3 Cara Sederhana dan Mudah Melakukan Analisis Rasio Keuangan Perusahaan

Keputusan keuangan diambil setelah memahami kondisi dan kinerja keuangan perusahaan. Untuk memahami kondisi keuangan perusahaan, diperlukan analisis rasio keuangan perusahaan.

Dengan melakukan analisis, kita akan mengetahui:

  • Apakah kondisi dan kinerja keuangan peusahaan baik?
  • Jika mempunyai kelemahan, dalam aspek apa kelemahan tersebut?

Karena relatif tidak mudah memahami Laporan Keuangan dalam bentuk aslinya, maka digunakan 3 cara ini untuk melakukan analisis, yaitu:

  1. Analisis Common Size
  2. Analisis Indeks
  3. Analisis Rasio Keuangan

Mari ikuti pembahasan rinci beserta contoh-contohnya berikut ini…

 

01. Analisis Common Size

Analisis common size  adalah

Apa yang dimaksud Analisis Common Size?

Analisis common size  adalah analisis yang dilakukan dengan merubah angka-angka yang ada dalam Neraca/Laporan Posisi Keuangan dan Laporan Laba Rugi menjadi persentase berdasarkan dasar tertentu.

Analisis common size balance sheet/laporan posisi keuangan, angka-angka yang ada di Neraca, common base-nya adalah TOTAL AKTIVA. Jadi total aktiva digunakan sebagai 100%.

Analisis common size pada Laporan Laba Rugi, PENJUALAN NETTO digunakan sebagai 100%.

Perhatikan contoh analisis common size dalam laporan keuangan dan cara membaca analisis common size berikut ini:

Berikut ini disajikan contoh laporan posisi keuangan/neraca PT Bening Jaya pada akhir tahun 2018 dan 2019.

Tabel: Neraca PT Bening Jaya pada 31 Desember 2018 dan 2019 (dalam jutaan rupiah)

contoh neraca keuangan perusahaan

Tabel: Laporan Laba Rugi PT Bening Jaya 31 Desember 2019 (dalam jutaan rupiah)

rasio keuangan terhadap perubahan laba

Fungsi analisis common size adalah mempermudah pembaca laporan keuangan memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi dalam neraca.

Hasil analisis common size menunjukkan pada sisi aktiva nampaknya tidak banyak perubahan komposisi, hanya aktiva lancar sedikit meningkat pada tahun 2019 dibandingkan 2018.

Pada sisi pasiva nampak bahwa komponen modal sendiri meningkat cukup berarti. Yaitu dari 47,6% menjadi 58,9%.

Di pandang dari sisi permodalan, keadaan ini menunjukkan peningkatan permodalan perusahaan.

Tabel Analisis common size balance sheet PT Bening Jaya pada 31 Desember 2018 dan 2019

cara membaca analisis common size

Laporan laba rugi yang disajikan dalam bentuk common size ditunjukkan sebagai berikut:

Tabel: Laporan Laba Rugi common size PT Bening Jaya 31/12/2019

melakukan analisis common size

Interpretasi analisis common size menunjukkan bahwa perusahaan mampu memperoleh laba operasi sebesar 13,6% dari penjualan.

Sedangkan laba setelah pajak yang diperoleh adalah sebesar 7,6% dari penjualan.

Kesimpulan analisis common size:

Analisis perbandingan common size dan trend dari waktu ke waktu, akan memudahkan perusahaan memperoleh kesimpulan apakah misalnya terjadi kenaikan dalam harga pokok penjualan dan sebagainya.

 

02. Analisis Indeks

analisis indeks adalah

Apa itu analisis indeks laporan keuangan?

Pegertian analisis indeks adalah analisis keuangan yang dilakukan dengan merubah angka dalam suatu laporan keuangan pada tahun dasar menjadi 100.

Pemilihan tahun dasar bukanlah selalu tahun yang paling awal, tapi tahun yang dianggap normal.

Dengan demikian manfaat melakukan analisis indeks dalam manajemen keuangan adalah untuk membandingkan perkembangan dari waktu ke waktu.

Berdasarkan prinsip dasar analisis indeks tersebut , maka analisis indeks pada laporan keuangan hanya pada neraca yang bisa disajikan dalam bentuk indeks, karena untuk laporan laba rugi hanya tersedia satu tahun pelaporan.

Perhatikan contoh analisis indeks laporan keuangan berikut ini:

Dan bila kita menggunakan contoh laporan keuangan PT Bening Jaya di atas, maka tahun 2018 digunakan sebagai tahun dasar (=100).

Maka cara analisis indeks adalah dengan menyajikan neraca dalam bentuk indeks berikut ini:

Tabel: Indeks neraca PT Bening Jaya pada 31 Desember 2018 dan 2019 (2018 = 100)

hasil analisis common size

Penyajian dengan metode indeks menunjukkan bahwa hampir semua komponen aktiva lancar meningkat. Sebaliknya aktiva tetap netto menurun.

Meskipun demikian, hal ini tidak berarti bahwa perusahaan menjual aktiva tetapnya, melainkan hanya karena penerapan prinsip akuntansi, yaitu pembebanan penyusutan.

Di sisi pasiva, yang mencolok adalah:

  • peningkatan laba ditahan
  • penurunan hutang bank
  • hutang jangka panjang

Nampak ada upaya perusahaan untuk memperkecil beban hutang. Kesimpulannya sama, yaitu menguatnya permodalan perusahaan.

 

03. Analisis Rasio Keuangan

Analisis rasio keuangan

Apa yang dimaksud analisis rasio keuangan?

Analisis rasio keuangan adalah analisis untuk menilai kinerja keuangan perusahaan swasta, perbankan, anggaran pendapatan dan belanja daerah, rumah sakit, koperasi atau instansi/lembaga lain dengan menggunakan perhitungan rasio-rasio keuangan yang mencerminkan aspek-aspek tertentu.

Rasio-rasio keuangan dihitung berdasarkan atas angka-angka yang ada dalam neraca saja, dalam laporan laba rugi saja, atau pada neraca dan laporan laba rugi.

Setiap analis keuangan bisa saja merumuskan rasio tertentu yang dianggap mencerminkan aspek tertentu.

Karena itu  pertanyaan pertama yang perlu dijawab tentang analisis rasio keuangan adalah aspek dan variabel apa yang akan dinilai?

Pemilihan aspek-aspek yang akan dinilai perlu dikaitkan dengan tujuan analisis rasio keuangan.

Apabila tujuan analisis rasio keuangan adalah pihak kreditur, aspek yang dinilai akan berbeda dengan hasil analisis rasio keuangan yang dilakukan oleh calon pemodal.

Kreditur akan lebih berkepentingan dengan kemampuan perusahaan melunasi kewajiban finansial tepat pada waktunya, sedangkan pemodal akan lebih berkepentingan dengan risiko investasi dan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan.

Secara keseluruhan, jenis analisis rasio keuangan yang biasa digunakan dalam perusahaan sesuai dengan aspek-aspek yang dinilai diklasifikasikan menjadi:

  1. Aspek Leverage
  2. Aspek Likuiditas
  3. Aspek Profitabilitas atau Efisiensi, dan
  4. Rasio-rasio Nilai Pasar

Sebelum melanjutkan pembahasan, sebagai pengayaan referensi materi rasio keuangan, yuk sejenak kita saksikan video singkat berikut ini:

Bagaimana, semakin jelas ya? Okay mantap.

Kita lanjutkan pembahasan rinci beserta contoh-contohnya tentang 4 aspek rasio keuangan ya…

 

A: Rasio Keuangan – Aspek Leverage

Apa arti rasio leverage?

Definisi dan pengertian rasio leverage menurut para ahli adalah rasio yang mengukur seberapa jauh perusahaan menggunakan HUTANG.

Fungsi dan kegunaan rasio leverage bagi perusahaan adalah untuk memonitor dan menilai tingkat efisiensi penggunaan hutang.

Beberapa analisis menggunakan istilah rasio solvabilitas.

Di mana prinsipnya sama dengan arti rasio leverage.

Pengertian rasio solvabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangannya.

Ada 4 (empat) jenis rasio leverage menurut para ahli keuangan, yaitu:

#1: Rasio Hutang

Rasio hutang adalah rasio yang dhitung berdasarkan atas hutang jangka panjang, termasuk kewajiban membayar sewa guna atau leasing, atau seluruh hutang.

Rumus rasio hutang jangka panjang terhadap ekuitas adalah sebagai berikut:

(Hutang Jangka Panjang+Sewa) : (Hutang Jangka Panjang+Sewa Guna+Modal Sendiri)

Perhatikan contoh rasio hutang berikut ini:

Dengan menggunakan Contoh Laporan Keuangan PT Bening Jaya tahun 2019, maka nilai rasio hutangnya adalah:

= 100 : (100 + 517)
= 0,193

Kadang-kadang analis juga menghitung rasio hutang dengan dinyatakan sebagai total kewajiban, bukan hanya hutang jangka panjangnya.

Bila rasio total hutang terhadap ekuitas ini yang digunakan maka:

Rasio hutang =  362 : (361 + 517) = 0,411

 

#2: Debt to Equity Ratio (DER)

Pengertian Debt to Equity Ratio (DER) adalah rasio keuangan yang menunjukkan perbandingan antara hutang dengan modal sendiri.

Rumus Debt to Equity Rasio (DER) adalah:

Total Kewajiban : Modal Sendiri

Perhatikan contoh perhitungan Debt to Equity Ratio (DER) berikut ini:

Masih menggunakan contoh laporan keuangan PT Bening Jaya tahun 2019, maka dapat dihitung nilai Debt to Equity Rasio (DER) sebagai berikut:

= 361 : 517
= 0,698

 

#3: Time Interest Earned

Pengertian Time Interest Earned ratio menurut para ahli adalah rasio keuangan yang mengukur seberapa banyak laba operasi (bisa juga ditambah dengan penyusutan) mampu membayar bunga hutang.

Cara menghitung time interest earned ratio adalah menggunakan rumus sebagai berikut:

Laba operasi (+Penyusutan) : Bunga

Perhatikan contoh perhitungan time interest earned berikut ini:

Bila penyusutan tidak dimasukkan maka Time Interest Earned PT Bening Jaya tahun 2019 adalah:

= 300 : 56
= 5,36

Perhatikan bahwa rasio keuangan ini menggunakan angka-angka yang ada dalam Laporan Laba rugi.

 

#4: Debt Service Coverage

Pengertian debt service coverage adalah kewajiban finansial yang timbul karena menggunakan hutang tidak hanya karena membayar bunga dan sewa guna (leasing).

Ada juga kewajiban dalam bentuk pembayaran angsuran pokok pinjaman.

Rumus Debt service coverage (DSC) adalah sebagai berikut:

(Laba Operasi + Penyusutan) : [Bunga + Sewa Guna + {angsuran pokok pinjaman : (1-t)}]

Di mana:

t = tarif pajak penghasilan (incone tax)

Perhatikan contoh perhitungan debt service coverage berikut ini:

Misalkan angsuran pokok pinjaman per tahun yang harus dibayar perusahaan adalah Rp 50 dan tarif pajak adalah 35%, maka  Debt Service Coverage PT Bening Jaya adalah:

= (300+50) : [56+{50/(1-0,35)}]
= 2,63

 

B: Rasio Keuangan – Aspek Likuiditas

Rasio Likuiditas adalah

Rasio Likuiditas adalah rasio keuangan yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek.

Ada 3 rasio likuiditas yang digunakan dalam analisis rasio keuangan ini, yaitu:

#1: Modal Kerja Netto dengan Total Aktiva

Pengertian Modal kerja netto adalah perbedaaan antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar.

Modal kerja netto menunjukkan secara kasar, potensi cadangan kas dari perusahaan.

Apa yang dimaksud aktiva lancar?

Aktiva lancar adalah aktiva yang diharapkan berubah menjadi kas dalam jangka waktu singkat (biasanya kurang dari satu tahun).

Lalu apa itu kewajiban lancar?

Kewajiban lancar adalah kewajiban yang harus dipenuhi dalam waktu dekat, biasanya juga kurang dari satu tahun.

Rumus rasio modal kerja dengan total aktiva adalah sebagai berikut:

NWC-TA = Modal Kerja Netto : Aktiva Total

Perhatikan contoh perhitungan rasio modal kerja dengan total aktiva berikut ini:

Berapa nilai Modal Kerja Netto dengan Total Aktiva (disingkat NWC-TA) PT Bening Jaya?

Bila dihitung dengan menggunakan rumus NWC-TA adalah sebagai berikut:

= (328 – 261) : 878
= 0,076

Dengan demikian, kira-kira 7,6 dari total aktiva bisa dirubah menjadi kas dalam waktu pendek setelah digunakan untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya.

 

#2: Current ratio

Apa arti current ratio?

Pengertian current ratio menurut para ahli adalah rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur seberapa jauh aktiva lancar perusahaan bisa dipakai untuk memenuhi kewajiban lancar.

Rumus current ratio ini dinyatakan dengan sebuah persamaan matematika sebagai berikut:

Current Ratio = Aktiva Lancar : Kewajiban Lancar

Perhatikan contoh perhitungan current ratio PT Bening Jaya berikut ini:

= 328 : 261
= 1,26

#3: Quick atau Acid Test Ratio

Apa pengertian Quick Ratio?

Quick Ratio rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur seberapa cepat aktiva lancar bisa memenuhi kewajiban lancarnya.

Karena persediaan merupakan rekening/akun yang paling lama untuk berubah menjadi kas (yaitu harus melewati bentuk piutang terlebih dahulu).

Dan tingkat kepastian nilainya rendah (harga persediaan mungkin tidak seperti yang dicantumkan dalam neraca.

Terutama untuk persediaan barang dalam proses), maka rekening persediaan barang dikeluarkan dari perhitungan rasio keuangan ini.

Jadi quick ratio adalah kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban tanpa memperhitungkan persediaan

Dan dengan demikian maka rumus Quick Ratio dalam laporan keuangan dinyatakan sebagai berikut:

Quick Ratio: (Aktiva Lancar – Persediaan) : Kewajiban Lancar

Perhatikan Contoh perhitungan Quick Ratio PT Bening Jaya berikut ini:

= (328 – 112) : 261
= 0,83

 

C: Rasio Keuangan – Aspek Profitabilitas atau Efisiensi

Rasio profitabiltas adalah

Rasio profitabiltas adalah rasio-rasio keuangan yang dimaskudkan untuk mengukur efisiensi penggunaan aktiva perusahaan atau sekelompok aktiva perusahaan.

Efisiensi ini juga bisa dikaitkan dengan penjualan yang berhasil diciptakan.

Sebagai contoh:

Ada jenis perusahaan yang mengambil keuntungan relatif yang cukup tinggi dari setiap penjualan, tapi ada juga yang keuntungan relatifnya cukup rendah, seperti barang-barang kebutuhan sehari-hari, sembako.

Ada 7 (tujuh) rasio keuangan yang biasa digunakan oleh para analis untuk menganalisis rasio profitabilitas ini, yaitu:

#1: Rentabilitas Ekonomi

Pengertian rasio rentabilitas ekonomi adalah rasio keuangan yang mengukur kemampuan aktiva perusahaan memperoleh laba dari operasi perusahaan.

Karena hasil operasi yang akan diukur, maka digunakan laba sebelum bunga dan pajak.

Aktiva yang digunakan untuk mengukur kemampuan memperoleh laba operasi adalah aktiva operasional.

Jika perusahaan mempunyai aktiva non-operasional, maka aktiva ini harus dikeluarkan dari penghitungan.

Masalah yang timbul dalam perhitungan rasio keuangan rentabilitas ekonomi adalah:

“Apakah kita akan menggunakan aktiva perusahaan pada awal tahun, akhir tahun, atau rata-rata?”

Bila dimungkinkan sebaiknya digunakan angka rata-rata.

Mengapa demikian?

Perhatikan contoh analisis dengan menggunakan masing-masing periode berikut ini:

A: Menggunakan dasar angka perhitungan aktiva awal tahun

Analis manajemen keuangan yang menggunakan angka pada awal periode mendasarkan diri atas argumentasi sebagai berikut:

Misalnya kita mempunyai uang saat ini sebesar Rp 100 juta. Setelah digunakan selama satu tahun, uang tersebut menghasilkan keuntungan sebesar Rp 20 juta.

Dengan demikian tingkat keuntungan yang diperoleh selama satu tahun adalah 20%.

Meskipun pada akhir tahun kekayaan kita telah menjadi Rp 120 juta, yaitu akumulasi dari kekayaan awal periode dengan keuntungan (Rp 100 juta + Rp 20 juta).

Perhitungan angka 20% tersebut mendasarkan diri pada kekayaan awal periode.

 

B: Menggunakan dasar angka perhitungan aktiva akhir periode

Mereka yang menggunakan angka pada akhir periode lebih sering didasarkan atas tersedianya data.

Sebagai contoh:

Jika kita ingin mengetahui kondisi keuangan perusahaan pada tahun 2018, kemungkinan besar kita akan memperoleh laporan keuangan dalam bentuk neraca pada akhir tahun 2018. Dan laporan Laba Rugi selama tahun 2018.

Dengan demikian kalau kita bandingkan keuntungan dan kekayaan dari dua informasi keuangan tersebut, maka kita menggunakan kekayaan pada akhir tahun.

 

C: Menggunakan angka rata-rata

Karena keuntungan yang diperoleh dari operasi perusahaan mungkin sekali diperoleh sedikit demi sedikit sepanjang waktu (bisa setiap hari, setiap minggu, setiap bulan) maka pertambahan kekayaan perusahaan terjadi sedikit demi sedikit dari waktu ke waktu.

Karena itulah maka digunakan angka rata-rata selama periode tersebut.

Rumus rentabilitas ekonomi adalah dinyatakan sebagai berikut:

(Laba Operasi : Rata-rata Aktiva) x 100%

Perhatikan contoh perhitungan rentabilitas ekonomi berikut ini:

Untuk PT Bening Jaya pada tahun 2019, nilai rentabilitas ekonominya adalah:

= [300 : {(919 + 878) : 2}] X 100%
= 33,4%

Perhatikan cara menghitung rentabilitas ekonomi perusahaan di atas, kita menggunakan angka rata-rata dan semua aktiva dimasukkan sebagai aktiva operasional.

Hal ini disebabkan karena perusahaan tersebut mempunyai akun “sekuritas”.  Akun ini bisa ditafsirkan bersifat temporer.

Yaitu hanya untuk memanfaatkan dana yang menganggur dalam waktu sementara, sehingga semua aktiva diklasifikasikan sebagai aktiva operasional.

Kalau memang dalam komposisi kekayaan terdapat aktiva yang tidak oprasional, maka kekayaan tersebut tidak perlu diperhitungkan dalam menilai rentabilitas ekonomi perusahaan.

 

#2: Rentabilitas Modal Sendiri atau Return on Equity (ROE)

Apa yang dimaksud rasio rentabilitas Modal sendiri (ROE)?

Pengertian rasio return on equity adalah rasio yang mengukur seberapa banyak keuntungan yang menjadi hak pemilik modal sendiri.

Karena itu digunakan angka laba seelah pajak. Angka modal sendiri juga sebaiknya digunakan angka rata-rata.

Rumus return on equity adalah dinyatakan seperti berikut :

[Laba setelah pajak : (Rata-rata) modal sendiri] X 100%

Perhatikan contoh perhitungan ROE PT Bening Jaya tahun 2019 berikut ini:

= [166 : {(438 + 517) : 2}] X 100%
= 34,8%

 

#3: Return On Investment (ROI)

Apa itu Return On Investment (ROI)?

Pengertian Return On Investment adalah rasio yang menunjukkan seberapa banyak laba bersih yang bisa dipoles dari seluruh kekayaan yang dimiliki perusahaan.

Karena itu digunakan angka laba setelah pajak dan rata-rata kekayaan perusahaan.

Rumus Return On Investment (ROI) dinyatakan sebagai berikut:

(Laba setelah pajak : (Rata-rata) kekayaan) X 100%

Perhatikan contoh perhitungan Return On Investment  (ROI) PT Bening Jaya tahun 2019 berikut:

= [166 : {(919 + 878) : 2}] X 100%
= 18,5%

 

#4: Profit Margin

Apa yang dimaksud profit margin?

Pengertian profit margin adalah rasio keuangan yang mengukur seberapa banyak keuntungan operasional bisa diperoleh dari setiap rupiah penjualan.

Karena itu rumus profit margin dinyatakan sebagai berikut:

(Laba operasi : Penjualan) X 100%

Perhatikan contoh perhitungan profit margin PT Benign Jaya tahun 2019 berikut:

= (300 : 2.200) X 100%
= 13,6%

 

#5: Perputaran Aktiva

Apa itu rasio perputaran aktiva?

Pengertian rasio perputaran aktiva adalah rasio keuangan yang mengukur seberapa banyak penjualan bisa diciptakan dari setiap rupiah aktiva yang dimiliki.

Rasio perputaran aktiva dinyatakan dengan sebuah rumus sebagai berikut:

Penjualan : (Rata-rata) Aktiva

Perhatikan contoh perhitungan rasio perputaran aktiva:

Berapa nilai rasio perputaran aktiva PT Bening Jaya tahun 2019?

Berikut ini perhitungannya:

= 2.200 : [(919 + 878) : 2]
= 2,45X

Sekarang perhatikan perhitungan rasio rentabilitas ekonomi dengan menggunakan rasio perputaran aktiva dan profit margin berikut ini:

Rentabilitas Ekonomi = Profit margin X perputaran aktiva
33,4$% = 13,6% X 2,45

(Selisih yang terjadi hanya karena pembulatan)

 

#6: Perputaran Piutang

Apa itu arti rasio perputaran piutang?

Pengertian rasio perputaran piutang adalah rasio keuangan yang mengukur seberapa cepat piutang dilunasi dalam satu tahun.

Jasi fungsi rasio perputaran piutang adalah untuk mengetahu waktu perputaran piutang perusahaan.

Bila hasil analisis rasio perputaran piutang usaha sebesar 4X, maka interpretasi rasio perputaran piutang tersebut berarti bahwa rata-rata piutang tersebut dilunasi dalam jangka waktu:

= 360hari / 4
= 90 hari.

Rumus rasio aktivitas perputaran piutang usaha sebagai berikut:

Penjualan Kredit : (Rata-rata) Piutang

Perhatikan contoh rasio perputaran piutang berikut ini:

Bila kita asumsikan seluruh penjualan PT Bening Jaya adalah penjualan kredit, maka perhitungan rasio perputaran piutang PT Bening Jaya adalah:

= 2.200 : {(170 + 176) : 2}
= 12,7x

Ini berarti bahwa rata-rata periode pengumpulan piutangnya, adalah:

= 360 hari : 12,7
= 28,3

 

#7: Analisis Perputaran Persediaan

Apa itu rasio perputaran persediaan?

Pengertian rasio perputaran persediaan adalah rasio keuangan yang mengukur berapa lama rata-rata barang berada di gudang.

Pemikirannya adalah kenaikan persediaan disebabkan oleh peningkatan aktivitas, atau karena perubahan kebijakan persediaan.

Bagaimana pengaruh perputaran persediaan terhadap profitabilitas?

Kalau terjadi kenaikan persediaan yang tidak proporsional dengan peningkatan aktivitas, maka berarti terjadi pemborosan dalam pengelolaan persediaan.

Rasio perputaran persediaan dinyatakan dalam sebuah rumus berikut:

Harga Pokok Penjualan : (Rata-rata Persediaan)

Perhatikan contoh perhitungan rasio perputaran persediaan berikut ini:

Untuk PT Bening Jaya rasio perputaran persediaannya adalah:

= 1.500 : (117 + 112)
= 13,1

Hal ini berarti rata-rata barang berada di gudang selama 360 hari/13,1 = 27,5 hari.

 

D: Rasio Keuangan – Aspek Nilai Pasar

rasio nilai pasar adalah

Apa yang dimaksud rasio nilai pasar?

Pengertian rasio nilai pasar adalah rasio-rasio yang menggunakan angka yang diperoleh dari laporan keuangan dan pasar modal.

Beberapa rasio nilai pasar adalah:

#1: Price Earnings Ratio

Apa yang dimaksud price earning ratio?

Definisi price earnings ratio adalah rasio keuangan yang membandingkan antara harga saham yang diperoleh dari pasar modal dan laba per lembar saham yang diperoleh pemilik perusahaan (disajikan dalam laporan keuangan).

Rumus price earning ratio dituliskan sebagai berikut:

Price Earning Ratio = Harga Saham : Laba Per Lembar Saham

Perhatikan contoh perhitungan Price Earning Ratio berikut ini:

Misalkan diketahui bahwa jumlah lembar saham yang beredar adalah 1.000.000 lembar saham. Dengan demikian maka earnings per share (EPS), atau laba per lembar adalah:

= Rp 166 juta/1 juta
= Rp 166

Misalkan lebih lanjut bahwa harga saham PT Bening Jaya di bursa adalah Rp 1.000. Dengan demikian maka:

Price Earning s Ratio (PER) = 1.000 : 166 = 6x

Bila pasar modal efisien, maka rasio ini mencerminkan pertumbuhan laba perusahaan.

Semakin tinggi rasio keuangan ini, semakin tinggi pertumbuhan laba yang diharapkan oleh pemodal.

 

#2: Market to Book Value Ratio

Pengertian Market to book value ratio/market to book ratio adalah rasio keuangan dengan membandingkan antara harga saham dengan nilai buku per saham.

Rumus Market to book ratio ini dinyatakan sebagai berikut:

Market to Book Ratio = Harga Saham : Nilai Buku per Saham

Perhatikan contoh perhitungan Market to Book Ratio berikut:

Nilai buku modal sendiri dari PT Bening Jaya adalah Rp 517 juta. Dengan jumlah lembar saham sebanyak 1.000.000 lembar, maka nilai buku per saham adalah Rp 517.

Dengan demikian maka Market to Book Ratio adalah:

= 1.000 : 517
= 1,93

Rasio keuangan ini menunjukkan bahwa nilai perusahaan melebihi 93% dari apa yang telah dan sedang ditanamkan oleh pemilik perusahaan.

Semakin tinggi rasio keuangan ini, semakin besar tambahan wealth yang dinikmati oleh pemilik perusahaan.

 

04. Bagaimana Menggunakan Rasio-rasio Keuangan

cara menggunakan rasio keuangan

Pada umumnya digunakan dua cara untuk menafsirkan rasio-rasio keuangan. Dengan menggunakan asumsi bahwa metode akuntansi yang digunakan oleh perusahaan konsisten dari waktu ke waktu.

Dan sama dengan yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan lain, kalau ternyata berbeda, maka analis keuangan perlu melakukan penyesuaian.

Maka rasio-rasio keuangan yang dihitung bisa ditafsirkan dengan:

  1. Membandingkan dengan rasio keuangan di masa lalu
  2. Membandingkan dengan rasio keuangan perusahaan-perusahaan lain dalam satu industri.

Cara kedua relatif lebih baik karena bisa mengetahui kedudukan relatif perusahaan kita dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan lain.

Apakah kita berada di atas rata-rata, dibawah rata-rata atau termasuk rata-rata.

Sayangnya ada kecenderungan untuk menjadi makin sulit mengelompokkan perusahaan ke dalam satu industri yang sama, karena banyak perusahaan yang tidak hanya menjalankan satu jenis bisnis saja.

***

Cara lain adalah dengan membandaingkan rasio keuangan dengan kebijakan yang diambil perusahaan.

Beberapa rasio keuangan bisa dibandingkan dengan kebijakan-kebijakan seperti dalam hal penjualan kredit dan persediaan.

Sebagai contoh:

Misalkan perusahaan mengambil kebijakan kredit menjual secara kredit dengan jangka waktu 3 bulan.

Dengan demikian periode rata-rata pengumpulan piutang seharusnya juga akan sekitar 90 hari, atau perputaran piutang sebanyak 4x dalam satu tahun.

Perusahaan mungkin juga merumuskan kebijakan persediaan barang jadi sebesar satu bulan penjualan.

Bila kebijakan dirumuskan seperti itu, maka perputaran persediaan barang jadi akan berkisar 12x dalam satu tahun.

Sayangnya tidak semua jenis rasio keuangan bisa dibandingkan dengan kebijakan keuangan, sehingga penggunaan perbandingan dengan rasio tahun lalu dan/atau industri lebih sering digunakan.

Yang perlu diperhatikan adalah perbandingan dengan suatu angka tertentuyang diberlakukan secara umum, misalnya current ratio harus minimal 200% merupakan cara yang tidak benar.

Dari berbagai penelitian diketemukan bahwa ada perbedaan rasio antar industri dan antarnegara.

 

05. Analisis Keuangan Sistem Du Pont dan Analisis Rentabilitas Ekonomi

analisis Du Pont system

Dua sistem analisis keuangan yang menggunakan rasio keuangan, antara lain:

  • Analisis Du Pont (Dupont System)
  • Rentabilitas Ekonomi

Kita perlu memahami persamaan dan perbedaannya karena keduanya serng dipakai  dan kadang-kadang ditafsirkan sama.

Fungsi analisis Du Pont system dalam analisis laporan keuangan adalah mengukur kinerja keuangan perusahaan adalah dengan menghitung Return On Investment (ROI) yang didefinisikan sebagai Laba Setelah Pajak/Total Aktiva.

Sedangkan Rentabilitas Ekonomi didefinisikan sebagai Laba sebelum bunga dan pajak/total Aktiva.

Meskipun pembagiannya sama, pembilangnya (yang dibagi) tidak sama.

Kedua rasio keuangan ini sering terkacaukan karena keduanya bisa dinyatakan sebagai perkalian antara suatu rasio keuangan dengan rasio keuangan yang lain.

Perhatikan penjelasan berikut ini:

ROI = Net Profit Margin X Perputaran Aktiva

Dalam hal ini:

  • Net Profit Margin adalah laba setelah pajak dibagi penjualan.
  • Perputaran Aktiva adalah penjualan dibagi total aktiva.

Sedangkan:

Rentabilitas Ekonomi = Profit Margin X Perputaran Aktiva

Di mana:

  • Profit Margin adalah Laba sebelum bunga dan Pajak dibagi penjualan

Perhatikan di sini bahwa ROI memusatkan pada laba setelah pajak, sedangkan rentabilitas ekonomi pada laba operasi, yaitu laba sebelum bunga dan pajak.

Bila kita gunakan data PT Bening Jaya, kita akan memperoleh hasil perhitungan sebagai berikut:

ROI = 7,5% x 2,45 = 18,5%

Sedangkan:

Rentabilitas Ekonomi =  2,6% x  2,45 = 33,4%

Setelah kita mengetahui perbedaannya, yang lebih penting lagi adalah memahami manfaat dua analisis keuangan tersebut.

 

A: Analisis Du Pont

Analisis Du Pont adalah analisis keuangan yang menunjukkan keterkaitan rentabilitas modal sendiri (ROE), ROI, dan rasio hutang, yaitu hutang aktiva.

Sistem ini dikembangkan dalam perusahaan Du Pont, sehingga diberi nama Sistem Du Pont.

Bila perusahaan memperoleh ROI yang sama, maka perusahaan yang menggunakan rasio hutang yang lebih tinggi akan menghasilkan ROE yang lebih tinggi.

Bagi pemilik modal sendiri, ROE ini yang akan menjadi perhatian,

Marilah perhatikan contoh analisis du pont lengkap dengan perhitungan dan penjelasannya berikut ini:

PT Bening Jaya mempunyai ROI = 18,5% dan rasio hutang = 0,411.

Kita melihat bahwa ROI konstan. ROE juga bisa dinyatakan dalam rumus sebagai berikut:

ROE = ROI : (1-rasio hutang)

Dengan melihat pada persamaan tersebut, maka bisa dimengerti bahwa bila ROI konstan, maka ROE akan meningkat bila rasio hutangnya meningkat.

Dalam contoh ini berarti bahwa,

ROE = 18,5% (1 – 0,47) = 34,8%

Perhatikan bahwa dalam perhitungan tersebut kita menggunakan angka rata-rata, baik untuk modal sendiri ataupun aktiva.

Bila kita hitung maka rata-rata aktiva adalah Rp 897 juta, rata-rata modal sendiri adalah Rp 477 juta.

Dengan demikian maka rata-rata rasio hutang adalah 0,47.

 

B: Analisis Rentabilitas Ekonomi

Analisis rentabilitas ekonomi menekankan pada kemungkinan penggunaan hutang.

Analisis rentabilitas ekonomi menyatakan bahwa hutang bisa digunakan kalau tingkat bunga hutang tersebut lebih kecil dari rentabilitas ekonomi yang diperoleh karena penggunaan hutang tersebut.

Sebagai contoh:

Misalnya perusahaan memerlukan tambahan dana Rp 100 juta, dan diperkirakan memberikan rentabilitas ekonomi sebesar 20%.

Bila keperluan dana tersebut dibiayai dari pinjaman, dan bunga pinjaman sebesar lebih dari 20%, maka penggunaan hutang tersebut tidak akan mampu dibayar dari hasil operasi penggunaan dana tersebut.

Analisis rentabilitas ekonomi dan rentabilitas modal sendiri juga dapat digunakan untuk menunjukkan peningkatan risiko karena penggunaan hutang yang makin besar.

Perhatikan contoh berikut ini:

Terdapat dua perusahaan, yaitu PT A dan PT B. PT A menggunakan modal sendiri seluruhnya, sedangkan PT B menggunakan hutang 50% dari kekayaan yang digunakan.

Total kekayaan yang digunakan sama besarnya yaitu Rp 1.000 juta.

Tingkat bunga yang dibayar oleh PT B adalah sebesar 17% per tahun. Misalkan kedua perusahaan tersebut memperoleh laba operasi sebesar Rp 220 juta, dan tarif pajak penghasilan sebesar 25%.

Perhitungan rentabilitas ekonomi dan rentabilitas modal sendiri kedua perusahaan adalah sebagai berikut:

Tabel: Analisis Rentabilitas Ekonomi dan Rentabilitas Modal Sendiri (dalam jutaan rupiah)

Analisis Rentabilitas Ekonomi

PT B mempunyai rentabilitas modal sendiri yang lebih tinggi, tapi rentabilitas modal sendirinya lebih peka terhadap perubahan rentabilitas ekonomi.

Misalkan rentabilitas ekonomi turun menjadi hanya 20%, maka rentabilitas modal sendiri dua perusahaan akan menjadi sebagai berikut:

Tabel: Analisis Rentabilitas Ekonomi dan Rentabilitas Modal Sendiri, pada saat rentabilitas ekonomi turun menjadi 20%

menghitung rentabilitas ekonomi

Rentabilitas modal sendiri PT A turun dari 16,5% menjadi 15% (atau turun sebesar 0,09). Sedangkan PT B turun dari 20,2% menjadi 17,2% (atau turun 0,148).

Intensitas penurunan lebih besar untuk untuk PT B dibandingkan PT A, karena PT B menggunakan hutang yang lebih besar.

Karena itulah perusahaan yang menggunakan hutang yang lebih besar akan lebih peka terhadap perubahan rentabilitas ekonomi.

Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa risiko investasi tersebut bergerak ke dua arah.

Yaitu, kita dapat memperoleh rentabilitas ekonomi yang lebih besar maupun yang lebih kecil.

Bila rentabilitas ekonomi meningkat, perusahaan yang menggunakan hutang yang lebih banyak juga akan memperoleh peningkatan rentabilitas modal sendiri yang lebih besar.

 

06. Penggunaan Data Keuangan dari Laporan Keuangan

penggunaan analisis laporan keuangan

A: Penggunaan Prinsip Akuntansi

Analisis keuangan menggunakan data dari laporan keuangan yang disusun menurut prinsip-prinsip akuntansi.

Karena itu kita perlu memahami prinsip-prinsip tersebut, seperti bahwa perusahaan bisa saja menggunakan metode costing yang berbeda dan tidak melanggar prinsip akuntansi.

Perusahaan bisa mencatat, misalnya persediaan berdasarkan atas metode first in first out (FIFO), dan bisa juga last in first out (LIFO).

Perusahaan bisa juga mengkapitalisir suatu pengeluaran riset dan pengembangan sehingga dicatat di neraca dan dihitung nilai penyusutannya tiap tahun.

Tap bisa juga membebankan semua biaya riset dan pengembangan pada tahun tertentu.

Keduanya tidak melanggar prinsip akuntansi. Karena itulah analis keuangan perlu memahami kemungkinan-kemungkinan ini saat melakukan perbandingan.

 

B: Pengaruh Inflasi

Masalah yang tidak kalah pentingnya adalah pengaruh inflasi pada laporan keuangan.

Dalam keadaan tingkat inflasi mencapai hanya 4-5% per tahun, penggunaan historical costs tidak terlalu menimbulkan distorsi pada laporan keuangan.

Tetapi bila tingkat inflasi cukup tinggi, misalnya sudah mencapai double digits, inflasi akan menimbulkan distorsi pada laporan keuangan.

Ada akun-akun yang cenderung overstated, understated, tapi ada juga yang tidak terpengaruh.

Yang menjadi masalah adalah jika kita menghitung rasio keuangan dan salah satu akun/rekening yang terpengaruh oleh oleh inflasi.

Sebagai contoh:

Aktiva lancar akan understated, sedangkan kewajiban lancar tidak terpengaruh oleh inflasi. Dengan demikian perhitungan current ratio akan menjadi understated.

Sebaliknya, saat kita menghitung profit margin maka laba operasi akan overstated, sedangkan penjualan tidak terpengaruh. Oleh karena itu rasio profit margin akan overstated.

 

07. Kesimpulan

Laporan keuangan masih perlu di olah dan dianalisis untuk dapat digunakan sesuai dengan maksud pemakai laporan keuangan tersebut.

Karena laporan keuangan disusun menurut prinsip-prinsip akuntansi, para pemakai perlu terlebih dahulu memahami prinsip-prinsip tersebut.

Berbagai alat analisis dapat digunakan untuk mengolah laporan keuangan. Alat analisis tersebut bisa berbentuk analisis common size, indeks, maupun rasio keuangan.

Setiap analis menggunakan alat-alat analisis tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka.

Meskipun demikian secara umum dapat dianalisis aspek leverage, likuiditas, profitabilitas atau efisiensi, dan rasio pasar.

Rasio-rasio keuangan yang dihitung dapat dibandingkan dengan rasio-rasio tahun lalu maupun dengan perusahaan-perusahaan yang sejenis.

Cara yang kedua merupakan cara yang lebih baik. Di samping itu juga dapat dibandingkan dengan kebijaksanaan keuangan yang dirumuskan oleh perusahaan.

Dua rasio probabilitas yang sering digunakan adalah return on investment (ROI) dan rentabilitas ekonomi.

Rasio yang pertama berkaitan dengan dampak leverage terhadap rentabilitas modal sendiri, jika perusahaan dapat mempertahankan return on investment yang sama.

Sedangkan analisis rentabilitas ekonomi dimaksudkan untuk menganalisis apakah penggunaan hutang dapat dibenarkan.

Faktor inflasi dan perbedaan metode akuntansi yang digunakan perlu diperhatikan dalam melaukan analisis terhadap laporan keuangan.

Dan bila Anda ingin melakukan analisis laporan keuangan dengan cepat, tanpa ribet, saya sudah membuatkan Template Excel untuk melakukan Analisis Laporan Keuangan.

Selengkapnya dapat Anda baca di: Accounting Tools.

Demikian yang dapat saya sajikan, semoga bermanfaat.

Terima kasih.

***

manajemen keuangan dan SOP