikian, secara teknis pendapatan diukur lebih dahulu baru kemudian biaya yang menghasilkan pendapatan tersebut ditentukan untuk dikurangkan.

Atau dibebankan ke pendapatan sehingga angka laba diperoleh.

 

05: Harga Pokok dan Beban Pokok Penjualan

pengertian harga pokok produksi

Cost of goods sold berarti cost yang melekat pada barang yang terjual dan menjadi bagian dari total biaya.

Oleh karena itu, padan kata yang logis dan jelas maknanya adalah cost barang terjual atau dapat juga cost produk terjual.

Dalam perusahaan jasa obyek ini dapat disebut cost jasa terjual atau cost of services sold.

Bila cost diterjemahkan harga pokok, berarti goods sold diartikan sebagai penjualan. Ini kurang tepat.

Perhatikan contoh berikut ini:

Seandainya penjualan tercatat Rp 1.000.000, sebuah mesin tercatat Rp 800.000.

Dan cost yang melekat pada barang yang terjual tercatat Rp 600.000 sebagaimana di lukiskan dalam gambar berikut ini:

Harga Pokok Penjualan
Gambar: Penjelasan istilah Harga Pokok Penjualan (HPP)

Manakah jawaban yang benar atas pertanyaan di bawah ini, bila pos-pos yang tergambar dipandang sebagai obyek pengukuran.

Dan harga pokok dianggap sebagai pengukur dan bahan olah akuntansi.

  1. Berapa harga pokok penjualan? Rp 1.000.000 atau kurang dari Rp 1.000.000?
  2. Berapa harga pokok mesin? Rp 800.000 atau kurang dari Rp 800.000?

Sebagaimana yang digunakan sekarang, maka jawabannya adalah sebagai berikut:

  • untuk pertanyaan (a) adalah Rp 600.000 dan
  • untuk pertanyaan (b) adalah Rp 800.000.

Jika memang tepat, sebagai bahan olah mestinya jawaban untuk pertanyaan (a) adalah Rp 1.000.000.

Karena penjualan dan mesin sama-sama merupakan obyek dan harga pokok harus bermakna sama, atau konsisten untuk semua obyek.

Akan tetapi, kenyataannya tidak demikian.

Ini berarti harga pokok tidak dapat sebagai pengukur dan sekaligus bahan olah akuntansi.

Jaman old kalau ada pedagang ditanya apakah dia mendapat keuntungan, pedagang sering menjawab dengan ungkapan:

“Pokoknya saja belum kembali, kok sudah memikirkan untung”.

Yang dimaksud “pokok” dalam ungkapan tersebut adalah “pokok penjualan” alias barang dagangan yang telah terjual (goods sold), tapi bukan nilai penjualan itu sendiri.

Kalau goods sold dimaknai pokok penjualan, yaitu harga barangnya saja, berarti cost diartikan sebagai harga.

Ini juga kurang tepat, karena cost tidak sama maknanya dengan harga.

Lebih dari itu, hal ini tidak bisa diterapkan untuk mesin karena tidak ada makna “pokok mesin”.

Jadi, harga pokok penjualan sebagaimana digunakan sekarang dan harga pokok mesin adalah dua konsep yang tidak konsisten.

Yang pertama, bermakna harga pokok penjualan

Yang kedua, bermakna harga pokok mesin (karena tidak ada konsep pokok mesin dalam dalam akuntansi)

Jadi kesimpulannya adalah:

Sebagai objek pengukuran, makna “produk fisik yang terjual” (goods sold) tidak sama dengan makna “penjualan” (sales).

Oleh karena itu, menyebut cost of goods sold dengan harga pokok penjualan sebenarnya kurang tepat.

Dalam perusahaan jasa, cost of services sold akan setara dengan cost barang terjual.

Akan tetapi, karena jasa tidak mempunyai unit fisik sebagai wadah pengukuran, maka istlah cost of services sold praktis tidak akan pernah digunakan.

Kalau pun digunakan, obyek tersebut tidak mempunyai kandungan informasi yang berarti.

Dalam perusahaan jasa, semua aliran keluar aset dalam upaya memperoleh pendapatan akan disebut BIAYA.

 

06: Arti Penting Istilah yang Tepat

Penggunaan istilah yang menggambarkan makna tidak hanya bermanfaat dalam menghindari kerancuan.

Tapi juga akan memudahkan untuk memahami akuntansi sebagai penyedia informasi keuangan kuantitatif dan mendorong pemahaman akuntansi dengan perspektif yang lebih luas.

Istilah membawa perilaku.

Oleh karenanya istilah yang salah akan menyebabkan perilaku yang salah pula.

Lebih dari itu, dengan istilah yang tepat dan tunggal, mereka yang akan mempelajari buku teks akuntansi berbahasa Inggris juga akan terbanu, karena adanya pengertian istilah yang konsisten.

Dalam menemukan istilah yang tepat, kita harus beranggapan bahwa pemakai Laporan Keuangan adalah orang yang mempunyai tingkat pengetahuan tertentu.

Oleh karena itu, jangan sampai kita tergelincir untuk menolak suatu istilah semata-mata hanya atas dasar kekhawatiran-kekhawatiran tertentu.

Misalnya orang yang tidak berkepentingan dengan akuntansi.

Tentunya akademisi dan praktisi profesional yang memahami masalah kebahasaan dalah pihak yang mudah menerima gagasan baru.

Sepanjang gagasan tersebut masuk akal dan akan membawa ke keadaan yang lebih baik.

 

07: Akuntansi Keuangan dan Penciptaan Data Cost

perbedaan cost dan expense

A: Sistem Informasi Akuntansi

Pihak eksternal perusahaan berkepentingan dengan:

  • Posisi keuangan
  • Kemampuan menghasilkan laba
  • Aliran kas
  • Informasi lain yang berkaitan dengan perusahaan secara keseluruhan.

Mereka berkepentingan dengan pengukuran dan penyajian 10 komponen Laporan Keuangan.

Sebaliknya, pihak internal, yakni manajemen perusahaan berkepentingan untuk mengelola dana dalam bentuk kegiatan ekonomi yang menghasilkan laba.

Oleh karena itu, manajemen sangat berkepentingan untuk mengendalikan aktivitas operasi perusahaan.

Manajemen memerlukan informasi untuk:

  • perencanaan,
  • pengendalian,
  • pelaksanaan operasi,
  • pengkoordinasian,
  • pertanggungjawaban keluar.

Dalam menjalankan perusahaan, manajemen akan banyak membuat keputusan dan memerlukan informasi untuk menunjang keputusannya.

Untuk melayani kebutuhan informasi, tentunya suatu unit organisasi atau perusahaan mempunyai sistem akuntansi yang dapat menyediakan data dasar untuk menghasilkan informasi.

Sistem akuntansi harus dapat melayani kebutuhan informasi, baik untuk keperluan eksternal maupun internal.

Jadi, sistem akuntansi harus dapat menghasilkan data dasar untuk kepentingan akuntansi keuangan dan akuntansi manajerial.

Data dasar hendaknya merupakan angka hasil pengukuran yang obyektif dan terverifikasi.

Ini berarti bahwa tiap kejadian ekonomi harus diukur atas dasar harga kesepakatan.

Atau kebijaksanaan yang obyektif yang terlibat dalam tiap transaksi dan bila perlu harus didukung dengan bukti transaksi yang sah.

 

B: Cost Accounting System

Dalam akuntansi keuangan, data dasar yang dihasilkan adalah cost.

Data cost yang dihasilkan dalam pelaporan keuangan adalah data dasar yang pokok yang minimal harus tersedia dalam perusahaan.

Data cost diklasifikasi atas dasar komponen laporan keuangan.

Tentu saja untuk keperluan yang lebih rinci, tiap komponen laporan keuangan dapat dipecah lagi menjadi pos-pos.

Frekuensi kebutuhan informasi keuangan untuk kepentingan eksternal bersifat periodik, dan bahkan hanya sekali dalam satu periode akuntansi.

Lebih dari itu, struktur akuntansi keuangan lebih bersifat formal.

Sehingga sistem akuntansi untuk penyediaan/ penciptaan data dasarnya akan sangat tersrtuktur.

Informasi yang harus tersedia secara kontinu, bahkan setiap saat justeru lebih dibutuhkan untuk kepentingan manajerial (internal).

Oleh karena itu, diperlukan sistem yang dapat melayani kebutuhan internal ini.

Sistem ini dikenal dengan cost accounting system (sistem akuntansi biaya)

Sistem ini tentu saja bukan merupakan sistem yang terpisah dengan sistem yang menghasilkan data dasar untuk pelaporan keuangan eksternal.

Melainkan merupakan bagian atau sub sistem yang dapat melayani kebutuhan internal maupun eksernal.

Maka, perancangan sistem ini biasanya dilakukan bersama-sama dengan perancanan sistem akuntansi keuangan.

Ditinjau dari objek atau elemen yang menjadi dasar klasifikasi cost adalah sistem akuntansi untuk menghasilkan.

Dan mengklasifikasikan data dasar untuk keperluan eksternal dan sistem akuntansi untuk keperluan manajemen.

 

C: Komponen Sistem Informasi Akuntansi

Karena kepentingan manajerial berbeda dengan kepentingan pihak luar.

Maka obyek atau elemen yang menjadi pusat perhatian manajemen juga berbeda dengan elemen yang menjadi pusat perhatian pihak eksternal.

Walaupun kepentingan manajerial lebih berorientasi ke masa sekarang dan masa mendatang.

Data dasar yang dihasilkan oleh kerangka akuntansi keuangan pada umumnya digunakan juga sebagai data dasar dalam kerangka akuntansi manajemen.

Dengan kata lain, data cost yang dihasilkan dalam kerangka akuntansi keuangan.

Dapat digunakan juga sebagai pengukur berbagai obyek yang menjadi pusat perhatian manajemen untuk mengenali ukuran dan hubungan berbagai obyek tersebut.

Tentu saja, manajemen mempunyai keleluasaan untuk menggunakan berbagai konsep cost sebagai pengukur berbagai obyek sesuai dengan tujuannya.

Sehingga, cost accounting system harus dirancang dengan memperhatikan berbagai cost object.

Atau cost objective yang kiranya akan dibutuhkan untuk membantu manajemen dalam pengambilan keputusan tertentu.

Cost accounting adalah sistem untuk merinci dan mereklasifikasi data cost untuk kepentingan manajerial (internal).

Dipandan secara demikian dan dengan mendasarkan diri pada konsep cost sebagai bahan olah, maka cost accounting tidak dapat lagi diartikan sebagai akuntansi biaya.

Karena cost accounting mempunyai pengertian yang lebih luas dari sekedar menghitung biaya.

Cost accounting berkepentingan untuk menhasilkan informasi.

Mengartikan cost accounting dengan akuntansi biaya, akan menjadikan pemahaman yang sempit mengenai luas lingkup cost accounting.

Akibat digunakannya istilah akuntansi biaya, terjadilah fiksasi fungsional bahwa cost accounting berkepentingan dengan perancangan sistem untuk menyediakan inforamasi.

Dengan demikian, istilah akuntansi biaya yang sekarang dikenal, seharusnya disebut akuntansi cost adalah akuntansi yang membahas pemanfaatan data cost untuk kepentingan pengambilan keputusan manajemen.

Bukan berarti istilah biaya tidak boleh digunakan.

Istilah biaya masih tetap digunakan, bila yang dimaksud adalah obyek untuk menunjukkan sumber ekonomi yang telah atau akan dikorbankan dalam rangka memperoleh pendapatan.

Biaya adalah obyek dan cost adalah pengukur (measurement).

Tergantung pada tujuan manajemen, cost yang digunakan sebagai pengukur dapat berupa:

  • cost historis,
  • cost sekarang, atau
  • cost masa datang.

 

08: Kesimpulan

Cost adalah pengukur dan sekaligus bahan oleh akuntansi.

Istilah biaya, harga pokok, atau harga perolehan tidak tepat sebagai sinonim (padan kata) istilah cost.

Biaya lebih merupakan obyek daripada pengukur dalam menghasilkan informasi kuantitatif.

Cost juga kurang tepat jika disebut sebagai harga perolehan, karena harga perolehan hanya berlaku untuk menunjuk cost pada saat terjadinya.

Biaya lebih tepat kalau digunakan sebagai padan kata expense.

Biaya/ expense adalah pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh pendapatan.

Pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh barang dan jasa tidak dapat dikatakan sebagai biaya.

Karena pengorbanan tersebut sebenarnya hanyalah perubahan dari sumber ekonomi yang satu menjadi sumber ekonomi yang lain.

Untuk menambah wawasan, saya sajikan penjelasan cost dari perspektif lain melalui video berikut ini:

Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat.

Terima kasih.

***

manajemen keuangan dan SOP