4: Menghitung Pajak Penghasilan
Dari hasil perhitungan laba rugi di atas yang menunjukkan hasil akhir sebagai laba rugi sebelum pajak, maka kita bisa menghitung pajak penghasilan badan (PPh Badan) seperti berikut ini:
Dengan asumsi rate pajak penghasilan 10%, maka kita bisa menghitung pajak penghasilan sebagai berikut :
= Rp 21.950.000 x 10%
= Rp 2.195.000
5: Mencatat Jurnal Transaksi Pembayaran Pajak Penghasilan
Setelah kita menghitung nilai pajak penghasilan, selanjutnya kita akan membuat jurnal pencatatan utang pajak penghasilan atau Income Tax Payable sebagai berikut:
Pajak Penghasilan Perusahaan ……………… Rp 2.195.000 [Debit]
Utang Pajak Penghasilan (Income Tax Payable) …..Rp 2.195.000 [Kredit]
Penjelasan:
Dengan membuat pencatatan jurnal di atas, maka perusahaan akan membentuk 2 (dua) akun buku besar baru, yaitu: buku besar pajak penghasilan dan utang pajak penghasilan dengan nilai nominal Rp 2.195.000
6: Menutup Akun Pajak Penghasilan
Langkah ke-enam adalah membuat jurnal penutup perusahaan manufaktur untuk menutup akun pajak penghasilan ke laba rugi
Bagaimanakah langkah membuat jurnal penutup pada perusahaan manufaktur untuk menutup pajak penghasilan?
Perhatikan kelanjutan pencatatan dari contoh case study di atas berikut ini:
Pajak penghasilan termasuk dalam klasifikasi akun nominal, oleh karena itu agar saldo akhirnya adalah 0 (nol) maka kita harus membuat jurnal penutup seperti di bawah ini:
Laba Rugi ……………… Rp 2.195.000 [Debit]
Pajak Penghasilan ……… Rp 2.195.000 [Kredit]
Setelah pajak penghasilan dicatat secara baik dan benar, maka laporan laba rugi sudah bisa dibuat dengan lengkap. Dan setelah pajak penghasilan disajikan dalam laporan laba rugi, maka hasilnya adalah seperti berikut ini:

Setelah akun-akun biaya, beban, dan pendapatan serta pajak penghasilan badan ditutup ke akun Laba Rugi, maka akun laba rugi tersebut akan mempunyai saldo buku besar yang baru sebesar Rp 19.755.000. Untuk lebih jelasnya perhatikan buku besar rekening laba rugi berikut ini:

7: Menutup Laba Rugi ke Laba Ditahan
Pada tahap ketujuh adalah mencatat jurnal penutup perusahaan manufaktur untuk menutup akun laba rugi ke laba ditahan
Pada langkah ketujuh, kita akan melakukan tutup buku akun buku besar laba rugi ke retained earning dengan jurnal penutup sebagai berikut:
Laba Rugi ………………….. Rp 19.755.000 [Debit]
Laba Ditahan (Retained Earning) ………… Rp 19.755.000 [Kredit]
Setelah dilakukan tutup buku dengan membuat jurnal penutup seperti di atas, maka saldo akun buku besar laba rugi akan menjadi 0 (nol).
8: Menutup Akun Dividen ke Laba Ditahan
Langkah ke delapan adalah membuat jurnal penutup perusahaan manufaktur untuk menutup akun dividen ke akun laba ditahan.
Sampai di langkah ke-7 semua account nominal sudah ditutup dengan jurnal penutup. Dan masih ada satu account yang masih terbuka, yaitu Dividen yang dibayarkan kepada para pemegang saham perusahaan senilai Rp 1.200.000
Apakah akun dividen juga perlu ditutup pada akhir periode akuntansi?
Jawabannya “iya”. Akun dividen juga harus ditutup pada saat tutup buku.
Bagaimana cara membuat jurnal penutup untuk menutup akun dividen?
Akun dividen ditutup dengan men-debit rekening laba ditahan atau retained earning. Perhatikan bentuk jurnalnya sebagai berikut :
Laba Ditahan (Retained Earning) ……… Rp 1.200.000 [Debit]
Dividen ………………………. Rp 1.200.000 [Kredit]
Setelah dibuatkan jurnal penutup seperti atas, maka saldo akun dividen menjadi 0 (nol).
Rekening nominal sesungguhnya digunakan sebagai penampung yang sifatnya sementara dan pada akhir siklus akuntansi ditutup ke rekening Laba Ditahan (Retained Earning). Oleh karena itu rekening nominal disebut juga sebagai temporary account.
9: Membuat Neraca Lajur atau Kertas Kerja Akuntansi
A: Format Neraca Lajur
Setelah semua rekening nominal ditutup dengan jurnal penutup perusahaan manufaktur, maka semua akun nominal sudah memiliki saldo 0 (nol)
Neraca lajur atau kertas kerja dibuat setelah semua proses posting jurnal penutup dilakukan sehingga hanya tersisa saldo-saldo dari rekening real (real account) yang akan dipindahkan ke periode berikutnya.
Bagaimana bentuk neraca lajur setelah proses tutup buku?
Neraca lajur disusun dari beberapa lajur atau kolom spreadsheet dengan tujuan sebagai alat bantu tools untuk menyusun laporan keuangan. Jumlah lajur atau kolom disesuaikan dengan kebutuhan, bisa menggunakan 4, 6,8, 10,12, atau 14 lajur.
B: Contoh Kertas Kerja Akuntansi
Untuk keperluan contoh aktivitas proses tutup buku ini, saya menggunakan kertas kerja 5 (lima) kolom dengan rincian sebagai berikut :
Kolom #1: Berisi nama-nama akun yang digunakan oleh perusahaan
Kolom #2: Saldo akhir periode sebelumnya dan dijadikan sebagai saldo awal tahun berjalan.
Lajur #3 dan #4: Berisi aktivitas periode berjalan
Kolom #5: Saldo akhir masing-masing akun
Untuk lebih jelasnya, perhatikan penampakannya berikut ini:

Perhatikan angka-angka di kolom #5. Angka-angka tersebut adalah saldo tiap akun pada akhir periode tahun 2020. Angka-angka inilah yang selanjutnya akan dipindahkan dan disajikan dalam laporan posisi keuangan atau neraca.