Perusahaan, Harga Saham dan Nilai Pemegang Saham

Memahami tujuan utama suatu usaha sejak awal adalah sangat penting artinya untuk keberlangsungan dan pertumbuhan bisnis. Tujuan kepemilikan sebuah usaha perseorangan akan berbeda dengan tujuan perseroan terbatas (PT).

Yuk kita lihat contoh berikut ini…

Pak Budi pemilik sebuah toko di komplek pertokoan strategis di kawasan kota metropolita. Pak Budi  menjalankan usaha penjualan alat-alat olah raga.

Pak Budi menjalankan toko ini tentunya untuk mendapatkan uang, tapi ia sering berhenti bekerja di hari tertentu setiap minggu untuk melakukan hobinya.

Pak Budi juga memiliki beberapa karyawan yang sudah tidak produktif lagi, namun ia tetap mempekerjakan mereka dengan alasan karena persahabatan dan kesetiaan.

Pak Budi jelas ingin menjalankan perusahaannya dengan cara yang konsisten seperti tujuan prbadinya, yang tentu sangat masuk akal karena ia pemilik tunggal BISNIS itu!

Pak budi tahu bahwa ia akan memperoleh lebih banyak uang jika ia tidak melakukan aktivitas hoby-nya, atau jika ia mengganti beberapa karyawannya, namun ia merasa nyaman dengan PILIHAN yang diambil, dan karena ini usahanya sendiri, ia BEBAS untuk mengambil pilihan tersebut.

Contoh lainnya, adalah Pak Joni seorang CEO di suatu perusahaan besar yang sudah go public, Pak Joni mengelola aktivitas di perusahaan tersebut sehari-hari, tapi ia bukan pemilik perusahaan tersebut.

Perusahaan tersebut dimiliki oleh para pemegang saham yang membeli saham karena mereka ingin mendapatkan pengembalian finansial yang akan membantu mereka di masa pensiun, menyekolahkan anak mereka, atau membiayai perjalanan wisata yang sudah direncanakan.

Pemegang saham memilih dewan direksi, yang kemudian menunjuk Pak Joni untuk menjalankan perusahaan. Pak Joni dan para pegawai perusahaan lainnya mengejar kebijakan yang meningkatkan nilai pemegang saham.

Dari contoh kedua di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa salah satu tujuan utama pengelolaan sebuah bisnis adalah membuat nilai tambah kekayaan pemegang saham (stockholder wealth maximization).

Jika manajemen ingin memaksimalkan kekayaan pemegang saham, mereka harus tahu bagaimana kekayaan itu ditentukan.  Pada intinya kekayaan pemegang saham hanyalah jumlah lembar saham beredar yang dikalikan dengan harga pasar per lembar saham.

 

Jika kita memliki 100 lembar saham perusahaan XYZ dengan harga per lembar saham adalah Rp. 3.500, maka kekayaan kita di perusahaan itu adalah Rp 350.000

Kekayaan seuruh pemegang sahamnya dapat dijumlahkan dan menjadi nilai perusahaan XYZ tersebut, hal yang seharusnya dimaksimalkan oleh pengelola perusahaan.

Baca juga : Cara Menghitung Pendapatan Per Lembar Saham (Earnings Per Share/EPS)

Jumlah lembar saham beredar untuk segala maksud dan tujuan adalah hal yang telah ditentukan, sehingga apa yang sebenarnya menentukan kekayaan pemegang saham adalah harga saham. Oleh karena itu, hal utama adalah apa yang menentukan harga saham?

Dan perlu diketahui bahwa, nilai aset merupakan NILAI SEKARANG dari arus kas yang dihasilkannya bagi pemilik dari waktu ke waktu. Harga saham pada satu waktu tertentu akan bergantung pada arus kas yang diharapkan diterima di masa depan oleh investor, jika investor tersebut membeli saham.

Baca juga : 2 Metode atau Cara Membuat Laporan Arus Kas ( Statement of Cash Flow)

Sebagai contoh, misalnya investor tahu bahwa perusahaan XYZ menghasilkan Rp 10.000 perl lembar saham pada tahun 2014 dan membayar 50% dari jumlah tersebut atau Rp 5.000 per lembar, dalam bentuk dividen.

Selanjutnya, misalnya sebagian besar investor berharap laba, dividen, dan harga saham naik sekitar 6% per tahun. Manajemen akan berusaha mengelola perusahaan sehingga seluruh harapan tersebut terpenuhi.

Manajemen bisa jadi melakukan beberapa keputusan hebat dan didukung kondisi perekonomian yang baik yang menyebabkan kenaikan laba sebesar 12%, sehingga dividen dan harga saham naik dengan tingkat yang sama.

Namun demikian manajemen mungkin juga melakukan beberapa kesalahan fatal, sehingga laba bisa terganggu, dan harga saham bukannya tumbuh, melainkan turun tajam.

Jadi, dapat kita lihat, bila manajemen perusahaan XYZ mengambil keputusan yang baik, harga saham seharusnya meningkat. Sementara itu, jika manajemen mengambil keputusan yang tidak tepat, maka harga saham akan turun.

Tujuan manajemen adalah mengambil sekumpulan keputusan yang menghasilkan harga saham maksimal karena ini hal ini akan memaksimalkan kekayaan pemegang saham.

Namun demikian perlu dicatat bahwa faktor di luar kendali manajemen juga dapat mempengaruhi harga saham. Misalnya, adanya peristiwa tertentu membuat harga saham perusahaan terkait turun tajam.

Sebagaimana kita ketahui bahwa perusahaan memiliki beberapa departemen yang berbeda, antara lain pemasaran, akuntansi, produksi, sumber daya manusia dan keuangan.

Tugas utama departemen keuangan adalah mengevaluasi usulan keputusan dan menilai pengaruhnya pada harga saham dan kekayaan pemegang saham.

Misalnya, manajer produksi ingin mengganti beberapa peralatan tua dengan peralatan baru, mesin otomatis yang memungkinkan perusahaan mengurangi biaya tenaga kerja. Staf keuangan akan mengevaluasi usulan itu dan menentukan apakah penghematan yang dihasilkan layak dengan biaya yang dikeluarkan.

Begitu juga bila departemen pemasaran ingin menandatangani kontrak dengan kerja sama program promosi yang akan menimbulkan biaya besar.

Staf keuangan akan mengevaluasi usulan tersebut, melihat kemungkinan kenaikan PENJUALAN dan faktor-faktor lain yang berhubungan, lalu mencapai kesimpulan ‘apakah melakukan program promosi tersebut akan memberikan harga saham yang lebih tinggi?”

Harga saham terus berubah dari waktu ke waktu seiring dengan perubahan kondisi dan informasi baru yang diperoleh investor tentang prospek perusahaan.

Misalnya, saham perusahaan XYZ berada di rentang harga Rp 21.000 hingga Rp 69.000 per lembar saham sepanjang tahun 2014, naik dan turun seiring dirilisnya berita baik dan buruk.

Sedangkan perusahaan ABC yang usianya lebih tua dibandingkan perusahaan XYZ dan lebih terdiversifikasi sehingga lebih stabil dan memiliki rentang harga yang lebih sempit mulai dari Rp. 28.000 hingga Rp 35.00.

Baca juga : Tiga Rasio Nilai Pasar untuk Menilai Risiko dan Prospek Perusahaan di Masa Depan

Investor dapat memprediksikan hasil perusahaan ABC di masa depan secara lebih akurat dibandingkan dengan perusahaan XYZ, karena perusahaan ABC lebih tidak berisiko.

Perhatikan juga bahwa keputusan investasi yang diambil oleh perusahaan dalam menentukan laba perusahaan dan arus kas investor di masa depan.

Beberapa proyek perusahaan relatif sederhana dan mudah dievaluasi sehingga tidak terlalu berisiko.

Misalnya, perusahaan retail mempertimbangkan untuk membuka sebuah gerai baru, perkiraan pendapatan, biaya dan laba untuk proyek terebut akan lebih mudah untuk diestimasi dibandingkan proyek perusahaan teknologi yang misalkan akan memproduksi komputer yang dikendalikan oleh suara.

Berhasil atau tidaknya proyek-proyek itu akan menentukan harga saham perusahaan-perusahaan tersebut di masa depan.

Manajemen perusahaan harus memperkirakan kemungkinan munculnya dampak dari proyek perusahaan terhadap profitabilitas dan harga saham.

Pemegang saham harus bisa meramalkan berhasil atau tidaknya perusahaan nanti, dan harga saham saat ini mencerminkan penilaian investor terhadap keberhasilan perusahaan di masa depan.

Bagaimana dengan bisnis anda?

***

sop akuntansi keuangan powerful