Tiga Rasio Nilai Pasar untuk Menilai Risiko dan Prospek Perusahaan di Masa Depan

Tiga Rasio Nilai Pasar untuk Menilai Risiko dan Prospek Perusahaan di Masa Depan

Nilai ROE yang tinggi dan diperoleh melalui penggunaan utang dalam jumlah yang sangat besar maka akan mengakibatkan harga saham kemungkinan akan lebih rendah dari yang seharusnya dengan utang yang lebih sedikit dan ROE yang lebih rendah.

Sama halnya investor akan tertarik dengan pertumbuhan. Misalnya jika ROE saat ini diperoleh dengan menunda biaya penelitian dan pengembangan yang akan membatasi pertumbuhan di masa depan, maka cara seperti ini juga akan dipandang kurang menguntungkan.

Penjelasan ini akan membawa kita pada kelompok rasio NILAI PASAR (market value ratio), yaitu rasio yang berhubungan dengan harga saham perusahaan terhadap laba, ARUS KAS, dan nilai buku per saham (EPS).

Baca juga : 2 Metode atau Cara Membuat Laporan Arus Kas ( Statement of Cash Flow)

 Rasio ini memberikan indikasi bagi manajemen tentang bagaimana pandangan investor terhadap risiko dan prospek perusahaan di masa depan.

Jika rasio-rasio yang telah kita bahas sebelumnya, yaitu rasio likuiditas, asset management, manajemen utang dan profitabilitas, pembahasan lengkapnya ada di :

  1. 4 Rasio Profitabilitas yang Mencerminkan Hasil Akhir dari Seluruh Kebijakan Keuangan dan Keputusan Operasional
  2. Ternyata Dua Rasio Likuiditas ini Bisa Mengetahui Kemampuan Perusahaan untuk Melunasi Utangnya Tepat Waktu
  3. 4 Rasio Asset Management yang Harus anda ketahui Saat Mengelola Bisnis

Jika empat rasio tersebut terlihat baik, dan jika kondisi ini berjalan terus menerus secara stabil maka rasio nilai pasar juga akan tinggi, harga saham kemungkinan tinggi sesuai dengan yang diperkirakan, dan manajemen telah melakukan pekerjaannya dengan baik sehingga baiknya mendapatkan imbalan yang pantas.

Namun bila kondisi sebaliknya, maka kemungkinan ada hal-hal yang harus dilakukan.

Ada tiga rasio nilai pasar, yaitu :1) rasio harga/laba, 2) rasio harga/arus kas, dan 3) rasio nilai pasar/milai buku.

Mari kita bahas satu per satu ketiga rasio tersebut…

#1. Rasio Harga/Harga (Price/Earning)

Rasio harga per saham terhadap laba per saham menunjukkan jumlah dana yang dibayarkan oleh investor untuk setiap laba yang dilaporkan.

Bila dinyatakan dalam sebuah rumus adalah seperti berikut ini :

Rasio Harga/Laba = Harga per Saham : Laba per Saham

Untuk contoh perhitungan dari ketiga rasio nilai pasar, masih menggunakan contoh laporan keuangan perusahaan tbk berikut ini:

Contoh Neraca Perusahaan :

Contoh Laporan Laba Rugi:

Dengan menggunakan contoh laporan keuangan perusahaan tbk di atas, maka nilai rasio harga/laba perusahaan tersebut adalah :

=$23 : $2,35 = 9,8x

Rata-rata industri = 11,3x

Saham perusahaan djual pada harga $23 dengan EPS sebesar $2,35, rasio P/E nya adalah 9,8 kali. Rasio P/E perusahaan berada di bawah rata-rata perusahaan dalam industri sejenis, hal ini menunjukkan perusahaan yang dinilai lebih berisiko daripada perusahaan pada umumnya, memiliki prosepek pertumbuhan yang kurang baik, atau keduanya.

#2. Rasio Harga/Arus Kas (Price/Cash Flow Ratio)

Rasio Harga/Arus Kas (Price/Cash Flow Ratio) adalah rasio harga per saham dibagi dengan arus kas per saham, menunjukkan jumlah dana yang akan dibayarkan investor untuk setiap dana arus kas.

Di beberapa industri, harga saham memiliki hubungan yang lebih erat dengan arus kas daripada laba bersih. Karena itu, investor sering melihat Rasio Harga/Arus Kas (Price/Cash Flow Ratio) ini.

Bila dituliskan dalam sebuah rumus :

Rasio Harga/Arus Kas = Harga per Saham : Arus Kas per Saham

Arus kas per saham dihitung dari laba bersih ditambah penyusutan dan amortisasi dibagi dengan jumlah saham beredar.

Masih menggunakan data contoh laporan keuangan perusahaan tbk di atas, maka diperoleh nilai Rasio Harga/Arus Kas (Price/Cash Flow Ratio) :

=$23 : $4,35 = 5,3x

Rata-rata idustri = 5,4x

Nilai Rasio Harga/Arus Kas (Price/Cash Flow Ratio) perusahaan berada sedikit di bawah rata-rata dan risikonya berada di atas rata-rata atau keduanya.

Perlu dicatat bahwa karena alasan tertentu, para analis juga melihat rasio-rasio lain selain rasio ini. Misalnya, tergantung pada industrinya, analis juga melihat harga/penjualan, harga/pelanggan, atau harga/(EBITDA per saham).

Namun pada akhirnya, nilai perusahaan akan tergantung pada laba dan arus kas. Jadi jika rasio-rasio yang digunakan tidak memproyeksikan tingkat EPS dan arus kas di masa depan, maka tidak usah digunakan.

 

#3. Rasio Nilai Pasar/Nilai Buku (Market/Book)

Rasio harga pasar suatu saham terhadap nilai bukunya memberikan indikasi pandangan investor atas perusahaan.

Perusahaan yang dipandang baik oleh investor, yang artinya perusahaan dengan laba dan arus kas yang aman serta terus mengalami pertumbuhan dijual dengan rasio nilaibuku yang lebih tinggi  dibandingkn perusahaan dengan pengembalian yang rendah.

Rasio ini bila dinyatakan dalam sebuah rumus adalah :

Rasio Nilai Pasar/Nilai Buku = Harga Pasar per Saham : Nilai Buku per Saham

Nilai Buku per Saham = Ekuitas Biasa : Jumlah Saham Beredar

Langsung saja contoh perhitungan rasio ini dengan menggunakan data dari contoh laporan keuangan perusahaan tbk di atas, maka pertama kita hitung nila buku per saham :

=$940 : 50 = $18,8

Selanjutnya, kita membagi harga pasar per saham dengan nilai buku per saham untuk mendapatkan rasio nilai pasar/nilai buku :

=$23 : $18,8 = 1,2x

Rata-rata industri = 1,7x

Dari hasil perhitungan di atas kita  mengetahui bahwa nilai rasio nilai pasar/nilai buku perusahaan adalah sebesar 1,2 kali. Hal ini berarti investor bersedia membayar lebih rendah dari nilai buku perusahaan dibandingkan dengan rata-rata perusahaan dalam industri yang sejenis.

Pada umumnya Rasio Nilai Pasar/Nilai Buku besarnya lebih dari satu.  Ini artinya investor bersedia membayar saham lebih besar dari pada nilai buku akuntansinya.

Hal ini terjadi karena nilai aset yang dilaporkan dalam neraca perusahaan kurang mencerminkan inflasi dan goodwill.

Jadi, aset yang dibeli beberapa tahun lalu pada harga sebelum inflasi dicatat berdasarkan harga perolehan awalnya meskipun inflasi telah menyebabkan nilai aset yang sebenarnya naik secara signifikan.

Kelangsungan usaha yang berhasil juga memiliki nilai yang lebih besar daripada biaya perolehan historisnya.

Jika suatu perusahaan menerima tingkat pengembalian atas aset yang rendah, maka Rasio Nilai Pasar/Nilai Buku akan relatif lebih rendah dibandingkan rata-rata perusahaan lain.

Sebaliknya perusahaan yang sangat berhasil, seperti Mocrosoft, Google, Facebook, Gojek mencapai tingkat pengembalian atas aset yang tinggi, sehingga mengakibatkan nilai pasarnya jauh melebihi nilai bukunya.

***