Sudah Tepatkah Keputusan Anda?

sudah-tepatkah-keputusan-anda

sudah-tepatkah-keputusan-anda

Sebuah kisah masyhur menceritakan bahwa Ford Motor Company mewawancari seorang pelamar tingkat pimpinnan dengan memperhatikan apakah calon itu menaruh garam dan lada sebelum dia mencicipi makanan.

Teori dibalik cerita tersebut adalah bila calon karyawan tersebut menaruh garam dan lada sebelum mencicipi makanan, maka orang tersebut cenderung mengambil keputusan sebelum mengetahui semua faktanya.

Sebaliknya, bila calon karyawan tersebut mencicipi makanan dulu sebelum menaruh garam atau lada, maka orang tersebut cenderung hati-hati dan memerlukan banyak data sebelum mengambil sebuah keputusan.

Pertanyaanya :

Apakah teori tersebut memang benar?

Terlepas dari benar atau salah, kita bisa memperhatikan ada orang-orang yang memang suka makanan yang pedas, sehingga saat mereka memesan makanan dan saat makanan sudah diatas  meja makan, mereka langsung menaruh lada atau sambal.

Selain itu, salah satu masalah terbesar yang dihadapi orang dalam mengambil keputusan adalah keinginan mereka untuk mengetahui data yang banyak.

Mereka beranggapan bila memiliki cukup data dan fakta, pengambilan keputusan akan terjadi dengan sendirinya.

Namun faktanya, banyak orang-orang hebat ialah pengambil keputusan SEKETIKA. Mereka tidak perlu mengetahui setiap fakta yang dapat diketahui terlebih dahulu.

Mereka menerima kenyataan bahwa suatu saat mereka akan mengambil keputusan yang salah dan mereka cukup yakin bahwa mereka akan lebih sering mengambil keputusan yang tepat.

Bila seseorang dikenal sebagai pengambil keputusan yang baik, penilaian itu biasanya didasarkan pada betapa cepat dan tegas dia mengambil keputusan serta hasil dari keputusan itu.

Berikut ini ada 6 (enam) hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan, yaitu :

#1. Intuisi

intuisi

Ada sebuah satu cerita tentang seorang ilmuan dari Columbia University yang mempelajari bagaimana getaran suara dapat digunakan untuk melenyapkan serangga.

Dalam sebuah percobaannya, dia telah melatih seekor lipas meloncati sebuah pensil dengan perintah “LOMPAT”.

Tapi selama percobaan tersebut lipas itu terperangkap dalam sebuah laci dan dalam usahanya membebaskan dirinya, lipas itu kehilangan beberapa kakinya.

Ilmuwan tersebut memperhatikan bahwa setelah kecelakaan itu, bila dia berteriak “LOMPAT”, lipas itu tidak bergeming.

Dalam laporan tentang penemuannya, dia menyimpulkan bahwa lipas itu demikian terpengaruh dengan kehilangan kakinya sehingga menjadi tuli.

Apa hubungan cerita tersebut dengan proses pengambilan keputusan?

Dalam penjualan, penentuan waktu yang baik atau tepat seringkali merupakan soal mengubah PERSEPSI INDERA menjadi TINDAKAN SADAR.

Pengambilan keputusan sebenarnya merupakan proses yang persis sama, hanya arusnya yang TERBALIK.

Dalam pengambilan keputusan, kita menghimpun data analitis, fakta-fakta dan angka-angka kemudian mengubahnya menjadi PERSEPSI INDERA.

Jika kita meniadakan kebutuhan untuk ‘merasakan’ keputusan, maka kita akan mengambil keputusan yang SANGAT BAIK atau kita tidak mengambil keputusan sama sekali.

Pengambilan keputusan lebih merupakan proses intuitif daripada analitis. Berapapun banyaknya telaah pasar, kelompok fokus, dan laporan riset yang dilakukan tidak akan dapat mengubah kenyataan ini.

Memang fakta adalah sarana pengambil keputusan, tapi fakta tidak akan dapat menggantikan intuisi, fakta tidak akan mengambil keputusan untuk kita, dan fakta hanya berguna bila kita mampu menafsirkannya.

Ingin mengasah intuisi Anda? baca : Sudahkah Anda Mengasah Ketajaman Otak, Perasaan, dan Intuisi untuk Meningkatkan Karir Keuangan Anda Melalui 7 Langkah ini?

#2. Memperhatikan hal-hal lain diluar dan di sisi lain fakta

memperhatikan hal lain di luar fakta

Penggunaan fakta yang baik berupa data pemasaran, survey, laporan, hal-hal lain yang diceritakan, tidak terletak pada penafsiran harfiahnya melainkan pada hal-hal yang mungkin dikandungnya.

Tanda “STOP” menyuruh kita untuk berhenti, tapi yang diisyaratkan tanda itu adalah pola-pola lalu lintas yang bertentangan dan beberapa akibat tertentu jika kita mengabaian tanda itu.

Perhatikan apa yang diisyaratkan fakta-fakta tentang kecenderungan, bias, konflik, dan kesempatan?

Salah satu jenis pengambil keputusan akan berkata “ kita sebaiknya tidak melakukan ini, karena telah tiga orang lain yang mencobanya dan gagal”.

Namun seorang pengambil keputusan yang baik akan berusaha untuk mengetahui hal-hal serupa yang telah dilakukan ketiga orang sebelumnya dan apa hal-hal serupa yang tidak dilakukan sebelum mereka menarik kesimpulan yang sama.

Informasi yang paling berguna bagi pengambilan keputusan mungkin terdapat di luar fakta. Jangan hanya terikat dengan hal-hal yang sudah diketahui

Pengambilan keputusan yang sehat merupakan suatu proses menjaga agar tidak ketinggalan, menyadari pengaruh informasi baru terhadap perubahan keputusan lama, dan mengantisipasi masa depan secara terus menerus.

#3. Fakta Usang

fakta-usang

Agar anak gajah tidak lari, petugas sirkus merantainya pada sebuah pancang kecil. Bila gajah menarik rantai tersebut maka rantai itu akan melukai kakinya.

Naluri anak gajah itu menangkap isyarat bahwa untuk menghindari rasa sakit, sebaiknya ia tidak bergerak.

Akan tetapi ketika gajah itu telah besar, petugas sirkus itu masih merantainya pada PANCANG KECIL yang sama.

Gajah dewasa tersebut bisa saja mencabut pancang tersebut dari tanah seperti mencabut sebuah tusuk gigi, tapi gajah masih teringat akan rasa sakit yang dialaminya dan ia terlalu bodoh untuk menggunakan seperangkat fakta baru, yakni adanya perubahan keadaan.

Pancang itu dapat menjinakkan gajah seberat dua ton seperti halna dahulu dapat dilakukan terhadap gajah itu ketika masih kecil.

Banyak eksekutif yang terlalu bergantung pada fakta-fakta usang, kebiasaan-kebiasaan yang sudah ditinggalkan, atau masih berdasarkan pada keputusan yang berhasil DUA PULUH tahun lalu.

Inilah yang dinamakan sebagai pengambilan keputusan berdasarkan NALURI GAJAH (elephantine decision making).

inginkah Anda membuat sistem yang wow, baca : Cara Praktis Menyusun SOP

#4. Berpijak pada KESAN PERTAMA

kesan-pertama

Sebelum menjadikan kesan pertama sebagai pijakan untuk memutuskan sesuatu, sebaiknya tunggu dulu beberapa saat sampai kesan itu sudah agak matang sedikit.

Semua keputusan umumnya bersifat emosional, namun sebaiknya kita mendinginkan sejenak untuk melihat apakah masih terdapat beberapa hal yang harus dipertimbangkan.

Bila dalam waktu tertentu tidak ada kejadian apapun, itu berarti bahwa hal-hal itu mungkin tidak pernah akan terjadi atau bila kemudian terjadi, hal itu tidak lagi mempengaruhi keputusan.

#5. Tekad untuk Berhasil

tekad-berhasil

Jika anda segera meragukan suatu keputusan yang telah diambil, maka keputusan itu hampir selalu terbukti tidak baik.

Bukan karena keputusan itu salah, melainkan karena kita telah mengurangi kemungkinan berhasilnya.

Banyak keputusan yang meragukan telah berhasil, karena orang-orang yang mengambil keputusan itu telah bertekad membuatnya berhasil, dan banyak keputusan bagus yang gagal karena orang yang membuatnya tidak mengatasi keragu-raguannya.

***