Inilah Karakteristik dan Kualitas Informasi Akuntansi yang Tidak Menyesatkan

Sistem informasi akuntansi adalah bermanfaat jika:

  • berpaut dengan keputusan yang menjadi sasaran informasi.
  • dipahami dan digunakan oleh pemakai.
  • pemakai mempercayai informasi tersebut.

Oleh karena itu, karakteristik informasi akuntansi yang berkualitas ditentukan dalam hubungannya dengan keputusan, pemakai, dan keyakinan pemakai terhadap informasi.

Apa saja kriteria dan komponen pembentuk  kualitas informasi akuntansi?

Ikuti pembahasannya lengkap dengan contoh sistem informasi akuntansi berikut ini…

 

01: Keterpahaman (Understandibility)

kualitas informasi akuntansi

Pengertian keterpahaman adalah kemampuan informasi untuk dapat dicerna maknanya oleh pemakai.

Dua faktor yang mempengaruhi keterpahaman informasi adalah pemakai dan informasi itu sendiri.

Sistem informasi akuntansi di-analogikan sebagai alat atau perkakas (tool).

Alat akan bermanfaat bagi pemakai jika cocok atau tepat.

Dan pemakai bersedia untuk belajar tentang kemampuan dan cara kerja alat tersebut.

Betapa pun canggihnya sistem akuntansi informasi, suatu alat menjadi tidak bermanfaat jika pemakai tidak mengetahui gunanya.

Sebaliknya, alat (sistem informasi akuntansi) yang jelas diketahui gunanya menjadi tidak terpakai.

Karena pemakai tidak tahu dan tidak bersedia belajar cara menggunakannya.

Kualitas keterpahaman juga memberi isyarat bahwa pembuat kebijakan harus berusaha agar informasi dapat dipahami.

Misalnya, dengan pendidikan melalui media pembelajaran yang sesuai, seperti: seminar, lokakarya, atau pelatihan.

 

02: Keberpautan (Relevance)

komponen sistem informasi akuntansi

Kualitas informasi akuntansi relevan adalah kemampuan informasi untuk membantu pemakai dalam membedakan beberapa alternatif keputusan.

Sehingga pemakai dapat menentukan pilihan.

Bila dihubungkan dengan tujuan pelaporan keuangan, kualitas informasi akuntansi harus relevan artinya adalah kemampuan informasi untuk membantu investor, kreditor.

Dan pemakai lain dalam menyusun prediksi-prediksi tentang beberapa munculan/ hasil (outcomes) dari kejadian masa lalu, sekarang, dan masa datang.

Atau dalam mengkonfirmasi atau mengkoreksi harapan-harapannya.

Jadi, informasi akuntansi yang disajikan harus memiliki kualitas relevan artinya kualitas informasi akuntansi yaitu relevan dengan keputusan investasi.

Kalau informasi tersebut mampu mengkonfirmasi ketidakpastian suatu keputusan yang telah dibuat.

Sehingga keputusan tersebut tetap dipertahankan atau diubah.

Unsur-unsur keberpautan (relevan) adalah sebagai berikut:

A: Nilai Prediktif  (Predictive Value) dalam Kualitas Informasi Akuntansi

Sebagai unsur keberpautan, nilai prediktif adalah kemampuan informasi untuk membantu pemakai dalam meningkatkan probabilitas.

Bahwa harapan-harapan pemakai akan hasil (outcomes) suatu kejadian masa lalu atau datang akan terjadi.

Nilai prediksi di sini adalah jenis dan sifat informasi yang menjadi masukkandalam proses prediktif.

Dengan kata lain, nilai prediksi adalah kemampuan informasi dalam memperbaiki kemampuan atau kapasitas pembuat keputusan untuk melakukan prediksi.

Dari segi apa yang harus disajikan, informasi akuntansi mempunyai nilai prediksi karena menjadi masukan bagi model pengambilan keputusan.

Menurut para ahli, seperti Hendriksen dan van Breda mendeskripsi nilai prediksi atau dasar bagaimana informasi membantu proses prediksi.

Cara tersebut adalah:

  • Langsung (direct), misalnya penyediaan data ramalan manajemen.
  • Tidak langsung (indirect), misalnya penyediaan data aliran kas historis,
  • Indikator arah (lead indicator), misalnya dengan penyediaan data rasio,
  • Informasi penegas untuk informasi yang lain dalam laporan yang sama, misalnya dengan penyediaan data kenaikan modal setoran untuk menegaskan sumber dana pembangunan gedung baru.

 

B: Nilai Balikan (Feedback Value) – Kualitas Informasi Akuntansi

fungsi sistem informasi akuntansi

Sebagai unsur keberpautan, nilai balikan adalah kemampuan informasi untuk membantu pemakai dalam mengkonfirmasi dan mengkoreksi harapan-harapan pemakai di masa lalu.

Jadi, nilai balikan adalah kemampuan informasi untuk dijadikan basis mengevaluasi apakah keputusan-keputusan masa lalu adalah tepat dengan datangnya informasi tersebut.

Sebagai contoh, informasi dalam laporan keuangan mempunyai nilai balikan kalau investor dapat mengevaluasi harga saham.

Dan laba saat laporan keuangan diterbitkan sesuai yang diprediksi sebelumnya.

 

C: Tepat Waktu (Timeliness) – Kualitas Informasi Akuntansi

Sebagai aspek pendukung keberpautan, timeliness adalah tersedianya informasi bagi pembuat keputusan pada saat dibutuhkan.

Sebelum informasi tersebut kehilangan kekuatan untuk mempengaruhi keputusan.

Tersedianya informasi lama setelah suatu kejadian yang memerlukan tanggapan atau keputusan berlalu menjadikan informasi tersebut tidak punya nilai lagi.

Secara sendiri, ketepatwaktuan (timeliness) tidak membuat informasi manjdi berpaut tetapi kurangnya ketepatwaktuan dapat menyita keberpautan yang melekat pada informasi.

Dalam hal tertentu, mengejar keberpautan dan ketepatwaktuan untuk mencapai kebermanfaatan harus dibarengi dengan mengorbankan kualitas lain.

Yaitu keakuratan/ presisi atau keterandalan.

Jadi, terdapat trade-off antara keterwakilan dan keakuratan/ reliabilitas untuk mendapatkan kebermanfaatan.

Misalnya, ketepatwaktuan kadang-kadang harus dicapai dengan menggunakan data taksiran/ aproksimasi.

Daripada tidak ada informasi sama sekali dengan konsekuensi reliabilitas berkurang.

Namun, walaupun berkurangnya reliabilitas berakibat berkurangnya kebermanfaatan.

Dimungkinkan untuk mempercepat ketersediaan data secara aproksimasi tanpa mempengaruhi reliabilitas secara material.

Dengan begitu, ketepatwaktuan dengan angka aproksimasi justru akan meningkatkan kebermanfaatan secara keseluruhan.

 

03: Keterandalan (Reliability) – Kualitas Informasi Akuntansi

informasi akuntansi penuh

Keterandalan adalah kemampuan informasi untuk memberi keyakinan bahwa informasi tersebut benar atau valid.

Informasi akan menjadi berkurang nilainya kalau orang yang menggunakan informasi meragukan kebenaran atau validitas informasi tersebut.

Informasi akan mempunyai nilai yang tinggi kalau pemakai mempunyai keyakinan yang tinggi terhadap kebenaran informasi.

Harus disadari bahwa keterandalan mempunyai tingkatan bergantung pada kondisi yang melingkupinya.

Keterandalan bukan merupakan masalah keterandalan atau tidak (ya atau tidak) tetapi lebih merupakan masalah lebih atau kurang terandalkan.

Keterandalan sangat erat kaitannya dengan sumber informasi dan cara merepresentasikan, mendeskripsikan, atau menyimbolkannya.

Oleh karena itu, keterandalan bertumpu pada ketepatan penyimbolan fenomena yang memang dimaksudkan untuk disimbolkan.

Dan jaminan bagi pemakai akan kualitas penyimbolan melalui pengujian atau verifikasi data.

Mari dibahas satu per satu…

 

A: Ketepatan Penyimbolan (Representational Faithfulness)

Ketepatan penyimbolan adalah kesesuaian antara  pengukur atau deskripsi dan fenomena yang diukur.

Dalam akuntansi, fenomena yang ingin direpresentsikan adalah kondisi fisik, kondisi keuangan, dan aktivitas ekonomi badan usaha berupa:

  • Sumber ekonomi
  • Kewajiban keuangan
  • Transaksi atau kejadian yang mengubah sumber ekonomi dan kewajiban tersebut.

Ketepatan penyimbolan dalam akuntansi menyangkut dua hal, adalah:

  1. Ketepatan deskripsi atau pendefinisian. Misalnya aset, kas, piutang dan kewajiban.
  2. Validitas pengukuran

Ketidaktepatan akan mengurangi atau menghilangkan keterandalan informasi.

Analogi validitas pengukuran adalah misalnya skor TOEFL.

Apakah orang yang skornya 550 berbicara bahasa Inggris lebih baik daripada orang yang skornya 650?

Jawabannya tergantung pada apakah TOEFL adalah tes yang valid untuk mengukur kemampuan berbicara bahasa Inggris.

Tanpa mendefinisikan dengan jelas apa yang ingin diukur dari kemampuan bahasa Inggris.

Maka, sangat sulitlah untuk menentukan validitas instrumen (isi tes) maupun hasilnya.

Pengukuran aset atas dasar cost adalah tepat kalau penyajian itu dimaksudkan untuk menggambarkan sisa potensi jasa, dan bukan nilai jual.

Jadi, validitas pengukuran harus dikaitkan dengan konteks yang dituju oleh pengukuran.

Ketepatan penyimbolan dalam suatu konteks, akan menjadikan informasi terandalkan.

Tetapi mungkin tidak terandalkan untuk konteks yang lain.

Faktor lain yang mempengaruhi keterandaan informasi melalui ketepatan penyimbolan adalah:

  • Ketelitian (precision)
  • Ketidakpastian (uncertainty)
  • Pengaruh bias

Karena berbagai faktor dan konteks menentukan keterandalan informasi, keterandalan harus dipandang sebagai suatu kualitas yang relatif.

 

B: Keterujian (Verifiability)

Verifiability)

Sebagai unsur keterandalan, keterujian adalah kemampuan informasi untuk memberi keyakinan yang tinggi kepada pada pemakai.

Karena tersedianya sarana bagi para pemakai untuk menguji secara independen ketepatan penyimbolan (kebenaran’ validitas informasi).

Misalnya, penyimbolan “persediaan Rp 400.00” akan memberi keyakinan yang tinggi, kalau para pemakai atau pihak lain atas nama pemakai dapat memverifikasi hal-hal sebagai berikut:

  • Apakah persediaan barang secara fisik memang ada.
  • Apakah Rp 400.000 adalah hasil perhitungan yang benar secara aritmetik (tidak mengandung kesalahan hitung).
  • Apakah Rp 400.000 adalah angka yang obyektif (tidak bias).
  • Apakah Rp 400.000 benar-benar merupakan cost (sesuai PABU).
  • Apakah beberapa orang pengukur independen akan menghasilkan jumlah rupiah yang sama dengan atau mendekati jumlah yang disajikan.
  • Apakah semua persediaan barang telah dimasukkan dalam persediaan.
  • Apakah tidak ada persediaan barang yang belum dimasukkan.

Perlu diingat bahwa proses verifikasi dala akuntansi tidak dengan sendirinya selalu menjamin suatu informasi mempunyai kualitas ketepatan penyimbolan yang tinggi.

Karena ketepatan penyimbolan sebenarnya adalah konsesus atau ketentuan yang dihasilkan dari proses perekayasaan pelaporan keuangan.

Verifikator tidak berkepentingan dengan apakah “aset 300.000” adalah simbol yang tepat untuk menggambarkan kekayaan yang dimasukan sebagai aset memenuhi definisi.

Dan apakah Rp 300.000 telah ditentukan ssuai dengan PABU serta tidak mengandung kesalahan atau biasa.

Oleh karena itu, hasil pengukuran dengan tingkat keterujian yang tinggi tidak selalu relevan dengan keputusan yang dituj.

Sehingga pengukuran tersebut bermanfaat.

Sebagai analogi,  korektor ujian tidak berkepentingan dengan apakah soal ujian valid sebagai pengukur kemampuan peserta yang  diuji.

Tetapi lebih berkepentingan dengan apakah jawaban peserta cocok dengan kunci jawaban.

Sehingga dkor yang diperoleh dapat diandalkan (tidak mengandung kesalahan).

Secara ringkas, keterujian (verifiabilitas) adalah kemampuan untuk menyakinkan bahwa informasi mencerminkan apa yang dimaksudkan untuk direpresentasikan sesuai dengan konsensus.

Atau cara pengukuran yang dipilih telah diaplikasikan tanpa kesalahan atau bias.

Verifikasi lebih berkaitan dengan meminimkan bias dalam proses pengukuran.

Daripada dengan  menentukan ketepatan dasar pengukuran (measurement bias).

Dengan demikian, verifikasi tidak dimaksudkan untuk menyakinkan dasar pengukuran relevan dengan keputusan yang dituju.

 

04: Kenetralan (Neutrality) – Kualitas Informasi Akuntansi

kenetralan

Sebagai unsur sekunder keterandalan, kenetralan adalah ketidakberpihakan pada kelompok tertentu, atau tidak bias (unbiasedness) dalam perlakuan akuntansi.

Tidak bias berarti informasi disajikan tidak untuk mengarahkan grup pemakai tertentu agar bertindak sesuai dengan keinginan penyedia informasi.

Atau untuk menguntungkan/ merugikan grup pemakai tertentu.

Atau untuk menghindari akibat/ konsekuensi tertentu bagi sekelompok pemakai.

Sebenarnya, kebijakan akuntansi tidak hanya terjadi di tataran penyusun standar dan manajemen (badan usaha).

Tapi di tataran yang lebih tinggi yang perekayasa pelaporan yang menghasilkan kerangka konseptual.

Kenetralan lebih mempunyai arti penting bagi penyusun standar akuntansi daripada bagi pelaksana standar, yaitu penyusun laporan keuangan.

Akan tetapi, makna kenetralan dan sikap netral adalah sama untuk kedua pihak tersebut.

Kenetralan berarti bahwa baik dalam merumuskan atau mengimplementasikan standar akuntansi.

Perhatian utama adalah relevan dan reliabilitas informasi yang dihasilkan bukan pengaruh (efek) standar tersebut terhadap pihak pemakai tertentu.

Netral tidak berarti tanpa tujuan dan tidak berarti informasi akuntansi tidak mempengaruhi perilaku.

Tanpa tujuan dan pengaruh terhadap perilaku informasi akuntansi tidak akan mempengaruhi nilai atau relevansi sehingga penyediaannya menjadi sia-sia.

Yang menjadi masalah adalah membelokkan tujuan atau perilaku dengan mengorbankan reliabilitas dan relevansi.

Misalnya, secara teoritis penyusun standar akuntansi mengetahui bahwa selisih kurs harus dibiayakan, apapun konsekuensinya.

Akan tetapi, karena penyusun standar tahu bahwa banyak perusahaan yang bangkrut.

Lalu standar akuntansi disusun agar kebangkrutan tidak terjadi walaupun nyatanya beberapa perusahaan memang harus bangkrut.

Dalam hal ini, penyusun standar akuntansi tidak lagi netral, karena penghindaran kebangkrutan bukan tujuan yang dicanangkan dalam pelaporan keuangan.

Sekali lagi, makna netral lebih ditujukan ke penyusun standar akuntansi dan penyusun Laporan Keuangan.

Kenetralan dikaitkan dengan keinginan untuk memenuhi kebutuhan pemakai yang mempunyai kepentingan tertentu.

Di tataran perekayasa akuntansi, kenetralan harus diartikan dalam konteks akuntansi sebagai aktivitas sosial yang mempunyai tujuan fungsional.

Jika kepentingan masyarakat atau negara secara keseluruhan yang menjdi tujuan, kenetralan sebagai kualitas informasi tidak lagi menjadi masalah.

Akuntansi tidak dapat steril terhadap lingkungan ekonomi, hukum, politik dan sosial tempat akuntansi diterapkan.

Bila kenetralan pada tataran penyusun standar diterapkan pada tataran perekayasaan akuntansi.

Perekayasa akan terhalangi untuk bekerja demi kepentingan yang lebih luas.

Yaitu untuk membantu pencapaian tujuan negara.

Bila akuntansi harus netral terhadap tujuan nasional, maka akan hilang peran akuntansi sebagai aktivitas sosial.

Yang harus mengandung tujuan fungsional guna membantu tercapainya tujuan sosial dan  ekonomi negara.

Jika akuntansi dapat memicu terjadinya alokasi sumber ekonomi negara secara efisien, masalahnya bukan lagi netral atau tidak, melainkan relevan atau tidak.

Dengan kata lain, bermanfaat atau tidak bagi masyarakat luas.

 

05: Keterbandingan (Comparability) – Kualitas Informasi Akuntansi

proses sistem informasi akuntansi

Keterbandingan adalah komponen sistem informasi akuntansi tambahan yang menjadikan sistem informasi akuntansi adalah bermanfaat.

Keterbandingan adalah kemampuan informasi akuntansi untuk membantu para pemakai untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan antara dua perangkat fenomena ekonomi.

Misalnya, dua perangkat statemen keuangan yang mencerminkan aktivitas dua perusahaan.

Informasi tentang suatu badan usaha akan bertambah tingkat kebermanfaatannya bila dapat dibandingkan dengan informasi serupa.

Dengan beberapa perusahaan lain dan dengan informasi serupa tentang badan usaha yang sama untuk suatu periode yang lain.

Jadi kebermanfaatan informasi akuntansi tentang suatu obyek akan meningkat jika informasi tersebut dibandingkan dengan yang lain (bencmark).

Dua hal atau lebih dapat dibandingkan jika mereka mempunyai beberapa karakteristik bersama sebagai basis perbandingan.

Contoh karakteristik bersama dua perusahaan antara lain sebagai berikut:

  • Aset
  • Pertumbuhan
  • Ukuran
  • Jumlah pegawai
  • Likuiditas, dan
  • Laba

Perbandingan dilakukan dengan dengan menilai atau mengukur karakteristik bersama tersebut secara kuantitatif.

Misalnya, aset, kewajiban, dan laba biasanya sudah terukur secara kuantitatif sebagaimana tersaji dalam laporan keuangan.

Perbandingan akan bermakna hanya jika kuantitas karakteristik bersama  dihasilkan dengan dasar, standar, prosedur atau metode yang sama.

Sebagai contoh:

Berat badan dua orang dapat diperbandingkan jika berat tersebut diukur dengan unit yang sama dan bila perlu ditimbang dengan alat yang sama.

Dalam akuntansi, bukan hanya unit pengukur yang sama yang disyaratkan melainkan juga definisi yang sama tentang suatu objek.

Artinya, pengertian laba bagi perusahaan yang satu harus sama dengan pengertian laba bagi perusahaan lain yang dibandingkan.

Keterandalan hasil perbandingan akan berkurang atau hilang jika dua obyek memang tidak dapat diperbandingkan secara bermakna.

 

06: Materialitas – Kualitas Informasi Akuntansi

prinsip materialitas

Suatu informasi kemungkinan memenuhi semua kualitas yang telah disebutkan di atas.

Permasalahannya adalah apakah informasi tersebut akan dilaporkan melalui Laporan Keuangan.

Untuk dilaporkan melalui laporan keuangan, maka informasi diakui dalam sistem pembukuan sehingga pengaruhnya terefleksi dalam laporan keuangan.

Bila tidak diakui, apakah informasi tersebut cukup penting ntuk dilaporkan melalui media pelaporan yang lain.

Namun, karena perumusan karakteristik kualitatif lebih ditujukan kepada penyusun standar.

Masalah yang lebih penting adalah apakah suatu informasi yang telah memenuhi batas atas (benefit lebih besar daripada cost).

Dan kriteria keberpautan dan keterujian kemudian harus dilaporkan dalam seperangkat laporan keuangan.

Secara praktis dan teoritis, akan banyak informasi yang memenuhi kriteria tersebut.

Kalau informasi yang memenuhi kriteria tersebut harus dimasukkan dalam statemen keuangan.

Dapat dibayangkan bahwa laporan keuangan akan terlalu banyak memuat informasi sehingga akan menjadi sangat tebal.

Para pemakai belum tentu menggunakan semua informasi karena informasi yang berpaut dengan keputusan dan teruji belum tentu penting bagi mereka.

Keputusan untuk tidak mencantumkan suatu informasi dalam laporan keuangan dapat disebabkan oleh pertimbangan bahwa investor tidak tertarik dengan informasi akuntansi tersebut.

Atau karena jumlah rupiah informasi akuntansi terlalu kecil untuk mempengaruhi keputusan (masalah penting atau tidak).

Oleh karena itu, diperlukan batas bawah untuk menyaring informasi mana yang dianggap penting dan tidak, sehingga perlu diakui atau tidak.

Penting tidaknya informasi biasanya dievaluasi atas dasar besar-kecilnya jumlah rupiah (magnitude) objek informasi akuntansi dibandingkan dengan besar-kecilnya jumlah rupiah objek keputusan.

Pada umumnya, penting tidaknya suatu informasi akuntansi diukur secara kuantitatif.

Ambang batas (threshold) kuantitatif untuk menyaring informasi akuntansi untuk diakui adalah materialitas.

Kualitas informasi akuntansi materialitas adalah besar kecilnya suatu penghilangan.

Atau penyalahsajian informasi akuntansi yang menyebabkan pemakai informasi tersebut terpengaruh atau berubah.

Untuk menjadi material, informasi harus dievaluasi bersamaan dengan kondisi-kondisi yang melingkupi informasi tersebut.

Artinya, jumlah rupiah itu sendiri tidak cukup untuk dasar pertimbangan materialitas.

Tanpa memperhatikan sifat objek atau pos dan kondisi-kondisi yang melatarbelakangi suatu keputusan.

Pertimbangan materialitas lebih banyak dihadapi oleh manajemen dan auditor di tataran badan usaha (penyajian laporan keuangan) daripada oleh penyusun standar akuntansi.

Auditor sangat berkepentingan dengan materialitas.

Karena kewajaran dalam laporan audit dinyatakan dalam  batas-batas yang material (in all material respect).

Oleh karena itu, ada kebutuhan akan adanya pedoman materialitas kuantitatif yang diterbitkan oleh penyusun standar akuntansi.

Dalam hal ini, FASB berpendapat bahwa tidak ada standar umum materialitas yang dapat diformulasikan dengan memasukkan semua faktor.

Atau variabel yang masuk dalam suatu pertimbangan orang berpengalaman.

Materialitas adalah pertimbangan individual dan hanya dapat dibuat oleh mereka yang mempunyai semua fakta tentang kondisi-kondisi yang melingkupi suatu keputusan.

Pedoman umum yang bersifat rata-rata tidak dapat mengganti pertimbangan individual yang bersifat khusus atau situasional.

Walaupun badan autoritatif dapat saja menentukan batas bawah materialitas sebagai standar.

 

07: Nilai Keberpautan dan Keterandalan

sistem informasi akuntansi

Keberpautan dan keterandalan harus melekat pada informasi akuntansi agar informasi tersebut bermanfaat.

Kebermanfaatan akan hilang bila salah satu karakteristik tidak ada.

Karakteristik keberpautan dan keterandalan menjadi kriteria yang harus dipenuhi dalam mengukur informasi untuk disajikan dalam laporan keuangan.

Karena para pemakai laporan keuangan yang mempunyai kepentingan dan kebutuhan yang berbeda.

Dalam kondisi tertentu, nilai yang diletakkan pada tiap karakteristik juga berbeda-beda.

Pada kenyataannya, keberpautan maksimum (100%).

Dan keterandalan maksimum (100%) untuk suatu objek informasi jarang, bahkan tidak mungkin tercapai.

Pada kondisi tertentu, hanya tingkat optimal dapat dicapai oleh dua karakteristik tersebut.

Dalam kondisi tertentu, salah satu karakteristik dapat lebih ditekankan dengan mengorbankan karakteristik yang lain.

Tentu saja sampai batas tidak meniadakan yang lain untuk mencapai kebermanfaatan optimal.

Untuk memudahkan memahami hubungan antara keberpautan dengan ketrandalan, perhatikan ilustrasi berikut ini:

kualitas informasi akuntansi
Kualitas informasi akuntans: Timeliness & Reliabilityi

 

Penjelasan gambar:

Panel A:

Menggambarkan tingkat kualitas (area arsiran) yang dapat dicapai oleh masing-masing karakteristik dalam situasi tertentu.

Panel A1:

Menggambarkan penekanan keberpautan dengan mengorbankan keterandalan.

Panel A2:

Melukiskan penekanan keterandalan dengan mengorbankan keberpautan.

Panel A3:

Menggambarkan kualitas optimal yang mungkin dipertimbangkan oleh penyusun standar akuntansi sebagai dasar untuk menerbitkan suatu standar akuntansi.

Sekali lagi, karakteristik kualitatif adalah kriteria bagi penyusun standar untuk menentukan kebijakan akuntansi, yaitu apakah suatu pos atau objek harus dilaporkan.

Dan kalau dilaporkan, bagaimana menyajikannya, apakah melalui laporan keuangan atau media pelaporan lain.

Mendasarkan pengukuran suatu objek atas dasar cost historis adalah salah satu bentuk pengorbanan keberpautan untuk meningkatkan keterandalan data akuntansi.

Bersamaan dengan materialitas, penekanan pada salah satu kriteria mempunyai implikasi terhadap pengkuan dan penyajian informasi akuntansi.

Terdapat beberapa pandangan yang dapat menyesatkan.

Misalnya pernyataan bahwa keterandalan adalah kualitas yang harus ditekankan bila suatu informasi harus disajikan melalui laporan keuangan.

Dan sebaliknya, bila keberpautan yang ditekankan, maka suatu informasi sebaiknya disajikan melalui media selain laporan keuangan.

Memang dapat diterima argumen yang menyatakan bahwa:

Ambang keterandalan minimal untuk penyajian suatu informasi melalui Laporan Keuangan lebih tinggi daripada ambang keterandalan minimal untuk penyajian di luar laporan keuangan.

Akan tetapi, bila ambang keterandalan penyajian melalui laporan keuangan dipasang terlalu tinggi dapat terjadi.

Bahwa informasi yang benar-benar bermanfaat akan banyak disampaikan melalui media selain laporan keuangan.

Akibatnya, laporan keuangan akan berisi informasi yang sangat terandalkan tetapi tidak berpaut dan karenanya tidak bermanfaat sama sekali.

Jadi, setelah batas atas, di mana benefit lebih besar daripada cost dilewati dan informasi cukup material, ambang keterandalan minimal harus ditetapkan dengan cukup wajar.

Sehingga laporan keuangan tetap berisi informasi yang cukup layak berpaut dengan keputusan para pemakai laporan keuangan.

Dengan demikian, laporan keuangan tetap bermanfaat.

Jadi, keberpautan juga merupakan kriteria pengakuan suatu pos (objek) untuk masuk sebagai elemen laporan keuangan.

Untuk menambah wawasan kita tentang sistem informasi akuntansi, berikut ini saya sajikan pembahasan oleh dosen PKN STAN dalam video pendek berikut ini. Selamat menyaksikan.

 

Bagaimana? menginspirasi kan?

 

08: Kesimpulan

Tujuan laporan menentukan karakteristik kualitas informasi akuntansi yang disajikan.

Fungsi sistem informasi akuntansi akan bermanfaat bila berkaitan dengan keputusan dan reliability.

Timeliness dan reliability adalah kualitas yang harus ada dan melekat pada informasi akuntansi.

Terdapat trade-off antara timeliness dan reliability.

Tetapi penekanan pada timeliness atau reliability tidak berarti meniadakan kualitas yang lain.

Karakteristik kualitatif adalah suatu tingkatan yang menjadi dasar untuk menentukan apakah suatu informasi akuntansi akan disajikan sebagai laporan keuangan atau laporan lain.

Dan untuk membantu menyediakan informasi-informasi tersebut bisa menggunakan proses sistem informasi akuntansi yang saat ini banyak tersedia di pasar.

Itulah tujuan sistem informasi akuntansi

Dan bila Anda ingin menyimpan artikel sistem informasi akuntansi pdf, silahkan copy paste ke Word, selanjutnya save dalam format PDF.

Demikian yang dapat saya bagikan mengenai makalah dan materi sistem informasi akuntansi.

Semoga bermanfaat, terima kasih.*****

manajemen keuangan dan SOP