4 Metode Depresiasi Aset Tetap, Mana Yang Anda Pakai?

Depresiasi adalah bagian dari harga perolehan aset tetap yang secara sistematis dialokasikan menjadi biaya di setiap periode akuntansi.

Istilah depresiasi digunakan untuk menunjukkan alokasi harga perolehan aset tetap berwujud yang dapat diganti, seperti gedung, mesin dan alat-alat.

Sedangkan alokasi harga perolehan aset tetap berwujud yang tidak dapat diganti seperti sumber-sumber alam (wasting assets) disebut deplesi.

Dan alokasi harga perolehan aset tetap tidak berwujud disebut amortisasi.

Bagaimana cara menghitung nilai depresiasi tersebut?

Ikuti pembahasan lengkapnya berikut ini…

 

01: Pengertian Depresiasi (Penyusutan)

Pengertian Depresiasi Adalah

A: Pengertian Depresiasi dari Segi Akuntansi

Dari segi akuntansi, pengertian depresiasi adalah suatu proses alokasi biaya secara sistematik dan rasional.

Serta jumlah rupiahnya diukur atas dasar bagian biaya potensi jasa yang dianggap telah dimanfaatkan dalam menciptakan pendapatan.

Depresiasi sebagai biaya tidak berbeda dengan jenis biaya operasi lainnya.

Biaya fasilitas fisik mempunyai kedudukan yang sama seperti biaya manfaat ekonomi lain yang diperoleh dan dimanfaatkan sekaligus dalam periode terjadinya.

Depresiasi adalah biaya yang benar-benar terjadi dan dikeluarkan (out of pocket cost) seperti biaya lainnya.

Memang benar bahwa biaya depresiasi untuk periode tertentu tidak menunjukkan pengeluaran pada periode tersebut.

Akan tetapi, biaya depresiasi tersebut mengukur bagian pengeluaran masa yang lalu.

Yang dipandang layak dibebankan terhadap aktivitas atau pendapatan periode berjalan.

Jadi, biaya fasilitas fisik merupakan suatu bentuk ekstrem biaya dibayar di muka.

Dan akuntansi depresiasi adalah sarana untuk membebankan biaya dibayar di muka tersebut ke produksi atau periode berjalan.

 

B: Pengertian Depresiasi Menurut Para Ahli

Pengertian Depresiasi menurut para ahli seperti Paton dan Littleton menyatakan bahwa depresiasi adalah sebagai berikut:

Plant renders an esential service to production, and its cost is a form of deferred charge which should be gradually absorbed in the cost of production.

Ungkapan gradually absorbed memberi isyarat bahwa harus tersedia metode penyerapan atau depresiasi.

 

C: Depresiasi Sebagai Proses Akumulasi Dana

Pengertian depresiasi adalah sebagai proses akumulasi dana didasari oleh gagasan untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidup, perusahaan harus dapat mengganti fasilitas fisik yang habis umurnya.

Akibatnya, perusahaan harus menyisihkan dana dari pendapatan yang diperoleh.

Dengan mengurangi pendapatan, laba akan berkurang sebesar depresiasi yang dibebankan.

Ini berarti bahwa laba sejumlah depresiasi tidak dapat dibagi kepada pemagang saham.

Bagian inilah yang dianggap sebagai dana untuk membeli kembali fasilitas fisik di kemudian hari.

Dengan demikian, depresiasi adalah sarana untuk menjaga keutuhan sumber daya.

Konsep pemertahanan sumber daya semacam ini disebut konsep pemertahanan kapital (capital maintenance concept).

Depresiasi dianggap sebagai sumber dana oleh karena kebiasaan untuk menghitung sumber dana

Atau aliran kas masuk (proceeds) dengan cara menambahkan kembali depresiasi ke laba akuntansi.

Hal ini banyak dijumpai dalam literatur manajemen keuangan yang membahas topik penganggaran kapital (capital budgeting).

Cara menghitung seperti itu sebenarnya hanyalah salah satu teknik penghitungan sumber dana, karena data yang tersedia adalah laporan laba rugi.

Hal ini juga terjadi dalam menghitung aliran kas dari aktivitas operasi untuk menyusun Laporan Arus Kas dengan metode tak langsung.

Walaupun demikian, tidak berarti bahwa depresiasi adalah suatu sumber dana atau penyisihan dana untuk penggantian.

***

Pengakuan biaya depresiasi tidak mempunyai kaitan langsung dengan masalah penggantian.

Jika laba periodik akan diukur dengan tepat maka perlu untuk menandingkan pendapatan dengan semua biaya yang layak, termasuk depresiasi.

Dan proses ini akan tetap dilakukan walaupun tidak ada rencana untuk mengganti fasilitas fisik.

Lagipula, tidak ada dana yang timbul dengan proses pembebanan depresiasi.

Biaya yang dibebankan diperoleh kembali melalui aliran pendapatan dari penjualan produk.

Aliran pendapatan ini tidak dipengaruhi oleh besarnya depresiasi.

Jadi, aliran dana masuk (pendapatan) adalah aliran yang berbeda dengan aliran dana keluar, termasuk depresiasi.

Jika pendapatan cukup untuk menutup semua biaya yang bersangkutan dengan pendapatan.

Aliran masuk dana yang tertanam dalam perusahaan dengan berbagai bentuknya akan menjadi bertambah dan sebaliknya.

Memang yang diharapkan adalah pemertahanan kapital dapat dijamin dengan akuntansi depresiasi yang tepat.

Memang benar jika semua biaya dapat ditutup oleh pendapatan, maka akan terdapat dana yang cukup untuk mempertahankan seluruh elemen modal kerja.

Dan untuk menutup bagian bagian biaya fasilitas fisik yang telah dikonsumsi.

Akan tetapi, dengan pikiran ini, tidak berarti bahwa akuntansi depresiasi adalah proses penghimpunan dana atau sumber dana.

 

D: Depresiasi Sebagai Pemulihan Investasi

Konsep pemulihan investasi (investment cost recovery) ini secara konseptual sama dengan pandangan di atas, tapi dianggap bahwa fasilitas fisik didanai dengan utang.

Agar perusahaan mampu membayar kembali investasinya maka harus dilakukan penyisihan dana dengan cara mengurangi pendapatan perusahaan sebesar depresiasi.

 

E: Depresiasi Sebagai Proses Penilaian

Pendefinisian depresiasi sebagai bagian biaya yang dibebankan secara sistematik dan rasional adalah pemaknaan depresiasi secara sintaktik.

Artinya, depresiasi didefinisikan sebagai penerapan prosedur.

Kelemahan pendefinisian ini adalah alokasi sistematik dalam banyak hal tidak merepresentasikan fenomena atau aktivitas operasi yang sesungguhnya.

Dengan kata lain, alokasi biaya hanya merupakan mekanisme yang tidak mencerminkan realitas ekonomi.

Sebagai contoh, dengan metode garis lurus, depresiasi tetap diperhitungkan meskipun dalam suatu periode aktivitas produksi sedang rendah.

Atau berhenti sehingga depresiasi tidak merepresentasikan realitas yang ada, sehingga diperlukan definisi yang bersifat semantik.

Contoh lain pendefinisian secara sintaktik atau struktural adalah pemaknaan laba sebagai selisih antara pendapatan dikurangi biaya.

Definisi ini hanya bersifat mekanisme karena untuk mendapatkan makna semantik, pendapatan dan biaya harus didefinisikan dahulu secara semantik.

***

Salah satu pendefinisian secara semantik adalah depresiasi dipandang sebagai penurunan potensi jasa selama periode operasi, akibat keausan fisik, konsumsi manfaat, atau keusangan teknologi.

Dengan demikian, penurunan potensi jasa selama periode dapat dipandang sebagai selisih penilaian antara potensi jasa awal dan potensi jasa akhir, baik secara fisik maupun moneter.

Bila potensi jasa dipandang sebagai jasa fisik, depresiasi adalah penurunan jasa fisik karena konsumsi manfaat dalam periode-periode yang diantisipasi.

Pada umumnya, perusahaan membeli fasilitas fisik dengan memperhitungkan jasa fisik total atau kapasitas yang melekat pada aset tersebut.

Kapasitas fisik dapat dinyatakan dalam:

  • unit produk yang dapat dihasilkan,
  • jam pemakaian,
  • kilometer terpakai (untuk kendaraan) atau
  • unit lain yang dapat menjadi pengukur konsumsi fisik.

Metode unit produksi adalah implementasi makna depresiasi sebagai penurunan jasa fisik ini.

Karena penekanan pada pemakaian jasa fisik, biaya historis menjadi basis pengukuran depresiasi.

Dengan kata lain, biaya historis adalah sarana untuk mempresentasikan dan merunut aliran fisik potensi jasa.

***

Dengan demikian, fungsi neraca adalah menunjukkan sisa potensi jasa, sehingga dasar penilaiannya adalah biaya yang masih melekat pada sisa jasa fisik tersebut (sering disebut nilai buku).

Jadi, sebagai penurunan potensi jasa fisik, depresiasi untuk setiap periode adalah konsumsi jasa fisik yang diukur atas dasar biaya historis (biaya yang melekat pada aset).

Bila fasilitas fisik dipandang sebagai suatu kapital, depresiasi adalah penurunan nilai kapital bukan hanya karena konsumsi melainkan juga karena keausan, keusangan, dan faktor ekonomi lainnya.

Depresiasi untuk suatu periode adalah selisih penilaian ekonomi antara fasilitas fisik awal dan akhir periode.

Dengan pendekatan ini, depresiasi bukan lagi merupakan proses alokasi sehingga biaya historis tidak harus menjadi basis pengukuran.

Yang menjadi masalah adalah bagaimana menilai fasilitas fisik awal dan akhir.

Penilaian dapat didasarkan atas nilai masukan dan keluaran.

Penentuan depresiasi dapat dilakukan tiap akhir periode semata-mata atas dasar penilaian aset pada saat itu tanpa memperhatikan taksiran-taksiran yang pernah dilakukan sebelumnya.

Dapat juga depresiasi ditentukan pada saat aset diperoleh untuk periode-periode masa datang yang memperoleh manfaat.

Pada umumnya, pendekatan terakhir yang digunakan karena keperluan untuk menyusun tabel depresiasi.

Tentu saja pendekatan ini memerlukan penaksiran faktor-faktor penentu depresiasi.

 

02: Faktor Penyebab Terjadinya Depresiasi (Penyusutan) Aset Tetap

Penyebab Depresiasi Adalah

Ada dua faktor yang menyebabkan terjadinya penyusutan atau depresiasi, yaitu :

1. Faktor Fisik

Beberapa faktor yang mengurangi fungsi aset tetap adalah aus karena digunakan (wear and tear), aus karena umur (deterioration and decay) dan kerusakan-kerusakan.

2. Faktor Fungsional

Ada beberapa faktor yang membatasi umur aset tetap yaitu:

  • Ketidakmampuan aset untuk memenuhi kebutuhan produksi sehingga perlu diganti dan
  • Karena adanya perubahan permintaan terhadap barang atau jasa yang dihasilkan.
  • Atau karena adanya kemajuan teknologi sehingga aset tersebut tidak ekonomis lagi jika dipakai.

Ketiga faktor tersebut di atas harus dipertimbangkan ketika menentukan taksiran umur manfaat dari aset tetap.

Misalnya secara fisik mesin ditaksir dapat digunakan dalam jangka waktu 20 tahu.

Namun diperkirakan pada tahun kesepuluh akan ada perkembangan teknolgi baru yang dapat menghasilkan mesin yang lebih canggih.

Maka kondisi seperti ini maka taksiran umur fisik 20 tahun tidak dapat digunakan lagi sebagai dasar perhitungan depresiasi.

Bila diperkirakan adanya jenis mesin baru yang lebih canggih tersebut.

Perusahaan harus mengganti mesinnya maka umur ekonomis mesin yang dapat digunakan dalam perhitungan depresiasi adalah 10 tahun.

Selain kedua faktor di atas, taksiran umur aset tetap juga dipengaruhi oleh rencana reparasi dan pemeliharaan.

Bila rencana reparasi dan pemeliharaan disusun dengan biaya yang minimum.

Maka diharapkan aset tetap akan mempunyai umur yang lebih pendek dibandingkan jika rencana reparasi dan pemeliharaannya tidak minimum.

 

03: Penentuan Biaya Depresiasi (Penyusutan) Aset Tetap

Biaya depresiasi dibebankan di setiap periode akuntansi.

Ada tiga faktor yang harus dipertimbangkan ketika menentukan biaya depresiasi.

Biaya depresiasi ini merupakan taksiran yang ketelitiannya sangat tergantung pada ketelitian penentuan ketiga faktor itu.

Dan ketelitian biaya depresiasi ini akan mempengaruhi besarnya laba rugi perusahaan di setiap periode.

Apabila depresiasi tidak dihitung dengan teliti maka jumlah laba rugi perusahaan juga menjadi tidak teliti.

Ada tiga faktor yang perlu dipertimbangkan ketika menentukan biaya penyusutan/ depresiasi, yaitu:

#1: Harga Perolehan

Untuk memperoleh suatu aset tetap dan menempatkan sesuai dengan kebutuhan sehingga bisa dimanfaatkan maka diperlukan sejumlah uang atau dengan utang.

Pengeluaran sejumlah uang atau timbulnya utang tersebut merupakan harga perolehan dari aset tetap.

 

#2: Nilai Sisa (residu)

Pengertian nilai sisa/ residu adalah jumlah yang diterima bila suatu aset dijual, ditukarkan atau cara-cara lain ketika aset tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi, dikurangi dengan biaya-biaya yang terjadi pada saat menjual atau menukarkannya.

 

#3: Taksiran Umur Manfaat

Cara dan kebijaksanaan dalam pemeliharaan serta reparasi akan mempengaruhi taksiran umur manfaat suatu aset.

Taksiran umur ini bisa dinyatakan dalam satuan periode waktu, satuan hasil produksi atau satuan jam kerjanya.

Dalam menaksir umur aset harus dipertimbangkan sebab-sebab ke-ausan fisik dan fungsional.

 

04. Metode Depresiasi Aset Tetap

Metode Depresiasi Aset

Ada 4 metode yang dapat digunakan untuk menghitung beban depresiasi setiap periode.

Pemilihan metode apa yang akan digunakan hendaknya dipertimbangkan keadaan-keadaan yang yang mempengaruhi aset tersebut.

Ke-empat metode penyusutan aset tetap itu adalah :

A. Metode Depresiasi #1. Garis Lurus (Straight Line Method)

Metode depresiasi ini adalah yang paling sederhana dan banyak digunakan.

Dan merupakan salah satu metode yang diperbolehkan dalam perhitungan pajak.

Cara ini membebankan nilai depresiasi dengan jumlah yang sama untuk tiap periode, tidak menghiraukan kegiatan dalam periode tersebut.

Perhatikan contoh prhitungan nilai depresiasi aset tetap dengan metode ini:

PT Xidev Jaya membeli mesin produksi seharga Rp 60.000.000.

Taksiran nilai residu sebesar Rp. 4.000.000.

Umur manfaat ditaksir selama 4 tahun.

Perhitungan nilai depresiasi tiap tahunnya adalah:

metode penyusutan garis lurus

Metode garis lurus sebaiknya digunakan untuk menghitung depresiasi:

  • gedung,
  • furniture dan
  • alat-alat kantor.

 

B. Metode Depresiasi #2. Jam Jasa (Service Hours Method)

Metode jam jasa didasarkan pada anggapan bahwa aset (mesin) akan lebih cepat rusak bila  igunakan sepenuhnya (full time) dibanding dengan penggunaan yang tidak sepenuhnya (part time).

Beban depresiasi dalam metode ini dihitung dengan dasar satuan jam jasa.

Beban depresiasi tiap periode-nya tergantung pada jam jasa yang digunakan.

Perhatikan contoh perhitungan depresiasi aset tetap dengan metode ini:

Misalnya, mesin dengan harga perolehan Rp 60.000.000, nilai sisa Rp 4.000.000 ditaksir akan dapat digunakan selama 80.000 jam.

Perhatikan cara menghitung nilai depresiasi per jam berikut ini:

metode penyusutan jam jasa

Bila dalam tahun pertama, mesin tersebut digunakan selama 8000 jam maka beban depresiasinya adalah :

= 8.000 x Rp 700 = Rp. 5.600.000

Metode jam jasa paling tepat jika digunakan untuk kendaraan.

Dengan anggapan kendaraan itu lebih banyak aus karena digunakan dibandingkan dengan tua karena waktu.

 

C. Metode Depresiasi #3. Hasil Produksi (Productive Output Method)

Umur kegunaan aset ditaksir dalam satuan jumlah unit hasil produksi.

Metode depresiasi adalah cara perhitungan depresiasi dengan dasar satuan hasil produksi.

Sehingga depresiasi tiap periode akan berfluktuasi sesuai dengan fluktuasi hasil produksi.

Dasar teori yang digunakan adalah suatu aset dimiliki untuk menghasilkan produk sehingga depresiasi juga didasarkan pada jumlah produk yang dapat dihasilkan.

Untuk dapat menghitung beban depresiasi tiap periode, harus dihitung tarif depresiasi tiap unit produk.

Selanjutnya tarif ini dikalikan dengan jumlah produk yang dihasilkan dalam periode tersebut.

Perhatikan contoh perhitungan depresiasi dengan metode hasil kerja berikut ini:

Misalnya, mesin dengan harga perolehan Rp 60.000.000, nilai sisa Rp 4.000.000 ditaksir selama umur penggunaannya akan menghasilkan 56.000 unit produk.

Cara menghitung nilai depresiasi per unit produk adalah:

metode penyusutan hasil produksi

Apabila dalam tahun penggunaan pertama, mesin tersebut menghasilkan 18.000 unit produk, maka beban depresiasi untuk tahun itu sebesar:

= 18.000 x Rp 1000 = Rp 18.000.000

Metode penyusutan ini sebaiknya digunakan untuk aset-aset yang bisa diukur hasil produksinya, seperti mesin.

Beban depresiasi yang dihitung dengan metode hasil produksi, jumlah tiap periode tergantung pada jumlah produksi.

Sehingga biaya depresiasi yang dihitung dengan cara ini bersifat variabel.

 

D. Metode Depresiasi #4. Beban Berkurang (Reduce Charge Method)

Metode penyusutan aset tetap dengan menggunakan cara ini, beban depresiasi tahun pertama lebih besar daripada tahun berikutnya.

Metode ini didasarkan pada teori bahwa aset yang baru akan dapat digunakan dengan lebih efisien dibanding aset yang tua.

Demikian juga dengan biaya perbaikan dan pemeliharaannya.

Aset yang baru akan memerlakukan akan memerlukan biaya pemeliharaan dan perbaikan yang lebih sedikit dibanding aset lama.

Dengan metode ini diharapkan jumlah beban depresiasi dan biaya pemeliharaan serta perbaikan dari tahun ke tahun akan relatif stabil.

Di tahun pertama, bila depresiasinya besar maka biaya pemeliharaannya kecil.

Sebaliknya di tahun terakhir beban depresiasi kecil sedangkan biaya pemeliharaannya besar.

Ada 4 metode depresiasi aset tetap yang menurun dari tahun ke tahun, yaitu:

#1:  Jumlah angka tahun (sum of years digits method)

Metode penyusutan aset tetap yang dihitung dengan cara mengalikan bagian pengurang (reducing fraction) yang setiap tahunnya selalu menurun dengan harga perolehan dikurangi nilai residu.

 

#2:  Saldo menurun (declining balance method)

Depresiasi dihitung dengan cara mengalikan tarif yang tetap dengan nilai buku aset.

Karena nilai aset ini setiap tahunnya selalu menurun maka beban depresiasi tiap tahunnya juga selalu menurun.

 

#3: Double declining balance method

Beban depresiasi tiap tahunnya menurun.

Dasar yang digunakan adalah persentase depresiasi dengan cara garis lurus.

Persentase ini dikalikan dua dan setiap tahunnya, dilakukan pada nilai buku aset tetap.

Karena nilai buku selalu menurun maka beban depresiasi juga selalu menurun.

 

#4: Tarif menurun (declining rate on cost method)

Cara menghitung depresiasi dengan menggunakan tarif (persen – %) yang selalu menurun.

Tarif ini setiap periode dikalikan dengan harga perolehan.

Penurunan tarif di setiap periode dilakukan tanpa menggunakan dasar yang pasti, tapi ditentukan berdasarkan kebijaksanaan manajemen perusahaan.

Karena tarifnya selalu menurun dalam setiap periode maka beban depresiasinya juga selalu menurun.

 

05: Metode Penilaian Kapital untuk Menentukan Depresiasi

cost adalah

Berikut ini beberapa metode penilaian kapital awal dan akhir periode untuk menentukan depresiasi sebagai penurunan nilai.

A: Nilai Setara Tunai (current cash equivalents)

Dengan basis ini, penurunan nilai fasilitas fisik ditentukan dengan cara menghitung selisih nilai setara tunai pada awal dan akhir periode.

Nilai ini adalah harga pasar aset yang sama dalam kondisi yang sama sebagai barang bekas.

Di sini dianggap bahwa daya beli uang stabil.

Kalau tidak, dalam hal tertentu nilai pasar dapat naik sehingga nilai tidak turun atau bahkan menjadi lebih tinggi.

Untuk mengatasi hal ini, kadang-kadang nilai jual ini disesuaikan dengan indeks harga yang berlaku untuk menghilangkan pengaruh kenaikan harga karena perubahan daya beli uang.

 

B: Kontribusi Pendapatan Neto Diskon (discounted net revenue contribution)

Dengan penilaian ini, depresiasi ditentukan dengan cara menghitung selisih nilai diskon aliran kontribusi pendapatan neto pada awal dan akhir periode.

Kontribusi pendapatan neto adalah tambahan aliran kas masuk (pendapatan) karena adanya investasi fasilitas fisik bersangkutan.

Penilaian ini mirip dengan penerimaan kas masa datang diskon (discounted future cash receipts) untuk penilaian investasi jangka panjang, misalnya: obligasi.

Bedanya, aliran kas masukinvestasi jangka panjang berasal langsung dari investasi yang jumlah dan saatnya cukup pasti.

Sedangkan aliran kas masuk dari fasilitas fisik tidak langsung dan harus ditaksir melalui pendapatan neto (laba tunai) yang dikontribusi oleh penggunaan aset.

Penilaian semacam ini adalah contoh imputasi pendapatan.

Tambahan aliran masuk ini juga dapat berupa penghematan biaya (cost saving).

Penilaian ini memerlukan informasi tarif diskon yang biasanya didasarkan atas tingkat kembalian (rate of return) investasi bebas risiko atau tingkat bunga umum yang berlaku.

 

Perhatikan contoh berikut ini:

Suatu fasilitas fisik dapat memberi kontribusi aliran kas aliran masa datang tahunan selama lima tahun berturut-turut sebagai berikut:

  • Rp 1.200.000
  • Rp 1.000.000
  • Rp 1.500.000
  • Rp 900.000
  • Rp 1.000.000

Nilai residual telah termasuk dalam aliran kas terakhir.

Bila tingkat kembalian diperhitungkan 25%, depresiasi tahunan atas dasar penurunan nilai disajikan dalam tabel berikut ini:

Contoh Perhitungan Depresiasi
Tabel: Depresiasi Atas Dasar Penurunan Kontribusi Neto Dokumen

Keterangan:

#1: Nilai sekarang kontribusi pendapatan neto awal tahun diperoleh dari perhitungan sebagai berikut:

1.200.000 x 0,8000 = 960.000
1.000.000 x 0,6400 = 640.000
500.000 x 0,5120 = 256.000
900.000 x 0,4096 = 368.640
1.000.000 x 0,3277 = 327.680
Total = 2.552.320

 

#1: Nilai sekarang kontribusi pendapatan neto tahun #2, diperoleh dari perhitungan sebagai berikut:

1.000.000 x 0,8000 = 800.000
500.000 x 0,6400 = 320.000
900.000 x 0,5120 = 460.800
1.000.000 x 0,4096 = 400.600
Total = 1.990.400

 

Nilai sekarang Rp 2.552.320 pada awal tahun pertama dapat diinterpretasikan sebagai proksi atau estimator nilai kesepakatan pada saat perolehan aset tetap.

Seandainya fasilitas fisik diperoleh dengan harga dibawah atau di atas nilai tersebut.

Maka selisihnya harus disebar selama umur aset secara proporsional dengan kontribusi pendapatan neto atau dengan cara lain.

Untuk mengatasi adanya selisih, diusulkan metode yang disebut depresiasi sesuai waktu (time adjusted depreciation).

Metode ini sama dengan metode di atas, tapi tarif diskon ditentukan atas dasar tingkat kembalian internal  (internal rate of return).

Yaitu tingkat kembalian yang menjadikan nilai sekarang aliran kontribusi pendapatan neto sama dengan harga perolehan aset tetap.

Tingkat kembalian ini dikalikan  dengan nilai buku pada tiap awal periode merupakan estimator laba yang dihasilkan oleh investasi fasilitas fisik dalam periode tersebut.

Laba ini mencerminkan kontribusi pendapatan neto dikurangi biaya depresiasi.

Dengan kata lain, biaya depresiasi periodik adalah selisih antara kontribusi pendapatan neto dengan estimator laba tersebut.

Dari contoh depresiasi di atas, seandainya:

  • biaya perolehan adalah Rp 2.552.320
  • tingkat pengembalian internal adalah 25%

Laba atau tingkat pengembalian investasi dan depresiasi tiap periode dapat ditentukan seperti berikut ini:

 

Contoh Perhitungan Depresiasi
Tabel: Depresiasi Atas Dasar Sesuaian Waktu

Kelemahan pemaknaan depresiasi seperti di atas adalah depresiasi bersifat deterministik atau statik.

Artinya, sekali ditetapkan, semua perhitungan tidak akan berubah selama masa depresiasi.

Kelemahan-kelemahan lain melekat pada kelemahan aliran kas masa datang sebagai dasar penilaian aset.

 

C: Depresiasi Sebagai Sarana Penandingan Biaya dengan Kontribusi Pendapatan Neto

Pemaknaan depresiasi ini sebenarnya sama dengan pendefinisian secara konvensional, bahwa depresiasi adalah alokasi cost atas dasar pola penyerapan.

Perbedaannya adalah pola penyerapan tidak langsung didasarkan atas penyerapan jasa, tapi atas dasar pendapatan neto yang dihasilkan oleh fasilitas fisik bersangkutan.

Pendapatan neto adalah pendapatan yang dihasilkan oleh fasilitas fisik dikurangi biaya pengoperasian fasilitas fisik.

Hal ini didasarkan atas pemikiran bahwa variasi pendapatan merfleksikan variasi penyerapan jasa fasilitas fisik.

Dengan kata lain, pola penyerapan sejalan dengan pola kontribusi pendapatan neto.

Dengan pemaknaan ini, biaya disebar selama umur aset atas dasar proporsi atau rasio biaya terhadap kontribusi pendapatan neto total.

 

D: Metode Aloksi

Bila depresiasi dimaknai sebagai alokasi cost secara sistematik adan rasional bukan sebagai proses penilaian, metode manakah yang dapat disebut sistematik dan rasional?

Metode yang paling rasional adalah metode yang mendasarkan diri pada aliran penyerapan kapasitas jasa tersebut.

Dengan kata lain, metode yang paling tepat adalah metode unit produksi (production or output method)

Kesulitan utama yang dihadapi metode ini adalah penentuan kapasitas total yang dapat dihasilkan selama umur ekonomi aset bersangkutan.

Di samping itu, keausan fisik tidak selalu proporsional dengan intensitas penggunaan.

Dan juga pengaruh faktor keuangan sama sekali tidak ada hubungannya dengan fluktuasi produk yang dihasilkan.

Untuk kebanyakan situasi metode perhitungan depresiasi tahunan secara garis lurus merupakan metode alternatif yang paling banyak digunakan karena kepraktisannya.

Dan juga karena dalam banyak hal pola penyerapan tiap periode cukup beragam.

Hal yang perlu diperhatikan adalah penggunaan metode garis lurus tidak menghalangi pengalokasian depresiasi tahunan ke dalam beberapa periode interm atas dasar fluktuasi musiman selama satu tahun tersebut.

Keberatan terhadap penyusutan aset tetap metode garis lurus terletak pada sifatnya yang mengabaikan hubungan antara tingkat kembalian investasi (rate of return) dan sisa nilai investasi.

***

Depresiasi dapat juga ditentukan dengan cara melakukan taksiran (appraisal) pada tiap periode atas dasar fisik untuk mengukur ke-ausan.

Metode ini memberikan hasil yang kurang memuaskan.

Biaya depresiasi bukan semata-mata masalah keadaan fisik aset yang bersangkutan.

Kecuali itu, taksiran yang semata-mata didasarkan atas hasil pengamatan fisik ada kemungkinan tidak tidak konsisten dari periode ke periode.

Jadi yang paling diperlukan adalah suatu kebijakan depresiasi yang sistematik dan logis didasarkan atas berbagai kemungkinan dan faktor yang melingkupi fasilitas fisik bersangkutan.

Dan untuk menambah wawasan, saksikan video singkat dari Hima Mankeu PKN STAN berikut ini:

 

06: Hubungan Depresiasi dan Laba

Di atas sudah dibahas bahwa mengkaitkan depreasiasi dengan kontribusi pendaptan neto, sama saja dengan melakukan imputasi pendapatan.

Ini berarti besarnya biaya depresiasi tergantung pada besarnya pendapatan dalam periode tertentu.

Implikasinya adalah dalam hal pendapatan cukup kecil.

Yaitu akan terjadi semacam penundaan biaya depresiasi atau “tahun gemuk menutup tahun kurus”.

Sekali depresiasi telah diprogram secara sistematik dan rasional.

Depresiasi hendaknya tidak ditunda pembebanannya semata-mata karena “pendapatan tidak dapat menutup biaya”.

Alasannya adalah bahwa proses keausan/ kerusakan tidak akan berhenti.

Karena aset fisik tidak digunakan dan perkembangan teknologi juga tetap berjalan selama periode depresiasi.

Alasan lainnya adalah bahwa penentuan laba haruslah merupakan akibat suatu upaya.

Suatu upaya untuk mengungkapkan kenyataan obyektif yang ada tanpa memperhatikan berapa akhirnya laba yang terjadi.

 

07: Kesimpulan

Depresiasi adalah salah satu pos yang disajikan dalam Laporan Keuangan. Alokasi biaya depresiasi disajikan pada Laporan Laba Rugi.

Akumulasi depresiasinya disajikan di Laporan Posisi Keuangan sebagai pengurang nilai aset tetap.

Nilai depresiasi dialokasikan sepanjang perusahaan menggunakan masa ekonomisnya.

Untuk menghitung nilai depresiasi adalah menggunakan 4 metode seperti di atas.

Penggunaan metode depresiasi biasanya disesuaikan dengan jenis dan proses bisnis perusahaan.

Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat.

Terima kasih.

manajemen keuangan dan SOP