2: Menutup Akun Nominal ke Laba Rugi
Langkah kedua proses closing adalah membuat jurnal penutup perusahaan manufaktur untuk menutup akun nominal ke laba rugi.
Bagaimana cara membuat jurnal penyesuaian dan jurnal penutup perusahaan manufaktur untuk komponen biaya dan pendapatan?
Cara membuat jurnal penutup perusahaan manufaktur adalah untuk komponen biaya-biaya diletakkan pada kolom kredit dengan men-debit akun laba rugi. Sedangkan jurnal penutup untuk komponen pendapatan diletakkan di kolom debit dengan meng-kredit akun laba rugi.
Perhatikan pencatatan jurnal penutup akun nominal berikut ini:
A: Membuat jurnal penutup untuk menutup rekening beban dan biaya
Berikut ini jurnal penutup yang digunakan untuk menutup rekening beban dan biaya:
Laba Rugi ………………. Rp 35.050.000 [Debit]
Office Supplies ……………………………… Rp 800.000 [Kredit]
Pembelian Bahan Baku ……………….. Rp 20.100.000 [Kredit]
Beban Administrasi ………………………. Rp 1.000.000 [Kredit]
Biaya Tenaga Kerja Langsung …….. Rp 5.000.000 [Kredit]
Pemeliharaan Aset ……………………….. Rp 250.000 [Kredit]
Penyusutan ……………………………………. Rp 1.150.000 [Kredit]
Beban Gaji …………………………………….. Rp 3.600.000 [Kredit]
Pemeliharaan ……………………………….. Rp 1.500.000 [Kredit]
Beban Lain-lain ……………………………. Rp 500.000 [Kredit]
Beaya Utilitas ………………………………. Rp 750.000 [Kredit]
Beban Angkut Pembelian ………….. Rp 400.000 [Kredit]
Penjelasan:
Dari pencatatan jurnal penutup di atas kita memahami bahwa rekening beban dan biaya ditutup dengan men-debit akun laba rugi. Setelah kita membuat jurnal di atas maka saldo akun biaya-biaya akan menjadi 0.
B: Membuat jurnal penutup untuk menutup rekening pendapatan
Penjualan ………….. Rp 57.000.000 [Debit]
Laba (Rugi) ……………………. Rp 57.000.000 [Kredit]
Penjelasan:
Dari pencatatan jurnal penutup di atas kita bisa membaca bahwa rekening pendapatan (penjualan) ditutup dengan cara meng-kredit rekening laba rugi.
Dengan membuat dua jurnal penutup di atas, maka saldo akhir semua rekening biaya dan pendapatan menjadi 0 (nol), dan membentuk akun buku besar laba rugi.

3: Menyusun Laporan Laba Rugi (Statement of Profit Loss)
A: Pengertian Laporan Laba Rugi Perusahaan Manufaktur
Apa itu Laporan Laba Rugi atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai statements of profit loss?
Salah satu komponen yang harus diperhitungkan dan disajikan dalam laporan laba rugi adalah harga pokok penjualan atau dikenal dengan HPP.
Bagaimana cara menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP)?
Perhatikan langkah dan proses perhitungan HPP berikut ini:
Persediaan:
(a). Saldo Awal = Rp 2.500.000
(b). Pembelian = Rp 20.100.000
(c). Ongkos Angkut Pembelian = Rp 400.000
(d). Saldo Akhir = Rp 2.500.000
(e). Persediaan yang digunakan :
= (a) + (b) + (c) – (d)
= (Rp 2.500.000 + Rp 20.100.000 + Rp 400.000) – Rp 2.500.000 = Rp 20.500.000
(f). Biaya Tenaga Kerja Langsung = Rp 5.000.000
(g). Biaya Overhead :
1. Penyusutan = Rp 1.150.000
2. Pemeliharaan Pabrik = Rp 1.500.000
3. Total Biaya Overhead = Rp Rp 1.150.000 + Rp 1.500.000 = Rp 2.650.000
Total Harga Pokok Penjualan (HPP) :
= (e) + (f) +(g)
= Rp 20.500.000 + Rp 5.000.000 + Rp 2.650.000 = Rp 28.150.000
Dari perhitungan di atas diperoleh nilai Harga Pokok Penjualan atau HPP adalah sebesar Rp 28.150.000.
B: Contoh Laporan Laba Rugi Perusahaan Manufaktur
Sampai di tahap ini, kita sudah bisa membuat laporan laba rugi (statements of profit loss) seperti berikut ini:

Perhatikan hasil akhir dari laporan laba rugi di atas. Dari laporan tersebut kita bisa membaca bahwa jenis laba rugi yang dihasilkan adalah laba rugi sebelum pajak (earning before tax) sebesar Rp 21.950.000.