Apa Pengertian Laba, Konsep, Cara Penyajian dan Contoh Penerapannya?

Laba adalah imbalan atas upaya perusahaan menghasilkan barang dan jasa. Laba dalam teori akuntansi menunjuk pada konsep yang disebut dengan laba komprehensif. Sedangkan definisi Laba Komprehensif adalah kenaikan aset bersih selain yang berasal dari transaksi dari pemilik.

Masalah pelik yang berkaitan dengan laba adalah menentukan konsep laba secara TEPAT untuk pelaporan keuangan, Sehingga angka-angka yang disajikan dalam laporan laba adalah angka yang bermakna (meaningful), baik secara intuitif maupun ekonomi bagi pemakai Laporan Keuangan. Oleh karena itu, agar tidak terjadi kesalahan dalam pelaporan keuangan, mari ikuti pembahasan beserta contoh aplikasinya berikut ini…

 

01: Konsep Laba

Konsep Laba Akuntansi

Prinsip dan Konsep Laba yang dianut oleh struktur akuntansi sekarang ini adalah laba yang merupakan selisih pengukuran pendapatan dan biaya secara akrual.

Konsep profit semacam ini akan memudahkan pengukuran dan pelaporan profit secara objektif, dan penyusun laporan keuangan mengharapkan bahwa konsep profit semacam itu bermanfaat bagi para pemakai statemen keuangan, khususnya investor dan kreditor. Pada kenyataannya, para pemakai mempunyai konsep profit dan model pengambilan keputusan yang berbeda-beda.

Apapun konsep yang yang digunakan, laba akuntansi dengan berbagai interpretasinya diharapkan dapat digunakan antara lain sebagai:

  1. Indikator efisiensi penggunaan dana yang tertanan dalam perusahaan yang diwujudkan dalam tingkat pengembalian atas investasi (rate of return in invested capital).
  2. Pengukur prestasi atau kinerja badan usaha dan manajemen.
  3. Dasar penentuan besarnya pengenaan pajak.
  4. Alat pengendalian alokasi sumber daya ekonomi
  5. Dasar penentuan dan penilaian kelayakan tarif dalam perusahaan publik.
  6. Alat pengendalian terhadap debitur dalam kontrak utang.
  7. Dasar kompensasi dan pembagian bonus.
  8. Alat motivasi manajemen dalam pengendalian perusahaan.
  9. Dasar pembagian deviden.

 

Metode Pengukuran dan Penyajian Laba Usaha

Teori akuntansi tentang profit akan melibatkan pengukuran dan penyajian laba yang dapat memenuhi berbagai tujuan di atas.

Ada dua pendekatan yang harus dipertimbangkan dalam akuntansi laba, yaitu:

Pendekatan #1: Satu laba untuk berbagai tujuan (single income for different purpose).

Pendekatan ini berusaha untuk memformulasikan konsep laba tunggal (umum).

Dan menyajikannya untuk memenuhi berbagai tujuan secara umum.

Pendekatan #2: Beda tujuan beda laba (different income for different purpose).

Pendekatan ini menggunakan berbagai konsep laba dan menyajikannya secara jelas berbagai konsep profit tersebut secara khusus.

Kebutuhan khusus ini dapat dilayani dengan menyertai laporan keuangan umum, khususnya Laporan Laba Rugi dengan berbagai laporan pelengkap.

 

A: Konsep Laba dalam Tataran Semantik

Definisi dan Pengertian

Konsep Laba dalam tataran semantik berkaitan dengan masalah apa definisi yang harus dilekatkan oleh penyusun laporan pada simbol atau elemen laba.

Sehingga profit bermanfaat (useful) dan bermakna (meaningful) sebagai informasi.

Pada tataran ini, teori akuntansi berusaha untuk menjawab pertanyaan apakah yang harus direpresentasikan oleh laba?

Seperti teori tentang aset, realitas atau apa kegiatan entitas yang harus dipresentasikan oleh angka profit?

Pengertian yang terkandung dalam profit akhirnya harus diinterpretasi oleh pemakai.

Pendefinisian laba secara semantik akhirnya akan menentukan pendefinisian profit secara sintaktik, yaitu pengukuran dan penyajiannya.

 

Pengukur Kinerja

Karena investor dan kreditor adalah pihak yang dituju dalam pelaporan keuangan. Mereka dianggap berkepentingan dengan informasi masa lalu untuk mengevaluasi prospek perusahaan di masa datang.

Laba adalah informasi tentang kinerja masa lalu yang meliputi:

  • kemampuan menciptakan laba (earning power)
  • akuntabilitas, dan
  • efisiensi

Kemampuan menciptakan profit dan efisiensi adalah konsep yang saling berkaitan.

Kinerja perusahaan adalah manifestasi dari kinerja manajemen perusahaan.

Sehingga laba dapat diinterpretasikan sebagai pengukur keefektifan dan keefisienan manajemen perusahaan dalam mengelola sumber daya yang dipercayakan kepadanya.

Untuk menentukan kemampuan menghasilkan laba ada 3 komponen yang harus diketahui, yaitu:

  1. Laba
  2. Periode
  3. Tingkat sumber daya investasi

Profit dapat dapat di-intepretasikan sebagai pengukur keefisienan (efisiensi) bila dihubungkan dengan dengan tingkat investasi. Karena efisiensi secara konseptual adalah suatu hubungan atau indeks. Secara umum, efisiensi adalah kemampuan menciptakan keluaran (output) tertinggi dengan sumber daya tertentu sebagai masukkan (input).

Bila keluaran atau sasaran tertentu telah ditentukan, efisiensi adalah kemampuan mencapai keluaran tertentu dengan sumber daya terendah (minimum) yang dimungkinkan.

  • Dalam akuntansi, laba adalah diinterpretasikan sebagai pengukur efisiensi oleh investor dalam bentuk kembalian atas investasi (ROI – return on investment).
  • Bagi manajemen perusahaan, efisiensi dapat dinyatakan sebagai pengukur efisiensi penggunaan sumber daya dalam bentuk kembalian atas aset (ROA – Return on Assets).
  • Bagi kreditor, efisiensi dapat ditunjukkan dengan tingkat bunga (ROL – Return on Loan).

Jadi angka laba itu sendiri tidak berarti jika tidak dihubungkan dengan tingkat investasi atau tolok ukur tertentu. Misalnya, pendapatan atau penjualan.

Efisiensi perusahaan akan bermakna jika dihubungkan dengan tolok ukur di luar perusahaam. Misalnya, efisiensi perusahaan lain yang sejenis atau standar industri.

Jadi laba adalah merepresentasikan kinerja efisiensi, karena profit menentukan ROI, ROA, dan ROL sebagai pengukur efisiensi, karena kegiatan usaha sangat kompleks, maka laba adalah dipandang cukup kaya (komprehensif) untuk pengukur efisiensi.

Namun demikian, validitas pengukur efisiensi tersebut tergantung pada bagaimana laba usaha dan tingkat investasi diukur, serta dari sudut pandang siapa informasi efisiensi ditujukan.

Sebagai analogi, indeks prestasi (IP) mahasiswa dipandang cukup kaya untuk menggambarkan kinerja belajar mahasiswa. Akan tetapi, validitas indeks tersebut sangat tergantung pada bagaimana IP tersebut diperoleh dan diukur.

 

Konfirmasi Harapan Investor

Penyusun laporan keuangan juga berusaha menyediakan informasi untuk menyakinkan bahwa harapan-harapan investor.

Atau pemakai lainnya di masa lalu tentang kinerja perusahaan memang terealisasi.

Dengan demikian Laba adalah sebagai sarana untuk mengkonfirmasi harapan-harapan tersebut.

Asumsinya adalah para investor telah menggunakan segala informasi yang tersedia secara publik sebagai basis keputusan investasinya melalui prediksi profit.

Bila diasumsikan bahwa pasar cukup efisien, laba yang diprediksi investor harus mendekati atau sama dengan profit yang dilaporkan.

Bila hal ini terjadi, laba adalah sarana untuk mengkonfirmasikan harapan investor dan investor diharapkan tidak bereaksi terhadap pengumuman profit.

 

Estimator Laba Ekonomi

Latar belakang dan pengertian

Akuntansi menganut asas akrual untuk mendapatkan suatu angka yang lebih berarti secara ekonomi, daripada sekedar kenaikan dan penurunan kas dalam suatu periode.

Angka laba adalah akan bermakna jika menggambarkan perubahan kemakmuran atau penciptaan nilai (value creation) sebagai hasil kinerja ekonomi suatu kesatuan usaha. Secara teknis perubahan kemakmuran atau nilai diwujudkan dalam kegiatan produktif menghasilkan barang dan jasa. Dengan asas akrual, pengakruan dan penangguhan atas dasar konsep upaya dan hasil. Serta konsep biaya historis adalah proses yang sangat lekat dengan penentuan profit akuntansi.

Penyusun laporan keuangan mengharapkan bahwa laba akuntansi akan mendekati laba ekonomi atau paling tidak merupakan estimator yang baik untuk ekonomi. Artinya, perubahan profit akuntansi diharapkan merefleksi juga perubahan ekonomi perusahaan. Dengan demikian, laba akuntansi masih tetap bermanfaat bagi investor yang mungkin lebih berkepentingan dengan laba ekonomi.

Pengertian laba akuntansi adalah profit dari kaca mata perekayasa akuntansi atau kesatuan usaha karena keperluan untuk menyajikan informasi secara objektif dan andal.

Pengertian ekonomi dari sisi akuntansi adalah kelayakan ekonomi jangka panjang dan bukan penilaian ekonomi jangka pendek. Oleh karena itu, depresiasi dalam akuntansi adalah proses alokasi dan bukan proses penilaian.

Lalu apa yang dimaksud laba ekonomi?

Laba ekonomi adalah profit dari kaca mata investor, karena keperluan untuk menilai investasi dalam saham yang dalam banyak hal bersifat subyektif tergantung pada karakteristik investor.

Investor melalui analis sekuritas, pada umumnya lebih mendasarkan diri pada laba ekonomi untuk memprediksi aliran kas atau return saham perusahaan di masa datang.

Oleh karena itu, jika profit akuntansi bebas dari gangguan dan mendekati laba ekonomi, laba akuntansi akan menjadi prediktor yang andal.

Dengan demikian, kedekatan atau korelasi antara laba akuntansi dan laba ekonomi akan menentukan kualitas profit akuntansi. Dan laba ekonomi akan menentukan kualitas laba akuntansi (earnings quality).

 

B: Konsep Laba dalam Tataran Sintaktik

Pengertian dan Arti

Makna semantik laba yang dikembangkan di atas harus dapat dijabarkan dalam tataran sintaktik.

Ini berarti konsep laba adalah harus dioperasionalkan dalam bentuk standar dan prosedur akuntansi yang MANTAP dan obyektif, sehingga angka profit dapat diukur dan disajikan dalam Laporan Keuangan.

Salah satu bentuk penjabaran definisi profit secara sintaktik adalah mengartikan laba sebagai selisih pengukuran dan penandingan antara pendapatan dan biaya. Definisi laba adalah masalah pada tataran semantik.

Pengukuran dalam arti luas yang meliputi:

  • Pengakuan
  • Saat pengakuan
  • Prosedur pengakuan
  • Cara pengungkapan (disclosures)

Bila definisi laba adalah sebagai pendapatan dikurangi biaya, masalahnya adalah:

“Kapan laba timbul sehingga harus diukur dan diakui?”

Paralel dengan masalah pengukuran pendapatan, terdapat dua kriteria atau pendekatan dalam pengukuran profit, yaitu:

  1. Pendekatan transaksi (transactions approach)
  2. Pendekatan ativitas (activities approach)

Bagaimana penjelasan pendekatan tersebut?

Yukss ikuti terus artikel ini…

 

#1: Pendekatan Transaksi

Dengan pendekatan ini, profit diukur dan diakui pada saat terjadinya transaksi.

Terutama transaksi eksternal yang kemudian terakumulasi sampai akhir periode.

Karena definisi laba adalah sebagai pendapatan dikurangi biaya, maka pengukuran dan pengakuan pendapatan serta biaya dalam suatu periode sebenarnya juga merupakan pengukuran dan pengakuan laba.

Oleh karena itu, pengukuran dan pengakuan profit juga akan paralel dengan kriteria pengakuan pendapatan dan biaya.

Dengan demikian, pengakuan profit atas dasar pendekatan pendekatan ini sama dengan pengakuan pendapatan atas dasar kriteria terealisasi.

Dan sama dengan pengakuan biaya atas dasar kriteria konsumsi manfaat (consumption of benefit)

Perhatikan contoh pencatan jurnal yang menggambarkan pengakuan laba berikut ini:

[Debit] Kas …. Rp 100.000
[Kredit] Penjualan (pelanggan Y) …….   Rp 100.000

[Debit] HPP Barang Terjual ….. Rp 60.000
[Kredit] Persediaan Barang Dagangan …..  Rp 100.000

[Debit] Biaya Gaji Administratif …. Rp 10.000
[Dr] Biaya Gaji Pemasaran …. Rp 11.500
[Debit] Biaya Bunga …. Rp 2.500
[Kredit] Kas ….. Rp 24.000

[Debit] Kas ….. Rp 2.000
[Debit] Depresiasi Akumulasi …. Rp 24.000
[Kredit] Mesin …. Rp 25.000
[Kredit] Untung Penjualan Mesin …. Rp 1.000

Karena keuntungan melekat pada pendapatan (penjualan), dengan pendekatan transaksi dapat dikatakan bahwa profit timbul dan diakui pada saat penjualan atau pertukaran terjadi.

Laba akan terhitung selisih biaya yang diperkirakan mendatangkan pendapatan juga diakui (konsep penandingan).

 

Keuntungan Pendekatan Transaksi

Dari contoh transaksi di atas, kita dapat melihat beberapa keuntungan pendekatan transaksi bagi akuntansi untuk pelaporan keuntungan, antara lain:

  1. Komponen pembentuk laba bersih adalah dirinci dengan berbagai basis antara lain atas dasar produk atau pelanggan untuk kepentingan manajerial.
  2. Profit yang berasal dari berbagai sumber/ jenis transaksi (utama, tambahan, dan luar biasa) dapat dipisahkan dan dilaporkan untuk kepentingan eksternal.
  3. Peruahan aset dan kewajiban adalah perubahan nilai yang diakui secara obyektif pada saat perubahan terjadi akibat transaksi penjualan (pendapatan) dan biaya dengan pihak eksternal.
  4. Jumlah rupiah serta jenis aset dan kewajiban secara otomatis tersedia pada akhir periode.
    Jumlah rupiah yang tersedia (biaya historis) dapat dijadikan basis untuk penilaian berbagai aset dan kewajiban tanpa harus melakukan mempertimbangkan perubahan nilai.
  5. Karena perubahan nilai pasar aset tidak diakui, artikulasi antar laporan keuangan dapat dipertahankan.
    ini berarti, pendapatan dikurangi biaya akan sama dengan perubahan ekuitas pemegang saham.
    Namun demikian, perubahan nilai pasar aset (misanya persediaan) bila perlu dapat diakui pada tiap akhir periode sebagai penyesuaian.
    Hal ini merefleksikan penerapan konsep pemertahanan kapital.

 

#2: Pendekatan Aktivitas

Dengan pendekatan ini, laba adalah dianggap timbul bersamaan dengan berlangsungnya aktivitas atau kejadian.

Bukan sebagai hasil suatu transaksi pada saat tertentu.

Pendekatan ini paralel dengan konsep penghimpunan atau pembentukan pendapatan (earning process) sebagai basis pengakuan pendapatan.

Dengan konsep ini, pendapatan dengan sendirinya keuntungan dapat dinyatakan telah terbentuk (earned) bersamaan dengan telah dilakukannya aktivitas operasi perusahaan dalam arti luas (produksi, penjualan, dan pengumpulan kas)

Pendekatan ini mempunyai keunggulan dalam membantu manajemen melakukan analisis internal.

Berbagai konsep laba dapat diciptakan untuk:

  • mengukur efisiensi dan profitabilitas tiap bagian dan aktivitas
  • mengendalikan perilaku manajer divisi dengan sistem pengendalian manajemen
  • menentukan kompensasi.

Dalam aplikasinya, kedua pendekatan tersebut tidak berdiri sendiri tapi saling melengkapi.

Laba tidak dapat diakui hanya atas dasar salah satu pendekatan .

Itulah sebabnya, kriteria pendapatan adalah terealisasi dan terbentuk.

Artinya, kedua kriteria tersebut harus terpenuhi.

Oleh karena itu, praktik akuntansi dalam kaitan dengan laba yang sekarang banyak dianut sebenarnya merupakan kombinasi dari pendekatan transaksi dan pendekatan aktivitas.

 

C: Konsep Laba dalam Tataran Pragmatik

Tataran pragmatik dalam teori komunikasi berkepentingan untuk menentukan apakah pesan sampai kepada penerima dan mempengaruhi perilaku sebagaimana diarah.

Telah disinggung pada pembahasan mengenai teori akuntansi pragmatik yang memusatkan perhatiannya pada pengaruh informasi terhadap perubahan perilaku pemakai informasi akuntansi.

Informasi diharapkan mempunyai pengaruh jika informasi tersbut benar-benar digunakan oleh para pemakai.

Karena menurut persepsi pemakai (atau model pengambilan keputusan) informasi tersebut mempunyai manfaat, kualitas, atau nilai informasi.

Bila dikaitkan dengan keuntungan, tataran ini membahas apakah informasi laba bermanfaat atau apakah informasi laba nyatanya digunakan.

Jika memang digunakan, untuk kepentingan apa informasi tentang profit digunakan, sehingga angka keuntungan benar-benar harus disediakan.

Ada 3 cara untuk mengetahui kebermanfaatan laba, adalah:

Cara #1: Menanyakan langsung kepada pemakai

Cara pertama adalah menanyakan langsung pengguna:

“Apakah mereka menggunakan angka laba akuntansi?”

Karena banyak pemakai dengan berbagai perspektif dan kepentingan, cara ini kurang terandalkan sebagai bukti tentang kebermanfaatan profit.

Cara #2: Mengenali bagaimana informasi keuntungan nyatanya digunakan.

Cara #3: Mengukur reaksi pasar modal terhadap pengumuman laba akuntansi.

 

02: Pengertian Laba

Pemaknaan atau pen-definisi-an laba mempunyai implikasi terhadap pengukuran dan penyajian profit.

Oleh karena itu, saya sajikan pengertian laba menurut para ahli dan pihak-pihak yang berkompeten berikut ini:

A: Definisi Laba menurut FASB

Menurut FASB laba adalah sebagai laba komprehensif yang merupakan elemen Laporan Keuangan.

Dan mendefinisikan laba adalah sebagai berikut:

Comprehensif income is the change in equity of a business enterprise during a period from transactionand other events and circumstances from non-owner resources.

It includes all changes in equity during a period except those resulting from investment by owners anda distributions to owners.

 

B: Pengertian Laba Menurut Definisi Laba menurut Barton

After removing the effects of any additional capital contributions or withdrawals by owners from the initial capital investment, the increase in wealth is the income of the period.

Dua definisi di atas membatasi laba adalah dari sudut pandang pemegang saham residual sehingga laba didefinisikan sebagai perubahan/ kenaikan ekuitas atau aset bersih.

Atau kemakmuran bersih pemilik (pemegang saham) dalam suatu periode yang berasal dari transaksi operasi dan bukan transaksi modal (setoran dari dan distribusi ke pemilik).

 

C: Pengertian Laba Menurut Bedford

Menurutnya, pengertian Laba adalah kelebihan pendapatan di atas biaya (total beban yang melekat aktivitas produksi dan penyerahan barang atau jasa.

Pengertian laba ini sejalan dengan konsep kesatuan usaha yang dikemukakakn Paton dan Littleton.

D:  Pengertian Laba Menurut Paton & Littleton

Laba adalah kenaikan aset dalam suatu periode akibat kegiatan produktif yang dapat dibagi atau didistribusikan kepada:

  • kreditor,
  • pemerintah,
  • pemegang saham (dalam bentuk bunga, pajak, dan dividen)

Tanpa mempengaruhi keutuhan aktivitas pemegang saham semula.

 

E: Definisi Laba Menurut Schroader dan Clark

Schroader dan Clark mengutip pengertian laba dari sudut pandang perorangan/ individual yang dikarakterisasi (diberi karakter) oleh Hicks sebagai berikut:

The purpose of income calculation in practical affair is to give people an indication of the amount they can consume without impoverishing themselves.

Following out this idea it would seem that we ought to define a man’s income as the maximum value which he can consume during a week, and still expect to be as well off as the end of the week as he was at the begining.

Karena sudut pandang individual, pengertian mengkonsumsi (to consume) di sini adalah menggunakan kenaikan kemakmuran untuk keperluan pribadi atau non investasi.

Seperti membeli baju, membelanjai isteri, atau membayar sekolah anak-anak.

Pengertian laba ini akan sama dengan pengertian keuntungan dari sudut pandang badan usaha (perusahaan) yang dikemukakan Paton dan Littleton.

Jika kata mengkonsumsi diganti dengan mendistribusi (to distribute) atau ditarik darinya.

Untuk distribusikan ke dan digunakan/ dibelanjakan/ dikonsumsi  untuk keperluan apapun oleh pihak seperti kreditor, pemerintah, dan pemegang saham.

 

F: Karakteristik Laba

Dari beberapa pengertian laba di atas, dapat dikumpulkan bahwa karakteristik laba adalah sebagai berikut:

1: Karakteritik Laba #1: Kenaikan kemakmuran (wealth atau well-offness) yang dimiliki atau dikuasai suatu entitas.

Entitas dapat berupa:

  • perorangan/ individual,
  • kelompok individual,
  • institusi,
  • badan,
  • lembaga, atau

2: Karakteristik Laba #2: Perubahan terjadi dalam suatu kurun waktu (periode) sehingga harus diidentifikasi kemakmuran awal dan kemakmuran akhir.

3: Karakteristik Laba #3: Perubahan dapat dinikmati, didistribusi, atau ditarik oleh entitas yang menguasai kemakmuran, asalkan kemakmuran awal dipertahankan.

Kemakmuran dapat berupa:

  • aset bersih,
  • modal pemegang saham,
  • kekayaan,
  • investasi,
  • sumber daya ekonomi,
  • uang atau apapun yang bernilai uang atau yang dapat dinilai dengan uang.

Kemakmuran tersebut secara umum disebut kapital (capital). Kapital di sini berbeda dengan modal, karena modal mempunyai pengertian khusus dalam akuntansi yaitu ekuitas pemegang saham. Bila istilah kapital digunakan, harus selalu dibayangkan siapa yang menguasai atau memiliki.

Dan gambar di bawah ini melukiskan pengertian kapital dari berbagai sudut pandang dalam konteks pembahasan profit dan akuntansi.

Gambar: Pengertian Kapital dalam Konteks Laba Akuntansi

Penjelasan gambar:

1: Kapital – 01

Kapital bagi badan usaha atau manajemen perusahaan yang menguasai sumber ekonomi ini, baik fisik dan finansial.

Kapital bagi badan usaha atau manajemen dapat berupa total aset atau aset bersih (net assets)

Bila berupa total aset, kapital dapat dipandang sebagai kapital fisis atau finansial.

Berupa aset bersih, kapital bersifat finansial saja.

 

02: Kapital – 02

Kapital bagi pihak yang mempunyai/ menguasai klaim (ditandai dengan sertifikat utang, misalnya obligasi)

 

03: Kapital – 03

Kapital bagi pihak yang mempunyai/ menguasai klaim (ditandai dengan sertifikat saham).

***

Bagi pemegang obligasi dan pemegang saham, klaim atas nilai yang tertanam di perusahaan akan masuk dalam klasifikasi yang disebut kapital keuangan (financial capital).

Bagi perusahaan, kapital dapat diklasifikasi sebagai kapital fisik, jika seluruh aset dipandang sebagai himpunan kapasitas produktif.

Atau dapat juga diklasifikasi sebagai kapital finansial, jika seluruh aset dipandang sebagai nilai uang.

Dalam bahasa investasi, kapital finansial sering disebut juga dengan aset finansial (financial asset), sedangkan kapital fisik disebut aset real (real asset).

 

03: Laba dan Teori Entitas

Latarbelakang dan Prinsip

Telah dibahasa secara tuntas pengertian laba menurut para ahli dan lembaga-lembaga kompeten. Bahwa laba adalah kenaikan kemakmuran suatu entitas yang dapat dikonsumsi tanpa mempengaruhi kapital semula, sedangkan dari aspek pengukuran dan prosedur akuntansi, laba adalah selisih antara pendapatan dan biaya.

Persoalannya adalah kapan penandingan pos-pos biaya dengan pendapatan harus berhenti, sehingga selisihnya dapat disebut profit. Ini sama saja dengan masalah apakah suatu pos merupakan biaya atau meupakan pembagian profit?

Untuk menjawab hal ini, pengertian laba harus dikaitkan dengan entitas yang berkepentingan.

Untuk siapa suatu jumlah rupiah dapat disebut laba adalah bergantung pada sudut pandang atau cara teori entitas yang dianut.

Teori entitas berkaitan dengan penentuan siapa yang dianggap paling berkepentingan dengan suatu kegiatan ekonomi.

Sehingga pihak tersebut berhak untuk menikmati keuntungan.

Karena berkaitan dengan siapa yang berhak atas keuntungan, teori entitas (kesatuan usaha) sering disebut pula dengan teori ekuitas (equity theory).

Konsep dasar kesatuan usaha (business entity) dengan segala implikasinya sebenarnya hanya merupakan salah satu konsep dasar yang dapat dipilih dalam perekayasaan akuntansi.

Konsep dasar akuntansi ‘kesatuan’ (entitas) mempunyai implikasi terhadap pengertian pendapatan, biaya dan keuntungan.

Teori entitas atau ekuitas yang banyak dibahas dalam literatur teori akuntansi adalah:

  1. Entitas usaha bersama (enterprise theory)
  2. Entitas usaha atau bisnis (business entity theory)
  3. Investor (investor theory)
  4. Entitas pemilik (proprietary/ stockholder theory)
  5. Entitas pemilik residual (residual stockholder theory)
  6. Pengendali (commander theory)
  7. Entitas dana (fund theory)

Yukss dibahas satu-per-satu…

 

#1: Laba dalam Entitas Usaha Bersama (enterprise theory)

Dengan sudut pandang ini, kesatuan yang menjadi pusat perhatian akuntansi adalah kegiatan usaha bersama yang melibatkan berbagai pihak sebagai bagian dari kegiatan ekonomi.

Semua partisipan menanggung segala aspek kegiatan bersama, sehingga mereka disebut secara bersama sebagai pemegang saham (stockholder) yang terdiri atas:

  • Manajer
  • Karyawan
  • Pemegang saham
  • Kreditur
  • Pelanggan
  • Pemerintah, dan
  • Masyarakat

Perusahann berfungsi sebagai alat, pengikat, dan pusat kegiatan.

Secara skematis, sudut pandang ini diilustrasikan dalam gambar berikut:

Laba dalam Entitas Usaha Bersama

Sudut pandang ini menjadi relevan manakala perusahaan menjadi sangat besar (large corporation).

Pandangan ini dilandasi oleh gagasan bahwa perusahaan yang besar berfungsi sebagai institusi sosial yang mempunyai pengaruh ekonomi yang luas dan kompleks sehingga darinya dituntut pertanggungjawaban sosial.

Perusahaan besar tidak dapat lagi dijalankan untuk kepentingan pemegang saham semata-mata.

Walaupun para pemegang saham mempunyai hak yuridis sebagai pemilik, kepentingan para pemegang modal secara bersama demi berlangsungnya dan kemakmuran perusahaan harus didahulukan.

Dengan cara pandang seperti ini, definisi laba adalah seluruh jumlah rupiah nilai tambahan (kenaikan kemakmuran) yang dihasilkan oleh kegiatan para partisipan secara bersama-sama.

Dikurangi dengan biaya material dan mesin/peralatan (bahan baku, overhead non tenaga kerja dan depresiasi).

Laba adalah hasil upaya bersama (cooperative efforts) para pemegang kepentingan.

Jumlah rupiah yang dibayarkan kepada partisipan bukan merupakan biaya, tapi merupakan distribusi nilai tambahan atau pembagian keuntungan.

Laporan Profit Loss harus disusun dengan pendekatan nilai tambahan (value added statement) untu merefleksikan karakteristik perusahaan sebagai institusi sosial.

 

#2: Laba dalam Entitas Usaha atau Bisnis (business entity theory)

Teori entitas ini mendasari konsep dasar kesatuan usaha.

Perusahaan dipandang sebagai orang atau badan yang berdiri sendiri.

Bertindak atas nama sendiri, serta terpisah dari investor, kreditor, dan pihak eksternal lainnya.

Jadi, perusahaan dipersonifikasi sehingga seakan-akan dapat melakukan transaksi dan aktivitas (tentu saja melalui manajemen dan karyawan).

Perusahaan menjadi pusat perhatian akuntansi dan menjadi subyek pelaporan.

Perhatikan gambar berikut ini:

konsep laba

Dengan teori ini, profit dipandang sebagai kenaikan aset. Karena pendapatan dianggap sebagai aliran masuk (kenaikan aset) dan biaya sebagai aliran keluar aset (penurunan aset) akibat operasi perusahaan. Pemilik, kreditor, pemerintah, serta pihak lainnya diperlakukan sebagai pihak luar.

Oleh karena itu, jumlah rupiah yang di distribusikan ke mereka diperlakukan sebagai biaya. Transaksi modal  tidak dibedakan dengan transaksi operasi. Dengan teori ini, laporan laba rugi secara teoritis akan disajikan seperti berikut ini:

PT Xidev Jaya
Laporan Laba Rugi
Untuk periode yang berakhir 31 Desember 2019

Profit entitas Rp 1.600.000 sama dengan re-investasi dalam teori entitas usaha bersama.

Jumlah ini merupakan tambahan aset yang dikelola oleh kesatuan usaha.

Karena teori kesatuan usaha menyandang penyedia dana sebagai pihak luar, maka pemegang saham dan kreditor tidak dibedakan.

Dan keduanya dipandang sebagai pemegang ekuitas.

 

#3: Laba dalam Entitas Investor (investor theory)

Investor adalah kreditor (jangka panjang) dan pemegang saham (saham preferensi dan biasa). Jadi, investor adalah penyedia dana utama perusahaan.

Dengan teori ini, pusat perhatian akuntansi adalah kedua kelompok tersebut dan keduanya dipandang sebagai mitra manajemen.

Bukan sebagai pihak luar sebagaimana dalam sudut pandang kesatuan usaha.

Dengan kata lain, perusahaan melalui manajemen bertindak atas nama investor.

Oleh karena itu, pelaporan keuangan harus dilaksanakan untuk kepentingan kedua kelompoak tersebut.

Perhatikan ilustrasi yang menggambarkan hal tersebut berikut ini:

Laba dalam Entitas Investor

Dengan sudut pandang ini, definisi laba adalah jumlah rupiah yang menjadi ha investor.

Sebagai konsekuensinya, bunga kepada kreditor jangka panjang dan dividen kepada pemegang saham bukan merupakan biaya, tapi lebih sebagai distribusi keuntungan.

Penyajian Laporan profit loss atas dasar teori entitas investor akan tampak sebagai berikut:

PT Xidev Jaya
Laporan Laba Rugi
Untuk periode yang berakhir 31 Desember 2019

Contoh Laporan Profit Loss

Distribusi Laba:

Untuk investor (bunga) = Rp 400
Untuk pemegang saham (dividen) = Rp 1.200
Re-investasi (laba tidak dibagi):
= Rp 400 + Rp 1.200
= Rp 1.600

Karena kreditor dan pemegang saham adalah mitra manajemen perusahaan dan manajemen bertindak atas nama investor.

Profit kesatuan usaha investor adalah sebesar Rp 3.200.000.

Dalam hal ini, pajak berstatus sebagai biaya bagi investor.

Berbeda dengan kesatuan usaha, bunga dan dividen adalah pembagian keuntungan bukan biaya.

Teori entitas semacam ini sering disebut sudut pandang entitas tradisional.

 

#4: Laba dalam Entitas Pemilik (proprietary/ stockholder theory)

Teori entitas ini memandang pemegang saham sebagai pemilik dan menjadi pusat perhatian akuntansi.

Kreditor dianggap sebagai pihak luar.

Pemegang saham tetap menjadi mitra manajemen.

Aset menjadi milik pribadi pemegang saham, sehingga utang adalah keharusan pemegang saham.

Artinya, pemegang saham menanggung segala risiko yang berkaitan dengan utang.

Dengan sudut pandang ini, aset bersih menjadi perhatian utama bagi pemegang saham.

Kreditor, pemerintah, dan pihak atau entitas lain dianggap sebagai pihak luar pemilik.

Sehingga semua biaya yang dikorbankan yang bersangkutan dengan pihak tersebut akan dianggap sebagai biaya, bukan distribusi keuntungan.

Sehingga dalam teori ini definisi laba adalah selisih pendapatan dan biaya yang menjadi hak akhir pemilik.

Dengan kata lain, laba adalah kenaikan aset bersih.

Teori ini populer dan berpaut dengan perusahaan perseorangan yang pemiliknya merangkap sebagai manajer.

Untuk perusahaan besar yang berbentuk perseroan, sudut pandang seperti ini kurang tepat.

Karena manajemen perusahaan dan pemegang saham adalah pihak yang terpisah.

Tidak hanya terpisah secara konseptual, tapi secara fisik dan operasi.

Untuk perseroan, sudut pandang kesatuanusaha lebih konsisten dengan praktik bisnis yang memisahkan kepemilikan dan pengelolaan.

Untuk perusahaan perseorangan sekalipun,  sudut pandang kesatuan usaha lebih cocok.

Karena secara administratif dan akuntansi pemisahan kepemilikan serta pengelolaan perusahaan adalah praktik yang sehat.

Dengan teori ini penyajian Laporan Laba Rugi akan nampak seperti berikut ini:

PT Xidev Jaya
Laporan Laba Rugi
Untuk periode yang berakhir tanggl 31 Desember 2019

Profit Loss Statements

Bila dikaitkan dengan konsep laba adalah, bahwa teori entitas yang dibahas di sini lebih berkaitan dengan masalah penyajian statemen profit loss.

Oleh karena itu, penyajian profit dapat saja menggunakan konsep yang berbeda dengan konsep untuk penciptaan keuntungan.

Dengan kata lain data akuntansi yang ditangkap dan diciptakan atas dasar konsep kesatuan usaha dapat disajikan untuk pelaporan profit atau rugi dengan konsep kesatuan pemilik.

 

#5: Laba dalam Entitas Pemilik Residual (residual stockholder theory)

Konsep entitas ini memandang pemegang saham biasa (residual equity) sebagai pusat perhatian akuntansi.

Pendekatan ini sebenarnya tidak berbeda dengan sudut pandang pemilik (proprietory concept) yang telah dijelaskan di atas.

Hanya dalam pendekatan ini, pemilik adalah pemegang saham biasa.

Pemegang saham istimewa dianggap sebagai pihak luar, sehingga dividen untuk mereka dipandang sebagai biaya.

Jika disimbolkan, persamaan akuntansi untuk merefleksikan konsep ini adalah sebagai berikut:

Aset – Ekuitas Spesifik = Ekuitas Residual

Dalam persamaan tersebut, ekuitas spesifik adalah utang dan ekuitas saham istimewa.

Teori ini dilandasi oleh pemikiran bahwa pemegang saham biasa adalah pihak yang akhirnya menanggung risiko ketidakpastian masa datang.

Tapi juga menikmati segala kembalian setelah pihak lain terpenuhi haknya.

Hak pemegang saham istimewa sudah cukup pasti, sehingga mereka tidak berkepentingan dengan keuntungan akuntansi.

Oleh karena itu, penyajian keuntungan dipusatkan pada pemegang saham biasa (residual stockholder) untuk membantu mereka memprediksi aliran kas masa datang.

Laba dan laba per saham untuk pemegang saham biasa menjadi informasi penting yang harus disajikan dalam laporan profit loss.

 

#6: Laba dalam Entitas Pengendali (commander theory)

Konsep ini tidak secara langsung berkaitan dengan definisi laba, tapi lebih berkaitan dengan penyajian data akuntansi secara keseluruhan.

Teori ini menitikberatkan pandangannya kepada pihak yang mengendalikan (to control) sumber ekonomi perusahaan.

Tanpa memperhatikan kepemilikan seperti konsep kesatuan yang lain.

Pengendalian hanya dapat dilakukan oleh manusia.

Dan karenanya siapa yang mengendalikan sumber ekonomi perusahaan harus diidentifikasi dan kemudian akuntansi memusatkan perhatiannya pada para pengendali tersebut.

Dengan demikian tujuan dan fungsi akuntansi (pelaporan keuangan) dapat lebih mudah ditafsirkan, tanpa harus mengadakan abstraksi semu seperti kesatuan usaha atau kesatuan dana.

Konsep ini sebenarnya sejalan dengan konsep kesatuan usaha.

Tapi konsep ini lebih menekankan pada orang yang mengelola dana, yaitu pihak manajemen perusahaan daripada menekankan pada kesatuan operasinya.

Implikasi konsep ini tidak berbeda dengan implikasi konsep kesatuan usaha.

Karena kemampuan mengendalikan sumber ekonomi lebih penting daripada pemilikan.

Karena manajemen perusahaan mempunyai tingkatan (hierarki), pengendalian juga bertingkat.

Dan tingkat manajemen tertentu mengendalikan tingkat manajemen di bawahnya.

Dengan teori ini, sudut pandang akuntansi adalah manajemen puncak sebagai pengendali bukan pemilik.

Sehingga neraca dipandang sebagai laporan tentang sumber dan penggunaan dana yang menunjukkan pertanggung jawaban manajemen.

Laporan profit loss dipandang sebagai penjelasan atas aktivitas manajemen perusahaan dari sudut pandang manajemen.

Sehingga laporan profit loss adalah menunjukkan hasil/ keuntungan untuk tiap aktivitas yang dapat berupa:

  • Proyek
  • Produk
  • Segmen bisnis lainnya.

Meskipun demikian, manajemen juga menyiapkan laporan profit loss untuk menunjukkan kinerja kesatuan usaha secara keseluruhan.

 

#7: Laba dalam Entitas Dana (fund theory)

Fund ata dana mempunyai dua pengertian yang saling dirancukan. Dana dapat diartikan sebagai kas (uang), aset likuid, atau sumber keuangan (financial resources) yang dapat digunakan untuk mendanai suatu aktivitas, program, atau proyek dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Dana juga dapat berarti kesatuan, wadah, atau pusat yang dapat berupa kegiatan, program, atau proyek yang didanai dengan aset likuid tersebut.

Jadi, dana dapat berarti sebagai kesatuan akuntansi (accounting entity).

Konsep ini memandang bahwa kegiatan, program, proyek, atau unit aktivitas lainnya sebagai kesatuan atau entitas yang berdiri sendiri dan menjadi pusta pelaporan yang disebut dana.

Sumber keuangan yang dianggarkan dan diserahkan untuk pelaksanaan kegiatan dipertanggungjawabkan melalui kegiatan tersebut sebagai dana yang berdiri sendiri terpisah dengan dana yang lain.

Untuk itu diperlukan seperangkat sistem akuntansi yang dapat menghasilkan data akuntansi dan laporan keuangan untuk pertanggungjawaban kesatuan dana tersebut.

Berikut ini ilustrasi yang menggambarkan secara diagramatis operasi akuntansi dana belanja.

Untuk suatu program/ proyek, sumber pendapatan atau penerimaan adalah anggaran belanja atau hibah untuk program tersebut.

Obyek belanja atau pengeluaran dapat berupa gaji, bahan habis pakai, barang inventaris dan barang modal (aset tetap).

Utang dan piutang pada gambar di atas adalah piutang dan utang jangka pendek.

Bila:

Aset Likuid =  AL
Kewajiban Likuid = KL
Saldo Dana = SD
Pendapatan = P
Belanja = B

Maka konsep dalam gambar di atas dapat dinyatakan dalam persamaan akuntansi dana belanja selama periode sebagai berikut:

Awal periode:
AL = KL + SD

Selama periode:
AL = KL + SD + P – B

Akhir periode:
AL = KL + SD

***

Teori entitas selalu dikaitkan dengan partisipan dalam aktivitas ekonomi yaitu manajer, karyawan, investor, kreditor, pemerintah, dan entitas lain yang terlihat.

Mereka merupakan pihak yang akhirnya menerima manfaat dari nilai tambahan yang timbul akibat aktivitas ekonomi.

Teori kesatuan juga mempunyai implikasi tentang Tujuan Laporan Keuangan dan bentuk atau susunan laporan profit loss (income statement).

Dan uraian tentang teori-teori entitas di atas menunjukkan bahwa susunan dan penyajian Laporan profit loss ditentukan oleh sudut pandang atau teori entitas yang dianut.

Artinya, penyajian keuntungan terakhir ditentukan oleh siapa yang dituju.

 

04: Penyajian Keuntungan

Walaupun teori entitas yang dibahas di atas berkaitan dengan masalah penyajian, namun masalah lebih difokuskan pada masalah konseptual tentang apa yang disebut keuntungan.

Masalah konseptual yang erat kaitannya dengan penyajian adalah pemisahan pelaporan:

  • pos-pos transaksi operasi dan
  • pos-pos transaksi dengan pemilik (transaksi modal).

Pos-pos operasi dalam arti luas (non pemilik) pada umumnya dilaporkan melalui laporan profit loss.

Sedangkan pos-pos yang jelas-jelas merupakan transaksi modal dilaporkan melalui statemen laba ditahan atau laporan perubahan modal/ekuitas.

 

05: Kesimpulan

Laba adalah elemen yang paling menjadi perhatian pemakai laporan keuangan.

Karena angka keuntungan diharapkan cukup kaya untuk mempresentasikan kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Dari sudut pandang perekayasa akuntansi, konsep keuntungan dikembangkan untuk memenuhi tujuan menyediakan informasi tentang kinerja perusahaan secara luas.

Sementara itu, pemakai informasi mempunyai tujuan yang berbeda-beda.

Teori akuntansi laba menghadapi dua pendekatan, yaitu:

  • satu profit untuk berbagai tujuan
  • beda tujuan beda profit

Teori akuntansi profit diarahkan untuk memformulasi keuntungan dengan pendekatan pertama.

Konsep laba dalam tataran semantik meliputi:

  • Pemaknaan keuntungan sebagai pengukur kinerja
  • Pengkonfirmasi harapan investor
  • Estimator keuntungan ekonomi

Secara umum definisi laba adalah kenaikan kemakmuran dalam suatu periode yang dapat dinikmati (didistribusi atau ditarik) asalkan kemakmuran awal masih tetap dipertahankan.

Pengertian semacam ini didasarkan pada konsep pemertahanan kapital.

Konsep ini membedakan antara keuntungan dan kapital.

Dengan konsep pemertahanan kapital dapat dibedakan antara kembalian atas investasi dan pengembalian investasi serta antara transaksi operasi dan transaksi pemilik.

Sehingga laba adalah dipandang sebagai perubahan aset bersih.

Atas dasar berbagai teori dan konsep tentang makna keuntungan, maka dapat ditarik kesimpulan pengertian laba sebagai berikut:

Laba adalah tambahan kemampuan ekonomi yang ditandai dengan kenaikan kapital dalam suatu periode yang berasal dari aktivitas produktif dalam arti luas yang dapat dikonsumsi atau ditarik oleh entitas penguasa/ pemilik kapital tanpa mengurangi kemampuan ekonomi kapital mula-mula (awal periode).

Siapa yang dituju oleh angka laba adalah menentukan bagaimana profit diukur.

Siapa yang dituju berkaitan dengan teori entitas yang dianut.

Teori ini menentukan dan membedakan antara biaya dan pembagian keuntungan sehingga menentukan pula bagaimana komponen-komponen laba rugidisajikan dalam Laporan profit loss.

Meskipun praktik akuntansi dewasa ini dilandasi oleh konsep kesatuan usaha, penyajian laporan profit loss sebenarnya dilandasi oleh konsep kesatuan pemilik (proprietory concept).

Untuk tujuan penyusunan dan penyajian laporan profit loss, dapat digunakan salah satu sudut pandang tersebut.

Jadi konsep yang melandasi kerangka dasar pengolahan data tidak harus sama dengan konsep yang melandasi bentuk, susunan, dan penyajian laporan profit loss.

Demikian yang dapat saya share, semoga bermanfaat. Terima kasih. *****

Note:
Boleh menyadur artikel ini, tapi MOHON sebutkan sumbernya. Thanks

Profesional lulusan ekonomi yang menekuni ERP (SAP), Accounting Software, Business Analyst dan berbagi pengalaman pekerjaan Finance & Accounting.