Suatu investasi dinilai menguntungkan atau profitable apabila investasi tersebut bisa membuat pemodal menjadi lebih KAYA. Dengan kalimat lain, “kemakmuran pemodal menjadi lebih besar setelah melakukan investasi”. Hal ini sesuai dengan tujuan memaksimumkan nilai perusahaan.
Apa metode yang digunakan untuk menilai profitabilitas suatu investasi?Ada 5 metode penilaian investasi paling baik yang lazim digunakan oleh para analisis keuangan, selengkapnya mari ikuti dan baca sampai kelar pembahasannya dalam artikel berikut ini…
Metode Penilaian Profitabilitas Investasi
Secara umum, ada 5 metode atau cara penilaian investasi yang dilakukan oleh perusahaan dalam aspek investasi. Tujuannya adalah untuk menilai apakah suatu investasi menguntungkan atau tidak? Apa saja itu? Mari ikuti pembahasan lengkapnya berikut ini…
1. Net Present Value (NPV)
Untuk memahami apa itu metode penilaian investasi net present value, berikut ini saya sajikan contoh soal dan pembahasannya:
Contoh soal:
Perhatikan contoh sederhana penilaian investasi dengan NPV berikut ini:
Misalkan kita saat ini membeli sebidang tanah dengan harga Rp 50 juta. Setelah selesai kita bayar, ada satu perusahaan menghubungi kita, dan mengatakan bahwa perusahaan tersebut bersedia membeli tanah tersebut TAHUN DEPAN dengan harga Rp 60 juta.
Apakah dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa kita memperoleh ‘LABA’ sebesar Rp 10 juta?
Jawabannya adalah TIDAK, karena kita perlu memperhatikan nilai waktu uang (sudah dibahas pada Time Value of Money)
Kalau kita akan menerima Rp 60 juta satu tahun yang akan datang, berapa nilai sekarang (present value) penerimaan tersebut?
Pembahasan jawaban:
Jika kita mempertimbangkan bahwa tingkat bunga yang relevan adalah 15%, maka presen value (disingkat PV) adalah:
PV = 60 (1 + 0,15)
= Rp 52,17 juta
Dengan demikian selisih antara PV penerimaan dengan PV pengeluaran (disebut sebagai net present value, dan disingkat NPV) adalah:
NPV = Rp 52,17 juta – Rp 50 juta
= Rp 2,17 juta
Analisis NPV
NPV yang positif menunjukkan bahwa PV penerimaan LEBIH BESAR dari PV pengeluaran, oleh karena itu NPV yang positif berarti investasi yang diharapkan akan meningkatkan kekayaan pemodal, sehingga, investasi tersebut dinilai menguntungkan. Dengan demikian maka decision rule kita adalah:
“terima suatu usulan investasi yang diharapkan memberikan NPV yang positif, dan tolak kalau memberikan NPV yang negatif”
Bagaimana jika NPN=0?
Dalam prakteknya akan sangat sulit untuk memperoleh hasil seperti itu, tapi secara teoritis dimungkinkan.
Apabila keadaan di mana NPV=0 kita harus mengingat: “apakah penentuan tingkat bunga yang kita anggap relevan dalam perhitungan NPV telah mempertimbangkan unsur risiko?”
Jika sudah, maka sesuai dengan penjelasan dalam pengelolaan modal kerja, investasi tersebut juga seharusnya kita terima, oleh karena itu, perhitungan NPV memerlukan dua kegiatan penting, yaitu:
- Menaksir arus kas
- Menentukan tingkat bunga yang dipandang relevan.
Bagaimana penjelasannya, ikuti terus pembahasannya berikut ini….
Menaksir Arus Kas
Permasalahan Penaksiran Arus Kas
Masalah dalam penaksiran arus kas bukan hanya menyangkut akurasi taksiran, tetapi juga perlu memahami arus kas yang relevan.
Per definisi karena taksiran menyangkut masa yang akan datang, maka selalu terbuka peluang untuk melakukan kesalahan. Kesalahan mungkin tidak sengaja dilakukan, tapi mungkin juga sengaja dilakukan.
Sponsor yang sangat ingin sebuah proyek dilaksanakan, akan cenderung memberikan taksiran yang terlalu optimis, karena itulah diperlukan evaluasi oleh bagian keuangan.
Tidak kalah pentingnya adalah penaksiran arus kas yang dinilai relevan. Bagian keuangan sering bertanggungjawab dalam masalah ini.
Metode Penaksiran Arus Kas
Untuk menaksir arus kas yang relevan perlu diperhatikan hal-hal berikut ini:
1: Taksirlah arus kas atas dasar setelah pajak
Perhatikan bahwa yang dinikmati oleh pemilik perusahaan adalah kas masuk bersih setelah pajak.
2: Taksirlah arus kas atas dasar incremental atau selisih
Rencana peluncuran produk baru mungkin akan mengakibatkan pengurangan penjualan produk lama (kanibalisme). Lebih-lebih kalau produk-produk tersebut ternyata mempunyai pasar yang sama.
Oleh karena itu, kita perlu diperhatikan pengurangan kas masuk dari produk lama akibat peluncuran produk baru.
3: Taksiran arus kas yang timbul karena keputusan investasi
Arus kas karena keputusan pendanaan, seperti:
- membayar bunga pinjaman,
- mengangsur pokok pinjaman
- pembayaran dividen
tidak perlu diperhatikan. Perhatian yang kita analisis adalah profiabilitas INVESTASI.
4: Jangan memasukkan sunk cost.
Apa itu sunk cost?
Masih ingat pembahasan akuntansi biaya kan, bahwa pengertian sunk cost adalah biaya yang telah terjadi sehingga tidak akan berubah karena keputusan yang akan kita ambil.
Apa yang telah terjadi tidak mungkin berubah karena keputusan yang kita ambil. Hanya biaya yang berubah karena keputusan kitalah yang relevan dalam analisis.
Seringkali untuk menaksir arus kas digunakan taksiran laba rugi sesuai dengan prinsip akuntansi, dan kemudian merubahnya menjadi taksiran atas dasar arus kas.
Perhatikan contoh berikut ini:

Sesuai dengan prinsip akuntansi, laba bersih dilaporkan sebesar Rp 350 juta, sedangkan menurut arus kas, pada periode tersebut menghasilkan kas masuk bersih sebesar Rp 850 juta.
Perhatikan bahwa:
Kas masuk bersih = Laba setelah pajak ditambah penyusutan.
Perhatikan pula bahwa dalam taksiran laba rugi sama sekali tidak dimunculkan transaksi yang menyangkut keputusan pendanaan, yaitu pembayaran bunga (kalau ada). Ini merupakan cara yang benar.
Misalkan taksiran arus kas pada tabel di atas merupakan taksiran arus kas dari proyek peluncuran produk baru.
Sayangnya peluncuran produk baru tersebut mengakibatkan PENURUNAN kas masuk bersih dari produk lama sebesar Rp 150 juta, sehingga arus kas yang relevan untuk proyek peluncuran produk baru tersebut adalah Rp 850 juta dikurangi Rp 150 juta, yaitu sebesar Rp 700 juta.
—-
Misalkan untuk pengembangan produk baru tersebut telah dikeluarkan biaya riset dan pengembangan senilai Rp 10 M. Seandainya perusahaan akan memproduksikan produk baru tersebut, apakah biaya riset dan pengembangan ini harus dimasukkan sebagai komponen inovasi?
Arus kas yang relevan dalam penilaian investasi adalah arus kas yang terjadi bila investasi tersebut dilaksanakan dan tidak terjadi bila tidak dilaksanakan.
Perhatikan contoh berikut ini:
Untuk pembuatan produk tersebut diperlukan mesin tertentu senilai Rp 30 M.
Arus kas untuk membeli mesin ini RELEVAN dalam perhitungan karena arus kas tersebut akan terjadi jika memutuskan untuk membuat produk baru tersebut, dan tidak terjadi jika tidak membuat produk tersebut.
Sebaliknya pengeluaran biaya untuk riset telah dilakukan, dan apapun keputusan kita untuk melaksanakan atau tidak proyek tersebut TIDAK akan merubah arus kas itu. Oleh karena itu, arus kas ini tidak relevan dalam penilaian investasi.
Biaya yang telah dikeluarkan tersebut sebagai sunk costs yang menunjukkan bahwa kita tidak bisa merubahnya apapun keputusan kita.
Karena itu TIDAK RELEVAN!
Perhatikan satu lagi contoh berikut ini:
Contoh ini untuk investasi yang mempunyai usia ekonomis lebih dari satu tahun.
Misalkan perusahaan transportasi akan membuka divisi baru, yaitu divisi taksi. Divisi tersebut akan dimulai dengan 50 buah taksi, dan karena akan dipergunakan untuk usaha taksi, mobil-mobil tersebut bisa dibeli denga harga Rp 30 juta per unit. Ditaksir usia ekonomis selama 4 tahun, dengan nilai sisa sebesar Rp 4 juta.
Untuk mempermudah analisis akan digunakan metode penyusutan garis lurus.
Taksi tersebut akan dioperasikan selama 300 hari dalam satu tahun. Setiap hari pengemudi dikenakan setoran Rp 50.000. Berbagai biaya yang bersifat tunai, seperti:
- penggantian ban, kopling, rem,
- penggantian oli,
- biaya perpanjangan STNK di taksir sebesar Rp 3.000.000.
Berapa NPV usaha tersebut, jika perusahaan sudah terkena tarif pajak penghasilan sebesar 35%?
Pembahasan jawaban:
Perhatikan penyelesaian contoh soal tersebut step-by-step:

Rumus Penyusutan aktiva tetap per tahun dihitung sebagai berikut:
Penyusutan per tahun = ( Harga Perolehan – Nilai Sisa ) : Usia Ekonomis
Dengan demikian, penyusutan per tahun adalah sebagai berikut:
= (Rp 1.500.000.000 – Rp 200.000.000 ) : 4
= Rp 325.000.000
Sedangkan taksiran kas masuk bersih operasi (operational net cash inflow) atau secara umum disebut sebagai operating cash flow per tahun adalah:
= Rp 178,75 + Rp 325
= Rp 503.75 juta
Di samping itu, pada tahun ke-4 diperkirakan akan terjadi kas masuk karena nilai sisa sebesar:
= 50 x Rp 4 juta
= Rp 200 juta.
—-
Setelah melakukan perhitungan, kita mengetahui arus kas investasi tersebut diharapkan akan seperti berikut ini:

Misalkan tingkat bunga yang relevan adalah 16% per tahun, maka perhitungan NPV bisa dinyatakan sebagai berikut:
NPV:
= -1.500 + 1.409,58 + 110.45
= -1.500 + 1.520,03 = + Rp 20,03 juta
Karena investasi tersebut diharapkan memberikan NPV positif, maka investasi tersebut DITERIMA.