Terungkap! 3 Faktor Penyebab Risiko Gagal Bayar Obligasi

Terungkap! 3 Faktor Penyebab Risiko Gagal Bayar Obligasi

Kemungkinan gagal bayar merupakan risiko penting investasi obligasi. Bila emiten gagal bayar, jumlah yang diterima oleh investor akan lebih kecil daripada pengembalian yang dijanjikan.

Premi resiko gagal bayar sebenarnya sudah dimasukkan dalam tingkat bunga. Semakin tinggi kemungkinan gagal bayar, maka akan semakin tinggi preminya dan berakibat pada imbal hasil saat jatuh tempo.

Risiko gagal bayar untuk efek pemerintah adalah nol, tapi risiko ini merupakan risiko yang substansial untuk perusahaan dan obligasi pemerintah daerah dengan mutu yang lebih rendah.

Sebagai ilustrasi, seandainya dua obligasi memiliki ARUS KAS yang dijanjikan sama, tingkat kupon, jatuh tempo, likuiditas, dan eksposur inflasinya sama persis, tapi salah satu obligasi memiliki risiko gagal bayar yang lebih tinggi dari yang lain, investor tentunya akan membayar lebih untuk obligasi dengan kemungkinan gagal bayar yang lebih kecil.

Baca juga : Eksposur Ekonomi dalam Perdagangan Internasional dan Metode Antisipasinya

Akibatnya, obligasi dengan risiko gagal bayar yang lebih tinggi akan memiliki tingkat bunga pasar yang lebih tinggi.

Jika risiko gagal bayarnya berubah, maka hal ini akan mempengaruhi tingkat bunga dan berpengaruh pada HARGA obligasi.

Jadi bila risiko gagal bayar obligasi perusahaan XYZ meningkat, harganya akan jatuh dan imbal hasil saat jatuh tempo akan naik.

Baca juga : Jenis-jenis Obligasi yang Mungkin Belum Anda Ketahui

Perusahaan dapat mempengaruhi risiko gagal bayar dengan mengubah JENIS OBLIGASI yang diterbitkan.

Risiko gagal bayar dipengaruhi oleh kemampuan finansial emiten dan persyaratan-persyaratan yang terdapat dalam kontrak obligasi, termasuk apakah ada agunan yang dijaminkan untuk mengamankan obligasi. Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut, sehingga akan mengetahui cara mengatasi risiko gagal bayar.

Dan berikut ini ada 3 jenis obligasi perusahaan yang berpengaruh terhadap risiko gagal bayar, yaitu :

  • Obligasi Hipotek (Mortgage Bond)

Obligasi yang dijamin oleh aset tetap. Perusahaan menjaminkan aset spesifik sebagai jaminan bagi obligasi. Obligasi hipotek pertama merupakan senior yang memiliki prioritas atas klaim dari obligasi hipotek kedua.

Contoh ilustrasi 1 :

pada tahun 2015, Perusahaan A membutuhkan Rp 1M untuk membangun pusat distribusi regional. Perusahaan menerbitkan obligasi dalam jumlah Rp 400 juta yang dijamin oleh hipotek pertama (first mortgage). Sisa kekurangan Rp 600 juta didanai dengan modal ekuitas.

Jika perusahaan A gagal bayar atas obligasi tersebut, pemegang obligasi dapat menyita  properti, kemudian menjualnya untuk melunasi klaim mereka.

Jika perusahaan A mau, dapat menerbitkan obligasi hipotek kedua yang dijamin oleh aset senilai Rp 1 M yang sama. Jika terjadi likuidasi, pemegang obligasi hipotek kedua akan memiliki klaim atas properti, tapi hanya setelah pemegang obligasi hipotek pertama dibayar penuh.

Jadi, hipotek kedua seringkali disebut hipotek junior, karena prioritasnya yang junior dibandingkan klaim-klaim hipotek senior atau obligasi hipotek pertama.

Seluruh obligasi hipotek menjadi subjek dari Surat Perjanjian (Indenture) yang merupakan dokumen hukum yang menyatakan hak-hak pemegang obligasi dan perusahaan secara terperinci.

Perjanjian ini biasanya terbuka, artinya obligasi baru bisa diterbitkan kapan saja untuk perjanjian yang sama.

Namun, jumlah obligasi baru yang dapat diterbitkan hampir selalu dibatasi hingga persentase tertentu dari total properti perusahaan yang dapat dijaminkan, dan biasanya mencakup seluruh tanah, bangunan, dan peralatan.

 

Contoh ilustrasi ke-2 :

PT SOPaku mempunyai perjanjian obligasi yang memperbolehkan perusahaan menerbitkan obligasi hipotek pertama dengan jumlah maksimal 60% dari total aset bersihnya.

Jika aset tetap perusahaan jumlahnya Rp 1 M dan jika perusahaan masih memiliki Rp 500 obligasi hipotek pertama yang beredar. Perusahaan dapat menerbitkan obligasi senilai Rp 100 juta lagi, yaitu 60% X Rp 1 M = Rp 600 juta berdasarkan uji propertinya.

Terkadang PT SOPaku tidak bisa menerbitkan obligasi hipotek pertama baru karena ketentuan surat perjanjian utang yang lain, di mana rasio kelipatan pembayaran bunganya (time interest earned) diminta harus lebih besar dari 2,5 dan terkadang suku bunga mengalami penurunan sampai ke titik di mana jumlah minimum tersebut tidak tercapai.

Jadi meskipun PT SOPaku mampu memenuhi uji properti, perusahaan tersebut gagal memenuhi uji cakupan sehingga perusahaan tidak dapat menerbitkan obligasi hipotek pertama lagi.

Kemudian perusahaan harus melakukan pendanaan dengan obligasi junior. Obligasi hipotek pertama perusahaan memberikan tingkat bunga yang lebih rendah daripada obligasi jangka panjang junior-nya, maka pembatasan ini membutuhkan biaya yang cukup besar.

PT SOPaku bisa merubah cakupan perjanjian menjadi 2 agar bisa menerbitkan lebih banyak obligasi hipotek pertama.

Tapi hal ini tentu sulit direalisasikan, karena pemegang obligasi yang masih beredar harus menyetujui perubahan ini. Dan mereka tidak mungkin menyetujui perubahan  yang akan sangat memperlemah posisi mereka.

Baca juga : Apa Fungsi Bunga Pinjaman di Pasar Modal?

 

  • Obligasi Tanpa Jaminan

Obligasi tanpa jaminan (Debenture) adalah obligasi yang tidak dijamin sehingga tidak memberikan agunan spesifik sebagai jaminan bagi obligasi.

Karena itu pemegang obligasi tanpa jaminan merupakan kreditur biasa yang klaimnya dilindungi oleh properti yang tidak diagunkan.

Pada prakteknya, penggunaan obligasi tanpa jaminan akan bergantung ada sifat aset perusahaan dan kekuatan kreditnya secara umum.

Perusahaan yang kuat seperti GE dan Exxon Mobil dapat menggunakan obligasi tanpa jaminan karena mereka tidak perlu menggunakan properti sebagai jaminan untuk utangnya.

Obligasi tanpa jaminan juga diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan lemah yang telah meng-agunkan sebagian besar asetnya sebagai jaminan untuk pinjaman hipotek.

Untuk kasus terakhir ini, obligasi tanpa jaminan akan cukup beresiko, dan risiko tersebut akan tercermin dalam tingkat bunganya.

 

  • Obligasi Tanpa Jaminan Subordinasi

Obligasi tanpa jaminan subordinasi (subordinated debenture) adalah obligasi yang jika terjadi likuidasi, memiliki klaim atas aset hanya setelah utang senior dibayar penuh.

Istilah subordinasi yang artinya di bawah atau lebih lemah dan dalam kejadian  kebangkrutan, utang subordinasi mempunyai klaim atas aset hanya setelah utang senior dibayar penuh.

Obligasi tanpa jaminan subordinasi dapat disubordinasikan ke wesel bayar yang ditunjuk (biasanya pinjaman bank) atau seluruh utang yang lain.

Dalam peristiwa likuidasi atau re-organisasi, pemegang obligasi tanpa jaminan subordinasi tidak akan menerima apa pun sampai seluruh utang senior, seperti yang disebutkan dalam perjanjian obligasi tanpa jaminan telah dibayar.

sop akuntansi keuangan powerful