Metode Mengukur Risiko Investasi Arus Kas Independen
A: Pengertian Metode Arus Kas Independen
Arus kas yang independen berarti bahwa arus kas pada tahun n+1 tidak berkaitan dengan arus kas pada tahun. Artinya, bila arus kas pada waktu ke-n ternyata menurun 10% dari yang diharapkan, arus kas pada waktu n + 1 tidak mesti akan menurun sebesar 10% juga.
Bisa saja tetap sesuai dengan yang diharapkan, atau jika menyimpang tidak mesti sejalan dengan tahun ke-n.
B: Contoh Aplikasi Metode Arus Kas Independen
Perhatikan contoh analisis risiko investasi berikut ini:
Misalkan suatu investasi sebesar Rp 11.000 pada tahun ke-0. Diharapkan usia ekonomis investasi tersebut adalah 3 tahun, dengan estimasi arus kas seperti proyek A pada tabel berikut ini:

Diasumsikan bahwa pola arus kas tersebut adalah independen .
Apakah proyek tersebut MENGUNTUNGKAN? Mari dianalisis bareng-bareng ya..
Untuk menganalisis risiko proyek tersebut kita akan menghitung:
- NPV yang diharapkan (expected NPV)
- Deviasi standar NPV tersebut
Perhitungan NPV ini dimaksudkan untuk memperkirakan RISIKO investasi proyek tersebut. Untuk menghitung NPV yang diharapkan, formula yang digunakan adalah sebagai berikut:

Dalam hal ini C, adalah arus kas pada waktu ke-1, dan t=0 … n.
Perhatikan bahwa karena t dimulai dari waktu ke-0. Maka tanda untuk C, bisa positif (kas masuk) maupun negatif (kas keluar). Sedangkan tingkat bunga yang digunakan adalah R, yaitu tingkat suku bunga bebas risiko. Misalkan Ri = 9%, dengan demikian maka NPV yang diharapkan adalah:
= -11.000 + 12.656
= +1.656

Apakah proyek tersebut menguntungkan?
Sulit untuk menjawabnya karena kita menghitung NPV yang diharapkan dengan menggunakan Ri. Untuk melengkapi informasi, kita perlu menghitung deviasi standar NPV proyek tersebut.
Kembali ke hasil perhitungan di atas, apa arti hasil perhitungan tersebut?
Hasil tersebut menunjukkan bahwa proyek tersebut diharapkan memberikan NPV sebesar +Rp 1.656 (tetapi dihitung dengan Ri ) dengan mempunyai kemungkinan untuk menyimpang dari expected NPV tersebut.
C: Analisis Metode Arus Kas Independen
Bila distribusi arus kas diperkirakan normal, dan kita berani mengasumsikan bahwa distribusi tersebut merupakan distribusi yang kontinu, maka kita bisa menggunakan bantuan Tabel Luas Area di bawah kurva normal sebagai berikut:

Tabel tersebut menunjukkan bahwa ada probabilitas sebesar Rp 15,77% untuk nilai yang lebih besar atau lebih kecil satu deviasi standar dari nilai yang diharapkan.
Dengan kata lain, hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa meskipun E(NPV) = +Rp 1.656, tapi ada probabilitas proyek tersebut akan menghasilkan NPV < 0. Probabilitasnya adalah 15,77%.
Analisis Hasil Perhitungan
Karena dalam penghitungan NPV digunakan tingkat bunga bebas risiko, maka hasil tersebut bisa ditafsirkan bahwa ada probabilitas sebesar 15,77%. Proyek tersebut akan memberikan keuntungan lebih kecil dari menginvestasikan pada kesempatan yang bebas risiko.
Apakah dengan demikian proyek ini menguntungkan?
Di sinilah masalahnya. Metode ini tidak memberikan jawaban yang jelas, tapi tetap akan menggunakan judgement. Maksudnya, bila probabilitas 15% ini dinilai cukup rendah, maka investor akan mengatakan proyek tersebut menarik, sebaliknya apabila dinilai terlalu tinggi, investor akan mengatakan bahwa proyek tersebut tidak menguntungkan.
Mengapa kita tidak bisa memutuskan untuk menerima proyek tersebut sedangkan proyek tersebut mempunyai E(NPV) = +Rp 1.656? Jawabnya adalah karena perhitungan E(NPV) tersebut dilakukan dengan tingkat bunga bebas risiko.
Artikel yang keren. terima kasih
Terima kasih